Kategori: GAYA HIDUP

  • “Pencarian Terakhir”, Kisah Misteri Gunung Sarangan yang Menegangkan

    “Pencarian Terakhir”, Kisah Misteri Gunung Sarangan yang Menegangkan

    Palapanews.Asia, Jakarta (7/8/2025) – Sebuah kisah pencarian yang dibalut misteri dan teror dunia gaib akan segera hadir di layar lebar lewat film Pencarian Terakhir. Film garapan ini mengangkat cerita tentang perjalanan seorang anak mencari sang ibu di Gunung Sarangan, yang konon menyimpan rahasia kelam dan kekuatan tak kasatmata.

    Cerita bermula dari Drupadi (Adzana Ashel) yang diliputi kerinduan mendalam kepada ibunya, Sita (Artika Sari Devi), yang hilang tanpa jejak di Gunung Sarangan. Bersama sejumlah sahabat, Drupadi memutuskan melakukan trail run menuju gunung tersebut. Namun, perjalanan yang awalnya sekadar penelusuran berubah menjadi mimpi buruk ketika sosok gaib penjaga gunung menyesatkan mereka ke dimensi lain yang mengancam nyawa.

    Dalam ketegangan itu, Tito (Donny Alamsyah), seorang pria yang pernah mengalami teror serupa di gunung tersebut memberanikan diri kembali menapaki jalur berbahaya itu. Bagi Tito, pencarian ini bukan hanya misi penyelamatan, melainkan juga perjuangan seorang ayah untuk membawa pulang putrinya.

    Film ini menghadirkan deretan bintang papan atas dan talenta muda, di antaranya Adzana Ashel, Donny Alamsyah, Artika Sari Devi, Razan Zu, Fatih Unru, Alika Jantinia, Fadi Alaydrus, Dinda Mahira, Moh Iqbal Sulaiman, Yama Carlos, Alex Abbad, Tesadesrada Ryza, Verdi Sulaeman, Ramon Y Tungka, Azkya Mahira, Andrew Andika, Egi Fedly, Fuad Idris, dan Ruth Marini.

    Mengusung latar alam pegunungan yang memukau sekaligus mencekam, Pencarian Terakhir menjanjikan pengalaman sinematik yang memadukan drama keluarga, petualangan ekstrem, dan horor supranatural. Penonton diajak menyelami kisah penuh emosi, di mana rasa cinta dan keberanian diuji oleh batas-batas dunia nyata dan dunia lain.

    Bagi pencinta film misteri-horor, catat tanggalnya. Pencarian Terakhir akan tayang serentak di jaringan bioskop CGV mulai 28 Agustus 2025.

     

     

  • Reza Arap Hadirkan “Harusnya Horor”, Film Horor Tak Biasa

    Reza Arap Hadirkan “Harusnya Horor”, Film Horor Tak Biasa

    Palapanews.Asia, Jakarta – Reza Arap resmi memulai langkah barunya di dunia perfilman sebagai sutradara lewat proyek film berjudul Harusnya Horor. Setelah melalui tahap pengembangan dan pembacaan naskah, film ini kini memasuki masa produksi dan direncanakan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada tahun 2026.

    “Rasanya luar biasa akhirnya bisa memulai syuting. Dari proses awal sampai sekarang, semuanya didukung oleh tim yang solid dan semangat kolaboratif yang tinggi. Harusnya Horor bukan cuma tentang horor, tapi juga soal bagaimana kita bisa menciptakan sesuatu yang menghibur dan tetap hangat,” ujar Reza.

    Film ini mengangkat kisah para kreator konten bertema horor, namun dengan pendekatan yang unik. Tak hanya menyuguhkan unsur ketegangan dan komedi, cerita dalam film ini juga menyentuh sisi emosional lewat tema persahabatan.

    “Bukan cuma ingin menakut-nakuti atau membuat tertawa, film ini juga berbicara tentang hubungan antar karakter yang saling mendukung. Saya ingin penonton merasa terhubung dan mendapatkan pengalaman yang lengkap tak hanya seram, tapi juga hangat dan menghibur,” kata Reza.

    Langkah Reza terjun ke kursi sutradara dinilai sebagai lompatan menarik oleh produser Harusnya Horor, Jimmy Lalwani. Ia melihat Reza sebagai sosok kreatif dengan banyak potensi.

    “Sejak awal saya tertarik dengan Reza dari karya-karyanya di YouTube, musik, sampai keterlibatannya di film. Setelah melihat proyek Marapthon, saya makin yakin dia punya visi dan kemampuan untuk membuat film yang kuat. Akhirnya, kami sepakat untuk bekerja sama dalam proyek ini,” kata Jimmy.

    Untuk kabar dan update terbaru seputar Harusnya Horor, para penggemar bisa mengikuti akun Instagram resmi produksi di @essjaystudios_ph.

     

     

  • Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: Kisah Air Mata dan Pengorbanan

    Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: Kisah Air Mata dan Pengorbanan

    Palapanews.Asia, Jakarta – Rapi Films kembali hadirkan kisah penuh emosi lewat trailer dan poster Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah, film keluarga yang siap menguras air mata penonton.

    Wulan (Sha Ine Febriyanti) digambarkan sebagai sosok ibu sekaligus kepala keluarga yang kuat, berusaha keras menopang kehidupan ketiga anak perempuannya. Sang anak sulung, Anis (Eva Celia), masih menyandang status single parent dan sedang berjuang mencari pekerjaan. Sedangkan Alin (Amanda Rawles) menghadapi tekanan besar di dunia kedokteran sebagai mahasiswa beasiswa yang nyaris kehilangan kesempatan berkat. Dan Aca (Nayla Purnama) masih menjalani hari-hari sebagai siswi SMA.

    Di dalam trailer berdurasi dua menit yang baru dirilis ini, penonton diajak memasuki ruang batin keluarga itu, merasakan kepingan luka yang tersembunyi di balik senyuman sehari-hari. Wulan tak hanya mengurus rumah tangga dan laundry, tapi juga menjadi figur pelindung saat atap bocor dan kipas angin rusak, seolah menjadi ayah di tengah kehadiran suami yang tampak di pinggir.

    Salah satu momen paling menyentuh adalah saat Alin (Amanda Rawles) mengucapkan:

    “Mungkin kalau Ibu enggak menikah dengan Ayah, kipas angin ini enggak akan rusak. Atap rumah enggak bocor.”

    Menurut produser eksekutif Sunil Samtani, film ini menawarkan lapisan-lapisan emosional dari setiap karakter keluarga yang sering kali tak terlihat.

    “Setiap anggota keluarga memiliki perjuangan dan luka yang tersembunyi,” ujar Sunil.

    Disutradarai oleh Kuntz Agus dengan naskah dari Evelyn Afnilia, film ini menampilkan jajaran pemeran berkelas seperti Sha Ine Febriyanti, Amanda Rawles, Eva Celia, Nayla Purnama, Bucek, Indian Akbar, Ariyo Wahab, dan Bintang Alvarendra Soemardi. Diproduksi bersama oleh Rapi Films, Screenplay Films, Legacy Pictures, dan Vortera Studios, film ini menggambarkan Wulan sebagai pilar keluarga yang kelelahan namun menahan semuanya demi cinta bagi anak-anaknya.

    Amanda Rawles yang berperan sebagai Alin merefleksikan karakter dan perjuangannya,

    “Saya ingin menunjukkan betapa besar tanggung jawab seorang anak perempuan yang ingin membahagiakan ibunya, meskipun hampir menyerah.” ujar Amanda.

    Untuk mengikuti perkembangan film ini, Anda dapat memantau akun Instagram resmi @rapifilm dan @andaiibu. Tandai kalender Anda: Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah akan tayang di bioskop pada 4 September 2025.

  • “Tinggal Meninggal” Gelar Jumpa Pers Tak Biasa, Cast Justru Wawancarai Media

    “Tinggal Meninggal” Gelar Jumpa Pers Tak Biasa, Cast Justru Wawancarai Media

    Palapanews.Asia, Jakarta – Ada yang berbeda dari acara jumpa pers film Tinggal Meninggal (atau TingNing), yang digelar pada Rabu sore di Epicentrum XXI, Jakarta (6/8/2025, Jika biasanya awak media yang mengajukan pertanyaan kepada para pembuat film, kali ini justru para pemain dan kru yang balik mewawancarai jurnalis.

    Format unik ini mencerminkan semangat filmnya yang juga tak biasa. Dalam suasana santai namun penuh antusiasme, para pemain seperti Omara Esteghlal, Jared Ali, Gilbert Pattiruhu, dan Nirina Zubir melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada para jurnalis tentang kesan mereka setelah menonton. Responnya? Tak kalah hangat dan jujur. Banyak dari media yang mengaku film ini menyentuh sisi personal mereka—terutama isu tentang inner child dan keinginan untuk “dianggap” yang terasa relevan.

    Film produksi Imajinari ini menjadi debut penyutradaraan dari komika dan aktor muda Kristo Immanuel. Ia pun tak menyembunyikan rasa harunya melihat respons penonton.

    “Rasanya menyenangkan sekali melihat orang-orang menangkap rasa yang ingin kami sampaikan. Film ini personal, tapi kami bungkus dengan kejujuran dan humor. Saya senang film ini bisa sampai ke hati penonton,” ujar Kristo.

    Film Tinggal Meninggal sendiri berkisah tentang Gema, pria muda yang tiba-tiba jadi pusat perhatian di kantornya setelah ayahnya meninggal. Namun, ketika perhatian itu mulai memudar, ia mulai berpikir ekstrem: “Siapa lagi yang harus meninggal agar aku dianggap?” Dari sinilah kisah tragis komedi bergulir gelap tapi tetap jenaka.

    Produser Ernest Prakasa yang turut hadir juga menyampaikan harapannya. Ia menyebut format baru dalam film dan acara promosi ini sebagai “angin segar” dalam industri.

    “Kita butuh cerita yang jujur tapi tetap menyenangkan. Dan saya rasa Tinggal Meninggal berhasil menghadirkan itu,” kata Ernest.

    Omara Esteghlal, yang memerankan Gema dewasa, berbagi bahwa proyek ini sangat personal baginya.

    “Ini bukan sekadar akting. Saya juga terlibat sebagai Co-Executive Producer. Banyak momen dalam film ini yang bikin saya merefleksi hidup sendiri,” tuturnya.

    Setelah menjalani pemutaran terbatas di beberapa kota, termasuk Jakarta, Yogyakarta, Bandung, dan Lampung, film ini langsung menuai respons positif di media sosial. Warganet menyebut film ini sebagai “perpaduan absurd, lucu, dan menyentuh yang jarang ditemukan di film Indonesia.”

    Antusiasme tersebut mendorong dibukanya penjualan tiket awal gelombang kedua untuk pemutaran spesial tanggal 9 Agustus 2025 di empat kota: Jakarta, Medan, Denpasar, dan Balikpapan. Tiket bisa dibeli lewat aplikasi TIX ID.

    Film Tinggal Meninggal dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada 14 Agustus 2025. Siapkan diri Anda untuk tertawa, terkejut, sekaligus merenung bersama Gema dan lika-liku kebohongannya demi mendapat perhatian dunia.

     

     

  • “NANT SHOWCASE EXPERIENCE” BUKA JALAN MENUJU KONSER ROMANTIS TERBESAR AKHIR TAHUN, LOVESTIVAL ID 2025

    “NANT SHOWCASE EXPERIENCE” BUKA JALAN MENUJU KONSER ROMANTIS TERBESAR AKHIR TAHUN, LOVESTIVAL ID 2025

    Palapanews.Asia, Jakarta – Nant Live sukses menggelar NANT Showcase Experience di The Kasablanka Main Hall, Jakarta, sebagai langkah awal menuju konser musik paling dinanti di akhir tahun: Lovestival ID 2025. Acara eksklusif ini dihadiri lebih dari 3.000 tamu undangan yang memadati venue dalam suasana meriah dan penuh antusiasme di Kasablanka Hall, Jakarta (4/8/2025).

    Dalam gelaran ini, Nant Live mengumumkan line-up perdana untuk Lovestival ID 2025 yang siap mengguncang panggung Sentul International Convention Center pada 20 Desember mendatang. Nama-nama besar seperti Kahitna, Afgan, Bunga Citra Lestari, Yura Yunita, Tiara Andini, P.J. Gendhing, hingga Jauza Kamila dipastikan akan tampil, membawa nuansa romantis dan euforia yang tak terlupakan.

    Tak hanya konser, NANT Showcase Experience juga menjadi ajang peluncuran trailer perdana film terbaru produksi Nant Entertainment berjudul “Kamu Harus Mati”, yang akan tayang di bioskop Indonesia dan ASEAN. Penampilan live dari P.J. Gendhing, yang membawakan original soundtrack film tersebut, menjadi salah satu momen paling ditunggu malam itu.

    Kejutan lainnya datang dari penyanyi muda Jauza Kamila yang tampil dalam sesi talkshow sambil memperkenalkan mini album terbarunya yang berisi lima lagu, dirilis di bawah label Nant Live Records. Afgan menutup malam dengan penampilan penuh karisma yang membuat seluruh penonton terpukau.

    Nant Live juga memeriahkan acara dengan doorprize sepeda listrik serta pengumuman dimulainya penjualan tiket early bird untuk Lovestival ID 2025, yang langsung diserbu para pecinta musik.

    “Lovestival ID akan jadi momen paling romantis dan emosional untuk menutup tahun ini,” ujar Muhammad Hananto, Direktur Utama Nant Live.

    Lovestival ID 2025 siap menghadirkan panggung megah, musik berkualitas, dan momen yang akan membekas di hati. Tandai tanggalnya: 20 Desember 2025 di Sentul International Convention Center.

  • Tissa Biani Ceritakan Keterikatan Emosional dengan Karakter Intan di Film “Panggil Aku Ayah”

    Tissa Biani Ceritakan Keterikatan Emosional dengan Karakter Intan di Film “Panggil Aku Ayah”

    Palapanews.Asia, Jakarta – Aktris muda Tissa Biani mengungkapkan bahwa perannya sebagai Intan dalam film Panggil Aku Ayah bukan sekadar akting biasa. Lewat film yang sarat makna keluarga ini, Tissa merasa mengalami proses mendalam secara emosional karena kisah Intan menyentuh bagian personal dalam hidupnya.

    “Dari pertama baca naskah, bahkan dari judulnya saja, aku sudah merasa film ini dekat banget sama kehidupanku,” ujar Tissa dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta (30/7/2025).

    “Intan tumbuh tanpa orang tua kandung di sisinya, dan aku pun mengalami hal yang serupa.” ungkap Tissa.

    Dalam film tersebut, Intan adalah seorang gadis kecil yang dititipkan oleh ibunya kepada dua penagih utang. Awalnya penuh rasa canggung, hubungan yang terjalin justru tumbuh menjadi kasih sayang layaknya keluarga. Perjalanan Intan bersama dua sosok yang tak pernah ia duga akan menjadi figur ayah membuat film ini menyimpan pesan kuat tentang keluarga yang hadir dari kepedulian, bukan sekadar ikatan darah.

    Tissa mengaku ada beberapa adegan yang begitu menyentuh baginya secara pribadi. Salah satunya saat Intan menangis karena merindukan kedua orang tuanya.

    “Adegan itu berat banget buat aku. Rasanya kayak nyatu sama Intan. Aku tahu rasanya kangen sosok ayah,” ungkap Tissa.

    Film garapan sutradara Benni Setiawan ini diproduksi oleh Visinema Studios dan CJ ENM, dan dijadwalkan tayang pada 7 Agustus 2025. Melalui kisah hangat dan penuh sentuhan komedi, Panggil Aku Ayah membawa pesan penting tentang bagaimana keluarga bisa hadir dari tempat yang tak disangka, melalui perhatian dan kehadiran, bukan hanya karena hubungan darah.

  • Garin Nugroho Persembahkan Film Musikal Epik “Siapa Dia” sebagai Kado HUT RI ke-80

    Garin Nugroho Persembahkan Film Musikal Epik “Siapa Dia” sebagai Kado HUT RI ke-80

    Palapanews.Asia, Jakarta – Dunia film Indonesia kembali diramaikan dengan kehadiran karya terbaru maestro sinema Garin Nugroho yang bertajuk Siapa Dia, sebuah film musikal ambisius yang menggabungkan sejarah, cinta, dan budaya pop tanah air dalam satu panggung megah. Film ini resmi merilis trailer dan poster perdananya pada Selasa, 29 Juli 2025, di CGV Grand Indonesia, dan dijadwalkan tayang eksklusif di sejumlah kota mulai 28 Agustus 2025 bertepatan dengan perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia.

    Dengan kalimat pembuka “Dunia penuh fantasi…” yang diucapkan oleh Nicholas Saputra, penonton langsung diajak memasuki semesta unik seorang sutradara muda bernama Layar, yang sedang dilanda kebuntuan ide. Namun pencariannya akan inspirasi justru membawanya dalam perjalanan lintas zaman yang emosional dan penuh kejutan.

    Disajikan dalam format musikal yang jarang dieksplorasi dalam perfilman Indonesia, Siapa Dia menghadirkan parade bintang papan atas seperti Amanda Rawles, Ariel Tatum, Widi Mulia, Morgan Oey, Happy Salma, Dira Sugandi dan Gisella Anastasia. Masing-masing tampil dalam karakter berbeda, membawa nuansa baru dalam setiap adegan, lengkap dengan koreografi yang digarap oleh maestro tari Eko Supriyanto.

    Menariknya, para aktor dan aktris tidak hanya berakting, tapi juga menyanyikan lagu-lagu legendaris yang menjadi bagian penting dari sejarah musik Indonesia. Lagu “Nuriela” yang dinyanyikan oleh Nicholas Saputra dan Monita Tahalea, serta tembang “Anak Jalanan” yang dibawakan oleh Dira Sugandi menjadi highlight dalam trailer yang sarat emosi dan nostalgia.

    Film ini tidak sekadar bercerita tentang cinta atau mimpi, melainkan juga menjadi refleksi panjang sejarah perfilman Indonesia. Garin Nugroho menyebut Siapa Dia sebagai “surat cinta untuk perjalanan sinema nasional,” sebuah bentuk apresiasi terhadap sejarah film dan budaya pop dari masa kolonial hingga era digital.

    “Film ini adalah bentuk penghormatan kepada peran film dalam perjuangan bangsa dulu dan sekarang. Melalui cerita, lagu, dan gerak, kami ingin menyuarakan semangat merdeka dalam bentuk yang paling personal,” ujar Garin.

    Dibalut visual artistik, alur naratif penuh kejutan, dan musik yang digarap serius hingga ke studio internasional di Praha, Siapa Dia menjanjikan pengalaman sinematik yang tidak biasa. Produser eksekutif Faizal Lubis mengatakan bahwa musikal ini bukan sekadar ikut tren, melainkan upaya untuk membawa cerita sejarah ke ruang yang lebih kontemporer dan emosional.

    “Vibes-nya bisa dibilang seperti La La Land, tapi yang ini tentang Indonesia. Musik, sinema, dan cinta berpadu dengan akar sejarah yang kuat,” ungkap Faizal.

    Nicholas Saputra pun menyebut perannya dalam film ini sebagai tantangan terbesar dalam kariernya.

    “Ini kali pertama saya bernyanyi dan menari di layar lebar. Prosesnya tidak mudah, tapi sangat menyenangkan dan membuka ruang baru dalam cara saya bercerita lewat film,” ujar Nicholas.

    Siapa Dia siap menjadi magnet baru perfilman nasional di tengah semarak perayaan kemerdekaan. Informasi seputar kota dan bioskop yang menayangkan film ini akan diumumkan melalui akun media sosial resmi @filmsiapadia di Instagram dan TikTok.

     

  • Joko Anwar Lewat Film Terbaru “Ghost in The Cell”, Bertabur Bintang dan Sarat Kolaborasi

    Joko Anwar Lewat Film Terbaru “Ghost in The Cell”, Bertabur Bintang dan Sarat Kolaborasi

    Palapanews.Asia, Jakarta – Setelah dua dekade tak menyentuh genre komedi sejak Janji Joni (2005), Joko Anwar akhirnya kembali ke akar kreatifnya lewat film horor-komedi terbarunya berjudul Ghost in The Cell (Hantu di Penjara). Film ini diproduksi oleh Come and See Pictures dan dijadwalkan tayang tahun depan.

    Mengusung konsep segar yang menggabungkan nuansa horor dengan sentuhan komedi, film ini menjadi proyek yang dinanti-nantikan oleh para penggemar setia Joko Anwar. Syuting telah rampung, dan film yang diproduseri oleh Tia Hasibuan ini menjanjikan pengalaman berbeda dibandingkan karya-karya Joko sebelumnya.

    Yang membuat film ini makin spesial adalah keterlibatan aktor Abimana Aryasatya sebagai pemeran utama, menandai kembalinya ke layar lebar setelah enam tahun vakum sejak Gundala (2019), yang juga disutradarai oleh Joko Anwar.

    “Saya merasa ini momen yang membahagiakan. Setelah cukup lama tidak tampil di layar lebar, saya kembali lewat film yang penuh energi, dengan para pemain dari berbagai generasi dan latar yang luar biasa,” ujar Abimana.

    Deretan pemeran Ghost in The Cell memang memukau. Nama-nama seperti Bront Palarae, Danang Suryonegoro, Endy Arfian, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey, Aming, Kiki Narendra, Rio Dewanto, hingga Tora Sudiro turut memperkuat jajaran pemain. Film ini juga memperkenalkan wajah baru Magistus Miftah, penari sekaligus pembaca tarot—yang berhasil lolos dari proses open casting via media sosial.

    Menariknya, film ini juga menjadi ajang reuni bagi beberapa aktor. Lukman Sardi, Aming Sugandhi, dan Tora Sudiro sebelumnya pernah tampil bersama dalam film komedi Quickie Express (2007), yang skenarionya juga ditulis Joko Anwar. Beberapa aktor lainnya seperti Morgan Oey, Endy Arfian, dan Dewa Dayana sebelumnya bermain di film Pengepungan di Bukit Duri, yang turut sukses di box office.

    Mengambil latar di sebuah penjara padat di Jakarta, Ghost in The Cell mengisahkan dua geng yang saling berseteru dan terpaksa bekerja sama saat satu per satu narapidana mulai tewas, bukan karena konflik antar geng, melainkan karena ulah sosok hantu yang mengintai.

    “Komedi adalah cinta pertama saya. Tapi saya juga tidak pernah lepas dari horor. Film ini adalah upaya menggabungkan dua dunia itu, sesuatu yang sangat saya nantikan sejak lama,” kata Joko Anwar.

    Bagi rumah produksi Come and See Pictures, film ini disebut sebagai pencapaian tertinggi mereka sejauh ini. “Menggabungkan horor dan komedi bukan perkara mudah. Keduanya butuh presisi dalam craftmanship dan timing. Tapi tim ini berhasil menghadirkan sesuatu yang istimewa,” tutur produser Tia Hasibuan.

    Tak hanya deretan aktor ternama, film ini juga menjadi momen spesial bagi Jaisal Tanjung, selama ini dikenal sebagai kolaborator visual Joko Anwar, yang untuk pertama kalinya tampil di depan kamera.

    Ghost in The Cell akan hadir di bioskop tahun depan. Untuk informasi terbaru dan perkembangan film, ikuti akun Instagram resmi @comeandseepictures.

  • “Sihir Pelakor”, Film Horor Emosional yang Angkat Luka Keluarga Akibat Perselingkuhan

    “Sihir Pelakor”, Film Horor Emosional yang Angkat Luka Keluarga Akibat Perselingkuhan

    Palapanews.Asia, Jakarta – Industri film horor Tanah Air kembali menghadirkan tontonan yang berbeda. Kali ini, Starvision mempersembahkan “Sihir Pelakor”, sebuah film horor yang tidak hanya memacu adrenalin, tapi juga menyentuh sisi emosional penonton. Film ini tayang perdana pada 31 Juli 2025 dan digarap oleh sutradara Bobby Prasetyo dengan produser Chand Parwez Servia.

    Diangkat dari kisah nyata yang sempat viral lewat podcast RJL 5, Sihir Pelakor mengisahkan pengalaman memilukan seorang anak perempuan yang terjebak dalam konflik perselingkuhan orang tuanya. Film ini memadukan teror gaib dengan drama keluarga yang sarat pesan moral, menjadikannya lebih dari sekadar film horor biasa.

    “Ini bukan sekadar hiburan seram. Kami ingin penonton mendapatkan pelajaran hidup, terutama tentang pengorbanan seorang ibu dan anak dalam mempertahankan keluarga mereka,” ujar Chand Parwez dalam konferensi pers peluncuran film pada 24 Juli 2024.

    Aktris Marcella Zalianty, yang turut membintangi film ini, menyebut bahwa horor dalam Sihir Pelakor lebih dekat dengan kenyataan.

    “Horornya bukan cuma soal setan atau makhluk halus, tapi tentang luka emosional dalam rumah tangga. Ini kisah yang sangat penting,” katanya.

    Sementara itu, sutradara Bobby Prasetyo menekankan fokus utama film ini adalah pada kekuatan anak dalam menghadapi badai keluarga.

    “Kami ingin menunjukkan bagaimana seorang anak perempuan berjuang mempertahankan haknya atas keluarga, sekaligus belajar memaafkan,” ungkap Bobby.

    Nama Asmara Abigail menjadi sorotan utama lewat perannya sebagai Rini, karakter antagonis yang menjadi ‘pelakor’ alias perebut laki orang dalam film. Ini adalah kali pertama Asmara memerankan sosok sekompleks Rini, dan ia mengaku awalnya sempat ragu.

    “Deg-degan banget waktu pertama kali baca naskah. Tapi aku penasaran, ingin tahu kenapa seseorang bisa sampai jadi pelakor,” tutur Asmara.

    Untuk mendalami perannya, Asmara melakukan riset emosional dengan menggali pengalaman teman-teman dekatnya yang pernah menjadi korban perselingkuhan.

    “Aku dengar langsung cerita-cerita mereka. Sakitnya nyata banget, dan itu yang aku bawa ke karakter Rini,” katanya.

    Di balik peran berat yang dimainkan, Asmara tetap menyisipkan pesan ringan kepada para penonton.

    “Tapi ingat ya, ini cuma akting. Jangan baper” ujarnya sambil tertawa.

    Film ini turut dibintangi oleh Neona Ayu, Fathir Muchtar, dan aktor lainnya, memperkaya dinamika cerita dengan sentuhan realitas yang menyayat hati. Dengan memadukan unsur mistis dan drama keluarga, Sihir Pelakor hadir sebagai film horor yang tidak hanya membuat merinding, tetapi juga mengajak penonton merenungi arti cinta, luka, dan pengampunan dalam keluarga.

     

     

  • Bertaut Rindu Gaungkan Pesan Keluarga, “Setiap Anak Punya Hak Atas Mimpinya Sendiri”

    Bertaut Rindu Gaungkan Pesan Keluarga, “Setiap Anak Punya Hak Atas Mimpinya Sendiri”

    Palapanews.Asia, Jakarta – Film drama remaja terbaru bertajuk Bertaut Rindu: Semua Impian Berhak Dirayakan siap tayang di bioskop mulai 31 Juli 2025. Dibintangi oleh Ari Irham dan Adhisty Zara, film ini menyuguhkan lebih dari sekadar kisah cinta SMA, ia adalah jendela reflektif tentang hubungan orang tua dan anak di era yang terus berubah.

    Disutradarai oleh Rako Prijanto, diproduseri oleh MGS Fahry, dan diadaptasi dari novel karya Tian Topandi, film ini mengangkat tema yang jarang dibahas secara jujur dalam sinema Indonesia: komunikasi yang tersendat dalam keluarga, harapan orang tua, dan keberanian remaja untuk memilih jalannya sendiri.

    Rako Prijanto, sang sutradara, menyebut film ini sebagai karya yang sangat dekat dengan realitas remaja Indonesia.

    “Ini slice-of-life yang sangat related dengan apa yang remaja rasakan hari ini. Sederhana tapi dalam.” ujarnya.

    MGS Fahry, selaku produser, menambahkan bahwa film ini adalah ajakan untuk mendengar lebih dalam.

    “Kami ingin Bertaut Rindu menjadi jendela buat para orang tua untuk lebih mendengar, dan buat para remaja agar tidak merasa sendirian.” ujar Fahry.

    Tian Topandi, penulis novel yang menjadi sumber cerita film ini, berbagi bahwa kisah ini berasal dari pengalaman pribadinya sebagai anak yang tumbuh dengan tekanan harapan.

    “Saya sempat memaksakan mimpi orang tua saya, sampai akhirnya lelah dan ingin menjadi diri sendiri. Dan ternyata, ketika saya menulis dari hati, cerita ini bisa menyentuh hati banyak orang.”

    Adhisty Zara sebagai pemeran Jovanka, mengungkapkan keterhubungannya dengan peran yang ia mainkan.

    “Karakter Jovanka punya masalah dengan orang tuanya. Kita punya problem dengan orangtuanya terkait mimpinya. Kadang-kadang kebawa… banyak adegan yang tidak ada dialognya, cuma rasa.” ujar Zara.

    Zara berharap film ini bisa membuka ruang obrolan yang lebih jujur di dalam keluarga.

    “Lewat film ini, aku berharap orangtua dan anak bisa lebih terbuka, saling dengar, dan saling paham.” ujarnya.

    Sementara itu, Ari Irham, yang memerankan Magnus, menyebut film ini sebagai cerminan personal masa remajanya.

    “Magnus adalah remaja yang lahir dengan privilege, tapi satu hal yang dia tidak miliki: pilihan. Itu membuat dia merasa seperti remaja yang tersesat,” ungkap Ari.

    Setelah film ini, saya jadi lebih bisa komunikasi sama orang tua. Sekarang, saya bisa ngobrol kayak sahabat. Ia menegaskan pesan moral utama film ini:

    “Jangan menaruh impian tertunda kepada anakmu sendiri. Biarkanlah anakmu memilih impiannya sendiri.” ujar Ari.