Kategori: GAYA HIDUP

  • “Blood Brothers: Bara Naga”, Ketegangan Persaudaraan dalam Balutan Aksi Laga

    “Blood Brothers: Bara Naga”, Ketegangan Persaudaraan dalam Balutan Aksi Laga

    Palapanews.Asia, Jakarta – Dunia perfilman Malaysia kembali menghadirkan gebrakan baru lewat film aksi “Blood Brothers: Bara Naga”, yang resmi tayang mulai 11 Juni 2025. Film ini menjadi perbincangan hangat di kalangan penikmat sinema Asia Tenggara, bukan hanya karena aksi laga yang intens, tetapi juga karena cerita tentang persaudaraan yang berujung tragis.

    Disutradarai oleh Syafiq Yusof bersama Abhilash Chandra, Blood Brothers menyuguhkan konflik emosional antara dua saudara yang terjebak dalam pusaran dendam, loyalitas, dan pengkhianatan. Tokoh utama, Ariff (diperankan oleh Syafiq Kyle), adalah seorang pengawal pribadi yang mendadak dituduh mengkhianati organisasi tempat ia dibesarkan. Untuk membuktikan dirinya tak bersalah, Ariff harus kembali menghadapi masa lalu dan bersatu dengan saudaranya yang telah lama menghilang, Jaki (Syazwan Zulkifly).

    Ketegangan semakin memuncak ketika sosok Ghaz (Sharnaaz Ahmad) muncul sebagai antagonis utama, yang dulu sahabat Ariff, kini menjadi pemburu berdarah dingin. Penampilan Ghaz mencuri perhatian dengan aura dingin dan karisma tajam, membuat film ini terasa penuh tekanan sejak awal hingga akhir.

    Bukan hanya dibintangi nama-nama besar, film ini juga menampilkan deretan aktor papan atas seperti Shukri Yahaya, Wan Hanafi Su, Amelia Henderson, hingga Zamarul Hisham, yang semuanya tampil all-out di layar. Penonton juga disuguhi koreografi pertarungan tangan kosong yang digarap serius, dengan sentuhan sinematik yang tajam dan koreografi laga garapan Nur Ubbaidillah Afandi Amirzan nama di balik suksesnya Polis Evo 3.

    Sejak perilisan trailernya, Blood Brothers: Bara Naga langsung menyedot perhatian warganet. Adegan-adegan aksi brutal, pengkhianatan emosional, dan sinematografi bergaya gelap mengundang banyak pujian di media sosial.

    Tak tanggung-tanggung, hanya dalam waktu 11 hari penayangan, film ini berhasil mengumpulkan lebih dari RM 73 juta, menjadikannya salah satu film lokal terlaris tahun ini di Malaysia.

    Film ini tidak hanya menghibur, tapi juga meninggalkan pesan kuat tentang arti kepercayaan dan batas antara darah dan pengkhianatan. Blood Brothers bukan sekadar film laga, tapi drama saudara kandung yang dikemas dalam atmosfer penuh bara dan letupan emosi.

     

     

  • Kristo Immanuel Debut Jadi Sutradara Lewat Film “Tinggal Meninggal”

    Kristo Immanuel Debut Jadi Sutradara Lewat Film “Tinggal Meninggal”

    Palapanews.Asia, Jakarta – Aktor sekaligus komedian Kristo Immanuel siap unjuk gigi sebagai sutradara lewat film perdananya yang berjudul Tinggal Meninggal. Film produksi Imajinari ini rencananya akan tayang pada Agustus 2025 dan membawa konsep unik yang jarang ditemui di film-film Indonesia, yakni breaking the fourth wall.

    Dalam konferensi pers yang digelar di kawasan Jakarta Pusat pada Rabu (4/6/2025), Kristo membagikan alasan di balik pilihannya mengusung gaya bercerita tersebut.

    “Aku tuh suka banget film-film dan series-series yang menggunakan breaking the fourth wall,” ungkap Kristo antusias.

    Breaking the fourth wall adalah teknik naratif di mana karakter dalam film menyadari keberadaan penonton dan berbicara langsung kepada mereka, seolah-olah menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari sebuah cerita.

    Menurut Kristo, pendekatan ini sangat cocok untuk Tinggal Meninggal, terlebih karena cerita dalam film ini banyak terinspirasi dari pengalaman pribadinya.

    “Karena aku tuh suka banget kayak misalnya kalau di momen-momen awkward, di momen-momen yang cringe, di momen-momen enggak nyaman, kayak pengen ngomong ke kamera,” ujar Kristo.

    Kristo menambahkan bahwa karakter utama dalam film ini, Gema, akan banyak berbicara langsung kepada penonton di tengah-tengah adegan.

    “Jadi nanti kalau teman-teman lihat di filmnya itu, breaking the fourth wall itu momen ngomong sendirinya si Gema gitu,” ujar Kristo.

    Film Tinggal Meninggal juga dibintangi oleh sejumlah nama besar seperti Omara Esteghlal, Nirina Zubir, Mawar de Jongh, Muhadkly Acho, hingga Ardhit Erwanda. Dengan jajaran pemain yang kuat dan pendekatan penyutradaraan yang segar, film ini rencana tayang Agustus 2025.

     

  • Film Perdana GJLS: Dari Canda Jadi Cerita

    Film Perdana GJLS: Dari Canda Jadi Cerita

    Palapanews.Asia, Jakarta – Trio komedian GJLS – Rigen Rakelna, Hifdzi Khoir, dan Ananta Rispo akhirnya menapaki babak baru dalam perjalanan karier mereka. Setelah sukses besar di dunia podcast dan panggung komedi, ketiganya akan merilis film perdana mereka yang berjudul GJLS: Ibuku Ibu-Ibu pada 12 Juni 2025 di seluruh bioskop Tanah Air.

    Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, Selasa (3/6), Rigen mengungkapkan rasa bahagia sekaligus bangga mewakili ketiganya.

    “Akhirnya mimpi ini jadi nyata. Ini bukan Cuma film, tapi hasil dari proses panjang dan kekompakan kami bertiga,” ujar Rigen.

    Film ini digarap bukan semata mengejar tren, melainkan sebagai bentuk ekspresi mereka dalam menyebarkan energi positif ke penonton. Menurut GJLS, proyek ini lahir dari semangat ‘iseng yang serius’, berangkat dari kesenangan, namun dijalani dengan sungguh-sungguh.

    Menariknya, meskipun diwarnai dengan humor khas GJLS, film ini juga menuntut kedalaman emosi dalam beberapa adegan dramatis. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi mereka.

    “Pas adegan sedih tuh malah pengen ketawa. Soalnya kita udah terlalu terbiasa ngelucu bareng,” kata Rispo.

    Kendati begitu, mereka memastikan bahwa setiap adegan tetap disampaikan dengan hati. Penonton akan melihat sisi lain dari GJLS, sisi yang lebih manusiawi dan emosional, tanpa kehilangan ciri khas jenaka mereka.

    Melalui Ibuku Ibu-Ibu, GJLS berharap bisa memperluas jangkauan penontonnya. Bukan hanya para penggemar podcast atau stand up comedy, tetapi juga publik yang ingin merasakan hiburan ringan namun mengena.

    Film ini menjadi tonggak baru bagi trio GJLS dalam menjajaki industri film, dan mereka yakin pengalaman menonton ini akan terasa berbeda dari komedi-komedi biasa di bioskop.

    “Kalau biasanya kita cuma muncul di layar kecil atau di panggung, kali ini kita hadir dengan cerita utuh di layar lebar. Semoga bisa bikin orang ketawa sekaligus merasa dekat sama kita,” tutup mereka.

     

  • “Debut Produksi Marcel Chandrawinata: The Dark House Sajikan Horor Psikologis di Baturaden”

    “Debut Produksi Marcel Chandrawinata: The Dark House Sajikan Horor Psikologis di Baturaden”

    Palapanews.Asia, Jakarta – Film horor terbaru berjudul The Dark House siap menyapa penonton di bioskop mulai 12 Juni 2025. Film ini disutradarai oleh Hans Wanaghi dan diproduksi oleh Infinix One Pictures, dengan aktor Marcel Chandrawinata turut terlibat sebagai salah satu produser.

    The Dark House mengisahkan pasangan suami istri, Dewi (Karina Ranau) dan Arya (Ade Bilal Perdana), yang memutuskan untuk berlibur ke sebuah penginapan di kawasan Baturaden. Namun, liburan yang awalnya tampak menyenangkan itu berubah menjadi pengalaman menyeramkan ketika mereka mulai mengalami kejadian-kejadian horor yang perlahan mengganggu kondisi mental mereka.

    Selain Karina dan Ade, film ini juga dibintangi oleh Delia Alena, Theo Culver, dan Roy Turaekha.

    Dalam konferensi pers yang digelar Senin (2/6) di Jakarta Selatan, Marcel Chandrawinata membagikan pengalamannya terjun ke dunia produksi film.

    “Akhirnya ingin mencoba sesuatu di belakang layar, ternyata cukup sulit,” ujar Marcel.

    Ia juga mengaku banyak belajar selama proses pembuatan film ini.

    “Biasanya sebagai aktor kita hanya fokus pada peran masing-masing, tapi sebagai produser, kita harus terlibat dalam semua aspek produksi,” tutur Marcel.

    Menariknya, keterlibatan Marcel dalam proyek ini juga membangkitkan minatnya terhadap genre horor.

    “Dulu aku nggak terlalu suka main film horor, tapi setelah terlibat dalam pembuatan The Dark House, aku malah jadi tertarik buat coba berakting di genre ini,” katanya.

    Dengan nuansa mencekam dan atmosfer khas pegunungan Baturaden, The Dark Horse diharapkan mampu memberikan pengalaman berbeda bagi para pecinta film horor di Tanah Air.

     

  • Sore: Istri dari Masa Depan, Sheila Dara & Dion Wiyoko Reuni dalam Kisah Cinta Lintas Waktu

    Sore: Istri dari Masa Depan, Sheila Dara & Dion Wiyoko Reuni dalam Kisah Cinta Lintas Waktu

    Palapanews.Asia, Jakarta – Masih ingat dengan mini series, Sore: Istri dari Masa Depan yang sempat viral di tahun 2017. Kabar gembira buat para penggemarnya. Kisah cinta unik yang penuh haru ini bakal kembali hadir, tapi kali ini dalam versi layar lebar yang lebih dalam dan emosional. Film Sore: Istri dari Masa Depan dijadwalkan tayang serentak di bioskop mulai 10 Juli 2025.

    Yang menarik, film ini kembali digarap oleh Yandy Laurens, sosok kreatif di balik versi mininya. Konon, proyek ini sangat personal bagi Yandy karena cerita diangkat langsung dari pengalaman emosionalnya. Diproduksi oleh Cerita Films, film ini siap memberikan sentuhan sinematik yang jauh lebih menyayat hati.

    Film ini kembali memasangkan Dion Wiyoko sebagai Jonathan dan Sheila Dara Aisha sebagai Sore. Chemistry keduanya yang pernah mencuri perhatian publik akan dihidupkan lagi dalam kisah cinta yang tak biasa.

    Jonathan digambarkan sebagai fotografer yang cuek terhadap kesehatannya. Tapi hidupnya berubah ketika ia bertemu dengan Sore, sosok istri yang misterius, penyayang, dan ternyata berasal dari masa depan.

    Sore datang bukan sekadar untuk mencintai, tapi untuk menyelamatkan hidup Jonathan. Misi penuh cinta dan pengorbanan ini dijamin bikin penonton tersentuh dan berpikir ulang soal arti cinta sejati.

    Dari web series ke layar lebar bukan sekadar memanfaatkan nostalgia. Yandy Laurens menjanjikan sesuatu yang lebih “menghantam hati”. Visual yang memukau, alur cerita yang lebih matang, dan sentuhan emosional yang mendalam siap membuat film ini jadi salah satu tontonan paling ditunggu tahun ini.

     

  • GJLS Rilis Poster Absurd dan Trailer Kocak “Ibuku Ibu-Ibu”

    GJLS Rilis Poster Absurd dan Trailer Kocak “Ibuku Ibu-Ibu”

    Palapanews.Asia, Jakarta – Trio komedian GJLS, Rigen Rakelna, Ananta Rispo, dan Hifdzi Khoir siap kembali mengocok perut lewat film terbaru mereka GJLS: Ibuku Ibu-Ibu. Film bergenre komedi ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 12 Juni 2025 mendatang, dan baru saja merilis poster serta trailer resminya yang langsung jadi bahan perbincangan netizen.

    Film GJLS: Ibuku Ibu-Ibu merupakan kolaborasi produksi antara Amadeus Sinemagna dan Legacy Pictures. Tak hanya menjadi debut layar lebar GJLS, film ini juga menjadi representasi suara generasi muda yang ingin tertawa di tengah tekanan hidup sehari-hari.

    Bukan GJLS namanya kalau tak menghadirkan kejutan. Poster resmi film ini tampil nyeleneh dan absurd sesuai DNA GJLS. Bagaimana tidak, seluruh wajah karakter dalam posternya sengaja dibikin blur. Bahkan ada satu sosok perempuan misterius yang wajahnya disamarkan total, bikin warganet makin kepo.

    Sutradara Monty Tiwa mengungkapkan bahwa proses syuting bersama trio GJLS adalah pengalaman syuting paling “goblok” yang pernah ia alami.

    “GJLS itu kayak syuting sambil nongkrong di warung kopi, script bisa berubah tiap 5 menit, bloopers lebih banyak dari take yang benar. Tapi justru di situ letak keajaibannya. Mereka absurd, tapi jujur dan penuh semangat. Saya dan kru ketawa setiap hari selama syuting.” ujar Monty dalam konfrensi pers yang digelar di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (23/5/2025).

    Indra Yudhistira, selaku Produser Eksekutif dari Amadeus, mengungkap bahwa proses kreatif di balik poster tersebut cukup penuh drama.

    “Banyak banget versi posternya, dari yang lucu sampai yang aneh-aneh. Kita debat panjang, saling lempar ide, sampai akhirnya sepakat dengan konsep blur ini,” ujar Indra.

    Indra menjelaskan bahwa poster blur ini bukan tanpa makna.

    “Blur di poster itu simbol dari kekacauan absurd yang jadi ciri khas GJLS. Film ini memang nggak menawarkan karakter yang sempurna, tapi lebih ke kekacauan yang tulus dan menghibur,” katanya.

    Sementara itu, trailer resmi yang sudah tayang di akun Instagram @gjls.ibuku.ibuibu dan @gjlsentertainment langsung banjir komentar lucu dari netizen. Beberapa adegan gokil di trailer membuat banyak yang mengaku tak sabar menontonnya di bioskop.

    Film Ibuku Ibu-Ibu sendiri berkisah tentang tiga bersaudara yang berusaha menggagalkan rencana ayah mereka untuk menikah lagi setelah sang ibu meninggal dunia. Dengan gaya khas GJLS, cerita ini dijamin bukan hanya penuh kekonyolan, tapi juga menyentuh.

    Siap-siap ketawa ngakak sekaligus tersentuh karena GJLS: Ibuku Ibu-Ibu bukan sekadar film komedi, tapi juga tentang keluarga, kehilangan, dan kasih sayang dalam balutan humor absurd.

     

  • The Amazing You untuk kelima kalinya akan dilaksanakan pada Sabtu 24 Mei 2025 secara hybrid (live di ICE BSD

    The Amazing You untuk kelima kalinya akan dilaksanakan pada Sabtu 24 Mei 2025 secara hybrid (live di ICE BSD

    PALAPANEWS.MY.ID.TANGERANG – The Amazing You untuk kelima kalinya akan dilaksanakan pada Sabtu 24 Mei 2025 secara hybrid (live di ICE BSD Tangerang Hall 1 – Sriwijaya dan online melalui Zoom Meeting). Akan hadir lebih dari 10.000 partisipan berbagai kalangan dari seluruh penjuru negeri bahkan mancanegara.

    Training yang mengusung tema ‘Unlock Your Power’ itu sekaligus memeriahkan Milad ESQ ke-25 yang penuh makna. Disebut sebagai High Impact Motivational Training ini langsung dibawakan oleh Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian (CEO ESQ Corp), disampaikan dengan menggunakan metode khas ESQ, yang telah teruji selama lebih dari 20 tahun dan berhasil diikuti oleh 1,8 juta alumninya di seluruh dunia.

    Sebelumnya, training The Amazing You di tanggal 15 – 16 Desember 2018 telah memecahkan rekor MURI sebagai training dengan peserta korporasi terbanyak yakni 104 perusahaan. Bertempat di ICE BSD, Tangerang, yang diikuti lebih dari 10.000 orang (hybrid). Pesertanya berasal dari berbagai negara yakni Malaysia, Singapura, Indonesia, dan Belanda.

    Ary Ginanjar menyampaikan alasan mengapa Training Amazing You diselenggarakan dalam situasi saat ini, “Sejatinya manusia itu punya dua hal yaitu tujuan yang jelas dan harapan. Selama manusia punya tujuan yang jelas, harapan akan selalu ada manusia akan bangkit.

    Maka dari itu, Training Amazing You ke-5 ini sebagai ikhtiar untuk menyalakan kembali tujuan agar harapan atau hope tumbuh di tengah situasi apapun.

    Kalau kita terus fokus pada kegelapan, kita ikut memperbesar kecemasan. Tapi kalau kita fokus pada tujuan, kita sedang ikut membangun masa depan. Kita sedang membangun Indonesia Emas 2045.”

    Lebih lanjut, “The Amazing You memanfaatkan teknologi terkini dan efek psikologis yang mampu mempengaruhi jiwa secara mendalam. Sejalan dengan nilai-nilai ESQ yang menekankan pengembangan karakter, kecerdasan emosional, dan spiritual, training ini dirancang untuk membantu peserta mengenali potensi terbaik dalam diri mereka.

    The Amazing You bukan sekadar pelatihan, tetapi sebuah perjalanan inspiratif yang membangkitkan kesadaran akan jati diri, memperkuat mental resilience, serta membentuk mindset positif agar setiap individu dapat menjalani hidup yang lebih bermakna.”

    Dengan optimisme, Ary juga katakan, “Seperti temanya, “Unlock Your Power”, dalam diri manusia sudah terdapat energy untuk mencapai kesuksesan. Akan tetapi banyak yang tidak tahu cara menggunakannya, itu yang menjadikan Amazing You istimewa.”

    Pendiri Menara 165 menyampaikan bahwa Amazing you for Amazing Nation. Dalam artian, mengingat dewasa ini, tantangan semakin meningkat. Digitalisasi telah mengubah berbagai platform kehidupan. Persaingan semakin tinggi, seiring cepatnya perubahan di zaman disruptive atau era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity).

    “Untuk bisa bertahan di era VUCA, satu hal yang penting dan sangat berperan yaitu manusia. Setiap manusia memiliki jiwa yang harus dijaga dan dibangkitkan, agar tangguh dalam menghadapi gelombang kehidupan, memiliki tekad yang kuat dalam meraih cita-cita dan impian, pantang menyerah menghadapi kegagalan, tulus namun bersemangat tinggi dalam melakukan perbaikan
    optimis memandang masa depan,” paparnya.

    Inilah yang menjadi kepedulian Ary selaku pakar pembangunan karakter. Karakter yang kuat sebelum terjun ke dunia kerja dan membangun Indonesia sangatlah diperlukan. Terlebih lagi, The Amazing You adalah portal untuk wujudkan mimpi Indonesia Sejahtera 2030, yang nantinya menjadi langkah menuju Peradaban Indonesia Emas 2045 bahkan hingga ke tahun 2085.

    Berbagai macam teori tersebut disampaikan dengan pembawaan yang sangat hangat, fun, dan sederhana, sehingga tidak hanya mudah dipahami tetapi juga dinikmati oleh para peserta terlebih generasi milenials dan zelenials yang akan memadati seisi ruang di ICE BSD.

    Peserta yang akan hadir, datang dari beragam klaster, seperti karyawan perusahaan (Pemerintahan, BUMN & Swasta), Alumni ESQ dari seluruh wilayah Indonesia dan Asia Tenggara (Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, etc), Pengusaha (Entrepreneur), Mahasiswa/Siswa dan lainnya.

    Desyana Hermala Direktur Sales Retail ESQ menjelaskan manfaat yang diraih jika mengikuti training ini seharian penuh.

    “Khusus untuk perusahaan, ini bisa memudahkan perusahaan untuk mencapai target, mendorong karyawan untuk memiliki etos kerja yang lebih tinggi, mendorong terciptanya hubungan yang harmonis antar karyawan dan lain sebagainya.”

    Ajang Amazing You Batch 5 disponsori oleh, di antaranya BSI, KAI, Herbalife, Travel Time, Dimulti Kolam Renang, Malaika Properti, Rafsa T-Shirt, Grand Tjokro Bandung, Kaltim Methanol Industri.

    (Eka)

  • “Waktu Maghrib 2”: Teror Jin dan Kesurupan di Lokasi Syuting

    “Waktu Maghrib 2”: Teror Jin dan Kesurupan di Lokasi Syuting

    Palapanews.Asia, Jakarta – Film Waktu Maghrib 2 bukan hanya menyuguhkan teror supranatural di layar, tapi juga menghadirkan pengalaman ekstrem. Disutradarai oleh Sidharta Tata dan diproduseri oleh Sunil Samtani, sekuel ini membawa kisah baru yang lebih mencekam dari film pertamanya.

    Para aktor muda seperti Muzakki Ramdhan, Sulthan Hamonangan, dan Ghazi Alhabsyi mengaku menghadapi tantangan tak biasa saat syuting film horor ini, saat wawancara konferensi pers di Epicentrum XXI, Jakarta, Rabu (21/5/2025).

    Jin Ummu Sibyan kembali hadir untuk meneror, kali ini di desa Giritirto, dan teror itu benar-benar terasa bahkan saat syuting berlangsung.

    Muzakki yang memerankan Endro mengungkapkan betapa intensnya peran yang ia mainkan.

    “Sebagai Endro, yang bisa dibilang 80 persen adegannya kesurupan, jadi lumayan mencekam. Tapi aku sangat menikmatinya karena ini pertama kali aku berperan segila ini,” ujar Muzakki.

    Ia juga menjalani transformasi dengan prostetik makeup, sesuatu yang baru baginya.

    “Pertama kali pakai prostetik untuk wajah kesurupan. Rasanya ngeri pas ngaca, tapi seru banget karena ini langkah besar di karierku,” tambahnya.

    Berbeda dengan Muzakki, Sulthan Hamonangan justru dibuat kewalahan oleh alat teknis yang digunakan saat syuting. Ia dan Muzakki harus menggunakan camera rig, kamera yang dipasang langsung di tubuh mereka untuk menangkap ekspresi saat adegan berlari.

    “Camera rig itu berat banget. Kita harus lari sambil bawa beban kamera di dada. Nggak ada kru yang pegangin, kita beneran lari sendiri,” jelas Sulthan.

    “Tapi seseru itu. Lari-lari dikejar tapi kamera terus ngerekam muka kita, kayak masuk langsung ke dalam rasa takutnya karakter,” timpal Muzakki.

    Ghazi Alhabsyi, yang baru pertama kali main film horor, tidak menyangka adegan bisa semencekam itu, bahkan membuatnya benar-benar takut.

    “Pas adegan dikejar Endro (Muzakki), dia berdarah-darah, bawa celurit, teriak-teriak… itu ngeri banget. Kita takut beneran!” ujar Ghazi.

    Sidharta Tata, sang sutradara, merasa puas karena para aktor mampu memberikan totalitas meski syuting berlangsung intens.

    “Saya bangga banget lihat mereka bisa masuk ke karakter dengan penuh. Horornya kerasa, tapi emosinya juga dapet. Mereka kerja luar biasa,” ujar Tata.

    Sementara itu, produser Sunil Samtani menyebut Waktu Maghrib 2 sebagai proyek horor yang lebih matang secara teknis dan emosional.

    “Kita ingin penonton tidak hanya ketakutan, tapi juga merasa terhubung. Ini bukan Cuma horor visual, tapi juga horor psikologis,” kata Sunil.

    Waktu Maghrib 2” tayang mulai 28 Mei 2025 di seluruh bioskop Indonesia. Siap-siap menjerit saat azan maghrib berkumandang.

     

  • Mimbar Bebas Salemba Bergerak: Seruan Penyelamatan Sistem Kesehatan Nasional

    Mimbar Bebas Salemba Bergerak: Seruan Penyelamatan Sistem Kesehatan Nasional

    Palapanews.Asia, Jakarta – Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-117, Ikatan Alumni FKUI (ILUNI FKUI) bersama Badan Eksekutif Mahasiswa Senat Mahasiswa FKUI (BEM SM FKUI) menyelenggarakan acara Mimbar Bebas Salemba Bergerak di Aula IMERI FKUI, Salemba. Acara ini berlangsung dari pukul 13.00 hingga 15.30 WIB dan dihadiri oleh mahasiswa, dosen, alumni, serta tokoh-tokoh penting di bidang pendidikan kedokteran dan kesehatan Indonesia.

    Acara ini merupakan respons atas berbagai kebijakan Kementerian Kesehatan yang belakangan mendapat kritik keras dari 158 Guru Besar FKUI, yang telah menyampaikan pernyataan sikap bertajuk Salemba Berseru pada 16 Mei 2025. Kebijakan-kebijakan tersebut dinilai berpotensi menurunkan mutu pendidikan kedokteran, termasuk pendidikan dokter spesialis, serta mengancam kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia.

    Dalam orasinya Mayjen TNI (PURN) dr. Budiman, SpBP-RE Mantan Kapuskes TNI Mantan Koordinator RS Darurat Covid-19, Wisma Atlit Kemayoran mengatakan bahwa tansformasi kesehatan Indonesia saat ini berpotensi menciptakan kerentanan dalam sistem ketahanan nasional apabila tidak dikoreksi secara strategis.

    Ketegangan antara Kementerian Kesehatan dan stakeholders profesional mengancam stabilitas dan efektivitas sistem layanan kesehatan kita. Sebagai mantan perwira tinggi TNI, saya tahu betul apa yang terjadi ketika seorang panglima kehilangan kepercayaan pasukannya. Menkes saat ini telah menjadi superbody yang otoriter.

    Sehubungan dengan hal tersebut, lemahnya strategi pembangunan kapasitas kesehatan di daerah 3T juga layak untuk menjadi sorotan. Program pengadaan teknologi kesehatan tertentu tanpa disertai kesiapan SDM dan sarana prasarana yang memadai dikhawatirkan akan menurunkan kualitas pelayanan. Minimnya partisipasi stakeholder dalam perumusan kebijakan menjadi akar dari berbagai masalah yang muncul.

    Untuk mengatasi permasalahan ini, beberapa rekomendasi diajukan, antara lain:

    1. Membangun kembali dialog strategis dengan stakeholder,

    2. Penguatan sistem keamanan dan kedaulatan data kesehatan,

    3. Moratorium liberalisasi pendidikan kedokteran,

    4. Penguatan layanan primer,

    5. Regulasi penempatan dokter yang adil,

    6. Evaluasi independen program-program transformasi bidang kesehatan,

    7. Evaluasi program-program intervensif yang keluar batas dalam pendidikan kedokteran spesialis, dan

    8. Memindahtugaskan Menkes ke ruang jabatan yang sesuai dengan keilmuannya.

    Sebagai penutup, dr. Budiman mengajukan lima seruan penting untuk menyelamatkan ketahanan kesehatan nasional. Mulai dari membangun kembali dialog strategis antar pemangku kepentingan, menghentikan liberalisasi pendidikan kedokteran, memperkuat layanan primer dan spesialis berbasis kebutuhan daerah, evaluasi independen transformasi kesehatan, hingga meninjau ulang sistem pendidikan spesialis.

     

     

  • “Legenda Kelam Malin Kundang: Ketika Luka Lama Kembali Menghantui”

    “Legenda Kelam Malin Kundang: Ketika Luka Lama Kembali Menghantui”

    Palapanews.Asia, Jakarta – Rumah produksi Come and See Pictures kembali hadir dengan proyek film terbarunya yang berjudul Legenda Kelam Malin Kundang. Meski masih mengusung genre misteri-thriller, kali ini Joko Anwar yang dikenal lewat karya-karyanya, memilih untuk berada di balik layar sebagai produser. Posisi sutradara dipercayakan kepada Kevin Rahardjo dan Rafki Hidayat.

    Film yang rencananya tayang akhir 2025 ini dibintangi oleh sejumlah nama besar seperti Rio Dewanto, Faradina Mufti, Vonny Anggraini, dan Nova Eliza.

    Mengangkat sisi gelap dari legenda Malin Kundang, film ini mengusung nuansa misteri yang kuat dan emosi yang berlapis. Rio Dewanto dipercaya memerankan Alif, seorang pelukis yang dihantui trauma masa kecil dan pergolakan batin.

    “Yang paling menantang adalah bagaimana membuat penonton benar-benar merasakan apa yang dirasakan Alif, tanpa harus selalu lewat dialog. Tatapan, gesture kecil, napas… semua itu harus bicara,” ungkap Rio saat jumpa pers di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Senin (19/5/2025).

    Berperan sebagai Nadine, istri dari Alif, Faradina Mufti menghadirkan karakter yang lembut namun penuh keteguhan.

    “Dia istri yang sangat mengayomi, menjaga perasaan suami dan anaknya dalam kondisi apa pun,” tutur Faradina.

    Aktris Vonny Anggraini juga ambil bagian dalam film ini dan mengaku peran yang ia mainkan adalah salah satu yang paling kompleks selama kariernya.

    “Di karakter ini, ada semua rasa: bahagia, marah, kecewa, luka, lalu bahagia lagi. Ini benar-benar seperti roller coaster emosi,” kata Vonny.

    Untuk menghidupkan perannya, Vonny mendalami micro-gesture dan micro-expression, serta berdiskusi intens dengan sutradara dan para lawan main, termasuk Rio Dewanto.

    “Kami juga bangun chemistry sebagai keluarga. Sama Rio, juga sama Jordan dan Emir yang jadi anak kami di film.” ujar Vonny.

    Sementara itu, Nova Eliza menyebut perannya dalam Legenda Kelam Malin Kundang sebagai salah satu yang paling menantang secara emosional sepanjang kariernya.

    “Kesedihan yang harus saya tampilkan itu tidak boleh meledak-ledak, tapi tetap terasa dalam. Menunjukkan luka, tapi tidak bisa ditunjukkan secara langsung,” ujar Nova.

    Film ini bukan sekadar reinterpretasi legenda, tapi juga eksplorasi psikologis dari luka dan konflik dalam keluarga.