Kategori: GAYA HIDUP

  • GPIB DPW DKI Jakarta Berkolaborasi dengan SDN 16 Klender Gelar Penyuluhan Anti-Bullying

    GPIB DPW DKI Jakarta Berkolaborasi dengan SDN 16 Klender Gelar Penyuluhan Anti-Bullying

    JAKARTA, 08 Januari 2026 – Gerakan Pendidikan Indonesia Baru (GPIB) DPW DKI Jakarta bekerja sama dengan SDN 16 Klender Jakarta Timur menyelenggarakan acara penyuluhan Anti-Bullying dan Pencegahan Kekerasan di Sekolah (PABK) dengan tema “Ciptakan Sekolah Hebat, Aman, Nyaman dan Mengembirakan tanpa Perundungan”.

    Penyuluhan yang diisi oleh Evi Fatmawati, A.Md dari Departemen Kurikulum DPP GPIB bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang perundungan, memberikan pemahaman dampak buruknya bagi korban dan pelaku, serta membangun lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan saling menghormati. Selain itu, para orang tua juga di edukasi cara mencegah, melawan, dan melaporkan kasus bullying agar dapat tumbuh optimal secara fisik dan mental. Bagi orang tua murid dan komite sekolah, penyuluhan ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman tentang bahaya perundungan, membangun kemitraan erat dengan sekolah, serta mendorong peran aktif dalam menciptakan lingkungan positif.

    Dalam sambutannya, Kepala Sekolah SDN 16 Klender Casmudi, S.Pd menyampaikan bahwa anak yang hebat berasal dari orang tua yang siap dan teredukasi. “Kita bisa ibaratkan dengan botol kosong yang mudah dihancurkan karena tidak punya bekal. Namun, jika orang tua memiliki bekal pengetahuan dan parenting yang kuat, anak-anak akan tumbuh menjadi individu yang tangguh, berkualitas, dan berkarakter,” ujarnya.

    Acara dihadiri oleh Ketua Umum GPIB Ir. Agung Karang, Ketua GPIB DPW DKI Jakarta Dandy Capryanto H., S.H,M.H., serta Yenti Sofia Pengurus GPIB DPW DKI Jakarta dan Titik Suparti Humas DPW DKI Jakarta, Nani Wijaya Dari DPW.GPIB Prov.DKI JKT, S Erfan Nurali dan pihak sekolah hadir Wakil Kepala Bidang Kurikulum Kurniasih, S.Pd, Wakil Bidang Kesiswaan Sri Handayani, guru dan tenaga kependidikan, serta Ketua Komite Sekolah Nani Wijaya yang juga menjabat sebagai Ketua OKK GPIB DPW DKI Jakarta.

    Ir. Agung Karang menjelaskan bahwa penyuluhan ini merupakan bagian dari roadshow GPIB ke berbagai sekolah dan akan berlanjut hingga bulan Februari. “Kegiatan ini bertujuan mengedukasi agar sekolah menjadi nyaman, bersih, dan aman bagi semua pihak,” katanya.

    Casmudi menambahkan bahwa peran GPIB sangat berharga bagi SDN 16 Klender, terutama dalam bidang edukasi dan parenting. “Pendidikan adalah tanggung jawab bersama pemerintah, sekolah, dan masyarakat. Oleh karena itu, perlu diberikan edukasi yang memadai untuk membekali orang tua dan anak-anak,” ujarnya.

    Dandy Capryanto H., S.H., M.H menyampaikan bahwa GPIB yang baru berusia 3 tahun berkomitmen untuk membangun generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki mentalitas, sikap, dan rasa percaya diri yang kuat agar bisa sejajar dengan standar internasional. “Bullying sering terjadi karena kurangnya rasa percaya diri dan karakter yang kuat. Berdasarkan temuan dari Mabes Polri Densus, bahkan anak usia 11 tahun sudah terpapar masalah ini,” tandasnya.

    Evi Fatmawati menuturkan bahwa sosialisasi ini selaras dengan kebijakan Kemendikdasmen tentang tiga pilar pendidikan yang melibatkan sekolah, masyarakat, dan dunia digital. “Tujuan utama adalah meminimalkan perundungan tidak hanya di Jakarta tetapi juga seluruh Indonesia, sekaligus menyebarkan materi-materi yang sedang digaungkan oleh Kemendikdasmen,” katanya.

    Acara diakhiri dengan penyerahan sertifikat dan piagam penghargaan kepada pihak sekolah dan narasumber, serta sesi foto bersama.

  • Gerakan Pendidikan Indonesia Baru (GPIB) DPW DKI Jakarta Berkolaborasi dengan SMAN 11 Jakarta Gelar Penyuluhan Anti-Bullying dan Pencegahan Radikalisme di Era Digital

    Gerakan Pendidikan Indonesia Baru (GPIB) DPW DKI Jakarta Berkolaborasi dengan SMAN 11 Jakarta Gelar Penyuluhan Anti-Bullying dan Pencegahan Radikalisme di Era Digital

    JAKARTA, 07 Januari 2026 – Gerakan Pendidikan Indonesia Baru (GPIB) DPW DKI Jakarta bekerja sama dengan SMAN 11 Jakarta Timur menyelenggarakan acara penyuluhan Anti-Bullying dan Kekerasan dalam Lingkungan Sekolah (PABK), serta penyuluhan Pencegahan Radikalisme di Era Digital. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran siswa tentang pentingnya keamanan dan harmoni di lingkungan sekolah, dengan menghadirkan narasumber yang berkompeten.

    Penyuluhan anti-bullying dan kekerasan di sekolah diisi oleh Yulina Dewi, SH, MH – salah satu pengurus GPIB DPW DKI Jakarta yang juga berprofesi sebagai jaksa di Kejagung RI.

    Tujuan penyuluhan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang perundungan, memberikan pemahaman akan dampak buruknya bagi korban dan pelaku, serta membangun lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan saling menghormati. Siswa juga diajarkan cara mencegah, melawan, dan melaporkan kasus bullying agar dapat tumbuh optimal secara fisik dan mental.

    Melalui penyuluhan, peserta dapat memahami definisi bullying, bentuk-bentuknya (fisik, verbal, siber), serta dampaknya (trauma, rendahnya rasa diri, gangguan mental). Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk:

    – Menumbuhkan rasa saling menghargai, toleransi, dan persahabatan antar siswa tanpa membedakan latar belakang
    – Mengajarkan keterampilan menghadapi dan melawan perundungan baik sebagai korban maupun saksi
    – Mewujudkan sekolah sebagai tempat belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan
    – Memberikan pemahaman tentang pentingnya melapor kepada guru atau orang tua agar bantuan dapat diberikan segera

    Acara diisi dengan sesi tanya jawab yang antusias dari para siswa SMAN 11 Jakarta Timur. Hadir dalam kegiatan tersebut siswa kelas XI, Kepala Sekolah SMAN 11 Jakarta Dra. Penina Sianmbela, Ketua Umum GPIB Ir. Agung Karang, Wakil Ketua GPIB DPW DKI Jakarta Dani Hendro, Ketua DPC GPIB Jakarta Timur Mohamad Amin, serta Handoko A dari Kesbangpol, Yudhi dari Kesbangpol, Devi Sarasaty dari Kesbangpol, Rini Humas Komite Sekolah 53 Jakarta, Doli Arusdin Situmeang Guru SMAN 11 Jakarta Timur, Yosep Dian Sulistyo Guru SMAN 11 Jakarta Timur, Agung Bintang Karang Pengurus DPP GPIB, Yenti Sofia Pengurus GPIB DPW DKI Jakarta, Sekretaris DPW Nurhayati, Bendahara DPW Rahayu Desy Leni SE, Wakil Bendahara DPW Lina Herlina, Ketua OKK GPIB DPW DKI Jakarta Nani Wijaya, Suhana Pengurus GPIB DPW DKI Jakarta dan Titik Suparti Humas DPW DKI Jakarta.

    “Terima kasih kepada tim GPIB yang telah mengedukasi anak-anak. Mudah-mudahan materi yang disampaikan bermanfaat. Kadang kondisi anak yang tampak damai justru menyembunyikan masalah, dan mereka sering tidak berani melaporkan,” ujar Dra. Penina Sinambela, M.Pd Rabu (07/01/2026).

    Ia menambahkan, “Jika ada yang merasa mengalami kekerasan baik secara verbal maupun fisik, saya siap menjadi pendengar. Jangan menyimpan atau menyembunyikannya. Jika mau membuka diri, itu akan sangat membantu. Mudah-mudahan anak-anak paham untuk segera berbagi kepada wali kelas, guru BK, guru bidang studi, atau kepala sekolah. Terima kasih banyak, semoga kerjasama ini berlanjut ke depannya.”

    Ketua Umum DPP GPIB Ir. Agung Karang mengucapkan terima kasih kepada Yulina Dewi, SH, MH dan pihak sekolah yang telah memberikan izin untuk penyuluhan. “Kegiatan roadshow anti-bullying dan kekerasan ini telah dilakukan di SMA 53 dan SMA 49 Jakarta, kemudian kali ini di SMAN 11 Cakung Jakarta Timur, tanggal 8-1-2026 SDN 16 Klender Jakarta Timur dan tgl 14-1-2026 SMPN 167 Jakarta Timur dan akan berlanjut hingga beberapa sekolah bulan Februari. GPIB sangat peduli dengan siswa di berbagai jenjang pendidikan untuk mencegah bullying. Pemicu kegiatan ini adalah kejadian ledakan bom di SMA 72, sehingga kami ingin mencegah terjadinya hal serupa dengan mengunjungi sekolah-sekolah,” jelasnya.

    Agung berharap dunia pendidikan dapat menjadi lingkungan yang ramah anak dan bebas dari perundungan.

    Sementara itu, Yulina Dewi, SH, MH menyampaikan terima kasih atas kesempatan untuk memberikan wawasan kepada siswa SMAN 11 mengenai kekerasan di sekolah. “Di era transformasi digital ini, anak-anak menghadapi berbagai problematika terkait kekerasan di sekolah yang dapat menimbulkan trauma dan dampak pada kesehatan mental baik bagi korban maupun pelaku,” ujarnya.

    Menurutnya, diperlukan sistem dan strategi yang terkoordinasi antara sekolah, Pemprov DKI, dan pihak terkait seperti GPIB. “Siswa adalah sumber emas bangsa yang harus menjadi kader cerdas, bekerja keras, dan mendapatkan perlindungan yang baik agar dapat belajar dalam suasana yang nyaman, tenang, dan inklusif. Dukungan dari pemerintah, sekolah, dan komunitas sangat diperlukan untuk mewujudkannya,” tambahnya.

    Yulina berharap kegiatan ini dapat dilanjutkan dengan sinergi yang baik untuk membangun antisipasi dan menghasilkan generasi yang cerdas pada tahun 2045. “Saya ucapkan semangat kepada Pak Agung dalam memperjuangkan misi dan visi pendidikan Indonesia, serta siap memberikan dukungan dan pengetahuan yang diperlukan,” tandasnya.

    Acara diakhiri dengan penyerahan sertifikat dan piagam penghargaan kepada pihak sekolah dan narasumber, hadir dalam acara tsb Muhammad Amin ketua komite sekolah SMAN 11 yg juga sebagai Ketua DPC.GPIB Jakarta Timur, Dani Hendro Pradiatmoko wakil ketua DPW GPIB PROVINSI DKI JAKARTA, Rahayu Desi Leni, Nurhayati, Suhana, Nani Wijaya, Yenti, Titik Suparti, Lina serta acara diakhiri dengan sesi foto bersama.

  • Alas Roban di Layar Lebar: Horor Sunyi, Trauma Ibu, dan Jejak Spiritual di Jalur Legendaris

    Alas Roban di Layar Lebar: Horor Sunyi, Trauma Ibu, dan Jejak Spiritual di Jalur Legendaris

    Palapanews.Asia, Jakarta – Alas Roban selama ini dikenal lebih dari sekadar jalur penghubung antarkota. Hutan lebat yang diselimuti kabut tiba-tiba dan perasaan ganjil yang kerap muncul tanpa sebab jelas menjadikannya bagian dari ingatan kolektif masyarakat, diwariskan sebagai cerita dari generasi ke generasi.

    Nuansa itulah yang diangkat dalam film Alas Roban. Dalam acara press conference dan press screening di XXI Epicentrum, Rasuna Said, Senin (5/1/2026), sutradara Hadrah Daeng Ratu memaparkan pendekatan horor yang berbeda dari kebanyakan film sejenis. Ia menegaskan bahwa film ini tidak bertumpu pada jump scare atau adegan gore.

    “Ini road movie horor yang mengandalkan emosi dan pesan moral. Ketakutan lahir dari perjalanan batin karakter, bukan dari kejutan visual semata,” kata Hadrah.

    Cerita berfokus pada perjuangan seorang ibu demi anaknya. Trauma masa lalu, kondisi psikologis, serta pengalaman hidup para karakter menjadi sumber utama rasa takut yang perlahan dibangun. Horor dalam film ini hadir secara halus, merayap melalui emosi dan konflik internal.

    Selain dari karakter, Alas Roban sendiri diposisikan sebagai ruang hidup yang sarat makna. Bagi Hadrah, hutan ini menyimpan cerita kolektif milik siapa pun yang pernah melintasinya. Setiap perjalanan seolah meninggalkan kisah—baik berupa pengalaman ganjil maupun cerita mistis yang terus hidup di tengah masyarakat.

    Atmosfer mencekam terutama dihadirkan lewat jalur lama Alas Roban, tanpa memaksakan efek kejut berlebihan. Penonton diajak merasakan ketegangan yang tumbuh perlahan, seiring perjalanan para tokoh.

    Di sisi lain, penulis skenario Evelyn Afnilia mengungkapkan proses penulisan film ini dilakukan dengan cara yang tak lazim. Ia terjun langsung ke Alas Roban, menyusuri hutan pada siang hingga malam hari.

    “Risetnya tidak hanya lewat cerita. Kami berdialog dengan warga, tokoh adat, puncen, sampai dalang,” ujar Evelyn.

    Baginya, Alas Roban merupakan pengalaman pertama mengembangkan cerita horor langsung di lokasi kejadian. Riset dilakukan tidak hanya secara naratif, tetapi juga spiritual. Ia menggali sejarah pembukaan hutan yang diyakini penuh ritual, sekaligus hubungan manusia dengan alam dan leluhur.

    Dengan pendekatan yang tidak mengandalkan sosok hantu konvensional, film Alas Roban diharapkan mampu memberi pengalaman emosional yang mendalam. Kolaborasi sutradara dan penulis skenario ini ingin menghadirkan horor yang bukan sekadar menakutkan, tetapi juga mengajak penonton untuk berefleksi.

     

     

  • Bukan Sekadar Sate Kambing, Ini Cerita Tengkleng Kepala Kambing Jawa Tulen di Jantung Bambu Apus

    Bukan Sekadar Sate Kambing, Ini Cerita Tengkleng Kepala Kambing Jawa Tulen di Jantung Bambu Apus

    PALAPANEWS.ASIA, JAKARTA TIMUR –

    Jika jalur kuliner Anda biasanya berhenti di pusat kota, ada alasan kuat untuk berbelok ke Bambu Apus, Cipayung. Di Jl. Bambu Apus Raya No. 36, sebuah warung dengan dapur yang bekerja pelan namun pasti terus memanggil para penikmat masakan tradisional: Rajanya Sate dan Tengkleng Kepala Kambing Jawa Tulen.

    Buka setiap hari pukul 10.00–22.00 WIB, tempat ini mengandalkan dua menu yang menuntut kesabaran sekaligus keahlian: sate kambing dan tengkleng kepala kambing. Keduanya dimasak dengan pendekatan klasik Jawa, tanpa jalan pintas, tanpa kompromi rasa. Hasilnya adalah sajian yang mengajak pengunjung duduk lebih lama—dan kembali lagi.

    Pemilik usaha, Ferry Harto, menjelaskan bahwa dapurnya berdiri di atas prinsip sederhana namun jarang dipertahankan.

    Sejalan dengan kiprahnya di dunia kuliner, Ferry Harto juga memiliki peran organisatoris di tingkat nasional. Ia tercatat sebagai Ketua Divisi UMKM Pengurus Pusat Media Independen Online (MIO) Indonesia, posisi yang memperlihatkan konsistensinya dalam mendorong penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah berbasis kearifan lokal. Peran tersebut tercermin langsung dalam pengelolaan Rajanya Sate dan Tengkleng Kepala Kambing Jawa Tulen, yang tidak hanya dijalankan sebagai usaha kuliner, tetapi juga sebagai contoh UMKM yang bertumpu pada kualitas, identitas rasa, dan keberlanjutan usaha di tengah dinamika ekonomi perkotaan.

    “Masakan Jawa itu tidak bisa dipercepat. Tengkleng dan sate harus dimasak dengan sabar supaya karakter rempahnya keluar,” ujarnya. “Yang kami jaga adalah konsistensi rasa, supaya setiap orang yang datang tahu apa yang akan ia dapatkan.”

    Sate kambing disajikan dengan potongan daging padat, dibakar matang tanpa mengorbankan kelembutan. Aroma arang berpadu dengan lemak yang meleleh pas. Tengkleng kepala kambing hadir dengan kuah rempah yang kuat dan hangat, dagingnya lunak, mudah dilepas dari tulang—sebuah sajian yang berbicara tentang tradisi, bukan tren sesaat.

    Lebih dari sekadar tempat makan, warung ini juga menyediakan ruang meeting untuk pertemuan kecil dan diskusi. Perpaduan yang tidak lazim, namun justru menjadi daya tarik: makan serius, berbincang serius, dalam satu ruang yang sama.

    Pengunjung bernama Bainanah menggambarkan pengalaman itu dengan singkat namun tepat.

    “Tempatnya tenang, makanannya serius,” katanya. “Datang ke sini rasanya tidak perlu buru-buru.”

    Di tengah ramainya peta kuliner Jakarta, Rajanya Sate dan Tengkleng Kepala Kambing Jawa Tulen menawarkan alasan untuk datang dan berhenti sejenak. Bagi siapa pun yang rindu pada rasa Jawa yang utuh—dan ingin mencicipinya langsung di meja—Bambu Apus layak masuk daftar tujuan berikutnya.

  • Madas Nusantara Dorong Partisipasi Publik Jelang Suksesi KONI DKI Jakarta

    Madas Nusantara Dorong Partisipasi Publik Jelang Suksesi KONI DKI Jakarta

    PALAPANEWS.ASIA, JAKARTA —

    Menjelang bergulirnya pemilihan Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) DKI Jakarta periode 2026–2030, ruang partisipasi publik mulai dibuka. Ormas Madas Nusantara melalui Madas Nusantara Institute menggelar konferensi pers untuk menyambut Diskusi Serap Aspirasi Cabang Olahraga (Cabor) DKI Jakarta, yang dijadwalkan berlangsung pada 2 Januari 2026.

    Konferensi pers digelar Jumat, 26 Desember 2025, di Pendopo Madas Nusantara, kawasan Radar AURI, Cibubur, Jakarta Timur. Diskusi tersebut diposisikan sebagai forum terbuka untuk memetakan kekuatan cabang olahraga, mengidentifikasi persoalan struktural, sekaligus menjaring pandangan publik mengenai figur yang dinilai layak memimpin KONI DKI Jakarta ke depan.

    Diskusi mengusung tema “Dalam rangka Memberi Masukan kepada Gubernur DKI Jakarta guna Memajukan Masyarakat Sehat, Olahraga, dan Prestasi”. Aspirasi yang dihimpun akan dirumuskan menjadi rekomendasi kebijakan bagi Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, terutama terkait pembinaan olahraga prestasi dan penguatan budaya hidup sehat.

    Ketua Umum Madas Nusantara, Jusuf Rizal, menegaskan bahwa Madas Nusantara akan aktif mengawal agenda strategis Pemprov DKI Jakarta melalui diskusi-diskusi publik yang berbasis data dan aspirasi warga.
    “Madas Nusantara melalui Madas Nusantara Institute akan konsisten melaksanakan diskusi tentang DKI Jakarta. Hasilnya akan kami sampaikan sebagai rekomendasi kepada Gubernur DKI Jakarta. Ini bagian dari peran kami mengawal kinerja pemerintah daerah,” ujar Jusuf Rizal kepada media.

    Ia menjelaskan, diskusi serap aspirasi ini dirancang sebagai proses belanja masalah. Fokus pembahasan mencakup tata kelola organisasi, potensi dan kendala cabang olahraga, peluang pengembangan prestasi, hingga aspek kepemimpinan dan transparansi keuangan.

    “Kita ingin melihat persoalan secara utuh, bukan sepotong-potong. Dari manajemen, kepemimpinan, sampai aspek nonteknis yang selama ini sering luput dibicarakan,” kata Jusuf Rizal.

    Jusuf Rizal sendiri memiliki rekam jejak panjang di dunia olahraga nasional. Selain dikenal sebagai Ketua Umum PWMOI dan Presiden LIRA (Lumbung Informasi Rakyat), ia pernah menjabat Direktur Marketing dan Promosi PSSI pada era Nurdin Halid, serta Direktur Pembinaan Usia Dini PSSI. Pada masa kepemimpinan Agum Gumelar, ia aktif menggagas berbagai kompetisi sepak bola anak tingkat nasional dan regional.

    Diskusi yang akan digelar pada 2 Januari 2026 mendatang rencananya melibatkan 84 cabang olahraga DKI Jakarta, pemerhati olahraga, serta perwakilan DPD RI dan DPRD DKI Jakarta yang membidangi olahraga. Forum ini diharapkan menjadi ruang evaluasi kritis menjelang suksesi kepengurusan KONI DKI Jakarta.

    Dengan pendekatan partisipatif tersebut, Madas Nusantara Institute berharap proses pergantian kepemimpinan KONI DKI Jakarta tidak sekadar bersifat prosedural, tetapi menjadi momentum perbaikan tata kelola dan penguatan pembinaan olahraga prestasi yang berkelanjutan di ibu kota.

  • Silaturahmi di PTM 110 Cimura, AYS Prayogie Ajak Media Lebih Dekat dengan Masyarakat

    Silaturahmi di PTM 110 Cimura, AYS Prayogie Ajak Media Lebih Dekat dengan Masyarakat

    PALAPANEWS.ASIA, JAKARTA —

    Usai menyampaikan Materi Pada Road Show Roadshow Pembinaan dan Penguatan Kelembagaan yang dilakukan oleh BAWASLU Prov. DKI Jakarta, Ketua Umum Media Independen Online (MIO) Indonesia, AYS Prayogie, mengunjungi PTM 110 Cimura, Cipinang Muara, Jatinegara, Jakarta Timur, Senin (22/12/2025). Kunjungan ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus dialog tentang peran media dalam kehidupan bermasyarakat di tingkat lingkungan.

    AYS Prayogie disambut Ketua PTM 110 Cimura Alam Massiri, yang juga Sekretaris Wilayah MIO Indonesia Provinsi DKI Jakarta, bersama Ketua RT 10 RW 01 Mawardi, serta pengurus dan jamaah. Suasana berlangsung hangat dengan pembahasan seputar literasi informasi, etika pemberitaan, dan pentingnya kedekatan media dengan warga.

    “Media harus hadir di tengah masyarakat, tidak hanya di ruang-ruang formal. Dari komunitas seperti PTM inilah kepekaan sosial dan kepercayaan publik dibangun,” ujar AYS Prayogie.

    Alam Massiri menilai kunjungan pimpinan organisasi media nasional itu sebagai pesan penting tentang kemitraan media dan warga. Menurutnya, peran media yang sehat akan terasa ketika hadir langsung di lingkungan masyarakat.

    “Kehadiran Ketua Umum MIO Indonesia di PTM 110 Cimura bukan sekadar silaturahmi, tetapi penegasan bahwa media dan masyarakat perlu berjalan beriringan. Media yang jujur dan mendidik akan memperkuat ruang publik,” kata Alam.

    Sebagai Sekretaris Wilayah MIO Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Alam menambahkan bahwa pendekatan berbasis komunitas penting untuk menjaga kedekatan emosional antara media dan masyarakat, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap informasi.

    Sementara itu, Mawardi menyebut dialog langsung semacam ini membantu media memahami konteks kehidupan warga sehari-hari.

    “Kami mengapresiasi kunjungan ini. Media yang mau turun langsung ke lingkungan akan lebih memahami kondisi masyarakat dan menyampaikan informasi secara utuh serta bertanggung jawab,” ujarnya.
    Kunjungan tersebut menegaskan komitmen MIO Indonesia untuk membangun kedekatan dengan komunitas akar rumput sebagai bagian dari tanggung jawab sosial pers, sekaligus memperkuat literasi dan kualitas informasi di tingkat lokal.

  • Santri Tampil sebagai Kekuatan Baru Perfilman Nasional di Malam Anugerah SANFFEST 2025

    Santri Tampil sebagai Kekuatan Baru Perfilman Nasional di Malam Anugerah SANFFEST 2025

    Palapanews.Asia, Jakarta – Malam Anugerah Santri National Film Festival (SANFFEST) 2025 berlangsung semarak di Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Minggu malam (21/12). Lebih dari sekadar seremoni penghargaan, ajang ini menegaskan posisi santri sebagai bagian penting dalam arah masa depan budaya dan industri film Indonesia.

    Sejumlah tokoh hadir dalam malam puncak tersebut, di antaranya Neno Warisman ( Ketua Komite Santri Festival 2025), Dr. Fadli Zon, MSc. ( Menteri Kebudayaan Republik Indonesia), Fahri Hamzah (Wamen Perumahan dan Kawasan Permukiman), Ahmad Mahendra (Dirjen Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembaharuan Kebudayaan), Dr. Syaifullah Agam ), Naswardi, MM ( Ketua Lembaga Sensor ), Dr. Habiburrahman El Shirazy, Lc. MA ( Wakil Ketua Bidang Seni, Budaya, dan Peradaban Islam, Majelis Ulama Indonesia), Perwakilan dari Bank Syariah Indonesia, Dr. Erick Yusuf. Ninik L. Karim, Basrizal Koto., Dude Herlino.

    Dalam sambutannya, Fadli Zon menekankan bahwa film merupakan instrumen soft power yang sangat krusial bagi sebuah bangs. Indonesia, menurutnya, memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, bahkan ia menyebutnya sebagai “mega diversity”, yang perlu terus diolah dan disuarakan melalui karya-karya sinema.

    “Santri memiliki perspektif khas yang berakar pada nilai, etika, dan tradisi. Ketika perspektif itu diterjemahkan ke dalam film, ia dapat menjadi kekuatan budaya Indonesia, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujar Fadli Zon.

    SANFFEST 2025 mengangkat tema “Dari Jendela Santri Memandang Dunia”, sebuah refleksi semangat santri untuk berdialog dengan realitas global tanpa meninggalkan identitasnya. Tahun ini, festival tersebut mencatat partisipasi 125 film karya santri dari 115 pesantren yang tersebar di 20 provinsi. Capaian ini dipandang sebagai sinyal positif lahirnya generasi baru sineas pesantren di Indonesia.

    Pada kesempatan yang sama, Neno Warisman menyoroti pentingnya pendidikan film yang inklusif dan berkelanjutan bagi santri. Ia mengapresiasi komitmen SANFFEST yang tidak berhenti pada kompetisi, tetapi juga berfokus pada penguatan kapasitas melalui literasi film, pengembangan skenario, hingga dukungan distribusi karya.

    “SANFFEST adalah ikhtiar kebaikan. Ketika santri diberi ilmu dan ruang untuk berkarya, mereka tidak hanya menciptakan film, tetapi juga ikut membangun peradaban,” kata Neno.

    Malam Anugerah SANFFEST 2025 ditutup dengan pengumuman berbagai kategori penghargaan, termasuk Skenario Terbaik, yang menegaskan bahwa kekuatan utama sebuah film tetap bertumpu pada cerita dan gagasan.

    Dengan dukungan Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Agama Republik Indonesia serta rencana penguatan distribusi melalui platform digital dan kanal khusus SANFFEST, festival ini diharapkan terus berlanjut dan berkembang. SANFFEST bukan sekadar festival film, melainkan gerakan budaya yang menempatkan santri sebagai salah satu pilar penting masa depan perfilman Indonesia.

     

  • Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku? Hadirkan Konflik Menggetarkan Tentang Iman, Keluarga, dan Harga Diri

    Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku? Hadirkan Konflik Menggetarkan Tentang Iman, Keluarga, dan Harga Diri

    Palapanews.Asia, Jakarta – Paragon Pictures bersama Ideosource Entertainment resmi merilis official poster dan trailer film drama religi “Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku?” karya terbaru sutradara Jay Sukmo. Cuplikan berdurasi singkat itu langsung menyita perhatian karena menampilkan ketegangan emosional yang dialami tokoh utama, Sarah, yang diperankan Revalina S. Temat.

    Dalam trailer, penonton diperlihatkan bagaimana kehidupan Sarah runtuh setelah rumah tangganya hancur. Ia harus menampung mantan suaminya Satrio ( Dimas Aditya ), serta menghadapi konflik dengan anaknya, Laila ( Annisa Kaila ). Fitnah, tekanan sosial, hingga hubungan yang retak membuat hidup Sarah kian terpojok. Situasi makin rumit ketika hadir Dimas ( Roy Sungkono ), yang justru menambah dilema musuh atau pelindung bagi dirinya.

    Produser Robert Ronny menuturkan bahwa film ini menghadirkan refleksi tentang seorang perempuan yang mempertaruhkan martabat, anak, dan masa depannya.

    “Sarah diuji dari segala arah oleh keluarga, lingkungan, bahkan dirinya sendiri,” ujar Robert saat preskon di kawasan Senayan, Jakarta (10/12).

    Revalina S. Temat menambahkan bahwa tokoh yang ia perankan menggambarkan perjalanan penuh luka namun sarat keberanian. Kisah Sarah diyakini akan menguatkan banyak perempuan, terutama para ibu tunggal, bahwa mereka tidak pernah benar-benar berjalan sendirian.

    Film ini juga dibintangi sejumlah nama lain seperti Gunawan Sudrajat, Megan Domani, Annisa Kaila, Roy Sungkono, Risma Nilawati, hingga Alex Abbad. Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku? merupakan kolaborasi Indonesia Malaysia dengan dukungan berbagai rumah produksi, termasuk Astro Shaw, NetZme, KMIF, WOW Multinet Pictures, dan Virtuelines Entertainment.

     

  • Qorin 2 Hadirkan Ketegangan Baru, Angkat Isu Perundungan dan Pencarian Keadilan

    Qorin 2 Hadirkan Ketegangan Baru, Angkat Isu Perundungan dan Pencarian Keadilan

    Palapanews.Asia, Jakarta – Film horor Qorin 2 resmi diperkenalkan sebagai kelanjutan dari kesuksesan film pertamanya. Diproduksi oleh Sky Media, Legacy Pictures, IDN Pictures, dan Magma Entertainment, film ini digarap oleh sutradara Ginanti Rona dengan naskah karya Lele Laila. Cerita terbaru ini tetap mempertahankan nuansa horor slasher, namun dibangun dengan isu sosial yang lebih kuat.

    Qorin 2 mengikuti perjalanan Pak Makmur (diperankan Fedi Nuril), seorang pemulung yang berjuang mencari keadilan setelah anaknya menjadi korban perundungan di sekolah. Ketika keadilan tidak segera didapat, Pak Makmur dihadapkan pada pilihan sulit. Situasi kampung yang semakin mencekam memaksanya mengambil langkah ekstrem demi melindungi anaknya.

    Produser Sunil Samtani mengatakan Qorin 2 hadir dengan cerita yang berdiri sendiri, meski tetap berkaitan dengan film pertama saat jumpa pers di Epicentrum XXI, Jakarta (8/12).

    “Benang merah film Qorin dan Qorin 2 adalah bagaimana seseorang menghadapi sisi gelap diri lewat ritual qorin. Namun isu perundungan membuat film ini semakin dekat dengan realitas yang terjadi di sekolah,” ujarnya.

    Produser Susanti Dewi menambahkan bahwa sekuel ini digarap dengan visi yang lebih matang.

    “Kami ingin Qorin 2 bukan hanya menegangkan, tetapi juga menggambarkan dinamika sosial yang sedang terjadi,” katanya.

    Sutradara, Ginanti Rona, menegaskan bahwa Qorin 2 menawarkan intensitas yang lebih kuat dibanding film sebelumnya. Dari segi cerita hingga teknis produksi, semua ditingkatkan untuk memberikan pengalaman yang lebih imersif.

    “Qorin 2 hadir dengan cerita yang lebih dalam dan emosional. Harapannya film ini dapat menghibur sekaligus menjadi cermin dari berbagai peristiwa yang tengah terjadi,” ucap Ginanti.

    Para pemeran film Qorin2 : Fedi Nuril, Ali Fikry, Wavi Zihan, Muzakki Ramdhan, Gilang Devialdy, Vincentius Jeremhia, Benjamin Malaihollo, Quentin Stanislavski Kusnandar, Epy Kusnandar, Dimas Aditya Indra Birowo, Seroja Hafiedz, Sari Koeswoyo, Lucky Moniaga, Fitrie Rachmadhina, Wawan Hernawan Yoga & Beby Evelyn.

     

     

  • Timur: Epicentrum XXI Berubah Jadi Hutan Rimba, Penonton Terharu dan Terkagum

    Timur: Epicentrum XXI Berubah Jadi Hutan Rimba, Penonton Terharu dan Terkagum

    Palapanews.Asia, Jakarta – Uwais Pictures resmi memperkenalkan film perdana mereka, Timur, lewat rangkaian Press Screening & Press Conference yang digelar pada 4 Desember 2025 di Epicentrum XXI, Jakarta. Momen ini menjadi semakin istimewa karena menandai langkah baru Iko Uwais sebagai sutradara.

    Dengan dukungan penuh BNI, acara premiere Timur menghadirkan pengalaman yang jarang ditemui. Seluruh area Epicentrum XXI didekorasi bak hutan rimba lengkap dengan atmosfer dramatis yang menghidupkan dunia dalam film. Para tamu undangan dan media dibuat terpukau dengan konsep yang imersif ini.

    Acara tersebut dihadiri jajaran kru dan pemain, mulai dari Executive Producer Yentonius Jerriel Ho, Iko Uwais yang juga menjadi pemeran utama, Produser Ryan Santoso, serta para cast: Aufa Assegaf, Jimmy Kobogau, Macho Hungan, Yusuf Mahardika, Yasamin Jasem, Amara Angelica, Stefan William, Bizael Tanasale, Beyon Destiano, Andri Mashadi, Adhin Abdul Hakim, hingga Fanny Ghassani.

    Dalam konferensi pers, Iko mengungkapkan rasa bangga akhirnya bisa menyutradarai film di tanah kelahirannya. Ia bercerita bahwa Timur adalah proyek yang sangat personal.

    “Saya tumbuh bersama keluarga dari Indonesia Timur, mereka yang ikut merawat saya sejak kecil. Karena itulah saya ingin menghadirkan cerita yang saya persembahkan untuk sahabat-sahabat saya di sana,” ujar Iko.

    Produser Ryan Santoso menambahkan bahwa Timur lahir dari tema yang sangat dekat dengan mereka berdua: persaudaraan. Ia menyebut bahwa perjalanan panjang membangun Uwais Pictures bersama Iko menjadi cerminan langsung dari apa yang diceritakan film ini.

    “Lebih dari lima tahun kami memimpikan rumah produksi yang bisa menghasilkan film laga berstandar internasional. Hari ini mimpi itu akhirnya terwujud lewat Timur,” katanya.

    Gelombang pertama penonton memberikan respons luar biasa. Koreografi laga yang intens dan cerita yang emosional membuat banyak orang tidak hanya terhibur, tetapi juga terbawa suasana. Adegan-adegan aksi khas Iko Uwais memukau, namun justru kedalaman cerita persaudaraanlah yang membuat sejumlah penonton meneteskan air mata.

    “Saya nggak menyangka Iko ternyata sehebat ini di balik kamera. Debut sutradara yang luar biasa dan bikin penasaran untuk karya selanjutnya,” komentar salah satu penonton setelah pemutaran.

    Dengan sambutan hangat ini, Timur menjadi penanda baru bagi genre laga emosional di Indonesia dan membuka babak baru dalam perjalanan kreatif Iko Uwais.