Kategori: GAYA HIDUP

  • Tantangan Menghidupkan Film Sejarah di Tengah Dominasi Genre Populer

    Tantangan Menghidupkan Film Sejarah di Tengah Dominasi Genre Populer

    Palapanews.Asia, Jakarta – Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) menggelar diskusi bertajuk “Tantangan dan Peluang Film Narasi Kepahlawanan” di Gedung Kemendikdasmen, Jakarta, Senin (18/9). Acara ini dihadiri para sineas, asosiasi perfilman, serta perwakilan industri animasi dan musik film.

    Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, mengatakan pentingnya memperkuat ekosistem perfilman nasional, khususnya untuk karya bertema sejarah dan kepahlawanan. Ia menyebut, hingga September 2025 produksi film Indonesia sudah menembus lebih dari 150 judul dan diproyeksikan bisa mencapai 200 judul hingga akhir tahun. Jumlah penonton juga mencatat angka impresif, sekitar 59 juta orang hingga Agustus lalu.

    “Film Indonesia saat ini tumbuh cukup kondusif dan terus berkembang. Selain menjadi bagian dari ekspresi budaya, film juga bisa menjadi soft power diplomasi Indonesia di mata dunia,” ujar Fadli.

    Tahun ini, bertepatan dengan peringatan 80 tahun Indonesia merdeka dan Hari Pahlawan, Kemenbud meluncurkan lomba penulisan skenario film bertema , nasionalisme, dan peristiwa sejarah. Program ini diharapkan dapat mendorong lahirnya karya-karya baru yang mampu mengangkat tokoh maupun peristiwa bersejarah ke layar lebar.

    Fadli menilai, tantangan utama perfilman bertema kepahlawanan adalah bagaimana menghadirkan skenario yang menarik sehingga mampu menjangkau penonton luas. Ia mencontohkan kesuksesan film-film biopik dunia seperti Gandhi atau The Message yang tidak hanya meraih penghargaan, tetapi juga sukses secara komersial.

    “Film sejarah dan kepahlawanan punya potensi besar. Namun yang paling penting adalah bagaimana cerita itu disampaikan dengan kuat, relevan, dan mampu memikat penonton,” ujanya.

    Sejumlah tokoh perfilman yang hadir juga menekankan perlunya dukungan pada genre anak-anak dan animasi yang masih jarang diproduksi. Menurut mereka, keragaman tema akan memperkaya ekosistem film nasional sekaligus memperluas pasar di dalam dan luar negeri.

    Dengan adanya lomba skenario ini, pemerintah berharap semakin banyak penulis, wartawan, maupun profesional film yang terdorong untuk menggarap tema kepahlawanan. Program ini juga akan dilengkapi dengan workshop sebagai wadah berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam menulis skenario yang kuat.

    Acara ditutup dengan pesan agar momentum 80 tahun Indonesia merdeka dapat menjadi titik tolak lahirnya lebih banyak karya film inspiratif yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengingatkan generasi muda pada nilai perjuangan para pahlawan bangsa.

     

     

  • Trailer Air Mata di Ujung Sajadah 2 Angkat Pesan Kasih Ibu Sepanjang Masa

    Trailer Air Mata di Ujung Sajadah 2 Angkat Pesan Kasih Ibu Sepanjang Masa

    Palapanews.Asia, Jakarta – Antusiasme publik kembali diarahkan pada sekuel film religi keluarga yang sempat mencatat lebih dari 3,1 juta penonton di tahun 2023. Pada Jumat (12/9), bertempat di XXI Senayan Plaza, Jakarta, rumah produksi bersama jajaran cast dan kru resmi meluncurkan official poster, trailer, sekaligus menampilkan sejumlah penampilan spesial dari penyanyi pengisi original soundtrack (OST) film Air Mata di Ujung Sajadah 2.

    Acara peluncuran berlangsung hangat dan penuh keharuan. Sutradara Key Mangunsong dan produser Ronny Irawan hadir langsung bersama para pemain utama, di antaranya Titi Kamal, Citra Kirana, serta Muhammad Faqih Alaydrus. Dalam kesempatan ini, mereka berbagi cerita tentang tantangan menggarap sekuel yang diharapkan mampu melampaui kesuksesan film pertamanya, yang bahkan sempat menjadi film Indonesia terlaris di Malaysia.

    Pesan Kasih Sayang dan Spiritualitas

    Sutradara Key Mangunsong menegaskan bahwa sekuel kali ini mengangkat konflik keluarga yang lebih kompleks, namun tetap menekankan nilai universal: cinta, pengorbanan, dan kasih sayang seorang ibu.

    “Film ini ingin menegaskan bahwa kasih seorang ibu tidak terbatas pada ikatan darah semata, melainkan pada ketulusan merawat dan membesarkan,” ujar Key Mangunsong.

    Hal senada disampaikan produser Ronny Irawan. Ia berharap Air Mata di Ujung Sajadah 2 dapat kembali menyentuh hati penonton.

    “Kerinduan publik pada kisah pertama jadi alasan kami melanjutkan. Semoga film kedua ini bisa memuaskan penonton dan menghadirkan cerita yang lebih dewasa,” ungkapnya.

    Penampilan OST yang Menyentuh

    Acara Konperensi Pers makin semarak dengan perilisan resmi MV official soundtrack terbaru dengan deretan penyanyi yang mengisi soundtrack film. Andmesh membawakan lagu “Bukan Lagi Rumahmu”, Yogie Nandes dan Keke Adiba menghadirkan lagu “Bintang-Bintang”, Fadhilah Intan memperkenalkan single “Pura-Pura Bahagia”, Farel Prayoga membawakan lagu “Cinta Untuk Mama” yang telah lebih dulu dirilis secara digital. Kehadiran mereka membuat suasana auditorium berubah emosional, banyak tamu undangan yang ikut larut dan menitikkan air mata.

    Dukungan Para Pemain

    Pemeran utama, Titi Kamal, yang kembali sebagai Aqila, mengaku tantangan kali ini lebih berat.

    “Aqila harus menghadapi konflik batin yang lebih dalam, dari kehilangan orang-orang tercinta hingga harus berjuang sebagai ibu. Saya pribadi merasa relate sebagai seorang ibu, jadi emosinya sangat terbawa,” ucap Titi.

    Citra Kirana yang memerankan Yumna menambahkan, karakter yang ia jalani memberi pesan kuat tentang kasih sayang tanpa batas.

    “Kasih seorang ibu tidak lahir hanya dari rahim, tapi dari keikhlasan merawat dengan sepenuh hati,” ujarnya.

    Acara yang dipandu penuh semangat ini ditutup dengan doa bersama agar Air Mata di Ujung Sajadah 2 dapat melanjutkan kesuksesan film pertama. Para pemain, kru, hingga musisi OST berharap film ini dapat menguatkan ikatan keluarga penonton dan memberikan inspirasi lewat pesan spiritualitas yang sederhana namun mendalam.

     

  • Film “Perempuan Pembawa Sial” Angkat Mitos Nusantara

    Film “Perempuan Pembawa Sial” Angkat Mitos Nusantara

    Palapanews.Asia, Jakarta – Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta, Rabu (10/9), menjadi saksi meriahnya konferensi pers sekaligus pemutaran film Perempuan Pembawa Sial. Film horor terbaru garapan sutradara Fajar Nugros ini diproduksi oleh IDN Pictures dan siap tayang di bioskop mulai 18 September 2025.

    Produser IdN Pictures Winston Utomo mengungkapkan film ini dibangun dengan tiga fokus utama.

    “Pertama adalah watching experience, bagaimana pengalaman menonton. Kedua, alur cerita yang membuat mereka terikat dari awal sampai akhir. Dan ketiga, selalu ada unsur budaya Indonesia. Dalam film ini salah satunya mitos Bahu Laweyan,” jelasnya.

    Sutradara Fajar Nugros menuturkan, kisah dalam Perempuan Pembawa Sial lahir dari ketakutannya di masa kecil.

    “Ketika kecil, sering ada momen sendirian di rumah, tiba-tiba pagar terbuka atau ada langkah kaki. Rasa takut seperti itu yang saya rangkai kembali dalam film ini. Harapannya bisa jadi penyegaran bagi penonton horor yang sudah disuguhi banyak film sejenis,” ujarnya.

    Penulis cerita Husein Atmojo menambahkan, naskah film ini berangkat dari pertanyaan sederhana: bagaimana kesialan itu tercipta.

    “Banyak orang sudah merasa sial sejak lahir, dari keluarga mana ia berasal. Dari titik itulah karakter-karakter berjuang melawan kutukan. Pada dasarnya, kesialan di sini kami anggap sebagai kutukan,” tuturnya.

    Para pemain pun berbagi pengalaman mendalami peran

    Ben Bening yang memerankan Aryo mengaku ditantang memerankan dua sisi berbeda.

    “Aryo hidup bisa saya ciptakan dengan tiga dimensi karakter. Tapi Aryo mati adalah representasi pikiran bawah sadar Mira. Pesan pentingnya: cintailah seseorang dengan sungguh-sungguh, tapi jangan orang yang salah,” katanya.

    Rukman Rosadi, pemeran Suyoto, menyebut karakternya mewakili banyak orang di sekitar kita.

    “Suyoto membawa penumpang gelap. Saya benci sekali dengan orang seperti dia, tapi justru kebencian itu membuat saya bisa detail mendalami peran,” ujarnya.

    Aurra Kharisma yang tampil sebagai sosok Lasmi menyebut pentingnya koreografi dalam membangun teror.

    “Lasmi membunuh bukan karena dendam, tapi bersenang-senang. Gerakannya harus tetap cantik namun creepy. Workshop sekitar dua minggu saya jalani lebih natural,” ujar Aurra.

    Clara Bernadeth memerankan Puti, karakter dengan masa lalu kelam yang menjadi awal tragedi.

    “Puti sebenarnya baik, tapi justru ditimpa keburukan. Menurut saya, keburukan bisa menimpa siapa saja, bahkan orang yang baik sekalipun,” kata Clara.

    Morgan Oey yang dipercaya memerankan Bana turut melakukan riset unik.

    “Karena Bana punya rumah makan, saya sampai ikut workshop masak rendang dari awal supaya lebih natural,” ujar Morgan.

    Raihaanun, pemeran Mira, menilai karakternya seperti bawang yang dikupas lapis demi lapis.

    “Mira selalu merasa sial dan mencari tahu penyebabnya, sampai akhirnya menjadi detektif bagi dirinya sendiri,” ujarnya.

    Tak ketinggalan Didik Nini Thowok memerankan Warso sebagai dukun pengantin, melakukan riset mendalam pada tradisi Jawa. Ia bahkan mempelajari lontar berbahasa Sansekerta agar perannya lebih otentik.

    “Saya ingin menjaga tradisi, bukan sekadar merias pengantin,” ujarnya.

    Perempuan Pembawa Sial dijadwalkan tayang di bioskop mulai 18 September 2025. Dengan nuansa horor, mitos Nusantara, dan konflik perempuan yang sarat makna, film ini diharapkan menjadi suguhan segar bagi penikmat film horor tanah air.

     

     

  • Film “Yakin Nikah”: Cinta, Tekanan Sosial, dan Dilema Hidup di Balik Janji Pernikahan

    Film “Yakin Nikah”: Cinta, Tekanan Sosial, dan Dilema Hidup di Balik Janji Pernikahan

    Palapanews.Asia, Jakarta – Adhya Pictures resmi memperkenalkan film terbarunya bertajuk Yakin Nikah melalui peluncuran trailer dan poster perdana di XXI Plaza Senayan, Jakarta, Selasa (9/9).

    Acara ini turut dihadiri produser Shierly Kosasih, sutradara Pritagita Arianegara, serta jajaran pemain utama: Enzy Storia, Maxime Bouttier, Jourdy Pranata, Tora Sudiro, Amanda Rigby, dan Agnes Naomi Shivapriya.

    Film ini tidak hanya menyajikan kisah cinta yang ringan, tetapi juga menyinggung isu-isu sosial yang akrab dialami generasi muda. Dari tekanan keluarga untuk segera menikah, anggapan “adik tak boleh mendahului kakak” di pelaminan, hingga stigma masyarakat yang kerap membayangi anak muda usia 20-an, semuanya menjadi warna tersendiri dalam jalan cerita.

    Kisahnya berfokus pada Niken (Enzy Storia), perempuan yang berada di persimpangan hidup antara menikah dengan kekasihnya Arya (Maxime Bouttier) atau menuruti suara hati yang kembali bergejolak setelah hadirnya Gerry (Jourdy Pranata), cinta lama yang belum benar-benar hilang.

    Cuplikan trailer memperlihatkan keseharian Niken yang penuh dinamika mulai dari pertanyaan “Kapan nikah?” dari tetangga, obrolan hangat bersama sahabat, hingga perdebatan prinsip dengan pasangan. Kehadiran Gerry membuat Niken semakin ragu dan dihadapkan pada pilihan besar yang akan menentukan masa depannya.

    Poster resmi yang dirilis pun mempertegas dilema itu. Niken digambarkan berdiri di antara dua pria, sebuah visual sederhana namun penuh makna tentang cinta, ekspektasi, dan keputusan besar dalam kehidupan.

    Menariknya, Yakin Nikah merupakan adaptasi dari web series populer di YouTube yang sudah mengumpulkan lebih dari 14,9 juta penonton. Versi layar lebarnya menjanjikan cerita lebih mendalam, sinematografi yang memikat, serta pengembangan karakter yang lebih kompleks.

    Ditulis oleh Bene Dion Rajagukguk, Sigit Sulistyo, dan Erwin Wu dengan pengembangan naskah dari IMAJINARI, film ini diarahkan Pritagita Arianegara dan dipastikan hadir sebagai tontonan yang menghibur sekaligus mengajak penonton merenungkan arti pernikahan yang sesungguhnya.

     

     

  • Baim Wong Hadirkan Film Horor Sukma, Bertabur Bintang dengan Cerita Filosofis

    Baim Wong Hadirkan Film Horor Sukma, Bertabur Bintang dengan Cerita Filosofis

    Palapanews.Asia, Jakarta – Setelah sukses debut sebagai sutradara lewat Lembayung (2024), aktor sekaligus produser Baim Wong kembali menghadirkan karya terbarunya berjudul Sukma. Film horor ini akan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 11 September 2025, dengan deretan bintang papan atas yang memperkuat jajaran pemeran.

    Sukma dibintangi oleh Luna Maya, Christine Hakim, Fedi Nuril, Oka Antara, hingga deretan aktor pendukung seperti Krishna Keitaro, Kimberly Ryder, Anna Jobling, Asri Welas, Amanda Soekasah, Giovani Tobing, Dazeline Reynand, serta dua putra Baim Wong, Kiano Tiger Wong dan Kenzo Eldrago Wong

    Tantangan Tanpa Makeup untuk Luna Maya
    Luna Maya mengaku film ini memberikan pengalaman berbeda, terutama ketika ia harus berperan tanpa riasan sama sekali.

    “Sebagai yang bekerja di industri showbiz, pressure untuk perempuan tentang awet muda itu ada. Selalu saja ada komentar tentang fisik dan segala macam dari warganet,” ungkap Luna saat konferensi pers di kawasan Gandaria, Senin (8/9/2025).

    Menurut Luna, tantangan itu justru selaras dengan karakter yang ia mainkan. “Di film Sukma, ada alasan di balik kenapa karakter Ibu Sri memiliki obsesi untuk menjadi muda, dan menginginkan Arini yang lebih muda darinya. Itu yang akan menjadi misteri,” ujarnya.

    Christine Hakim Keluar dari Zona Nyaman
    Aktris senior Christine Hakim, yang memerankan karakter Ibu Sri, menyebut Sukma sebagai salah satu proyek terberat sepanjang kariernya.

    “Syuting film Sukma adalah salah satu yang paling berat bagi saya. Ada battle scene sampai di gua juga, dan ada adegan yang menurut saya akan sangat mengejutkan untuk penonton saat menyaksikannya,” ujarnya.

    Ia menekankan bahwa proyek ini menuntut keberanian untuk mengambil risiko. “Harus berani keluar dari zona nyaman dengan risiko yang berat,” tutur Christine.

    Oka Antara: Filosofi dalam Horor
    Oka Antara, yang sebelumnya terlibat dalam Lembayung, menyebut Baim Wong semakin matang sebagai sutradara.

    “Ini adalah film Baim yang paling filosofis. Bagaimana dia menggunakan cermin sebagai simbol teror, dan setiap kali becermin ada tampilan yang berbeda. Dia naik kelas,” kata Oka.
    Tak hanya itu, ia juga menyoroti adegan aksi dalam film ini. “Dan ada adegan berantemnya, saya suka,” ujarnya.

    Debut Horor Fedi Nuril
    Bagi Fedi Nuril, Sukma menjadi pengalaman pertama terlibat dalam film horor. Ia mengaku langsung menerima tawaran Baim tanpa berpikir panjang.

    “Ketika membaca naskah Sukma, saya suka dan tertarik. Baim tidak perlu merayu dengan keras ke saya untuk bergabung di film ini,” ujar Fedi.
    Dalam film ini, ia memerankan karakter dengan gangguan mental skizofrenia, sebuah tantangan yang ia tekuni dengan riset serius.

    “Saya harus riset dengan psikiater untuk mengetahui apa saja yang terjadi dengan orang yang mengalami skizofrenia, serta gejala-gejalanya, dan cara mereka hidup,” katanya.

    Baim Wong Jaga Keseimbangan Idealisme dan Komersial
    Sebagai sutradara sekaligus produser bersama David Wong, Baim juga menulis naskah Sukma bersama penulis Ratih Kumala. Menurutnya, film ini bukan sekadar horor dengan jumpscare, melainkan juga memiliki makna lebih dalam.

    “Menyeimbangkan antara sisi komersial dan idealisme karya di film ini benar-benar saya jaga. Sebagai horor, tentu tetap akan ada jumpscare, namun, Sukma lebih dari itu,” tutup Baim.

     

     

  • Farel Prayoga Persembahkan Lagu “Cinta Untuk Mama” untuk OST Air Mata di Ujung Sajadah 2

    Farel Prayoga Persembahkan Lagu “Cinta Untuk Mama” untuk OST Air Mata di Ujung Sajadah 2

    Palapanews.Asia, Jakarta (8/9/2025) – Menjelang rilis film drama keluarga terbaru garapan Beehave Pictures, Air Mata di Ujung Sajadah 2, sebuah persembahan istimewa hadir melalui lagu berjudul “Cinta Untuk Mama” yang dinyanyikan oleh penyanyi remaja berbakat, Farel Prayoga. Video musik lagu ini resmi dirilis pada 5 September 2025 dan langsung menyedot perhatian publik.

    Lagu tersebut bukan hanya sekadar soundtrack, melainkan refleksi personal bagi Farel. Di usianya yang baru menginjak 15 tahun, ia untuk pertama kalinya bertemu dengan ibu kandungnya. Momen haru itu diabadikan dalam video musik dan selaras dengan tema besar film: kehilangan, pencarian arti keluarga, serta cinta yang tak pernah pudar. Lirik dan melodi yang menyentuh membuat “Cinta Untuk Mama” terasa sebagai ungkapan cinta yang universal.

    Film Air Mata di Ujung Sajadah 2, akan tayang perdana pada 23 Oktober 2025, menghadirkan kembali bintang-bintang papan atas Indonesia.      Titi Kamal kembali memerankan Aqilla, sosok ibu penuh cinta dan pengorbanan.                                  Citra Kirana hadir sebagai Yumna, karakter yang sarat kasih sayang dan kehangatan.            Muhammad Faqih Alaydrus melanjutkan perannya sebagai Baskara, anak yang menjadi pusat dilema keluarga.

    Tak hanya itu, sederet nama lain seperti Daffa Wardhana, Jenny Rachman, dan Mbok Tun juga memperkuat jalan cerita, menghadirkan dinamika yang kaya antara konflik batin, kehangatan keluarga, hingga perjuangan mempertahankan cinta.

    Film ini digarap oleh sutradara Key Mangunsong, dengan naskah yang ditulis oleh penulis skenario berpengalaman Titien Wattimena. Produksi dilakukan oleh sejumlah rumah produksi besar, di antaranya Beehave Entertainment, A&Z Films, KAI Pictures, Legacy Pictures, serta Sigxa Pictures. Kolaborasi ini diyakini mampu menghadirkan drama keluarga dengan kualitas sinematik yang memikat.

    Kehadiran lagu “Cinta Untuk Mama” memperkuat emosi yang dibangun dalam film. Perpaduan kisah pribadi Farel dengan narasi sinematik yang digarap membuat soundtrack ini bukan hanya pelengkap, tetapi juga jembatan emosi antara penonton cerita di layar lebar.

     

     

  • Ketika Cinta dan Tradisi Beradu Teaser Yakin Nikah Hangat dan Relatable

    Ketika Cinta dan Tradisi Beradu Teaser Yakin Nikah Hangat dan Relatable

    Palapanews.Asia, Jakarta – Setelah merilis first look dan teaser poster yang sempat mencuri perhatian publik, Adhya Pictures kini resmi memperkenalkan teaser trailer film terbarunya, Yakin Nikah. Film yang dibintangi Enzy Storia ini semakin menunjukkan konflik hangat namun penuh dilema yang kerap dialami banyak orang: tekanan menikah karena desakan keluarga dan ekspektasi sosial.

    Disutradarai oleh Pritagita Arianegara dengan naskah garapan Bene Dion Rajagukguk, Sigit Sulistyo, dan Erwin Wu, serta pengembangan cerita oleh tim kreatif IMAJINARI, Yakin Nikah hadir sebagai drama romantis bernuansa ringan, manis, namun tetap sarat makna tentang keberanian memilih jalan hidup sendiri.

    Dalam teaser, penonton diperlihatkan sosok Niken (Enzy Storia) yang tiba-tiba didesak keluarganya untuk segera menikah setelah adiknya, Anggi (Amanda Rigby), dilamar kekasihnya, Danny (Arya Vasco). Situasi ini membuat Niken harus menghadapi tekanan untuk segera melangkah ke pelaminan bersama sang pacar, Arya (Maxime Bouttier). Namun, kesibukan Arya yang membuatnya kerap abai justru menimbulkan kebimbangan: apakah Arya benar-benar pasangan yang tepat.

    Ketegangan makin bertambah saat teaser menutup dengan kejutan: kemunculan Gerry (Jourdy Pranata) yang menatap Niken penuh tanda tanya. Kehadiran tokoh baru ini seakan membuka pintu dinamika lain dalam kehidupan Niken, sekaligus membuat penonton penasaran arah cerita selanjutnya.

    Teaser Yakin Nikah memperlihatkan nuansa film yang penuh humor segar, chemistry natural para pemain, serta konflik keluarga yang dekat dengan realitas sehari-hari. Film ini bukan hanya menawarkan kisah cinta manis, tetapi juga refleksi tentang pilihan: menikah demi tuntutan tradisi, atau karena keyakinan hati sendiri.

    “Yakin Nikah adalah film tentang keberanian-keberanian untuk jujur pada diri sendiri, dan keberanian untuk memilih di antara desakan waktu dan tekanan keluarga,” ujar sutradara Pritagita Arianegara.

    Selain menjadi debut Enzy Storia sebagai pemeran utama di layar lebar, film ini juga diperkuat jajaran aktor dan aktris ternama seperti Maxime Bouttier, Jourdy Pranata, Amanda Rigby, Ersa Mayori, Tora Sudiro, Agnes Naomi, Arya Vasco, Lukman Sardi, Izabel Jahja, Tissa Biani, Dul Jaelani, Agung Karmalogy, hingga Indian Akbar.

     

     

  • Rilis Poster dan Trailer Perempuan Pembawa Sial, Mitos Bahu Laweyan Jadi Sorotan

    Rilis Poster dan Trailer Perempuan Pembawa Sial, Mitos Bahu Laweyan Jadi Sorotan

    Palapanews.Asia, Jakarta – Film horor terbaru garapan Fajar Nugros, Perempuan Pembawa Sial, akhirnya merilis trailer dan poster resminya. Mengangkat mitos kuno Bahu Laweyan, sebuah kutukan yang menimpa perempuan setelah menikah. Film ini dikemas dalam balutan horor penuh ketegangan sekaligus membawa pesan budaya.

    Dalam cuplikan trailer, penonton diajak menyelami kisah Mirah (diperankan Raihaanun) yang hidupnya berubah drastis setelah terkena kutukan tersebut. Ia mulai dianggap pembawa sial oleh masyarakat hingga tragedi menimpa keluarganya. Sang suami meninggal usai menyaksikan penampakan menyeramkan berupa delman dengan kusir tanpa kepala dan kain laweyan yang menari di tengah malam.

    Sutradara Fajar Nugros menyebut, film ini bukan sekadar menawarkan ketakutan.

    “Bagi saya, horor selalu menjadi medium untuk bercerita tentang sesuatu yang lebih dalam. Bahu Laweyan ini bukan sekadar mitos, tapi juga refleksi tentang bagaimana masyarakat memperlakukan perempuan. Saya ingin penonton merasakan ngeri sekaligus merenung,” ungkap Fajar.

    Aktris Raihaanun yang memerankan tokoh utama mengaku peran Mirah sangat menantang secara emosional.

    “Mirah itu sosok perempuan yang harus menanggung stigma dan tuduhan tanpa bisa melawan. Membawakan karakternya membuat saya lebih dekat dengan realitas banyak perempuan yang kerap disalahkan dalam situasi sulit,” ujar Raihaanun.

    Sementara itu, eksekutif produser Winston Utomo menuturkan bahwa pilihan mitos Bahu Laweyan bukan tanpa alasan.

    “Cerita ini unik, jarang sekali disentuh di layar lebar, padahal menyimpan filosofi mendalam. Kami ingin menghadirkan horor yang otentik, rooted pada kearifan lokal, tapi tetap relevan dengan penonton modern,” kata Winston..

    Pemain lain, Arswendy Bening Swara, yang turut mendukung film ini, juga menilai bahwa Perempuan Pembawa Sial menghadirkan sesuatu yang berbeda.

    “Kekuatan film ini ada pada atmosfernya yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, jadi horornya terasa lebih nyata. Penonton akan merasa tidak hanya menonton, tapi seolah ikut berada di dalam kisah Mirah,” ujar Arswendy.

    Dengan sentuhan mitos, horor, sekaligus refleksi sosial, Perempuan Pembawa Sial diharapkan menjadi tontonan yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga membuka ruang diskusi tentang prasangka dan stigma yang masih hidup di tengah masyarakat.

    Film ini akan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada 18 September 2025.

     

     

  • Enzy Storia Tampil Menggoda di Teaser Poster “Yakin Nikah”, Kisah Galau Jelang Pelaminan

    Enzy Storia Tampil Menggoda di Teaser Poster “Yakin Nikah”, Kisah Galau Jelang Pelaminan

    Palapanews.Asia, Jakarta- Pernikahan sering dibayangkan sebagai puncak kebahagiaan, namun perjalanan menuju sana tak selalu semulus yang dibayangkan. Kegalauan, campur aduk emosi, hingga dilema memilih pasangan menjadi bumbu utama yang diangkat dalam film terbaru garapan Adhya Pictures, Yakin Nikah.

    Lewat teaser poster yang baru dirilis, karakter Niken (Enzy Storia) tampil dengan ekspresi penuh tanda tanya. Di sekelilingnya, terpampang coretan-coretan spontan seperti “Dia atau dia?”, “Yang selalu ada atau yang bikin nyaman?”, hingga “Yakin nikah?”. Visual ini tak sekadar estetis, tapi juga menyiratkan realitas yang sering tersembunyi di balik gemerlap romantisme pernikahan.

    Film ini mengisahkan perjalanan Niken dalam menghadapi berbagai tekanan: masa lalu yang belum sepenuhnya tuntas, pandangan keluarga, tuntutan sosial, hingga mimpi pribadi yang masih ingin dikejar. Meski sarat drama, Yakin Nikah dikemas dengan sentuhan humor, momen-momen canggung yang mengundang tawa, dan konflik yang terasa dekat dengan kehidupan penonton.

    “Banyak orang hanya melihat pernikahan dari sisi indahnya. Padahal, proses menuju ke sana sering penuh drama baik dari pasangan, keluarga, maupun ekspektasi sekitar. Poster ini mencoba menangkap semua itu, tapi tetap dengan nuansa hangat dan humor,” ungkap produser Shierly Kosasih.

    Disutradarai Pritagita Arianegara dan ditulis oleh Bene Dion Rajagukguk, Sigit Sulistyo, serta Erwin Wu, naskah Yakin Nikah dikembangkan oleh tim kreatif IMAJINARI yang dikenal lewat karya-karya emosional dan relevan secara budaya.

    Deretan bintang papan atas turut meramaikan film ini, antara lain Enzy Storia, Maxime Bouttier, Jourdy Pranata, Amanda Rigby, Ersa Mayori, Tora Sudiro, Agnes Naomi, Arya Vasco, Lukman Sardi, Izabel Jahja, Tissa Biani, Dul Jaelani, Agung Karmalogy, dan Indian Akbar.

    Yakin Nikah siap hadir di bioskop mulai 9 Oktober 2025. Cerita tentang memilih antara menikah demi tradisi atau demi cinta ini menjanjikan tawa, rasa hangat, dan momen refleksi yang membekas. Ikuti kabar terbarunya melalui akun Instagram resmi @filmyakinnikah.

     

  • Trailer Perdana “Sukma” Resmi Dirilis, Ritual Dunia Cermin

    Trailer Perdana “Sukma” Resmi Dirilis, Ritual Dunia Cermin

    Palapanews.Asia, Jakarta – Suasana dipenuhi sorakan dan kilatan kamera saat Baim Wong resmi meluncurkan trailer dan poster perdana film terbarunya, Sukma yang di gelar di XXI Plaza Senayan, Jakarta, Senin (11/8/2025). Drama horor misteri ini mengupas ritual ngalih raga di dunia cermin yang dipercaya mampu membuat seseorang awet muda, menghadirkan perpaduan ketegangan dan pesan sosial yang kuat.

    Dari panggung peluncuran, Baim Wong yang menggandeng penulis Ratih Kumala, memperkenalkan deretan bintang papan atas yang membintangi Sukma, mulai dari Luna Maya, Christine Hakim, Fedi Nuril, Kimberly Rider, Oka Antara, hingga Anna Jobling. Kehadiran mereka disambut antusias para tamu undangan dan media yang memenuhi area pemutaran.

    Film ini mengikuti kisah Arini (Luna Maya), seorang perempuan yang pindah ke kota kecil bersama keluarganya untuk memulai hidup baru. Namun, harapan itu sirna ketika ia menemukan cermin kuno di ruang rahasia rumahnya. Keanehan demi keanehan terjadi dari suara misterius hingga kemunculan Ibu Sri (Christine Hakim), yang memaksa Arini berpacu dengan waktu sebelum segalanya hilang.

    Di sela acara, Luna Maya mengungkap bahwa Sukma tak hanya menyajikan teror visual, tetapi juga menyentuh isu penting.

    “Tentang keinginan untuk awet muda, tekanan yang dirasakan perempuan, dan bagaimana penuaan itu hal yang tak bisa dihindari,” ujar Luna.

    Sementara itu, Fedi Nuril mengaku tertantang memerankan karakter Hendra, suami Arini, yang mengidap skizofrenia.

    “Karakter ini melihat halusinasi yang baginya nyata. Itu memengaruhi hubungannya dengan Arini sampai mereka berpisah,” kata Nuril.

    Peluncuran trailer dan poster juga memperlihatkan desain visual yang memikat menempatkan Luna Maya dan Christine Hakim dalam posisi terbalik di dalam bingkai cermin kuno dengan retakan kaca di tengahnya. Di belakang Luna terlihat Fedi Nuril dan Kimberly Rider, sementara di belakang Christine hadir Oka Antara dan Anna Jobling.

    Baim Wong berharap Sukma, yang akan tayang di bioskop mulai 11 September 2025, bisa menjadi karya yang tak hanya menghibur tetapi juga meninggalkan kesan mendalam.

    “Selain horor, film ini membawa pesan besar tentang kecantikan dan keabadian,” ujarnya.