Kategori: Pendidikan

  • Sinergi Hebat: Rapat Persiapan Panitia Sosialisasi Pendidikan GPIB dengan Narasumber Ternama

    Sinergi Hebat: Rapat Persiapan Panitia Sosialisasi Pendidikan GPIB dengan Narasumber Ternama

    Bekasi – Sabtu, 31 Januari 2026 – Di Sekretariat DPP Gerakan Pendidikan Indonesia Baru (GPIB) yang berlokasi di Perumahan Bumi Jatiwaringin, Jl. Raya Pondok Gede, Blok F No.7, RT.003/RW.006, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi, panitia sosialisasi pendidikan GPIB menggelar rapat persiapan. Hadir dalam acara tersebut Ir. Agung Karang (Ketua Umum DPP GPIB), serta anggota panitia Rika Rachmawati, SE, Dani Hendro, Rahayu Desy Leny , Sonya Mercyna Simorangkir, Nita Agustina, Nurhayati Mustofa, S Erfan Nur Ali, Titik Suparti, Masiyame S.Kom, Fitri Fajar Asih, Triwidowati, Marsahid, Reni Dewayani, Edy Dwiyanto, Lina Herlina dan Suhanah.

    Dalam rapat, peserta membahas berbagai aspek kunci, antara lain rundown acara, penentuan donatur, penataan struktur panitia, serta mendengar ide dan saran dari setiap anggota untuk memastikan kelancaran kegiatan.

    Sosialisasi pendidikan yang akan digelar mengusung tema “Sinergi Hebat Kolaborasi Orang Tua & Anak Menghadapi Tes Kemampuan Akademik & Artificial Intelligence (AI)”. Acara akan menghadirkan narasumber ternama: DR. Rahmawati, S.T, M.Ed (Plt. Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen) dan DR. Ir. R. Kun Wardana Abyoto, M.Si, PhD (pakar AI), yang juga selaku ketua Umum IPJI dengan moderator DR. Leonard, M.M, M.Pd (Ketua Departemen Kurikulum DPP.GPIB).

    Direncanakan akan diikuti oleh 300 peserta dari berbagai elemen pendidikan, dijadwalkan hadir dalam acara tersebut antara lain Nahdiana, S.Pd., M.Pd. (Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta), dan RUSPRITA Putri Utami, S.E, M.A (Kepala Puspeka Kemendikdasmen), Selain itu akan hadir juga pengurus GPIB dari tingkat DPW DKI Jakarta, DPW Banten, dan DPC sejumlah daerah. Kegiatan tersebut akan berlangsung pada hari Kamis, 5 Februari 2026, pukul 13.00 WIB hingga selesai, di Aula KI Hajar Dirgantara LT.5 Gedung Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Jl. Gatot Subroto Kav 40-41, Kuningan, Jakarta Selatan.

    Acara Rapat tersebut diakhiri dengan sesi foto bersama.

  • SMAN 53 Jakarta Timur Kolaborasi dengan GPIB Salurkan Bantuan untuk Pelajar Terdampak Banjir Bandang di Aceh

    SMAN 53 Jakarta Timur Kolaborasi dengan GPIB Salurkan Bantuan untuk Pelajar Terdampak Banjir Bandang di Aceh

    JAKARTA TIMUR, 19 Januari 2026 – SMAN 53 Jakarta Timur bekerja sama dengan Komite Sekolah dan Organisasi Gerakan Pendidikan Indonesia Baru (GPIB) menyelenggarakan penyerahan donasi bantuan bagi pelajar terdampak musibah banjir bandang di Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatra Barat. Acara berlangsung di Ruang Kepala Sekolah SMAN 53 Jakarta, Jl. Cipinang Jaya II, Cipinang Besar Selatan, Kecamatan Jatinegara.

    Bantuan berupa perlengkapan sekolah seperti seragam, alat tulis, dan sepatu dikumpulkan dari donasi Kepala Sekolah, Manajemen Sekolah, Dewan Guru, Komite Sekolah, orang tua murid, OSIS, MPK, Tenaga pendidik dan para siswa yang peduli terhadap kondisi korban bencana.

    Dra. Herawati Sihombing, Kepala Sekolah SMAN 53 Jakarta, menyampaikan bahwa seluruh komponen sekolah memiliki kepedulian tinggi dan mempercayakan penyaluran bantuan kepada GPIB. “Kami ucapkan terima kasih kepada GPIB yang akan menyalurkan apa yang telah diberikan oleh tim SMA Negeri 53,” ujarnya.

    Ir. Agung Karang, Ketua Umum DPP GPIB sekaligus Ketua Komite Sekolah SMAN 53 Jakarta, menjelaskan bahwa kegiatan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo untuk berempati dan gotong-royong menolong korban bencana. “Untuk pertama kalinya GPIB menerima sumbangan ini, yang akan dialirkan terlebih dahulu ke pelajar SD di Aceh, karena SMP dan SMA jarang ditemui di daerah terdampak,” katanya.

    Mohammad Amiin, Ketua DPC GPIB Jakarta Timur, menambahkan bahwa kolaborasi ini diharapkan dapat berkelanjutan dan mengacu pada Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 Pasal 10 tentang penggalangan dana donasi. GPIB juga telah mendirikan posko di Jakarta Timur untuk menangani bantuan ini.

    Miftahur Rahman, S.Pd, M.Si, Ketua Satgas Peduli GPIB, menyatakan bahwa bantuan ini merupakan bagian dari program “Pelajar Perduli Sesama Roadshow to School” yang fokus pada pelajar sebagai masa depan bangsa. “Untuk periode pertama akan disalurkan ke Aceh, namun tidak menutup kemungkinan juga akan diberikan kepada korban di Padang dan Sumatera Utara,” jelasnya.

    Hadir pada saat itu wakil kepala Sekolah bidang kesiswaan Bpk Dolly, S.Pd, Bidang Kurikulum ibu Retno S.Pd, Bidang Sarana Prasarana Bpk Yosep, S.Pd dan kepala Tata Usaha ibu Muzenah Fadhilah serta dari GPIB Tina Permatasari, Rini, Icha Rika Rachmawati ,SE
    Dicky, Purwadi, S Erfan Nur Ali dan Titik Suparti.

    Acara diakhiri dengan sesi foto bersama.

  • Permendikbudristek No. 46/2023 Jadi Fokus Roadshow Anti-Bullying GPIB di SMPN 167

    Permendikbudristek No. 46/2023 Jadi Fokus Roadshow Anti-Bullying GPIB di SMPN 167

    JAKARTA TIMUR, RABU (14/01/2026) – Gerakan Pendidikan Indonesia Baru (GPIB) menggelar roadshow penyuluhan Anti-Bullying dan Pencegahan Kekerasan di Sekolah (PABK) di SMPN 167 Jakarta Timur, berlokasi di Komp. PTB, Kecamatan Duren Sawit. Kegiatan ini bertujuan mengedukasi siswa kelas VII-VIII serta perwakilan OSIS dan MPK tentang pencegahan dan penanganan kekerasan berdasarkan Permendikbudristek No. 46 Tahun 2023.

    Acara dihadiri oleh Kasatlak Pendidikan Kecamatan Duren Sawit Ibu Farida Farhah, S.Psi (mewakili Kasudin Wilayah 1 Jakarta Timur), Kepala Sekolah SMPN 167 Tumeri, S.Pd, M.T, Ketua Umum DPP GPIB Ir. Agung Karang, serta narasumber Dandy Chaprianto H. SH.MH (Ketua DPW GPIB DKI Jakarta), Ketua Komite Sekolah SMPN 167 Jakarta Timur Arief R, Juga hadir pengurus GPIB dari DPP dan DPW DKI Jakarta, serta pengurus Komite Sekolah SMPN 167.

    Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa Permendikbudristek No. 46 Tahun 2023 menggantikan Permendikbud No. 82 Tahun 2015, yang bertujuan menciptakan lingkungan belajar aman dan bebas kekerasan. Peraturan tersebut mencakup pencegahan, penanganan, dan pemulihan bagi seluruh warga sekolah, serta mendefinisikan berbagai bentuk kekerasan seperti fisik, psikis, seksual, perundungan, diskriminasi, dan intoleransi beserta langkah penanganannya.

    Roadshow ini bertujuan meningkatkan kesadaran tentang kekerasan di sekolah, membangun lingkungan inklusif, memperkuat Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK), menyosialisasikan mekanisme pelaporan, memberdayakan siswa sebagai agen perubahan, menjamin perlindungan hukum, serta memberikan dukungan bagi korban.

    Pada sesi tanya jawab, siswa seperti Shasa Angelica (Kelas VIII G) dan Catur Pamungkas (Kelas VIII B) mengajukan pertanyaan tentang hubungan introversi dengan bullying serta cara menangani isu tersebut di Indonesia.

    Untuk mengantisipasi bullying, SMPN 167 telah menyediakan barcode pengaduan di setiap meja atau kursi kelas. Barcode tersebut tidak hanya berisi formulir pengaduan, tetapi juga memungkinkan siswa untuk melaporkan kondisi suasana hati mereka dengan pilihan jawaban yang akan langsung terkirim ke guru BK jika ada indikasi masalah.

    “Alhamdulillah, hari ini SMP 167 dapat tamu luar biasa yang selaras dengan tujuan pendidikan kita. Gerakan ini menyampaikan informasi tentang bullying secara langsung kepada anak-anak yang bersangkutan,” ujar Kepala Sekolah Tumeri, S.Pd, M.T.

    Dia menambahkan bahwa sekolah berkomitmen untuk lebih tanggap terhadap permasalahan kekerasan di sekolah. Melalui barcode pengaduan, pihak sekolah berusaha menjemput masalah siswa sebelum menjadi lebih serius, dengan harapan tingkat kenakalan anak dapat menurun dan siswa merasa aman belajar.

    Sementara itu, Ir. Agung Karang menjelaskan bahwa program roadshow ini akan digelar di seluruh Jakarta dan diharapkan dapat berkembang ke daerah lain. “Tujuannya untuk menciptakan suasana sekolah yang aman, bersih, dan nyaman serta mengurangi dampak bullying maupun kekerasan yang sering terlihat di media sosial,” ucapnya.

    Ia juga menyampaikan bahwa GPIB adalah wadah pemerhati pendidikan yang terdiri dari berbagai kalangan profesional dan menaungi lebih dari 300 ribu sekolah dari Sabang sampai Merauke. Pada bulan Desember-Januari lalu, organisasi ini meraih peringkat pertama dalam Indeks Kinerja Ormas (IKO) dengan nilai 86,18, dengan tujuan menggerakkan peran serta masyarakat dalam mewujudkan pendidikan baru.

  • SDN 06 Pulogebang Berkolaborasi Bersama BKM Buka Bank Sampah “Go Green 06”

    SDN 06 Pulogebang Berkolaborasi Bersama BKM Buka Bank Sampah “Go Green 06”

    JAKARTA TIMUR, 13 JANUARI 2026 – SDN 06 Pulogebang bekerja sama dengan Bio Karya Mandiri (BKM) menyelenggarakan acara edukasi pengelolaan sampah sekaligus meluncurkan “Go Green 06” di Jl. Komarudin Lama, RT.9/RW.5, Kecamatan Cakung. Bertema “Buat Sampah Jadi Berkah”, kegiatan ini diikuti oleh siswa, orang tua murid, komite sekolah, dan guru.

    Acara dibuka oleh Kepala Sekolah Paranggi Rismoko Hadi, M.Pd, yang menyampaikan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya membentuk generasi muda yang peduli lingkungan. Turut hadir dari BKM adalah Ketua Marwan beserta tim pemilah sampah Tri Samiyono, Sudarto, Sugiarto, serta anggota sekretaris Pramuditha Kesumawardhani dan Esty Puspitasari yang memberikan paparan tentang pengelolaan sampah yang efektif.

    Pada sesi edukasi, tim BKM menjelaskan cara pemilahan sampah berdasarkan jenisnya:

    – Sampah Organik: Sisa makanan, dedaunan, kulit buah dan sayuran, serta kotoran hewan peliharaan, yang dapat diolah menjadi pupuk kompos atau biogas.
    – Sampah Anorganik Bisa Daur Ulang: Kertas dan karton, botol plastik, kaleng logam, gelas kaca, serta barang elektronik layak diperbaiki atau didaur ulang.
    – Sampah Anorganik Tidak Bisa Daur Ulang: Kantong plastik tipis, styrofoam, kain bekas tidak layak pakai, dan limbah medis yang tidak dapat diolah kembali.
    – Sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun): Baterai bekas, lampu neon, cat bekas, dan obat kadaluarsa, yang perlu dikelola secara terpisah untuk menghindari pencemaran.

    Sebagai bagian kerja sama, BKM akan melakukan pengumpulan dan penimbangan minyak jelantah (mijel) dari setiap kelas secara rutin dua pekan sekali. Setiap kelas mendapatkan wadah khusus untuk menyimpan mijel yang dikumpulkan siswa dari rumah. Tim BKM akan datang setiap bulan untuk menimbang dan mencatat hasil per kelas. Mijel yang terkumpul akan diolah menjadi sabun atau biodiesel, dengan sebagian hasil penjualan dialokasikan untuk kegiatan ekstrakurikuler lingkungan sekolah.

    Peserta juga mendapatkan pengetahuan tentang pengolahan sampah menjadi produk bernilai dan langkah praktis yang dapat diterapkan di rumah serta sekolah. Sebagai bagian dari “Go Green 06”, sekolah akan memasang tempat sampah berwarna berbeda untuk memudahkan pemilahan di setiap area. Peluncuran program ini menjadi tonggak awal untuk menjadikan SDN 06 Pulogebang sebagai sekolah ramah lingkungan.

    Kepala Sekolah Paranggi Rismoko Hadi, M.Pd menyatakan, “Saya sangat senang karena dengan sosialisasi ini, anak-anak bisa mendapatkan edukasi pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Sampah adalah PR bersama yang harus dijadikan solusi agar bumi tetap hijau.” Ia berharap kegiatan ini tidak hanya berjalan di sekolah tetapi juga menjadi pembiasaan di rumah siswa.

    Ketua Komite SDN 06 Pulogebang Riny Oktavianti mengungkapkan, “Kegiatan ini bagus untuk edukasi anak-anak agar mereka mengerti daur ulang. Harapan kita, dengan program Bank Sampah ini, sekolah bisa maju dan anak-anak paham bahwa menabung sampah bisa bermanfaat dan menghasilkan.”

    Sekretaris Komite Siti Aisyah menjelaskan manfaat edukasi tersebut, “Siswa akan belajar membedakan sampah yang bermanfaat dan tidak. Di Jakarta yang sering mengalami banjir, anak-anak pun bisa mengerti pentingnya membuang dan memanfaatkan sampah dengan benar.”

    Bendahara Komite Endang Rahayu menekankan, “Edukasi ini sangat penting untuk anak-anak, orang tua, komite, dan warga sekolah agar mereka memahami lebih dalam tentang sampah.”

    Tri Samiyono dari BKM yang mewakili Ketua Marwan menyampaikan tujuan kegiatan, “Kita berfokus pada edukasi masyarakat. Peluncuran ‘Go Green 06’ di SDN 06 Pulogebang menunjukkan bahwa kita bisa menjangkau semua lini. Intinya adalah bagaimana mengedukasi masyarakat untuk memperlakukan sampah dengan benar ke depannya.” Ia menambahkan bahwa edukasi sejak SD diharapkan dapat mengurangi volume sampah Jakarta yang sudah hampir mencapai tahap darurat.

    Esty Puspitasari dari sekretaris BKM menyatakan, “Kita mensosialisasikan bank sampah kepada masyarakat dan siap memberikan edukasi kepada sekolah atau pihak lain yang membutuhkan.”

    Bendahara Sekolah Neu Serta Siregar mengungkapkan, “Pengelolaan sampah penting untuk mengedukasi anak-anak agar mereka paham efek buang sampah sembarangan dan manfaat pengelolaan yang baik. Sejak dini kita berikan pendidikan untuk menjaga alam agar tetap asri.”

  • Bayang-Bayang Komersialisasi Sekolah Negeri: Dugaan Jaringan Penjualan LKS Menguat di Demak

    Bayang-Bayang Komersialisasi Sekolah Negeri: Dugaan Jaringan Penjualan LKS Menguat di Demak

    PALAPANEWS.ASIA, DEMAK –

    Dugaan praktik penjualan Lembar Kerja Siswa (LKS) secara terstruktur di sejumlah SMP Negeri di Kabupaten Demak kian menguat. Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber menunjukkan pola lama yang terus berulang, rapi, dan berlangsung bertahun-tahun, seolah menjadi kebiasaan yang dinormalisasi di lingkungan sekolah negeri.

    Sorotan mengarah pada Eko Widodo S.Pd, M.Pd, Ketua MKKS SMP Negeri Demak. Ia juga menjabat sebagai Kepala SMP Negeri 4 Demak serta Pelaksana Tugas Kepala SMP Negeri 1 Demak Kota. Sejumlah pihak menduga yang bersangkutan mengetahui, bahkan terlibat, dalam praktik lama penjualan LKS yang hingga kini belum tersentuh pengawasan efektif.

    Sumber internal mengatakan, dari kalangan penyuplai atau penerbit LKS mendominasi mata pelajaran inti. PAI, Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, IPS, dan PJOK disebut telah “dibagi” penyuplainya. Pola ini memperkuat indikasi bahwa penjualan LKS di sekolah negeri sudah diatur rapi, terstruktur dan masif, memastikan pasar tetap setiap tahun ajaran, menutup ruang kompetisi sehat, serta meniadakan pilihan bagi sekolah dan orang tua.

    Arahan pembelian LKS, menurut sumber, jarang tertulis. Instruksi informal yang sudah menjadi kebiasaan menciptakan tekanan kultural di sekolah agar mengikuti arus. Sekolah yang mencoba keluar dari pola tersebut berisiko dianggap menyimpang. Dampaknya nyata: siswa dan orang tua menanggung beban biaya dari produk yang tidak termasuk kebutuhan wajib kurikulum.

    Indikasi pungutan liar menguat karena beberapa fakta mendasar. LKS bukan buku wajib kurikulum, melainkan bahan pendamping. Sekolah negeri dilarang menjual buku atau mewajibkan pembelian dari penerbit tertentu. Tidak ada dasar hukum yang membenarkan keterpaksaan pembelian oleh siswa. Jika benar terdapat aliran keuntungan ke pihak-pihak tertentu, praktik ini berpotensi melanggar hukum administrasi hingga pidana.

    Regulasi pendidikan sejatinya tegas melarang komersialisasi di sekolah negeri, termasuk penjualan LKS oleh sekolah atau guru serta penunjukan penerbit tertentu. Namun, lemahnya pengawasan membuat praktik lama ini terus berjalan, berganti nama namun tetap dengan pola yang sama.

    Meski nilai per siswa tampak kecil, akumulasi dari seluruh SMP Negeri di Demak berpotensi mencapai ratusan juta rupiah setiap tahun ajaran. Kerugian yang ditimbulkan bukan semata finansial, melainkan juga merusak integritas pendidikan publik dan menggerus kepercayaan orang tua.

    Penjualan LKS oleh sekolah negeri bukan sekadar pelanggaran etika. Jika terbukti ada penyalahgunaan kewenangan dan aliran dana tidak sah, praktik ini dapat masuk kategori pungutan liar sebagaimana diatur dalam undang-undang tindak pidana korupsi

    Jurnalis : Irma

  • GPIB DPW DKI Jakarta Berkolaborasi dengan SDN 16 Klender Gelar Penyuluhan Anti-Bullying

    GPIB DPW DKI Jakarta Berkolaborasi dengan SDN 16 Klender Gelar Penyuluhan Anti-Bullying

    JAKARTA, 08 Januari 2026 – Gerakan Pendidikan Indonesia Baru (GPIB) DPW DKI Jakarta bekerja sama dengan SDN 16 Klender Jakarta Timur menyelenggarakan acara penyuluhan Anti-Bullying dan Pencegahan Kekerasan di Sekolah (PABK) dengan tema “Ciptakan Sekolah Hebat, Aman, Nyaman dan Mengembirakan tanpa Perundungan”.

    Penyuluhan yang diisi oleh Evi Fatmawati, A.Md dari Departemen Kurikulum DPP GPIB bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang perundungan, memberikan pemahaman dampak buruknya bagi korban dan pelaku, serta membangun lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan saling menghormati. Selain itu, para orang tua juga di edukasi cara mencegah, melawan, dan melaporkan kasus bullying agar dapat tumbuh optimal secara fisik dan mental. Bagi orang tua murid dan komite sekolah, penyuluhan ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman tentang bahaya perundungan, membangun kemitraan erat dengan sekolah, serta mendorong peran aktif dalam menciptakan lingkungan positif.

    Dalam sambutannya, Kepala Sekolah SDN 16 Klender Casmudi, S.Pd menyampaikan bahwa anak yang hebat berasal dari orang tua yang siap dan teredukasi. “Kita bisa ibaratkan dengan botol kosong yang mudah dihancurkan karena tidak punya bekal. Namun, jika orang tua memiliki bekal pengetahuan dan parenting yang kuat, anak-anak akan tumbuh menjadi individu yang tangguh, berkualitas, dan berkarakter,” ujarnya.

    Acara dihadiri oleh Ketua Umum GPIB Ir. Agung Karang, Ketua GPIB DPW DKI Jakarta Dandy Capryanto H., S.H,M.H., serta Yenti Sofia Pengurus GPIB DPW DKI Jakarta dan Titik Suparti Humas DPW DKI Jakarta, Nani Wijaya Dari DPW.GPIB Prov.DKI JKT, S Erfan Nurali dan pihak sekolah hadir Wakil Kepala Bidang Kurikulum Kurniasih, S.Pd, Wakil Bidang Kesiswaan Sri Handayani, guru dan tenaga kependidikan, serta Ketua Komite Sekolah Nani Wijaya yang juga menjabat sebagai Ketua OKK GPIB DPW DKI Jakarta.

    Ir. Agung Karang menjelaskan bahwa penyuluhan ini merupakan bagian dari roadshow GPIB ke berbagai sekolah dan akan berlanjut hingga bulan Februari. “Kegiatan ini bertujuan mengedukasi agar sekolah menjadi nyaman, bersih, dan aman bagi semua pihak,” katanya.

    Casmudi menambahkan bahwa peran GPIB sangat berharga bagi SDN 16 Klender, terutama dalam bidang edukasi dan parenting. “Pendidikan adalah tanggung jawab bersama pemerintah, sekolah, dan masyarakat. Oleh karena itu, perlu diberikan edukasi yang memadai untuk membekali orang tua dan anak-anak,” ujarnya.

    Dandy Capryanto H., S.H., M.H menyampaikan bahwa GPIB yang baru berusia 3 tahun berkomitmen untuk membangun generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki mentalitas, sikap, dan rasa percaya diri yang kuat agar bisa sejajar dengan standar internasional. “Bullying sering terjadi karena kurangnya rasa percaya diri dan karakter yang kuat. Berdasarkan temuan dari Mabes Polri Densus, bahkan anak usia 11 tahun sudah terpapar masalah ini,” tandasnya.

    Evi Fatmawati menuturkan bahwa sosialisasi ini selaras dengan kebijakan Kemendikdasmen tentang tiga pilar pendidikan yang melibatkan sekolah, masyarakat, dan dunia digital. “Tujuan utama adalah meminimalkan perundungan tidak hanya di Jakarta tetapi juga seluruh Indonesia, sekaligus menyebarkan materi-materi yang sedang digaungkan oleh Kemendikdasmen,” katanya.

    Acara diakhiri dengan penyerahan sertifikat dan piagam penghargaan kepada pihak sekolah dan narasumber, serta sesi foto bersama.

  • Gerakan Pendidikan Indonesia Baru (GPIB) DPW DKI Jakarta Berkolaborasi dengan SMAN 11 Jakarta Gelar Penyuluhan Anti-Bullying dan Pencegahan Radikalisme di Era Digital

    Gerakan Pendidikan Indonesia Baru (GPIB) DPW DKI Jakarta Berkolaborasi dengan SMAN 11 Jakarta Gelar Penyuluhan Anti-Bullying dan Pencegahan Radikalisme di Era Digital

    JAKARTA, 07 Januari 2026 – Gerakan Pendidikan Indonesia Baru (GPIB) DPW DKI Jakarta bekerja sama dengan SMAN 11 Jakarta Timur menyelenggarakan acara penyuluhan Anti-Bullying dan Kekerasan dalam Lingkungan Sekolah (PABK), serta penyuluhan Pencegahan Radikalisme di Era Digital. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran siswa tentang pentingnya keamanan dan harmoni di lingkungan sekolah, dengan menghadirkan narasumber yang berkompeten.

    Penyuluhan anti-bullying dan kekerasan di sekolah diisi oleh Yulina Dewi, SH, MH – salah satu pengurus GPIB DPW DKI Jakarta yang juga berprofesi sebagai jaksa di Kejagung RI.

    Tujuan penyuluhan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang perundungan, memberikan pemahaman akan dampak buruknya bagi korban dan pelaku, serta membangun lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan saling menghormati. Siswa juga diajarkan cara mencegah, melawan, dan melaporkan kasus bullying agar dapat tumbuh optimal secara fisik dan mental.

    Melalui penyuluhan, peserta dapat memahami definisi bullying, bentuk-bentuknya (fisik, verbal, siber), serta dampaknya (trauma, rendahnya rasa diri, gangguan mental). Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk:

    – Menumbuhkan rasa saling menghargai, toleransi, dan persahabatan antar siswa tanpa membedakan latar belakang
    – Mengajarkan keterampilan menghadapi dan melawan perundungan baik sebagai korban maupun saksi
    – Mewujudkan sekolah sebagai tempat belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan
    – Memberikan pemahaman tentang pentingnya melapor kepada guru atau orang tua agar bantuan dapat diberikan segera

    Acara diisi dengan sesi tanya jawab yang antusias dari para siswa SMAN 11 Jakarta Timur. Hadir dalam kegiatan tersebut siswa kelas XI, Kepala Sekolah SMAN 11 Jakarta Dra. Penina Sianmbela, Ketua Umum GPIB Ir. Agung Karang, Wakil Ketua GPIB DPW DKI Jakarta Dani Hendro, Ketua DPC GPIB Jakarta Timur Mohamad Amin, serta Handoko A dari Kesbangpol, Yudhi dari Kesbangpol, Devi Sarasaty dari Kesbangpol, Rini Humas Komite Sekolah 53 Jakarta, Doli Arusdin Situmeang Guru SMAN 11 Jakarta Timur, Yosep Dian Sulistyo Guru SMAN 11 Jakarta Timur, Agung Bintang Karang Pengurus DPP GPIB, Yenti Sofia Pengurus GPIB DPW DKI Jakarta, Sekretaris DPW Nurhayati, Bendahara DPW Rahayu Desy Leni SE, Wakil Bendahara DPW Lina Herlina, Ketua OKK GPIB DPW DKI Jakarta Nani Wijaya, Suhana Pengurus GPIB DPW DKI Jakarta dan Titik Suparti Humas DPW DKI Jakarta.

    “Terima kasih kepada tim GPIB yang telah mengedukasi anak-anak. Mudah-mudahan materi yang disampaikan bermanfaat. Kadang kondisi anak yang tampak damai justru menyembunyikan masalah, dan mereka sering tidak berani melaporkan,” ujar Dra. Penina Sinambela, M.Pd Rabu (07/01/2026).

    Ia menambahkan, “Jika ada yang merasa mengalami kekerasan baik secara verbal maupun fisik, saya siap menjadi pendengar. Jangan menyimpan atau menyembunyikannya. Jika mau membuka diri, itu akan sangat membantu. Mudah-mudahan anak-anak paham untuk segera berbagi kepada wali kelas, guru BK, guru bidang studi, atau kepala sekolah. Terima kasih banyak, semoga kerjasama ini berlanjut ke depannya.”

    Ketua Umum DPP GPIB Ir. Agung Karang mengucapkan terima kasih kepada Yulina Dewi, SH, MH dan pihak sekolah yang telah memberikan izin untuk penyuluhan. “Kegiatan roadshow anti-bullying dan kekerasan ini telah dilakukan di SMA 53 dan SMA 49 Jakarta, kemudian kali ini di SMAN 11 Cakung Jakarta Timur, tanggal 8-1-2026 SDN 16 Klender Jakarta Timur dan tgl 14-1-2026 SMPN 167 Jakarta Timur dan akan berlanjut hingga beberapa sekolah bulan Februari. GPIB sangat peduli dengan siswa di berbagai jenjang pendidikan untuk mencegah bullying. Pemicu kegiatan ini adalah kejadian ledakan bom di SMA 72, sehingga kami ingin mencegah terjadinya hal serupa dengan mengunjungi sekolah-sekolah,” jelasnya.

    Agung berharap dunia pendidikan dapat menjadi lingkungan yang ramah anak dan bebas dari perundungan.

    Sementara itu, Yulina Dewi, SH, MH menyampaikan terima kasih atas kesempatan untuk memberikan wawasan kepada siswa SMAN 11 mengenai kekerasan di sekolah. “Di era transformasi digital ini, anak-anak menghadapi berbagai problematika terkait kekerasan di sekolah yang dapat menimbulkan trauma dan dampak pada kesehatan mental baik bagi korban maupun pelaku,” ujarnya.

    Menurutnya, diperlukan sistem dan strategi yang terkoordinasi antara sekolah, Pemprov DKI, dan pihak terkait seperti GPIB. “Siswa adalah sumber emas bangsa yang harus menjadi kader cerdas, bekerja keras, dan mendapatkan perlindungan yang baik agar dapat belajar dalam suasana yang nyaman, tenang, dan inklusif. Dukungan dari pemerintah, sekolah, dan komunitas sangat diperlukan untuk mewujudkannya,” tambahnya.

    Yulina berharap kegiatan ini dapat dilanjutkan dengan sinergi yang baik untuk membangun antisipasi dan menghasilkan generasi yang cerdas pada tahun 2045. “Saya ucapkan semangat kepada Pak Agung dalam memperjuangkan misi dan visi pendidikan Indonesia, serta siap memberikan dukungan dan pengetahuan yang diperlukan,” tandasnya.

    Acara diakhiri dengan penyerahan sertifikat dan piagam penghargaan kepada pihak sekolah dan narasumber, hadir dalam acara tsb Muhammad Amin ketua komite sekolah SMAN 11 yg juga sebagai Ketua DPC.GPIB Jakarta Timur, Dani Hendro Pradiatmoko wakil ketua DPW GPIB PROVINSI DKI JAKARTA, Rahayu Desi Leni, Nurhayati, Suhana, Nani Wijaya, Yenti, Titik Suparti, Lina serta acara diakhiri dengan sesi foto bersama.

  • Rakernas 1 HPTKes: Prof. H. Fasli Dorong Kemandirian Sistem Kesehatan Nasional

    Rakernas 1 HPTKes: Prof. H. Fasli Dorong Kemandirian Sistem Kesehatan Nasional

    Jakarta, Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Himpunan Pendidikan Tinggi Kesehatan (HPTKes) Indonesia menghadirkan tokoh nasional di bidang pendidikan dan kesehatan, Prof. Dr. H. Fasli Jalal, Ph.D, selaku Dewan Pakar HPTKes Indonesia, sebagai narasumber utama dalam sesi strategis bertema “Arah Baru Pendidikan Tinggi Kesehatan: Menjawab Tantangan Transformasi dan Kemandirian Sistem Kesehatan Nasional Menuju Indonesia Emas 2045″ di Hotel Oakwood TMII Jakarta, Selasa (18/11/25).

    Prof. Fasli menegaskan bahwa perguruan tinggi kesehatan memiliki posisi kunci dalam menyiapkan tenaga kesehatan yang adaptif, kompeten, dan visioner, sesuai tuntutan transformasi sistem kesehatan nasional yang dicanangkan pemerintah.

    Menghadapi Transformasi Sistem Kesehatan Nasional

    Menurut Prof. Fasli, transformasi sistem kesehatan yang kini berlangsung menuntut perguruan tinggi untuk bergerak lebih cepat, lebih inovatif, dan lebih kolaboratif.

    “Kita sedang memasuki era di mana kesehatan tidak lagi berdiri sendiri. Ia beririsan dengan teknologi digital, kecerdasan buatan, manajemen bencana, keamanan biologis, hingga perubahan gaya hidup masyarakat. Pendidikan tinggi kesehatan harus siap membekali mahasiswa dengan kompetensi masa depan tersebut,” ujarnya.

    Beliau menilai bahwa tantangan terbesar saat ini adalah menyamakan kualitas lulusan, baik di perguruan tinggi negeri maupun swasta, melalui kurikulum yang responsif dan terstandar secara nasional.

    Menuju Kemandirian Sistem Kesehatan Nasional

    Prof. Fasli menekankan pentingnya kemandirian dalam produksi tenaga kesehatan, alat kesehatan, hingga teknologi medis.

    “Indonesia Emas 2045 tidak mungkin tercapai tanpa kemandirian di sektor kesehatan. Ini bukan hanya soal kemampuan klinis, tetapi juga kemampuan riset, inovasi, dan hilirisasi produk kesehatan,” tegasnya.

    Ia mendorong agar perguruan tinggi kesehatan lebih aktif melakukan riset translasional, memperkuat jejaring dengan industri, serta membuka ruang kolaborasi internasional untuk mempercepat adopsi teknologi baru.

    Peran HPTKes Indonesia

    Sebagai Dewan Pakar, Prof. Fasli mengapresiasi langkah HPTKes Indonesia yang menggelar Rakernas pertama ini sebagai langkah strategis menyatukan visi seluruh institusi pendidikan tinggi kesehatan di Indonesia.

    “Rakernas ini adalah momentum besar untuk menyusun peta jalan bersama. Kita perlu memastikan bahwa setiap institusi bergerak dalam satu arah: memperkuat kompetensi tenaga kesehatan, mempercepat transformasi digital, dan memenuhi kebutuhan nasional secara berkelanjutan,” ungkapnya.

    Ia menambahkan bahwa HPTKes harus menjadi wadah yang aktif memperjuangkan peningkatan mutu, standardisasi pendidikan, serta peningkatan kapasitas dosen dan fasilitas belajar di seluruh wilayah Indonesia.

    Harapan untuk Indonesia Emas 2045

    “Jika pendidikan tinggi kesehatan mampu menjawab tantangan transformasi ini, saya yakin Indonesia akan memiliki sistem kesehatan yang lebih kuat, mandiri, dan siap bersaing di tingkat global pada 2045. Investasi terbesar kita adalah pada manusia—dan di sinilah peran perguruan tinggi menjadi sangat strategis.” pungkas Prof Fasli.

    Rakernas I HPTKes Indonesia di Hotel Oakwood TMII Jakarta menjadi tonggak awal konsolidasi nasional untuk memperkuat ekosistem pendidikan tinggi kesehatan demi mewujudkan tenaga kesehatan unggul menuju Indonesia Emas 2045.

  • MGMP Kota Bekasi Gelar Seminar Matematika Steam dan Psikometri Dalam Pembelajaran Matematika

    MGMP Kota Bekasi Gelar Seminar Matematika Steam dan Psikometri Dalam Pembelajaran Matematika

    JAKARTA | PALAPANEWS.MY.ID – MGMP Kota Bekasi gelar seminar Matematika Steam dan Psikometri dalam pembelajaran matematika di Aula SMA Negeri 1 Kota Bekasi yang beralamat di jalan KH Agus Salim No 181 Kota Bekasi(07/05/25).

    Ketua MGMP Putut Haryono, S.Pd selaku Panitia acara dalam laporannya menyampaikan bahwa acara ini dimaksudkan untuk meningkatkan kompetensi guru khususnya Matematika.
    “Acar ini kita adakan dalam rangka meningkatkan kompetensi kita”, ujarnya.

    Ketua Sanggar MGMP Drs. Anung Edi Purwanto, M.Pd mengatakan bahwa acara berjalan sesuai dengan rencana dan berkolaborasi agenda kegiatan pengabdian kepada masyarakat Unsika.

    “Alhamdulillah kegiatan berjalan sesuai dengan rencana. Pengurus dan anggota bisa berperan aktif ada momentum yang pas dan sesuai MGMP bisa Berkolaborasi dengan agenda kegiatan Unsika yaitu Pengabdian Masyarakat berkaitan dengan penyuluhan ekonomi”, ungkapnya

    Selanjutnya Anung menyampaikan bahwa guru aktif Senin sampai
    Jum’at tidak ada hambatan.

    Seminar di pandu oleh moderator Martharina Purwaningsih, S.Pd, MSi. Bertindak sebagai narasumber dalam kegiatan seminar tersebut adalah Dr. Iyan Rosita Dewi Nur, M
    Pd (dosen Pasca Sarjana Prodi Pendidikan Matematika Unsika) dengan topik Teman Pembelajaran Matematika Berbasis STEAM (Sains Teknologi Enggeneering Art and Matematika. Dr. Rika Mulyati Mustika Sari, M.Pd (dosen Pasca Sarjana Prodi Pendidikan Matematika Unsika) dengan topik Pengukuran dengan Psikometri.

    Turut hadir Dr Rafik Zulkarnaen Kepala Program Studi Pasca Sarjana Pendidikan Matematika Universitas Singaperbangsa, guru MGMP SMA baik negeri ataupun swasta se-kota Bekasi dan tamu undangan lainnya.

    (M hs)”

  • Arsitektur UNMER Malang Lakukan Pengembangan Destinasi Wisata Sumber Bantal

    Arsitektur UNMER Malang Lakukan Pengembangan Destinasi Wisata Sumber Bantal

    PALAPANEWS.MY.ID, MALANG,

    17 Agustus 2024

    Menindaklanjuti pelaksanaan Hibah PKKM 2024, team taskforce PKKM Prodi Arsitektur yang dikomandani DR. Nurhamdoko Bonifacius, pada hari Kamis 15 Agustus 2024 melaksanaan Road show program Pengembangan Kemitraan. Pengembangan kemitraan ini dilaksanakan dalam rangka melaksanaan Rencana Implementasi kegiatan Magang Study Independen Bersertifikat (MSIB) pendanaan MBKM-PKKM dan/atau MBKM Mandiri.

    Penandatangan IA aktivitas MSIB Pengembangan Destinasi Sumber Bantal

    Project yang dikerjakan oleh mahasiswa ini adalah Project penyusunan Detail Plan Pengembangan Destinasi Wisata Sumber Bantal di Desa Jambangan Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, yang melibatkan CV ARCHIGO CONSULTAN, sebagai Mitra Perencana yang ditunjuk dalam pelaksanaan Magang Mahasiswa. Berkaitan dengan hal tersebut, maka team taskforce PKKM melaksanakan Kunjungan Ke Mitra dan ke Desa Jambangan sekaligus Kunjungan ke Lokasi Sumber Bantal.

    Setelah penandatanganan Dokumen IA, Team Taskforce Mitra oleh Bapak HD Khamim Binanda. ST, team melanjutkan kunjungan ke Balai Desa Jambangan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, untuk mendiskusikan langkah-langkah konkrit bersama Bapak Eko Budi Cahyono, ST (Kades Jambangan) dalam pengembangan destinasi Wisata Sumber Bantal, yang dilanjutkan dengan kunjungan lapangan Lokasi Destinasi Sumber Bantal. Pengembangan Destinasi Sumber Bantal direncanakan akan menjadi satu kesatuan Segi Tiga Paket Destinasi Wisata; Wisata Bon Pring – Sumber Bantal – Kampoeng Boenga Grangsil di Desa Jambangan.

    Menanggapi project tersebut, Dr. Ir. Dina Poerwoningsih, ST., MT., yang merupakan Ka Prodi Arsitektur, Universitas Merdeka Malang, mengungkapkan bahwa Prodi Arsitektur UNMER Malang melakukan persiapan yang matang untuk melaksanakan Hibah PKKM 2024 tahun kedua ini. Salah satunya adalah memastikan kerjasama dengan mitra-mitra yang memiliki kesamaan visi dalam mendukung kompetensi terkait Green-Archipreneurship. Khususnya dalam kolaborasi kegiatan mahasiswa magang diberi kesempatan untuk mengembangkan kompetensi terkait setidaknya Etika dan Tanggung Jawab Sosial serta Adaptasi dan Fleksibilitas.

    Foto Bersama team taskforce PKKM Prodi Arsitektur Universitas Merdeka Malang, di Desa Jambangan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang.

    “Dalam green-archipreneurship, etika bisnis dan tanggung jawab sosial memegang peranan penting. Ini mencakup komitmen untuk tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi lingkungan dan masyarakat. Tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dalam bentuk proyek-proyek yang mendukung keberlanjutan menjadi bagian dari identitas bisnis seorang green-archipreneur,” ungkap Dr. Ir. Dina Poerwoningsih, ST., MT., Kamis, 15 Agustus 2024.

    “Mahasiswa magang dihadapkan pada tantangan dan perubahan yang terus menerus dalam isu-isu lingkungan dan regulasi terkait, green-archipreneur harus memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan fleksibel dalam pendekatan bisnis mereka. Ini mencakup kemampuan untuk mengubah strategi sesuai dengan perkembangan teknologi hijau dan kebijakan lingkungan,” pungkasnya.

    Kontributor : Diah Ruliowati, ST