Kategori: Film

  • Sampai Titik Terakhirmu, Cinta yang Tetap Hidup Saat Waktu Berhenti

    Sampai Titik Terakhirmu, Cinta yang Tetap Hidup Saat Waktu Berhenti

    Palapanews.Asia, Jakarta – Kisah cinta sejati yang sempat menggetarkan hati jutaan warganet antara Albi Dwizky dan Shella Selpi Lizah kini diabadikan ke layar lebar melalui film terbaru garapan LYTO Pictures, berjudul Sampai Titik Terakhirmu. Film ini menjadi persembahan penuh haru tentang kesetiaan, perjuangan, dan cinta yang bertahan hingga akhir napas.

    Dalam acara press conference yang digelar di Senayan, Jakarta (8/10), LYTO Pictures resmi meluncurkan trailer dan poster perdana film tersebut. Hadir dalam acara tersebut para sosok penting di balik layar, mulai dari produser Andi Suryanto, sutradara Dinna Jasanti, penulis skenario Evelyn Afnilia, hingga deretan pemain utama seperti Mawar de Jongh, Arbani Yasiz, Unique Priscilla, Kiki Narendra, Yasamin Jasem, Shakeel Fauzi, Alfie Alfandy, Vonny Felicia, Verina Ardiyanti, Onadio Leonardo, Siti Fauziah, TJ Ruth, Dana Wardhana, dan Ricky Cemor.

    Yang membuat suasana semakin emosional, Albi Dwizky sendiri turut hadir dalam konferensi tersebut. Ia mengenang perjuangan cinta bersama almarhumah Shella yang menjadi inspirasi film ini.

    “Aku ingin kisahku bersama Shella bisa memberi semangat bagi banyak orang. Film ini bukan sekadar cerita sedih, tapi bukti bahwa cinta sejati tetap hidup, bahkan setelah maut memisahkan,” ujar Albi dengan mata berkaca-kaca.

    Trailer resmi Sampai Titik Terakhirmu menampilkan rangkaian adegan yang menggambarkan keteguhan hati Albi mendampingi Shella saat divonis kanker ovarium. Kalimat terakhir dalam trailer, “Aku cuma mau kamu tahu, aku bersyukur bisa jadi suami kamu, di dunia dan di akhirat nanti,” menjadi penutup yang memukul perasaan penonton.

    Sementara itu, poster resmi film menggambarkan adegan Albi memayungi Shella di tengah hujan, sebuah momen yang ternyata diambil dari video nyata pasangan tersebut di TikTok, saat Albi setia menemani Shella berobat ke rumah sakit. Simbol sederhana itu kini menjadi ikon dari cinta yang tak tergoyahkan oleh waktu.

    Mawar de Jongh, yang memerankan Shella, mengungkapkan rasa terharu atas kesempatan membawakan sosok wanita tangguh tersebut.

    “Shella itu luar biasa kuat. Aku benar-benar ingin menghormati perjuangannya, sampai harus menurunkan berat badan enam kilogram agar bisa tampil lebih realistis,” ungkap Mawar.

    Sementara Arbani Yasiz, pemeran Albi, juga mengaku mendapat banyak pelajaran dari peran ini.

    “Setelah berbicara langsung dengan Albi, aku semakin yakin bahwa cinta tanpa batas itu memang nyata. Ini bukan hanya film cinta, tapi juga tentang ketulusan dan pengorbanan.” ujar Bani.

    Film Sampai Titik Terakhirmu dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 13 November 2025. Dengan kisah yang diangkat dari kejadian nyata dan didukung jajaran aktor papan atas, film ini diyakini akan menjadi salah satu tontonan paling mengharukan tahun ini.

     

     

     

  • Imajinari dan Adhya Pictures Hadirkan Yakin Nikah, Drama Romantis dengan Sentuhan Realita

    Imajinari dan Adhya Pictures Hadirkan Yakin Nikah, Drama Romantis dengan Sentuhan Realita

    Palapanews.Asia, Jakarta – Film drama komedi romantis Yakin Nikah resmi melangsungkan Gala Premiere di Jakarta, Kamis (2/10). Diproduksi Adhya Pictures dan ditulis oleh tim Imajinari, film ini tak hanya mengangkat kisah cinta segitiga, tetapi juga keresahan sosial yang dekat dengan kehidupan banyak orang.

    Sutradara Pritagita Arianegara menjelaskan bahwa proses kreatif film ini bertujuan menghadirkan hiburan sekaligus refleksi.

    “Film ini bukan cuma soal pilih pasangan. Pesan utamanya adalah bagaimana seseorang menemukan keyakinan pada dirinya sendiri sebelum yakin pada orang lain,” ujar Pritagita.

    Produser Shierly Kosasih dari Adhya Pictures menambahkan, film ini dirancang untuk relevan dengan penonton masa kini.

    “Kami ingin penonton tertawa, terhibur, tapi juga ikut merenungkan realita hubungan yang kadang absurd dan penuh tekanan sosial,” ujarnya.

    Penulis skenario Bene Dion Rajagukguk menuturkan bahwa Yakin Nikah menjadi salah satu proyek penting dalam perjalanan Imajinari, yang awalnya lahir sebagai laboratorium penulisan naskah.

    “Ini bagian dari tonggak awal Imajinari. Dari keresahan soal cinta, keluarga, dan tekanan menikah, kami meramunya jadi cerita sederhana tapi kuat,” ungkap Bene.

    Film ini diperkuat oleh jajaran bintang populer seperti Enzy Storia, Maxime Bouttier, dan Jourdy Pranata, serta aktor senior Tora Sudiro, Ersa Mayori, Lukman Sardi, dan Amanda Rigby.

    Dengan kolaborasi antara Imajinari yang fokus pada pengembangan cerita dan Adhya Pictures yang menghadirkan produksi matang, Yakin Nikah diharapkan menjadi salah satu film romantis paling relatable tahun ini. Film ini akan tayang serentak di bioskop mulai 9 Oktober 2025.

     

     

     

  • Deretan Selebriti Puji Film Yakin Nikah, dari Tika Panggabean hingga Shireen Sungkar

    Deretan Selebriti Puji Film Yakin Nikah, dari Tika Panggabean hingga Shireen Sungkar

    Palapanews.Asia, Jakarta – Antusiasme penonton menyambut film terbaru garapan Adhya Pictures, Yakin Nikah, semakin terasa menjelang penayangan resminya di bioskop. Film yang dibintangi Enzy Storia, Maxime Bouttier, dan Jourdy Pranata ini sukses mencuri perhatian lewat rangkaian special screening di Jakarta.

    Selama tiga hari berturut-turut, mulai 26 hingga 28 September, film karya sutradara Pritagita Arianegara tersebut diputar lebih dulu di Blok M Plaza XXI, Pondok Indah Mall 1 XXI, dan Cinepolis The Park Pejaten. Suasana hangat, penuh tawa sekaligus haru, tampak mewarnai penonton yang berkesempatan menyaksikan kisah cinta segitiga Niken, Arya, dan Gerry lebih awal.

    Tak hanya penonton umum, sejumlah nama besar di dunia hiburan pun hadir memberi dukungan. Tika Panggabean, Teuku Wisnu, Shireen Sungkar, Arie Untung, Rezky Aditya, hingga Tommy Kurniawan, ikut larut dalam alur cerita yang dianggap segar dan penuh kejutan.

    “Perasaannya benar-benar dibolak-balik, dari ketawa sampai hampir nangis. Film ini beda banget, bikin nagih,” ujar desainer Didiet Maulana.

    Sementara itu, Tika Panggabean mengaku terkesan dengan sisi emosional film.

    “Relatable sekali, bukan hanya tentang cinta, tapi juga keluarga dan persahabatan. Kalau ditanya satu kata untuk menggambarkan film ini, jawabannya ‘indah’,” tuturnya.

    Shireen Sungkar pun tak ketinggalan memberikan tanggapan. Ia merasa kisah dalam film ini membangkitkan nostalgia masa mudanya.

    “Jadi inget zaman dulu, bikin ikut kebawa perasaan,” ungkapnya.

    Bagi yang belum sempat menonton, Adhya Pictures menyiapkan special screening tambahan pada 4 Oktober mendatang yang digelar serentak di 10 kota besar. Tak hanya itu, pemeran utama Enzy Storia, Maxime Bouttier, dan Jourdy Pranata juga akan hadir dalam rangkaian roadshow. Mereka dijadwalkan menyapa penggemar di Bogor, Bekasi, dan Bandung pada 5 Oktober.

     

     

     

  • Rangga dan Cinta, Angkat Romansa Generasi 2000-an

    Rangga dan Cinta, Angkat Romansa Generasi 2000-an

    Palapanews.Asia, Jakarta – Film terbaru produksi Miles berjudul Rangga & Cinta dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 2 Oktober 2025. Sebelum menyapa penonton tanah air, film arahan Riri Riza ini sudah lebih dulu mendapatkan apresiasi hangat dalam penayangan perdananya di ajang bergengsi Busan International Film Festival (BIFF) 2025.

    Kisah Rangga & Cinta mengajak penonton bernostalgia dengan suasana percintaan remaja era tahun 2000-an, tema yang sebelumnya begitu lekat dengan karya legendaris Ada Apa dengan Cinta (AADC). Menurut sang sutradara, film ini bukan sekadar menghadirkan drama cinta, melainkan juga menyoroti bagaimana cinta dapat hadir dan dirayakan dalam berbagai bentuk.

    “Film ini bukan hanya tentang percintaan anak muda. Rangga & Cinta menjadi ruang untuk merayakan cinta dalam beragam wujud,” ungkap Riri Riza dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (29/9).

    Dalam proses produksinya, Riri bersama tim menjalani pengembangan skenario yang cukup panjang, termasuk tahap casting dan pencarian lokasi. Semua itu dilakukan untuk menghadirkan pendekatan penyutradaraan yang segar dan berbeda dari karya sebelumnya.

    Sementara itu, Mira Lesmana selaku produser menegaskan komitmen Miles Film bersama tim kreatif, termasuk Titin Warimena dan Nicholas Saputra, untuk menjaga benang merah yang sudah dikenal penonton, tanpa kehilangan sentuhan baru.

    “Kami tetap menyelipkan puisi-puisi dalam skenario. Bedanya, kali ini ada lebih banyak elemen musik dan para pemain banyak bernyanyi dan menari,” ujar Mira.

    Di sisi lain, Nicholas Saputra menyampaikan rasa syukur atas rampungnya perjalanan panjang film ini hingga siap dirilis. Ia berharap karya ini bisa dinikmati lintas generasi, tak hanya oleh mereka yang tumbuh bersama kisah AADC.

    “Sejak awal, kami ingin film ini menjadi tontonan yang menghidupkan kembali energi muda dan memberi ruang istimewa di hati penonton,” ungkap Nicholas.

     

     

     

  • Jakarta Film Week 2025 Meriahkan BIFF, Hadirkan Kolaborasi Baru dan Festival Ambassador

    Jakarta Film Week 2025 Meriahkan BIFF, Hadirkan Kolaborasi Baru dan Festival Ambassador

    Palapanews.Asia, Jakarta – Jakarta Film Week kembali menegaskan eksistensinya di kancah perfilman internasional dengan berpartisipasi dalam Busan International Film Festival (BIFF). Tepatnya melalui ajang Asian Contents & Film Market (ACFM) pada 20–23 September 2025, keikutsertaan ini menjadi bentuk kolaborasi bersama Platform Busan 2025 sekaligus wujud dukungan bagi sineas tanah air untuk tampil di forum global.

    Dalam kesempatan tersebut, Jakarta Film Week menghadirkan program JFWNET – Industry Program, sebuah ruang pertemuan bagi para sineas dan pelaku industri untuk berbagi pengalaman, berdiskusi, serta pitching project. Tahun ini, tiga emerging producers terpilih dari Producers Lab 2024 turut dibawa ke Busan, yaitu Andreas B. Sihombing dengan proyek Push Rank, Bella Nabila lewat To My Dearest, My Dear…, dan Wildan Aji Gumelar melalui Resepsi Pertama Bapak.

    Tak hanya itu, Yulia Evina Bhara, produser sekaligus Festival Board Jakarta Film Week, dipercaya menjadi salah satu juri kompetisi utama BIFF 2025. Sebelumnya, Yulia juga pernah duduk di kursi juri Critics’ Week Cannes Film Festival 2025. Tahun ini, ia terlibat sebagai co-producer dalam film Renoir (2025), serta film kolaborasi internasional The Fox King (2025) garapan Woo Ming Jin yang tayang perdana di program A Window on Asian Cinema.

    Jakarta Film Week juga membuka booth khusus di ACFM 2025 sebagai wadah memperkenalkan program-program unggulan festival, memperluas jejaring, sekaligus membuka peluang kolaborasi lintas negara.

    Tahun ini, Jakarta Film Week turut meluncurkan Festival Ambassador, yang diwakili oleh aktris muda Claresta Taufan. Namanya kian mencuri perhatian sejak membintangi film Pangku (2025) karya Reza Rahadian yang tayang di BIFF lewat program Vision Asia. Claresta juga berhasil meraih penghargaan Rising Star Award dari Marie Claire Asia Star Award di ajang yang sama.

    Memasuki tahun kelimanya, Jakarta Film Week tetap konsisten menghadirkan rangkaian program yang dirancang untuk mempertemukan sineas dengan pemangku kepentingan industri. Festival ini bukan hanya ruang apresiasi karya film terbaik dari dalam dan luar negeri, tetapi juga menjadi sarana regenerasi sineas, melahirkan talenta baru, dan mendorong hadirnya karya yang relevan dengan perkembangan perfilman masa depan.

    Jakarta Film Week 2025 akan kembali berlangsung pada 22–26 Oktober 2025, menampilkan pemutaran film panjang dan pendek, program diskusi, masterclass, pitching forum, hingga kompetisi film. Semua ini menjadi upaya menghadirkan festival film yang tidak hanya menghibur publik, tetapi juga memberi jawaban atas keresahan sosial melalui medium sinema.

     

     

  • Air Mata di Ujung Sajadah 2 Hadirkan Konflik Lebih Menguras Emosi

    Air Mata di Ujung Sajadah 2 Hadirkan Konflik Lebih Menguras Emosi

    Palapanews.Asia, Jakarta – Setelah dinanti sejak kesuksesan film pertamanya, Air Mata di Ujung Sajadah 2 akhirnya resmi hadir di layar bioskop. Film produksi Beehave Pictures ini menggelar gala premiere dan konferensi pers di Plaza Senayan XXI, Jakarta, Jumat (26/9/2025), sekaligus menandai kembalinya kisah yang sarat haru tentang cinta seorang ibu.

    Disutradarai oleh Key Mangunsong dan diproduseri Ronny Irawan, sekuel ini kembali menghadirkan deretan bintang papan atas, antara lain Titi Kamal, Citra Kirana, Faqih Alaydrus, Daffa Wardhana, hingga Jenny Rachman.

    Sama seperti film pertama, kisah dalam Air Mata di Ujung Sajadah 2 (AMDUS 2) berpusat pada pertarungan batin dua sosok ibu yang sama-sama mencintai, namun harus berhadapan dengan pilihan yang menyakitkan: cinta yang melahirkan atau cinta yang membesarkan.

    “Aqilla adalah cerminan para ibu yang sering kali terpaksa mengorbankan kebahagiaannya. Bahkan saat membaca naskahnya saja, saya sudah menitikkan air mata,” ungkap Titi Kamal.

    “Yumna adalah bukti bahwa cinta tidak selalu soal ikatan darah. Saya yakin banyak ibu bisa merasakan apa yang Yumna rasakan,” ujar Citra Kirana.

    Tak hanya kuat dari sisi cerita, film ini juga diperkaya dengan sentuhan musik yang emosional. Sejumlah musisi turut menyumbangkan suara untuk soundtrack, di antaranya Farel Prayoga dengan lagu “Cinta Untuk Mama” yang terinspirasi dari kisah pribadinya, duet Keke Adiba & Yogie Nandes dengan “Bintang-Bintang”, Andmesh lewat “Bukan Lagi Rumahmu”, serta Fadhilah Intan yang membawakan “Dawai” dan “Pura-Pura Bahagia”. Lagu-lagu tersebut dibawakan langsung saat gala premiere, semakin menghidupkan suasana penuh haru.

    Dengan cerita yang lebih dalam dan konflik yang semakin kompleks, Air Mata di Ujung Sajadah 2 diharapkan mampu mengulang bahkan melampaui kesuksesan film pertamanya. Film ini tidak sekadar tontonan, melainkan perjalanan emosional yang mengajak penonton merenungkan arti pengorbanan seorang ibu. Film ‘Air Mata di Ujung Sajadah 2’ dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 23 Oktober 2025.

     

     

  • Tumbal Darah: Pintu Neraka Terbuka, Horor-Aksi Paling Brutal

    Tumbal Darah: Pintu Neraka Terbuka, Horor-Aksi Paling Brutal

    Palapanews.Asia, Jakarta – Pintu neraka resmi terbuka lewat karya terbaru dari MAGMA Entertainment, bekerja sama dengan Wahana Kreator dan Sinemaku Pictures. Film horor-aksi berjudul Tumbal Darah, garapan sutradara Charles Gozali, dipastikan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 23 Oktober 2025.

    Film ini sudah lebih dulu membuktikan kekuatannya. Saat diputar di Jogja NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2024, Tumbal Darah sukses memikat penonton hingga penuh sesak dan menuai pujian atas intensitas terornya. Kini, giliran penonton seluruh negeri yang akan merasakan mimpi buruknya.

    Trailer berdurasi dua menit yang baru dirilis menampilkan kisah Jefri (Marthino Lio), seorang penagih utang yang rela melakukan apa pun demi keselamatan istrinya, Ella (Sallum Ratu Ke). Namun perjuangan cinta itu justru menyeret mereka ke sebuah rumah bersalin terkutuk, tempat di mana tangis bayi tergantikan oleh jeritan maut, dan darah menjadi satu-satunya jalan keluar.

    “Tumbal Darah adalah tentang neraka personal. Ini bukan sekadar horor aksi, tapi juga drama tentang seberapa jauh cinta bisa mendorong seseorang berkorban untuk keluar dari neraka ciptaannya sendiri,” ungkap Charles Gozali saat konferensi pers di Epicentrum XXI, Jakarta (24/9).

    Poster resmi film ini semakin mempertegas kengerian. Tampak Ella ditarik paksa oleh tangan-tangan iblis dari balik pintu, sementara Jefri hanya bisa menatap dengan ngeri, tak berdaya menolong. Satu gambar yang merangkum pertarungan brutal penuh emosi dan adrenalin.

    Marthino Lio mengaku perannya sebagai Jefri adalah pengalaman ekstrem.

    “Saya harus menyelami mimpi buruk seorang suami yang terpojok. Charles selalu mendorong aktornya ke batas kemampuan, dan hasilnya benar-benar intens di layar,” ujarnya.

    Bagi Sallum Ratu Ke, film ini menjadi proyek monumental dalam kariernya.

    “Ella memikul beban emosional yang berat. Saya tak sabar menunggu penonton merasakan kedalaman cerita ini,” katanya.

    Deretan Bintang Film Tumbal Darah selain Marthino Lio dan Sallum Ratu Ke, juga menghadirkan Donny Alamsyah, Agla Artalidia, dan Epy Kusnandar sebagai penguat cerita.

     

     

  • Tantangan Menghidupkan Film Sejarah di Tengah Dominasi Genre Populer

    Tantangan Menghidupkan Film Sejarah di Tengah Dominasi Genre Populer

    Palapanews.Asia, Jakarta – Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) menggelar diskusi bertajuk “Tantangan dan Peluang Film Narasi Kepahlawanan” di Gedung Kemendikdasmen, Jakarta, Senin (18/9). Acara ini dihadiri para sineas, asosiasi perfilman, serta perwakilan industri animasi dan musik film.

    Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, mengatakan pentingnya memperkuat ekosistem perfilman nasional, khususnya untuk karya bertema sejarah dan kepahlawanan. Ia menyebut, hingga September 2025 produksi film Indonesia sudah menembus lebih dari 150 judul dan diproyeksikan bisa mencapai 200 judul hingga akhir tahun. Jumlah penonton juga mencatat angka impresif, sekitar 59 juta orang hingga Agustus lalu.

    “Film Indonesia saat ini tumbuh cukup kondusif dan terus berkembang. Selain menjadi bagian dari ekspresi budaya, film juga bisa menjadi soft power diplomasi Indonesia di mata dunia,” ujar Fadli.

    Tahun ini, bertepatan dengan peringatan 80 tahun Indonesia merdeka dan Hari Pahlawan, Kemenbud meluncurkan lomba penulisan skenario film bertema , nasionalisme, dan peristiwa sejarah. Program ini diharapkan dapat mendorong lahirnya karya-karya baru yang mampu mengangkat tokoh maupun peristiwa bersejarah ke layar lebar.

    Fadli menilai, tantangan utama perfilman bertema kepahlawanan adalah bagaimana menghadirkan skenario yang menarik sehingga mampu menjangkau penonton luas. Ia mencontohkan kesuksesan film-film biopik dunia seperti Gandhi atau The Message yang tidak hanya meraih penghargaan, tetapi juga sukses secara komersial.

    “Film sejarah dan kepahlawanan punya potensi besar. Namun yang paling penting adalah bagaimana cerita itu disampaikan dengan kuat, relevan, dan mampu memikat penonton,” ujanya.

    Sejumlah tokoh perfilman yang hadir juga menekankan perlunya dukungan pada genre anak-anak dan animasi yang masih jarang diproduksi. Menurut mereka, keragaman tema akan memperkaya ekosistem film nasional sekaligus memperluas pasar di dalam dan luar negeri.

    Dengan adanya lomba skenario ini, pemerintah berharap semakin banyak penulis, wartawan, maupun profesional film yang terdorong untuk menggarap tema kepahlawanan. Program ini juga akan dilengkapi dengan workshop sebagai wadah berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam menulis skenario yang kuat.

    Acara ditutup dengan pesan agar momentum 80 tahun Indonesia merdeka dapat menjadi titik tolak lahirnya lebih banyak karya film inspiratif yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengingatkan generasi muda pada nilai perjuangan para pahlawan bangsa.

     

     

  • Trailer Air Mata di Ujung Sajadah 2 Angkat Pesan Kasih Ibu Sepanjang Masa

    Trailer Air Mata di Ujung Sajadah 2 Angkat Pesan Kasih Ibu Sepanjang Masa

    Palapanews.Asia, Jakarta – Antusiasme publik kembali diarahkan pada sekuel film religi keluarga yang sempat mencatat lebih dari 3,1 juta penonton di tahun 2023. Pada Jumat (12/9), bertempat di XXI Senayan Plaza, Jakarta, rumah produksi bersama jajaran cast dan kru resmi meluncurkan official poster, trailer, sekaligus menampilkan sejumlah penampilan spesial dari penyanyi pengisi original soundtrack (OST) film Air Mata di Ujung Sajadah 2.

    Acara peluncuran berlangsung hangat dan penuh keharuan. Sutradara Key Mangunsong dan produser Ronny Irawan hadir langsung bersama para pemain utama, di antaranya Titi Kamal, Citra Kirana, serta Muhammad Faqih Alaydrus. Dalam kesempatan ini, mereka berbagi cerita tentang tantangan menggarap sekuel yang diharapkan mampu melampaui kesuksesan film pertamanya, yang bahkan sempat menjadi film Indonesia terlaris di Malaysia.

    Pesan Kasih Sayang dan Spiritualitas

    Sutradara Key Mangunsong menegaskan bahwa sekuel kali ini mengangkat konflik keluarga yang lebih kompleks, namun tetap menekankan nilai universal: cinta, pengorbanan, dan kasih sayang seorang ibu.

    “Film ini ingin menegaskan bahwa kasih seorang ibu tidak terbatas pada ikatan darah semata, melainkan pada ketulusan merawat dan membesarkan,” ujar Key Mangunsong.

    Hal senada disampaikan produser Ronny Irawan. Ia berharap Air Mata di Ujung Sajadah 2 dapat kembali menyentuh hati penonton.

    “Kerinduan publik pada kisah pertama jadi alasan kami melanjutkan. Semoga film kedua ini bisa memuaskan penonton dan menghadirkan cerita yang lebih dewasa,” ungkapnya.

    Penampilan OST yang Menyentuh

    Acara Konperensi Pers makin semarak dengan perilisan resmi MV official soundtrack terbaru dengan deretan penyanyi yang mengisi soundtrack film. Andmesh membawakan lagu “Bukan Lagi Rumahmu”, Yogie Nandes dan Keke Adiba menghadirkan lagu “Bintang-Bintang”, Fadhilah Intan memperkenalkan single “Pura-Pura Bahagia”, Farel Prayoga membawakan lagu “Cinta Untuk Mama” yang telah lebih dulu dirilis secara digital. Kehadiran mereka membuat suasana auditorium berubah emosional, banyak tamu undangan yang ikut larut dan menitikkan air mata.

    Dukungan Para Pemain

    Pemeran utama, Titi Kamal, yang kembali sebagai Aqila, mengaku tantangan kali ini lebih berat.

    “Aqila harus menghadapi konflik batin yang lebih dalam, dari kehilangan orang-orang tercinta hingga harus berjuang sebagai ibu. Saya pribadi merasa relate sebagai seorang ibu, jadi emosinya sangat terbawa,” ucap Titi.

    Citra Kirana yang memerankan Yumna menambahkan, karakter yang ia jalani memberi pesan kuat tentang kasih sayang tanpa batas.

    “Kasih seorang ibu tidak lahir hanya dari rahim, tapi dari keikhlasan merawat dengan sepenuh hati,” ujarnya.

    Acara yang dipandu penuh semangat ini ditutup dengan doa bersama agar Air Mata di Ujung Sajadah 2 dapat melanjutkan kesuksesan film pertama. Para pemain, kru, hingga musisi OST berharap film ini dapat menguatkan ikatan keluarga penonton dan memberikan inspirasi lewat pesan spiritualitas yang sederhana namun mendalam.

     

  • Film “Perempuan Pembawa Sial” Angkat Mitos Nusantara

    Film “Perempuan Pembawa Sial” Angkat Mitos Nusantara

    Palapanews.Asia, Jakarta – Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta, Rabu (10/9), menjadi saksi meriahnya konferensi pers sekaligus pemutaran film Perempuan Pembawa Sial. Film horor terbaru garapan sutradara Fajar Nugros ini diproduksi oleh IDN Pictures dan siap tayang di bioskop mulai 18 September 2025.

    Produser IdN Pictures Winston Utomo mengungkapkan film ini dibangun dengan tiga fokus utama.

    “Pertama adalah watching experience, bagaimana pengalaman menonton. Kedua, alur cerita yang membuat mereka terikat dari awal sampai akhir. Dan ketiga, selalu ada unsur budaya Indonesia. Dalam film ini salah satunya mitos Bahu Laweyan,” jelasnya.

    Sutradara Fajar Nugros menuturkan, kisah dalam Perempuan Pembawa Sial lahir dari ketakutannya di masa kecil.

    “Ketika kecil, sering ada momen sendirian di rumah, tiba-tiba pagar terbuka atau ada langkah kaki. Rasa takut seperti itu yang saya rangkai kembali dalam film ini. Harapannya bisa jadi penyegaran bagi penonton horor yang sudah disuguhi banyak film sejenis,” ujarnya.

    Penulis cerita Husein Atmojo menambahkan, naskah film ini berangkat dari pertanyaan sederhana: bagaimana kesialan itu tercipta.

    “Banyak orang sudah merasa sial sejak lahir, dari keluarga mana ia berasal. Dari titik itulah karakter-karakter berjuang melawan kutukan. Pada dasarnya, kesialan di sini kami anggap sebagai kutukan,” tuturnya.

    Para pemain pun berbagi pengalaman mendalami peran

    Ben Bening yang memerankan Aryo mengaku ditantang memerankan dua sisi berbeda.

    “Aryo hidup bisa saya ciptakan dengan tiga dimensi karakter. Tapi Aryo mati adalah representasi pikiran bawah sadar Mira. Pesan pentingnya: cintailah seseorang dengan sungguh-sungguh, tapi jangan orang yang salah,” katanya.

    Rukman Rosadi, pemeran Suyoto, menyebut karakternya mewakili banyak orang di sekitar kita.

    “Suyoto membawa penumpang gelap. Saya benci sekali dengan orang seperti dia, tapi justru kebencian itu membuat saya bisa detail mendalami peran,” ujarnya.

    Aurra Kharisma yang tampil sebagai sosok Lasmi menyebut pentingnya koreografi dalam membangun teror.

    “Lasmi membunuh bukan karena dendam, tapi bersenang-senang. Gerakannya harus tetap cantik namun creepy. Workshop sekitar dua minggu saya jalani lebih natural,” ujar Aurra.

    Clara Bernadeth memerankan Puti, karakter dengan masa lalu kelam yang menjadi awal tragedi.

    “Puti sebenarnya baik, tapi justru ditimpa keburukan. Menurut saya, keburukan bisa menimpa siapa saja, bahkan orang yang baik sekalipun,” kata Clara.

    Morgan Oey yang dipercaya memerankan Bana turut melakukan riset unik.

    “Karena Bana punya rumah makan, saya sampai ikut workshop masak rendang dari awal supaya lebih natural,” ujar Morgan.

    Raihaanun, pemeran Mira, menilai karakternya seperti bawang yang dikupas lapis demi lapis.

    “Mira selalu merasa sial dan mencari tahu penyebabnya, sampai akhirnya menjadi detektif bagi dirinya sendiri,” ujarnya.

    Tak ketinggalan Didik Nini Thowok memerankan Warso sebagai dukun pengantin, melakukan riset mendalam pada tradisi Jawa. Ia bahkan mempelajari lontar berbahasa Sansekerta agar perannya lebih otentik.

    “Saya ingin menjaga tradisi, bukan sekadar merias pengantin,” ujarnya.

    Perempuan Pembawa Sial dijadwalkan tayang di bioskop mulai 18 September 2025. Dengan nuansa horor, mitos Nusantara, dan konflik perempuan yang sarat makna, film ini diharapkan menjadi suguhan segar bagi penikmat film horor tanah air.