Kategori: Film

  • Menggali Luka Sejarah G30S, Film Horor The Hole Tayang Perdana di IFFR 2026

    Menggali Luka Sejarah G30S, Film Horor The Hole Tayang Perdana di IFFR 2026

    Palapanews.Asia, Jakarta – Film horror terbaru karya Hanung Bramantyo, The Hole, telah resmi menggelar penayangan perdana (world premiere) di ajang International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2026 pada 3 Februari 2026. Film horror yang berbalut sejarah kelam Indonesia ini diputar dalam program Harbour, sebuah program yang memberikan ruang bagi film-film kontemporer dari seluruh dunia yang membawa perspektif baru dan segar.

    World premiere The Hole turut dihadiri oleh sutradara Hanung Bramantyo serta salah satu pemeran utama Anya Zen, yang hadir langsung untuk memperkenalkan film ini kepada publik internasional. Kehadiran mereka menandai langkah penting film ini dalam perjalanannya menembus panggung global dan menuju penayangan resmi di bioskop Indonesia tahun ini.

    Penayangan The Hole pada ajang IFFR 2026 menjadi momen penting yang kembali membawa nama Indonesia ke panggung global. Ini juga menandai film kedua Hanung Bramantyo yang berhasil masuk seleksi resmi IFFR, setelah sebelumnya film Gowok: Kamasutra Jawa juga tayang di festival yang sama.

     

    Tema Personal, Datang Dari Keresahan Hanung Bramantyo

    Dalam kesempatan tersebut, Hanung Bramantyo menyampaikan bahwa The Hole lahir dari kegelisahannya terhadap peristiwa G30S yang terus menghantui bangsa Indonesia setiap bulan September setiap tahunnya. Film ini juga menjadi ekspresi dari keresahan serta bentuk kritik Hanung Bramantyo terhadap maraknya praktik korupsi dan penyelewengan kekuasaan yang membuat rakyat rugi dan menderita.

    “Setiap tahun kita selalu berhadapan dengan peristiwa G30S, sebuah tragedi besar yang hingga hari ini masih menyisakan banyak pertanyaan. The Hole adalah ruang eksplorasi saya terhadap trauma tersebut. Saya tidak ingin memberi jawaban tunggal, tetapi melalui film ini saya ingin menghadirkan perspektif lain yang berangkat dari kondisi sosial, kepercayaan, dan ketakutan yang hidup di masyarakat pada masanya,” ujar Hanung.

    Anya Zen yang juga hadir dalam penayangan perdana ini, mengenakan busana khas dengan sentuhan Indonesia, mengungkapkan kesannya dapat bergabung dalam film ini.

    “Sebagai pemain yang masih tergolong baru, bisa menjadi bagian dari film ini adalah sebuah kehormatan besar. Sejarah selalu jadi subjek yang aku minati sejak lama, dan lewat The Hole, kita tidak hanya melihat ke belakang, tapi juga membuka kembali percakapan tentang hal-hal yang selama ini sering ditutup atau dihindari.”

    Terinspirasi dari berbagai cerita rakyat dan narasi yang tumbuh di sekitar peristiwa Gerakan 30 September, The Hole merupakan film horor misteri yang akan membawa penonton ke masa yang penuh gejolak sosial dan ketegangan politik.

    Film ini berfokus pada serangkaian pembunuhan misterius yang terjadi di Desa Lobang Buaya. Sebuah pola aneh muncul: setiap korban ditemukan tewas pada tanggal 30 setiap bulannya, dengan kondisi tubuh berlubang dan pesan-pesan aneh tertulis di wajah mereka.

    Tidak menceritakan sejarah secara gamblang, The Hole hadir sebagai “pembacaan ulang” luka kolektif masyarakat Indonesia lewat kacamata mistis dan simbolik.

     

    Sumber : GOODWORK | PUBLICIST “THE HOLE”

     

     

  • Final Poster “Titip Bunda di Surga-Mu”: Saat Pelukan Ibu Menjadi Tempat Paling Jujur untuk Pulang

    Final Poster “Titip Bunda di Surga-Mu”: Saat Pelukan Ibu Menjadi Tempat Paling Jujur untuk Pulang

    Palapanews.Asia, Jakarta – Menjelang penayangan perdananya, RRK Pictures, Spectrum Film, dan Festival Pictures resmi merilis Final Poster film drama keluarga “Titip Bunda di Surga-Mu”. Poster ini menjadi pernyataan visual paling kuat tentang esensi film: bahwa rumah ternyaman selalu bermula dari pelukan seorang ibu.

    Final Poster ini tidak hanya menampilkan karakter, tetapi menyampaikan rasa. Ia berbicara pelan ke hati penonton, mengingatkan bahwa di tengah kerasnya dunia, kasih ibu adalah satu-satunya tempat pulang yang tak pernah menutup pintu.

    Dalam poster final, Ibu Mozza (Meriam Bellina) berdiri di tengah, menjadi pusat kehangatan keluarga. Ia dipeluk erat oleh Ayah Akbar (Ikang Fawzi) serta ketiga anaknya: Alya (Acha Septriasa), Adam (Kevin Julio), dan Azzam (Abun Sungkar).

    Tidak ada jarak. Tidak ada sekat. Hanya senyum, sentuhan, dan rasa aman yang memancar dari satu bingkai. Poster ini menangkap esensi cinta tanpa syarat, cinta yang hanya dimiliki seorang ibu.

    Nuansa memasak bersama, dengan bayangan soto khas buatan Bunda Mozza, memperkuat makna kebersamaan. Dapur digambarkan bukan sekadar ruang, tetapi tempat ritual keluarga, lokasi rindu dilebur, dan kehangatan disatukan, terutama saat Ramadan tiba.

    Meriam Bellina pemeran Ibu Mozza, menegaskan bahwa pelukan dalam poster bukan sekadar simbol, melainkan pesan penting tentang komunikasi dalam keluarga.

    “Komunikasi dalam keluarga, atau dalam hubungan apa pun, adalah landasan terpenting untuk menjaga hubungan yang sehat. Film ini menunjukkan bahwa anak dan orang tua bisa terus belajar untuk saling mengerti,” ujar Meriam.

    Ia juga menilai momen rilis film ini sangat tepat bagi masyarakat Indonesia.

    “Titip Bunda di Surga-Mu adalah film yang hangat dan sangat cocok ditonton bersama keluarga di bulan puasa,” tambahnya.

    Namun, keindahan poster ini menyimpan kontras emosional yang kuat dengan cerita di dalam film. Di balik senyum Ibu Mozza, terdapat kisah tiga anak yang terjebak dalam masalah ekonomi, ego pribadi, dan kekecewaan, hingga perlahan menjauh dari hati ibunya sendiri.

    Film ini mengajak penonton bertanya pada diri sendiri, seberapa jauh kita melukai hati orang tua demi ambisi pribadi, sebelum akhirnya sadar bahwa cinta merekalah harta paling berharga.

    Disutradarai oleh Hanny R. Saputra dan diadaptasi dari novel karya Dono Indarto dan Zora Vidyanata, film ini juga dibintangi oleh Zora Vidyanata, Natalie Zenn, Arfan Afif, Chiki Fawzi, dan Asri Welas.

    “Titip Bunda di Surga-Mu” siap menjadi teman merenung dan perekat rindu bagi keluarga Indonesia mulai 26 Februari 2026.

     

     

  • Penerbangan Terakhir Angkat Skandal Dunia Aviasi dan Isu Manipulasi Relasi

    Penerbangan Terakhir Angkat Skandal Dunia Aviasi dan Isu Manipulasi Relasi

    Palapanews.Asia, Jakarta – Film drama Penerbangan Terakhir produksi VMS Studio siap menghiasi layar bioskop Indonesia mulai 15 Januari 2026. Dibintangi Jerome Kurnia, Nadya Arina, dan Aghni Haque, film ini tidak hanya mengangkat kisah yang menggemparkan dunia penerbangan, tetapi juga membawa pesan penting tentang relasi manipulatif yang kerap dialami perempuan.

    Lewat tokoh Tiara (Nadya Arina), seorang pramugari muda yang masih minim pengalaman dalam percintaan, penonton diajak menyelami perjuangan seorang perempuan saat terjebak dalam hubungan yang penuh manipulasi. Sosok Kapten Deva (Jerome Kurnia), pilot muda berkarisma, digambarkan sebagai pria yang memikat banyak perempuan dengan pesona dan pujian berlebihan, termasuk Tiara.

    Film ini diproduseri oleh Tony Ramesh, dengan Shalu T.M. sebagai produser eksekutif, serta disutradarai oleh Benni Setiawan. Penerbangan Terakhir tidak hanya menyajikan drama intens berlatar dunia aviasi, tetapi juga menjadi refleksi bagi penonton, khususnya perempuan, untuk lebih peka terhadap tanda-tanda manipulasi dalam hubungan.

    Karakter Tiara digambarkan sebagai representasi banyak perempuan yang pernah menjadi korban relasi tidak sehat. Proses bangkit yang ia jalani menjadi simbol kemenangan dan keberanian perempuan untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya.

    “Walaupun latar ceritanya di dunia penerbangan, menurutku dinamika cerita dan karakter akan sangat dekat dengan kehidupan penonton. Apa yang dialami Tiara bisa terjadi di mana saja dan pada siapa saja. Ini sering ada di sekitar kita,” ujar Nadya Arina.

    Ia juga menambahkan pesan penting bagi penonton, “Kalau ada laki-laki yang sudah mulai memberi pujian berlebihan, itu saatnya mundur perlahan. Jangan sampai terjebak dalam hubungan yang manipulatif.”

    Sementara itu, Jerome Kurnia mengungkapkan tantangan emosional dalam memerankan Kapten Deva. Ia menyebut karakter tersebut memiliki lapisan emosi yang kompleks, terutama dalam adegan pertengkaran besar antara Deva dan Tiara.

    “Ada satu adegan ketika Deva berusaha merebut kembali cinta Tiara. Pertengkarannya intens, emosinya naik turun, dan itu cukup sulit, apalagi dengan angle kamera yang juga menantang,” ungkap Jerome.

    Antusiasme terhadap Penerbangan Terakhir terlihat sejak sebelum penayangan resmi. Film ini terpilih sebagai salah satu Hot Picks oleh media film internasional Variety. Selain itu, special screening yang digelar pada 10–11 Januari 2026 di 10 kota berhasil menarik perhatian besar, dengan banyak tiket terjual habis. Kota-kota tersebut meliputi Jakarta, Tangerang, Palembang, Bekasi, Malang, Bogor, Depok, Cirebon, Surabaya, dan Makassar.

    “Bagi kami di VMS Studio, cerita ini penting sebagai bagian dari edukasi. Dari pengalaman dan kesalahan, selalu ada kesempatan untuk bangkit. Karakter Tiara menunjukkan hal itu,” ujar produser Tony Ramesh.

     

     

  • Trailer dan Poster Film Titip Bunda di Surga Mu Sarat Makna Cinta Ibu

    Trailer dan Poster Film Titip Bunda di Surga Mu Sarat Makna Cinta Ibu

    Palapanews.Asia, Jakarta – Menghadirkan kehangatan di tengah hiruk-pikuk kehidupan, kolaborasi tiga rumah produksi; RRK Pictures, Spectrum Film, dan Festival Pictures, secara resmi meluncurkan official trailer dan posterfilm drama keluarga terbaru, “Titip Bunda di Surga-Mu”.

    Dalam acara press conferenceyang digelar hari ini di Metropole XXI, Jakarta, film ini diperkenalkan sebagai sajian istimewa untuk menyambut Lebaran tahun ini. Dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 26 Februari 2026, “Titip Bunda di Surga-Mu”bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah refleksi tentang arti pulang, memeluk, dan berdamai dengan keluarga.

    Poster dan Trailer yang Berbicara Tentang Cinta Tanpa Syarat

    Official posteryang dirilis hari ini langsung menyentuh hati dengan visual intim Ibu Mozza (Meriam Bellina) yang sedang tidur bersama keluarganya dalam sebuah pelukan hangat. Visual ini menjadi representasi jiwa dari film ini: kehangatan, rasa aman, dan cinta ibu yang tak terbatas.

    Sutradara Hanny R. Saputra menuturkan bahwa film ini adalah karya yang sangat personal baginya. Film ini sangat dekat dengan saya secara emosional. Kehangatan dalam pelukan seorang bunda dan kebersamaan keluarga adalah memori yang sangat kuat, dan itulah yang ingin kami bagikan lewat film ini. ‘Titip Bunda di Surga-Mu’ adalah tentang cinta yang sering kita anggap selalu ada, sampai suatu hari kita sadar betapa berharganya,ungkap Hanny.

     

    Konflik Pelik: Warisan atau Kasih Sayang?Sementara itu, official trailer menyuguhkan dinamika konflik yang intens namun realistis. Penonton diperkenalkan pada tiga bersaudara, Alya (Acha Septriasa), Adam (Kevin Julio), dan Azzam (Abun Sungkar). Ketiganya tengah terhimpit kesulitan ekonomi, merasa jauh dari keluarga, dan diliputi kekecewaan terhadap orang tua.

    Keputusan nekat tiga bersaudara ini menjadi pemicu konflik utama. Namun, tindakan tersebut justru memaksa mereka menghadapi konsekuensi besar yang mengubah hidup dan mendefinisikan ulang arti keluarga bagi mereka. Di sinilah kita ditunjukkan bahwa ada kalanya kasih sayang orang tua berbenturan dengan tekanan ekonomi dan ego anak-anak yang sedang beranjak dewasa.

    Transformasi Meriam Bellina

    Film ini juga menjadi panggung pembuktian baru bagi aktris legendaris, Meriam Bellina. Kerap dikenal dengan peran antagonis yang tajam, kali ini Meriam hadir sebagai sosok Bunda Mozza yang penuh kelembutan.

    Ini peran yang sangat berbeda untuk saya. Biasanya saya dikenal lewat karakter antagonis, tapi di film ini saya menjadi seorang bunda. Ceritanya sangat membekas, karena ‘Titip Bunda di Surga-Mu’ mengingatkan kita semua akan pentingnya pulang, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara emosional, kepada keluarga,tutur Meriam Bellina.

    Diangkat dari novel karya Dono Indartodan Zora Vidyanata(yang juga bertindak sebagai penulis skenario), film ini bertabur bintang lintas generasi. Selain nama-nama di atas, film ini turut dibintangi oleh Ikang Fawzi, Zora Vidyanata, Natalie Zenn, Arfan Afif, Chiki Fawzi,dan Asri Welas.

     

     

  • Dodit Mulyanto dan Angga Yunanda Jadi Saudara Kembar di Film Sebelum Dijemput Nenek

    Dodit Mulyanto dan Angga Yunanda Jadi Saudara Kembar di Film Sebelum Dijemput Nenek

    Palapanews.Asia, Jakarta – Film horor-komedi terbaru produksi Rapi Films berjudul Sebelum Dijemput Nenek siap menyapa penonton bioskop Indonesia mulai 22 Januari 2026. Disutradarai oleh pendatang baru Fajar Martha Santosa, film ini menjanjikan perpaduan teror mitos lokal dengan komedi karakter yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

    Antusiasme publik kian terasa sejak trailer resminya dirilis. Media sosial dipenuhi komentar warganet yang menyebut film ini terlihat “lucu tapi tetap bikin tegang”. Tak sedikit pula yang membandingkan nuansa horor-komedinya dengan film-film Thailand yang dikenal piawai meramu humor dan ketegangan secara seimbang.

    Salah satu sorotan utama datang dari duet tak terduga Angga Yunanda dan Dodit Mulyanto yang berperan sebagai saudara kembar, Hestu dan Akbar. Penampilan keduanya langsung memunculkan isu “kembar Dodit-Angga” di kalangan warganet. Banyak yang menilai keduanya tampak semakin mirip di layar, bahkan melahirkan julukan-julukan unik seperti “Dodit Yunanda” hingga menyandingkan Dodit dengan aktor Thailand Mario Maurer versi lokal.

    Perbedaan karakter justru menjadi kekuatan utama cerita. Hestu digambarkan dingin, tertutup, dan memendam amarah, sementara Akbar tampil polos, lugu, dan memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan sang Nenek. Dinamika kontras inilah yang memunculkan komedi alami di tengah teror arwah yang membayangi mereka selama tujuh hari.

    Angga Yunanda mengaku antusias menjajal genre horor-komedi untuk pertama kalinya.

    “Begitu ditawari film ini, aku langsung tertarik karena ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Di sini aku bisa serius, bisa tegang, tapi juga harus lucu. Respons penonton yang bilang film ini seru dan lucu bikin aku makin nggak sabar menunggu penonton nonton langsung di bioskop,” kata Angga.

    Dodit Mulyanto menambahkan bahwa benturan karakter menjadi sumber humor utama film ini.

    “Yang paling seru justru saat karakter kami saling bertabrakan. Hestu itu serius dan kaku, Akbar santai dan apa adanya. Dari situ komedinya muncul tanpa harus dipaksakan. Humornya hidup karena situasinya dekat dengan keseharian,” ujar Dodit.

    Sutradara Fajar Martha Santosa menjelaskan bahwa sejak awal ia memang ingin horor dan komedi berjalan beriringan.

    “Ketegangan tetap kami bangun, tapi karakter-karakternya memberi ruang untuk tertawa. Dodit dan Angga punya warna yang sangat kontras, dan kontras itu membuat ceritanya terasa lebih manusiawi dan menghibur,” ungkap Fajar.

    Selain duo pemeran utama, Sebelum Dijemput Nenek juga diperkuat oleh deretan pemain pendukung seperti Oki Rengga, Wavi Zihan, dan Nopek Novian. Sejumlah cameo yang ramai dibicarakan, termasuk Eri Pras dan Tante Ernie, turut menambah kejutan dan warna komedi. Menurut tim produksi, kehadiran cameo dipilih secara selektif agar tetap menyatu dengan cerita, bukan sekadar pemanis.

    Produser Sunil Samtani menegaskan film ini menjadi bagian dari komitmen Rapi Films dalam mengembangkan horor-komedi berbasis budaya lokal.

    “Film ini memadukan mitos kematian, konflik keluarga, dan komedi karakter dalam satu cerita yang utuh. Selain itu, Sebelum Dijemput Nenek juga menjadi debut penyutradaraan Fajar Martha Santosa, sejalan dengan komitmen kami memberi ruang bagi talenta baru,” jelas Sunil.

    Ia berharap penonton mendapatkan pengalaman menonton yang lengkap.

    “Harapannya, penonton bisa tertawa, tegang, lalu tertawa lagi, dan pulang dari bioskop dengan perasaan terhibur,” tambahnya.

    Dengan respons positif sejak trailer dirilis, dinamika unik Dodit–Angga, serta kejutan cameo yang disiapkan, Sebelum Dijemput Nenek digadang-gadang menjadi salah satu film horor-komedi paling dinantikan di awal 2026.

     

     

  • CAPER Siap Menggila! Bongkar Dunia Pinjol dengan Komedi Konyol

    CAPER Siap Menggila! Bongkar Dunia Pinjol dengan Komedi Konyol

    Palapanews.Asia, Jakarta – Setelah meraih kesuksesan besar lewat serial Pay Later, Scovi Films bersama RAPI Films resmi melangkah ke layar lebar dengan menghadirkan film berjudul Check Out Sekarang, Pay Later (CAPER). Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 6 Februari 2026, sekaligus menandai debut layar lebar perdana Scovi Films.

    Disutradarai oleh Surya Ardy Octaviand, film CAPER menghadirkan cerita baru yang berdiri sendiri dan bukan lanjutan dari serial Pay Later. Meski begitu, film ini tetap menghadirkan duo yang sudah sangat dicintai penonton, Amanda Manopo dan Fajar Sadboy, yang kembali berperan sebagai kakak-beradik dengan chemistry unik dan penuh kelucuan.

    Film ini diproduseri oleh Surya Ardy Octaviand bersama Sunar S Samtani, dengan naskah yang ditulis Ardy bersama Widya Arifianti, penulis peraih Piala Citra FFI 2025. Deretan pemain lain yang turut meramaikan CAPER antara lain Devano Danendra, Jovial Da Lopez, Sastra Silalahi, Wavi Zihan, Kaneishia Yusuf, Shanice Margaretha, Merry Sanger, Richard Derrick, dan Martin Carter.

    Dalam poster resminya, Amanda Manopo tampil mencolok dengan mahkota dan selempang khas kontes kecantikan. Sementara Devano Danendra mencuri perhatian lewat gaya nyentrik, mulai dari rambut poni lempar hingga kacamata besar berwarna hitam-kuning. Nuansa komedi absurd pun sudah terasa sejak visual promosi film dirilis.

    Trailer resmi CAPER menampilkan Amanda Manopo sebagai Tina, seorang pemenang kontes kecantikan yang hidup boros dan terjebak utang pinjaman online. Tina tinggal bersama adiknya, Umski (Fajar Sadboy), serta sang nenek yang diperankan Merry Sanger. Demi melunasi utang dan membiayai keluarganya, Tina terpaksa bekerja di kantor pinjaman online.

    Produser Sunar S Samtani mengungkapkan alasan IP Pay Later kembali dihadirkan dalam bentuk film.

    “IP Pay Later sangat dicintai oleh penonton Indonesia. Karakter Amanda Manopo dan Fajar Sadboy terbukti menjadi pasangan kakak-adik yang sangat menghibur. Saat Ardy membawa ide ini, kami ingin melihat perjalanan mereka dari sudut pandang yang benar-benar baru,” ujar Sunar saat konferensi pers yang di gelar di Plaza Senayan XXI, Jakarta (6/1).

    Kesuksesan Pay Later memang tak main-main. Pada 2024, serial ini menjadi salah satu kata kunci Top Trending kategori Film/TV Serial di Google Indonesia, bertahan di posisi Top 1 Netflix selama tiga bulan, serta masuk Top 10 Serial Indonesia di Netflix selama enam bulan.

    Surya Ardy Octaviand menegaskan bahwa CAPER bukan sekadar pengulangan cerita lama.

    “Film ini sangat spesial bagi Scovi Films karena ini karya layar lebar pertama kami. Ceritanya benar-benar baru, karakternya baru, dunianya berbeda. Bukan sekuel. Plotnya lebih kompleks, lebih konyol, dan komedinya dirancang untuk benar-benar menghibur,” katanya.

    Dalam perjalanannya, Tina bertemu Mail (Devano), korban pinjol ilegal lain yang juga tengah terjerat masalah. Tanpa disadari, mereka justru terseret ke dalam upaya membongkar jaringan besar pinjol ilegal yang melibatkan orang-orang berpengaruh.

    Amanda Manopo mengaku menikmati kembali perannya yang penuh kekonyolan.

    “Penonton bakal lihat kekonyolanku bareng Fajar lagi. Capek sih harus berhadapan sama dia, tapi seru banget. Di film ini ceritanya benar-benar baru dan lebih gila,” ujar Amanda sambil tertawa.

    Hal senada disampaikan Fajar Sadboy.

    “Aku senang banget bisa satu project sama Kak Manda lagi. Chemistry kami udah dapet banget. Kalian bakal lihat aksi kocak dan konyol kami berdua di CAPER,” katanya.

    Sementara itu, Devano Danendra mengaku tertantang dengan peran barunya.

    “Di sini aku tampil beda banget, mungkin kayak ‘jamet’. Aku berperan sebagai Mail, DJ yang adiknya juga kena pinjol. Bareng Amanda dan Fajar, aku ikut membongkar siapa dalang pinjol ilegal,” ungkap Devano.

    Film Check Out Sekarang, Pay Later (CAPER) siap menyuguhkan komedi segar, kritik sosial, dan kekonyolan khas yang dekat dengan realitas masyarakat. Saksikan aksinya di bioskop Indonesia mulai 5–6 Februari 2026.

     

  • Bukan Sekadar Horor KAFIR Gerbang Sukma Buka Dosa Lama

    Bukan Sekadar Horor KAFIR Gerbang Sukma Buka Dosa Lama

    Palapanews.Asia, Jakarta – Setelah delapan tahun meninggalkan jejak kuat di genre horor Indonesia, semesta KAFIR akhirnya kembali dibuka. Starvision secara resmi merilis official trailer dan poster film KAFIR, Gerbang Sukma dalam acara press conference yang digelar di Metropole XXI, Jakarta, Selasa (6/1).

    Film ini merupakan kelanjutan dari KAFIR: Bersekutu dengan Setan (2018), yang dikenal sebagai horor tanpa hantu dengan teror psikologis yang membekas. Disutradarai kembali oleh Azhar Kinoi Lubis, KAFIR, Gerbang Sukma membawa penonton masuk lebih dalam ke sisi kelam keluarga Sri, kisah yang ternyata belum pernah benar-benar selesai.

    Dalam trailer perdana yang ditayangkan, atmosfer mencekam langsung terasa lewat potongan adegan yang intens dan emosional. Konflik keluarga Sri kembali memuncak saat Andi dan Rani hadir bersama anak mereka, disusul perilaku janggal sang kakek dan nenek. Semua mengarah pada satu pertanyaan besar: dosa masa lalu apa yang belum terbayar, dan siapa yang harus menanggung akibatnya.

    Produser Chand Parwez Servia menyampaikan bahwa film ini dikembangkan dengan pendekatan yang lebih matang dan personal. Menurutnya, sekuel ini bukan sekadar melanjutkan cerita, tetapi memperdalam trauma, rasa bersalah, dan dendam yang tumbuh dalam lingkup keluarga.

    “Terornya dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, dan justru di situ letak kengerian terbesarnya,” ungkap Chand.

    Senada dengan itu, sutradara Azhar Kinoi Lubis menjelaskan bahwa Gerbang Sukma akan menghadirkan horor yang lebih kuat, baik secara visual maupun emosional. Aksi para pemain ditampilkan lebih total, dengan ketegangan yang terus dibangun tanpa memberi ruang aman bagi penonton.

    Penulis skenario Upi menambahkan, film ini membuka lapisan cerita yang lebih gelap dari masa lalu Sri. Kesalahan yang belum tuntas tak hanya menghantui dirinya, tetapi juga menyeret anak dan cucunya ke dalam pusaran teror yang tak terhindarkan.

    “Ini horor yang sangat personal, tentang keluarga, rasa bersalah, dan konsekuensi,” ujarnya.

    Para pemain pun merasakan tantangan yang jauh lebih besar dibanding film sebelumnya. Putri Ayudya, yang kembali memerankan Sri, menyebut film ini mengalami peningkatan signifikan dari sisi emosi, ketegangan, hingga teror. Sementara Rangga Azof mengaku perannya kali ini menuntut eksplorasi karakter yang lebih dalam dan berlapis.

    Dengan deretan pemain lama dan baru seperti Putri Ayudya, Rangga Azof, Nadya Arina, Indah Permatasari, Asha Assuncao, Arswendy Bening Swara, hingga Muthia Datau, serta dukungan musik dari Aghi Narottama, KAFIR, Gerbang Sukma siap membawa horor keluarga ini ke level yang lebih gelap dan intens.

    Film KAFIR, Gerbang Sukma dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 29 Januari 2026.

     

     

  • Alas Roban di Layar Lebar: Horor Sunyi, Trauma Ibu, dan Jejak Spiritual di Jalur Legendaris

    Alas Roban di Layar Lebar: Horor Sunyi, Trauma Ibu, dan Jejak Spiritual di Jalur Legendaris

    Palapanews.Asia, Jakarta – Alas Roban selama ini dikenal lebih dari sekadar jalur penghubung antarkota. Hutan lebat yang diselimuti kabut tiba-tiba dan perasaan ganjil yang kerap muncul tanpa sebab jelas menjadikannya bagian dari ingatan kolektif masyarakat, diwariskan sebagai cerita dari generasi ke generasi.

    Nuansa itulah yang diangkat dalam film Alas Roban. Dalam acara press conference dan press screening di XXI Epicentrum, Rasuna Said, Senin (5/1/2026), sutradara Hadrah Daeng Ratu memaparkan pendekatan horor yang berbeda dari kebanyakan film sejenis. Ia menegaskan bahwa film ini tidak bertumpu pada jump scare atau adegan gore.

    “Ini road movie horor yang mengandalkan emosi dan pesan moral. Ketakutan lahir dari perjalanan batin karakter, bukan dari kejutan visual semata,” kata Hadrah.

    Cerita berfokus pada perjuangan seorang ibu demi anaknya. Trauma masa lalu, kondisi psikologis, serta pengalaman hidup para karakter menjadi sumber utama rasa takut yang perlahan dibangun. Horor dalam film ini hadir secara halus, merayap melalui emosi dan konflik internal.

    Selain dari karakter, Alas Roban sendiri diposisikan sebagai ruang hidup yang sarat makna. Bagi Hadrah, hutan ini menyimpan cerita kolektif milik siapa pun yang pernah melintasinya. Setiap perjalanan seolah meninggalkan kisah—baik berupa pengalaman ganjil maupun cerita mistis yang terus hidup di tengah masyarakat.

    Atmosfer mencekam terutama dihadirkan lewat jalur lama Alas Roban, tanpa memaksakan efek kejut berlebihan. Penonton diajak merasakan ketegangan yang tumbuh perlahan, seiring perjalanan para tokoh.

    Di sisi lain, penulis skenario Evelyn Afnilia mengungkapkan proses penulisan film ini dilakukan dengan cara yang tak lazim. Ia terjun langsung ke Alas Roban, menyusuri hutan pada siang hingga malam hari.

    “Risetnya tidak hanya lewat cerita. Kami berdialog dengan warga, tokoh adat, puncen, sampai dalang,” ujar Evelyn.

    Baginya, Alas Roban merupakan pengalaman pertama mengembangkan cerita horor langsung di lokasi kejadian. Riset dilakukan tidak hanya secara naratif, tetapi juga spiritual. Ia menggali sejarah pembukaan hutan yang diyakini penuh ritual, sekaligus hubungan manusia dengan alam dan leluhur.

    Dengan pendekatan yang tidak mengandalkan sosok hantu konvensional, film Alas Roban diharapkan mampu memberi pengalaman emosional yang mendalam. Kolaborasi sutradara dan penulis skenario ini ingin menghadirkan horor yang bukan sekadar menakutkan, tetapi juga mengajak penonton untuk berefleksi.

     

     

  • Santri Tampil sebagai Kekuatan Baru Perfilman Nasional di Malam Anugerah SANFFEST 2025

    Santri Tampil sebagai Kekuatan Baru Perfilman Nasional di Malam Anugerah SANFFEST 2025

    Palapanews.Asia, Jakarta – Malam Anugerah Santri National Film Festival (SANFFEST) 2025 berlangsung semarak di Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Minggu malam (21/12). Lebih dari sekadar seremoni penghargaan, ajang ini menegaskan posisi santri sebagai bagian penting dalam arah masa depan budaya dan industri film Indonesia.

    Sejumlah tokoh hadir dalam malam puncak tersebut, di antaranya Neno Warisman ( Ketua Komite Santri Festival 2025), Dr. Fadli Zon, MSc. ( Menteri Kebudayaan Republik Indonesia), Fahri Hamzah (Wamen Perumahan dan Kawasan Permukiman), Ahmad Mahendra (Dirjen Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembaharuan Kebudayaan), Dr. Syaifullah Agam ), Naswardi, MM ( Ketua Lembaga Sensor ), Dr. Habiburrahman El Shirazy, Lc. MA ( Wakil Ketua Bidang Seni, Budaya, dan Peradaban Islam, Majelis Ulama Indonesia), Perwakilan dari Bank Syariah Indonesia, Dr. Erick Yusuf. Ninik L. Karim, Basrizal Koto., Dude Herlino.

    Dalam sambutannya, Fadli Zon menekankan bahwa film merupakan instrumen soft power yang sangat krusial bagi sebuah bangs. Indonesia, menurutnya, memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, bahkan ia menyebutnya sebagai “mega diversity”, yang perlu terus diolah dan disuarakan melalui karya-karya sinema.

    “Santri memiliki perspektif khas yang berakar pada nilai, etika, dan tradisi. Ketika perspektif itu diterjemahkan ke dalam film, ia dapat menjadi kekuatan budaya Indonesia, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujar Fadli Zon.

    SANFFEST 2025 mengangkat tema “Dari Jendela Santri Memandang Dunia”, sebuah refleksi semangat santri untuk berdialog dengan realitas global tanpa meninggalkan identitasnya. Tahun ini, festival tersebut mencatat partisipasi 125 film karya santri dari 115 pesantren yang tersebar di 20 provinsi. Capaian ini dipandang sebagai sinyal positif lahirnya generasi baru sineas pesantren di Indonesia.

    Pada kesempatan yang sama, Neno Warisman menyoroti pentingnya pendidikan film yang inklusif dan berkelanjutan bagi santri. Ia mengapresiasi komitmen SANFFEST yang tidak berhenti pada kompetisi, tetapi juga berfokus pada penguatan kapasitas melalui literasi film, pengembangan skenario, hingga dukungan distribusi karya.

    “SANFFEST adalah ikhtiar kebaikan. Ketika santri diberi ilmu dan ruang untuk berkarya, mereka tidak hanya menciptakan film, tetapi juga ikut membangun peradaban,” kata Neno.

    Malam Anugerah SANFFEST 2025 ditutup dengan pengumuman berbagai kategori penghargaan, termasuk Skenario Terbaik, yang menegaskan bahwa kekuatan utama sebuah film tetap bertumpu pada cerita dan gagasan.

    Dengan dukungan Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Agama Republik Indonesia serta rencana penguatan distribusi melalui platform digital dan kanal khusus SANFFEST, festival ini diharapkan terus berlanjut dan berkembang. SANFFEST bukan sekadar festival film, melainkan gerakan budaya yang menempatkan santri sebagai salah satu pilar penting masa depan perfilman Indonesia.

     

  • Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku? Hadirkan Konflik Menggetarkan Tentang Iman, Keluarga, dan Harga Diri

    Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku? Hadirkan Konflik Menggetarkan Tentang Iman, Keluarga, dan Harga Diri

    Palapanews.Asia, Jakarta – Paragon Pictures bersama Ideosource Entertainment resmi merilis official poster dan trailer film drama religi “Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku?” karya terbaru sutradara Jay Sukmo. Cuplikan berdurasi singkat itu langsung menyita perhatian karena menampilkan ketegangan emosional yang dialami tokoh utama, Sarah, yang diperankan Revalina S. Temat.

    Dalam trailer, penonton diperlihatkan bagaimana kehidupan Sarah runtuh setelah rumah tangganya hancur. Ia harus menampung mantan suaminya Satrio ( Dimas Aditya ), serta menghadapi konflik dengan anaknya, Laila ( Annisa Kaila ). Fitnah, tekanan sosial, hingga hubungan yang retak membuat hidup Sarah kian terpojok. Situasi makin rumit ketika hadir Dimas ( Roy Sungkono ), yang justru menambah dilema musuh atau pelindung bagi dirinya.

    Produser Robert Ronny menuturkan bahwa film ini menghadirkan refleksi tentang seorang perempuan yang mempertaruhkan martabat, anak, dan masa depannya.

    “Sarah diuji dari segala arah oleh keluarga, lingkungan, bahkan dirinya sendiri,” ujar Robert saat preskon di kawasan Senayan, Jakarta (10/12).

    Revalina S. Temat menambahkan bahwa tokoh yang ia perankan menggambarkan perjalanan penuh luka namun sarat keberanian. Kisah Sarah diyakini akan menguatkan banyak perempuan, terutama para ibu tunggal, bahwa mereka tidak pernah benar-benar berjalan sendirian.

    Film ini juga dibintangi sejumlah nama lain seperti Gunawan Sudrajat, Megan Domani, Annisa Kaila, Roy Sungkono, Risma Nilawati, hingga Alex Abbad. Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku? merupakan kolaborasi Indonesia Malaysia dengan dukungan berbagai rumah produksi, termasuk Astro Shaw, NetZme, KMIF, WOW Multinet Pictures, dan Virtuelines Entertainment.