Kategori: Film

  • “Assalamualaikum Baitullah”  Rilis Poster dan Trailer Perdana, Kisah Pilu di Balik Perjalanan ke Tanah Suci

    “Assalamualaikum Baitullah” Rilis Poster dan Trailer Perdana, Kisah Pilu di Balik Perjalanan ke Tanah Suci

    Palapanews.Asia, Jakarta – VMS Studio memperkenalkan poster dan trailer perdana film drama religi “Assalamualaikum Baitullah”, dalam acara yang digelar di Anjungan Sarinah, Jumat (13/6/202). Film ini diadaptasi dari novel laris karya Asma Nadia dan dijadwalkan tayang di bioskop mulai 17 Juli 2025.

    Peluncuran poster dan trailer turut dimeriahkan oleh Fadhila Intan, yang membawakan lagu tema berjudul “Jalan Cinta”, sebuah lagu yang menggambarkan perjalanan batin dalam menemukan cinta sejati dan kembali pada Yang Maha Kuasa.

    Film ini mengikuti kisah Amira (diperankan oleh Michelle Ziudith), perempuan yang terpuruk karena dikhianati orang yang dicintainya. Dalam keputusasaan, Amira memilih berangkat ke Tanah Suci untuk berhaji. Perjalanan spiritual ini menjadi titik balik yang membawanya pada proses pengikhlasan, penyembuhan luka batin, dan pencarian makna sejati dari cinta dan kehidupan.

    Daeng Ratu, produser film, menyebut bahwa film ini tidak hanya menyajikan visual yang menyejukkan, tetapi juga narasi yang menyentuh hati dan merefleksikan perjalanan batin banyak orang. Sementara itu, Michelle Ziudith mengungkap bahwa peran Amira adalah tantangan emosional terbesar dalam kariernya sebagai aktris.

    Poster resmi film memperlihatkan tiga tokoh utama: Amira, Barra (Arbani Yasiz), dan Amel (Tissa Biani), dengan latar belakang Ka’bah yang menjadi pusat spiritual umat Muslim. Komposisi ini mempertegas benang merah film: cinta, ujian, dan keteguhan hati dalam menghadapi takdir.

    Selain tiga pemeran utama, film ini juga menghadirkan Miqdad Addausy, Ummi Quary, Maudy Koesnaedi, Vonny Anggraini, dan Sadana Agung.

    Dengan balutan drama religi yang mendalam, “Assalamualaikum Baitullah” menjadi sajian sinema yang mengangkat tema tentang harapan, pengampunan, dan kepulangan kepada Tuhan. Informasi terbaru dan promosi film ini dapat diikuti melalui akun media sosial @film.asba dan @vmstudioid.

     

  • Arwah” Rilis Poster dan Trailer Perdana, Hadirkan Teror Mistis dan Drama Keluarga

    Arwah” Rilis Poster dan Trailer Perdana, Hadirkan Teror Mistis dan Drama Keluarga

    Palapanews.Asia, Jakarta – Film horor terbaru berjudul Arwah resmi meluncurkan poster dan trailer perdananya hari ini, Selasa (10/6). Disutradarai oleh Ivan Bandhito, film ini menjanjikan kisah mencekam penuh teror mistis yang dibalut dengan konflik emosional dalam keluarga.

    Arwah merupakan produksi kolaboratif antara Bangun Pagi Pictures, Drias Film Productions, dan Mockingbird Pictures. Skenario film ini ditulis oleh Sankut, sementara kursi produser ditempati oleh Jonathan HM dan Bambang Drias, yang juga bertindak sebagai produser eksekutif. Film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 3 Juli 2025.

    Trailer perdana memperkenalkan kisah empat bersaudara yang pulang ke kampung halaman untuk berlibur dan bertemu kembali dengan sang ayah, Abah, serta adik bungsu mereka, Sofi. Namun, liburan yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi pengalaman menyeramkan setelah sebuah kecelakaan mobil memicu serangkaian peristiwa gaib. Sosok Sofi, si bungsu yang semula hangat, berubah menjadi arwah penasaran yang menghantui saudara-saudaranya, seolah hendak menyampaikan pesan misterius dari balik kematian.

    Bersamaan dengan peluncuran trailer, poster utama Arwah juga dirilis secara digital melalui akun Instagram dan TikTok resmi @film_arwah. Poster tersebut menampilkan visual mengganggu: seorang gadis kecil dalam posisi terbalik memeluk boneka, dengan luka-luka di tubuhnya, mata putih kosong, dan senyum mengerikan yang langsung memberi nuansa horor. Poster ini melanjutkan teaser sebelumnya yang menampilkan sosok perempuan berlumuran darah dari belakang, juga dengan boneka lusuh di genggaman.

    Aktris muda Sarah Beatrix memerankan karakter Sofi, anak bungsu yang memiliki ikatan emosional kuat dengan ayahnya. Dalam konferensi pers peluncuran poster dan trailer di FX Sudirman, Jakarta Pusat, hari ini, Sarah mengungkapkan bahwa karakter Sofi terasa sangat personal baginya.

    “Di kehidupan nyata aku juga dekat dengan papa, jadi kayaknya relate banget,” ujar Sarah.

    Sarah juga menceritakan tantangan memerankan Sofi, termasuk harus berdialog dalam bahasa Sunda.

    “Aku orang Manado, besar di Papua. Pas disuruh ngomong Sunda, rasanya cukup menantang,” ujarnya.

    Ia menambahkan bahwa dalam film ini juga terdapat elemen budaya lokal, termasuk nyanyian dalam bahasa Sunda.

    Sutradara Ivan Bandhito menyampaikan bahwa Arwah tak hanya sekadar menghadirkan ketegangan horor, tetapi juga menggali dinamika hubungan keluarga.

    “Kita menggambarkan bagaimana relasi kakak-adik dan ikatan dengan orang tua bisa menjadi elemen emosional yang kuat, bahkan dalam genre horor,” ujarnya.

    Hal senada disampaikan oleh Joshua Suherman, yang memerankan karakter Jojo. Ia menekankan bahwa Arwah bukan hanya tentang hantuan, tetapi juga sarat dengan drama keluarga yang mengena.

    Film ini juga dibintangi oleh deretan aktor muda seperti Annete Edoarda, Naura Hakim, dan Irsyadillah, aktor senior Egi Fredly, Roweina Umboh, Ferry Salim, dan Julian Kunto. Aktris Natasha Germania juga turut ambil bagian sebagai cameo dalam film ini.

    Dengan gabungan horor dan drama yang emosional, Arwah tampaknya siap menjadi tontonan yang mengusik perasaan sekaligus menggugah makna hubungan keluarga.

     

  • “Blood Brother: Bara Naga” Aksi, Emosi dan Pengkhianatan dari Malaysia

    “Blood Brother: Bara Naga” Aksi, Emosi dan Pengkhianatan dari Malaysia

    Palapanews.Asia, Jakarta – Dunia perfilman Asia Tenggara kembali bergeliat dengan hadirnya film aksi terbaru dari Malaysia, “Blood Brother: Bara Naga”, yang akan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 11 Juni 2025. Disutradarai oleh Syafiq Yusof dan didukung oleh Abhilash Chandra sebagai co-director, hadir dalam Gala Premiere dan Press  Conference di kawasan Thamrin, Senin (9/6/2025). Film ini menyuguhkan sajian sinematik yang intens, emosional, dan penuh aksi brutal yang memikat

    Film ini menjadi penanda penting dalam geliat pertukaran budaya sinema di kawasan, membuktikan bahwa Malaysia bukan hanya serius dalam urusan sinematografi, tapi juga mampu meracik kisah yang dalam dan menyentuh.

    “Blood Brother: Bara Naga” mengangkat kisah Ariff (diperankan Syafiq Kyle), seorang pengawal setia sindikat mafia Naga, yang hidupnya jungkir balik saat dituduh sebagai pengkhianat usai kematian tragis Sheila, tunangan dari sahabatnya sendiri, Ghaz (Sharnaaz Ahmad). Tuduhan tersebut meretakkan hubungan mereka dan memaksa Ariff kabur demi mencari kebenaran dan menebus nama baiknya.

    Di tengah pelariannya, Ariff dipertemukan kembali dengan kakaknya yang lama terasing, Jaki (Syazwan Zulkifly). Keduanya terpaksa menjalin kembali tali darah yang sudah lama renggang demi menghadapi ancaman yang tak henti datang, termasuk dari Ghaz yang kini memimpin unit elit Naga dan tanpa ampun memburunya.

    Dengan koreografi pertarungan yang intens dan sinematografi bergaya noir, film ini disebut-sebut membawa napas baru dalam genre laga Asia Tenggara, mengingatkan penonton akan atmosfer dan kecepatan The Raid, namun dengan sentuhan emosional yang lebih kental.

    Bukan hanya sekadar film aksi, “Blood Brother: Bara Naga” adalah karya yang merayakan kedalaman relasi antar karakter, pertarungan batin, serta loyalitas yang diuji di tengah dunia kriminal yang kelam dan kejam.

    Film ini menjadi bukti nyata kemajuan industri film Malaysia yang kian percaya diri menembus pasar internasional, termasuk Indonesia, yang selama ini dikenal selektif terhadap tayangan luar.

    Siap-siap, mulai 11 Juni 2025, penonton Indonesia akan disuguhkan aksi laga yang bukan hanya mengguncang, tapi juga menggugah. Jangan lewatkan “Blood Brother: Bara Naga” di bioskop-bioskop terdekat.

     

  • “Blood Brothers: Bara Naga”, Ketegangan Persaudaraan dalam Balutan Aksi Laga

    “Blood Brothers: Bara Naga”, Ketegangan Persaudaraan dalam Balutan Aksi Laga

    Palapanews.Asia, Jakarta – Dunia perfilman Malaysia kembali menghadirkan gebrakan baru lewat film aksi “Blood Brothers: Bara Naga”, yang resmi tayang mulai 11 Juni 2025. Film ini menjadi perbincangan hangat di kalangan penikmat sinema Asia Tenggara, bukan hanya karena aksi laga yang intens, tetapi juga karena cerita tentang persaudaraan yang berujung tragis.

    Disutradarai oleh Syafiq Yusof bersama Abhilash Chandra, Blood Brothers menyuguhkan konflik emosional antara dua saudara yang terjebak dalam pusaran dendam, loyalitas, dan pengkhianatan. Tokoh utama, Ariff (diperankan oleh Syafiq Kyle), adalah seorang pengawal pribadi yang mendadak dituduh mengkhianati organisasi tempat ia dibesarkan. Untuk membuktikan dirinya tak bersalah, Ariff harus kembali menghadapi masa lalu dan bersatu dengan saudaranya yang telah lama menghilang, Jaki (Syazwan Zulkifly).

    Ketegangan semakin memuncak ketika sosok Ghaz (Sharnaaz Ahmad) muncul sebagai antagonis utama, yang dulu sahabat Ariff, kini menjadi pemburu berdarah dingin. Penampilan Ghaz mencuri perhatian dengan aura dingin dan karisma tajam, membuat film ini terasa penuh tekanan sejak awal hingga akhir.

    Bukan hanya dibintangi nama-nama besar, film ini juga menampilkan deretan aktor papan atas seperti Shukri Yahaya, Wan Hanafi Su, Amelia Henderson, hingga Zamarul Hisham, yang semuanya tampil all-out di layar. Penonton juga disuguhi koreografi pertarungan tangan kosong yang digarap serius, dengan sentuhan sinematik yang tajam dan koreografi laga garapan Nur Ubbaidillah Afandi Amirzan nama di balik suksesnya Polis Evo 3.

    Sejak perilisan trailernya, Blood Brothers: Bara Naga langsung menyedot perhatian warganet. Adegan-adegan aksi brutal, pengkhianatan emosional, dan sinematografi bergaya gelap mengundang banyak pujian di media sosial.

    Tak tanggung-tanggung, hanya dalam waktu 11 hari penayangan, film ini berhasil mengumpulkan lebih dari RM 73 juta, menjadikannya salah satu film lokal terlaris tahun ini di Malaysia.

    Film ini tidak hanya menghibur, tapi juga meninggalkan pesan kuat tentang arti kepercayaan dan batas antara darah dan pengkhianatan. Blood Brothers bukan sekadar film laga, tapi drama saudara kandung yang dikemas dalam atmosfer penuh bara dan letupan emosi.

     

     

  • Kristo Immanuel Debut Jadi Sutradara Lewat Film “Tinggal Meninggal”

    Kristo Immanuel Debut Jadi Sutradara Lewat Film “Tinggal Meninggal”

    Palapanews.Asia, Jakarta – Aktor sekaligus komedian Kristo Immanuel siap unjuk gigi sebagai sutradara lewat film perdananya yang berjudul Tinggal Meninggal. Film produksi Imajinari ini rencananya akan tayang pada Agustus 2025 dan membawa konsep unik yang jarang ditemui di film-film Indonesia, yakni breaking the fourth wall.

    Dalam konferensi pers yang digelar di kawasan Jakarta Pusat pada Rabu (4/6/2025), Kristo membagikan alasan di balik pilihannya mengusung gaya bercerita tersebut.

    “Aku tuh suka banget film-film dan series-series yang menggunakan breaking the fourth wall,” ungkap Kristo antusias.

    Breaking the fourth wall adalah teknik naratif di mana karakter dalam film menyadari keberadaan penonton dan berbicara langsung kepada mereka, seolah-olah menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari sebuah cerita.

    Menurut Kristo, pendekatan ini sangat cocok untuk Tinggal Meninggal, terlebih karena cerita dalam film ini banyak terinspirasi dari pengalaman pribadinya.

    “Karena aku tuh suka banget kayak misalnya kalau di momen-momen awkward, di momen-momen yang cringe, di momen-momen enggak nyaman, kayak pengen ngomong ke kamera,” ujar Kristo.

    Kristo menambahkan bahwa karakter utama dalam film ini, Gema, akan banyak berbicara langsung kepada penonton di tengah-tengah adegan.

    “Jadi nanti kalau teman-teman lihat di filmnya itu, breaking the fourth wall itu momen ngomong sendirinya si Gema gitu,” ujar Kristo.

    Film Tinggal Meninggal juga dibintangi oleh sejumlah nama besar seperti Omara Esteghlal, Nirina Zubir, Mawar de Jongh, Muhadkly Acho, hingga Ardhit Erwanda. Dengan jajaran pemain yang kuat dan pendekatan penyutradaraan yang segar, film ini rencana tayang Agustus 2025.

     

  • Film Perdana GJLS: Dari Canda Jadi Cerita

    Film Perdana GJLS: Dari Canda Jadi Cerita

    Palapanews.Asia, Jakarta – Trio komedian GJLS – Rigen Rakelna, Hifdzi Khoir, dan Ananta Rispo akhirnya menapaki babak baru dalam perjalanan karier mereka. Setelah sukses besar di dunia podcast dan panggung komedi, ketiganya akan merilis film perdana mereka yang berjudul GJLS: Ibuku Ibu-Ibu pada 12 Juni 2025 di seluruh bioskop Tanah Air.

    Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, Selasa (3/6), Rigen mengungkapkan rasa bahagia sekaligus bangga mewakili ketiganya.

    “Akhirnya mimpi ini jadi nyata. Ini bukan Cuma film, tapi hasil dari proses panjang dan kekompakan kami bertiga,” ujar Rigen.

    Film ini digarap bukan semata mengejar tren, melainkan sebagai bentuk ekspresi mereka dalam menyebarkan energi positif ke penonton. Menurut GJLS, proyek ini lahir dari semangat ‘iseng yang serius’, berangkat dari kesenangan, namun dijalani dengan sungguh-sungguh.

    Menariknya, meskipun diwarnai dengan humor khas GJLS, film ini juga menuntut kedalaman emosi dalam beberapa adegan dramatis. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi mereka.

    “Pas adegan sedih tuh malah pengen ketawa. Soalnya kita udah terlalu terbiasa ngelucu bareng,” kata Rispo.

    Kendati begitu, mereka memastikan bahwa setiap adegan tetap disampaikan dengan hati. Penonton akan melihat sisi lain dari GJLS, sisi yang lebih manusiawi dan emosional, tanpa kehilangan ciri khas jenaka mereka.

    Melalui Ibuku Ibu-Ibu, GJLS berharap bisa memperluas jangkauan penontonnya. Bukan hanya para penggemar podcast atau stand up comedy, tetapi juga publik yang ingin merasakan hiburan ringan namun mengena.

    Film ini menjadi tonggak baru bagi trio GJLS dalam menjajaki industri film, dan mereka yakin pengalaman menonton ini akan terasa berbeda dari komedi-komedi biasa di bioskop.

    “Kalau biasanya kita cuma muncul di layar kecil atau di panggung, kali ini kita hadir dengan cerita utuh di layar lebar. Semoga bisa bikin orang ketawa sekaligus merasa dekat sama kita,” tutup mereka.

     

  • “Debut Produksi Marcel Chandrawinata: The Dark House Sajikan Horor Psikologis di Baturaden”

    “Debut Produksi Marcel Chandrawinata: The Dark House Sajikan Horor Psikologis di Baturaden”

    Palapanews.Asia, Jakarta – Film horor terbaru berjudul The Dark House siap menyapa penonton di bioskop mulai 12 Juni 2025. Film ini disutradarai oleh Hans Wanaghi dan diproduksi oleh Infinix One Pictures, dengan aktor Marcel Chandrawinata turut terlibat sebagai salah satu produser.

    The Dark House mengisahkan pasangan suami istri, Dewi (Karina Ranau) dan Arya (Ade Bilal Perdana), yang memutuskan untuk berlibur ke sebuah penginapan di kawasan Baturaden. Namun, liburan yang awalnya tampak menyenangkan itu berubah menjadi pengalaman menyeramkan ketika mereka mulai mengalami kejadian-kejadian horor yang perlahan mengganggu kondisi mental mereka.

    Selain Karina dan Ade, film ini juga dibintangi oleh Delia Alena, Theo Culver, dan Roy Turaekha.

    Dalam konferensi pers yang digelar Senin (2/6) di Jakarta Selatan, Marcel Chandrawinata membagikan pengalamannya terjun ke dunia produksi film.

    “Akhirnya ingin mencoba sesuatu di belakang layar, ternyata cukup sulit,” ujar Marcel.

    Ia juga mengaku banyak belajar selama proses pembuatan film ini.

    “Biasanya sebagai aktor kita hanya fokus pada peran masing-masing, tapi sebagai produser, kita harus terlibat dalam semua aspek produksi,” tutur Marcel.

    Menariknya, keterlibatan Marcel dalam proyek ini juga membangkitkan minatnya terhadap genre horor.

    “Dulu aku nggak terlalu suka main film horor, tapi setelah terlibat dalam pembuatan The Dark House, aku malah jadi tertarik buat coba berakting di genre ini,” katanya.

    Dengan nuansa mencekam dan atmosfer khas pegunungan Baturaden, The Dark Horse diharapkan mampu memberikan pengalaman berbeda bagi para pecinta film horor di Tanah Air.

     

  • Sore: Istri dari Masa Depan, Sheila Dara & Dion Wiyoko Reuni dalam Kisah Cinta Lintas Waktu

    Sore: Istri dari Masa Depan, Sheila Dara & Dion Wiyoko Reuni dalam Kisah Cinta Lintas Waktu

    Palapanews.Asia, Jakarta – Masih ingat dengan mini series, Sore: Istri dari Masa Depan yang sempat viral di tahun 2017. Kabar gembira buat para penggemarnya. Kisah cinta unik yang penuh haru ini bakal kembali hadir, tapi kali ini dalam versi layar lebar yang lebih dalam dan emosional. Film Sore: Istri dari Masa Depan dijadwalkan tayang serentak di bioskop mulai 10 Juli 2025.

    Yang menarik, film ini kembali digarap oleh Yandy Laurens, sosok kreatif di balik versi mininya. Konon, proyek ini sangat personal bagi Yandy karena cerita diangkat langsung dari pengalaman emosionalnya. Diproduksi oleh Cerita Films, film ini siap memberikan sentuhan sinematik yang jauh lebih menyayat hati.

    Film ini kembali memasangkan Dion Wiyoko sebagai Jonathan dan Sheila Dara Aisha sebagai Sore. Chemistry keduanya yang pernah mencuri perhatian publik akan dihidupkan lagi dalam kisah cinta yang tak biasa.

    Jonathan digambarkan sebagai fotografer yang cuek terhadap kesehatannya. Tapi hidupnya berubah ketika ia bertemu dengan Sore, sosok istri yang misterius, penyayang, dan ternyata berasal dari masa depan.

    Sore datang bukan sekadar untuk mencintai, tapi untuk menyelamatkan hidup Jonathan. Misi penuh cinta dan pengorbanan ini dijamin bikin penonton tersentuh dan berpikir ulang soal arti cinta sejati.

    Dari web series ke layar lebar bukan sekadar memanfaatkan nostalgia. Yandy Laurens menjanjikan sesuatu yang lebih “menghantam hati”. Visual yang memukau, alur cerita yang lebih matang, dan sentuhan emosional yang mendalam siap membuat film ini jadi salah satu tontonan paling ditunggu tahun ini.

     

  • GJLS Rilis Poster Absurd dan Trailer Kocak “Ibuku Ibu-Ibu”

    GJLS Rilis Poster Absurd dan Trailer Kocak “Ibuku Ibu-Ibu”

    Palapanews.Asia, Jakarta – Trio komedian GJLS, Rigen Rakelna, Ananta Rispo, dan Hifdzi Khoir siap kembali mengocok perut lewat film terbaru mereka GJLS: Ibuku Ibu-Ibu. Film bergenre komedi ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 12 Juni 2025 mendatang, dan baru saja merilis poster serta trailer resminya yang langsung jadi bahan perbincangan netizen.

    Film GJLS: Ibuku Ibu-Ibu merupakan kolaborasi produksi antara Amadeus Sinemagna dan Legacy Pictures. Tak hanya menjadi debut layar lebar GJLS, film ini juga menjadi representasi suara generasi muda yang ingin tertawa di tengah tekanan hidup sehari-hari.

    Bukan GJLS namanya kalau tak menghadirkan kejutan. Poster resmi film ini tampil nyeleneh dan absurd sesuai DNA GJLS. Bagaimana tidak, seluruh wajah karakter dalam posternya sengaja dibikin blur. Bahkan ada satu sosok perempuan misterius yang wajahnya disamarkan total, bikin warganet makin kepo.

    Sutradara Monty Tiwa mengungkapkan bahwa proses syuting bersama trio GJLS adalah pengalaman syuting paling “goblok” yang pernah ia alami.

    “GJLS itu kayak syuting sambil nongkrong di warung kopi, script bisa berubah tiap 5 menit, bloopers lebih banyak dari take yang benar. Tapi justru di situ letak keajaibannya. Mereka absurd, tapi jujur dan penuh semangat. Saya dan kru ketawa setiap hari selama syuting.” ujar Monty dalam konfrensi pers yang digelar di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (23/5/2025).

    Indra Yudhistira, selaku Produser Eksekutif dari Amadeus, mengungkap bahwa proses kreatif di balik poster tersebut cukup penuh drama.

    “Banyak banget versi posternya, dari yang lucu sampai yang aneh-aneh. Kita debat panjang, saling lempar ide, sampai akhirnya sepakat dengan konsep blur ini,” ujar Indra.

    Indra menjelaskan bahwa poster blur ini bukan tanpa makna.

    “Blur di poster itu simbol dari kekacauan absurd yang jadi ciri khas GJLS. Film ini memang nggak menawarkan karakter yang sempurna, tapi lebih ke kekacauan yang tulus dan menghibur,” katanya.

    Sementara itu, trailer resmi yang sudah tayang di akun Instagram @gjls.ibuku.ibuibu dan @gjlsentertainment langsung banjir komentar lucu dari netizen. Beberapa adegan gokil di trailer membuat banyak yang mengaku tak sabar menontonnya di bioskop.

    Film Ibuku Ibu-Ibu sendiri berkisah tentang tiga bersaudara yang berusaha menggagalkan rencana ayah mereka untuk menikah lagi setelah sang ibu meninggal dunia. Dengan gaya khas GJLS, cerita ini dijamin bukan hanya penuh kekonyolan, tapi juga menyentuh.

    Siap-siap ketawa ngakak sekaligus tersentuh karena GJLS: Ibuku Ibu-Ibu bukan sekadar film komedi, tapi juga tentang keluarga, kehilangan, dan kasih sayang dalam balutan humor absurd.

     

  • “Waktu Maghrib 2”: Teror Jin dan Kesurupan di Lokasi Syuting

    “Waktu Maghrib 2”: Teror Jin dan Kesurupan di Lokasi Syuting

    Palapanews.Asia, Jakarta – Film Waktu Maghrib 2 bukan hanya menyuguhkan teror supranatural di layar, tapi juga menghadirkan pengalaman ekstrem. Disutradarai oleh Sidharta Tata dan diproduseri oleh Sunil Samtani, sekuel ini membawa kisah baru yang lebih mencekam dari film pertamanya.

    Para aktor muda seperti Muzakki Ramdhan, Sulthan Hamonangan, dan Ghazi Alhabsyi mengaku menghadapi tantangan tak biasa saat syuting film horor ini, saat wawancara konferensi pers di Epicentrum XXI, Jakarta, Rabu (21/5/2025).

    Jin Ummu Sibyan kembali hadir untuk meneror, kali ini di desa Giritirto, dan teror itu benar-benar terasa bahkan saat syuting berlangsung.

    Muzakki yang memerankan Endro mengungkapkan betapa intensnya peran yang ia mainkan.

    “Sebagai Endro, yang bisa dibilang 80 persen adegannya kesurupan, jadi lumayan mencekam. Tapi aku sangat menikmatinya karena ini pertama kali aku berperan segila ini,” ujar Muzakki.

    Ia juga menjalani transformasi dengan prostetik makeup, sesuatu yang baru baginya.

    “Pertama kali pakai prostetik untuk wajah kesurupan. Rasanya ngeri pas ngaca, tapi seru banget karena ini langkah besar di karierku,” tambahnya.

    Berbeda dengan Muzakki, Sulthan Hamonangan justru dibuat kewalahan oleh alat teknis yang digunakan saat syuting. Ia dan Muzakki harus menggunakan camera rig, kamera yang dipasang langsung di tubuh mereka untuk menangkap ekspresi saat adegan berlari.

    “Camera rig itu berat banget. Kita harus lari sambil bawa beban kamera di dada. Nggak ada kru yang pegangin, kita beneran lari sendiri,” jelas Sulthan.

    “Tapi seseru itu. Lari-lari dikejar tapi kamera terus ngerekam muka kita, kayak masuk langsung ke dalam rasa takutnya karakter,” timpal Muzakki.

    Ghazi Alhabsyi, yang baru pertama kali main film horor, tidak menyangka adegan bisa semencekam itu, bahkan membuatnya benar-benar takut.

    “Pas adegan dikejar Endro (Muzakki), dia berdarah-darah, bawa celurit, teriak-teriak… itu ngeri banget. Kita takut beneran!” ujar Ghazi.

    Sidharta Tata, sang sutradara, merasa puas karena para aktor mampu memberikan totalitas meski syuting berlangsung intens.

    “Saya bangga banget lihat mereka bisa masuk ke karakter dengan penuh. Horornya kerasa, tapi emosinya juga dapet. Mereka kerja luar biasa,” ujar Tata.

    Sementara itu, produser Sunil Samtani menyebut Waktu Maghrib 2 sebagai proyek horor yang lebih matang secara teknis dan emosional.

    “Kita ingin penonton tidak hanya ketakutan, tapi juga merasa terhubung. Ini bukan Cuma horor visual, tapi juga horor psikologis,” kata Sunil.

    Waktu Maghrib 2” tayang mulai 28 Mei 2025 di seluruh bioskop Indonesia. Siap-siap menjerit saat azan maghrib berkumandang.