Kategori: Budaya

  • Ini Tanggapan Komeng Terhadap Pelaktikan Pengurus Forum Pemuda Betawi 2000

    Ini Tanggapan Komeng Terhadap Pelaktikan Pengurus Forum Pemuda Betawi 2000

    PALAPANEWS.ASIA, JAKARTA –

    Di tengah pesatnya perubahan zaman, keberadaan pemuda masih tetap menjadi harapan dalam memajukan pengembangan potensi di setiap wilayah, termasuk DKI Jakarta.

    Menyadari hal tersebut, Kamis, 21 Agustus 2025, H. Achmad Azran, Anggota DPD RI, melantik H. Cahyadi Habibie, SE, SH sebagai Ketua Umum Forum Pemuda Betawi 2000, di Terraz Tree Hotel, Jl. Kapten Tendean, Jakarta Selatan.

    Dalam kesempatan tersebut, turut dihadiri anggota DPD RI Jawa Barat, Alfiansyah Komeng, Staf Ahli Gubernur DKI Jakarta, Kepala Kesbangpol DKI Jakarta, Suku Dinas Pendidikan, Suku Dinas Kebudayaan dan beberapa Pejabat di Wilayah DKI Jakarta.

    Mengawali Acara, Arif Ardiansyah, Ketua Panitia Pelantikan Forum Pemuda Betawi 2000, menyatakan bahwa terlaksananya kegiatan ini adalah Dukungan bersama baik dari Panitia Pelaksana dan bergai fihak yang turut membantu kegiatan ini baik bersifat Materil maupun moril.

    Dalam Kesempatan yang diberikan, H. Achmad Azram, Anggota DPD DKI Jakarta, mengungkapkan bahwa Beliau sengaja menghadirkan menghadirkan Alfiansyah Komeng untuk Menyemangati Pengurus Forum Pemuda Betawi 2000, dan berharap Organisasi ini bisa mempersatukan seluruh Pemuda Betawi.

    Dalam Sambutannya, Ketua Umum Forum Pemuda Betawi 2000, H. Cahyadi Habibie, SE, SH,, Pemuda Betawi 2000 diharapkan dapat menjadi penerus dari sejarah yang mencatat bahwa di tahun 1927, Mohammad Rochjani Soe’oed yang bersama-sama dengan Mochamad Husni Tamrin mengajak para pemuda untuk bersatu melawan penjajahan, yang kemudian di tanggal 28 Oktober 1928, tercetusnya Sumpah Pemuda.

    “Berbekal hal tersebut, saya bersama kawan-kawan lain menginisiasi hadirnya Forum Pemuda Betawi 2000, yang diharapkan dapat menjadi penerus perjuangan Bang Mohammad Rochjani Soe’oed, dalam hal ini dapat mempersatukan pemuda Betawi pada khususnya dan Pemuda dari berbagai wilayah yang ada di Jakarta” ungkap Bang Habibie.

    Di kesempatan yang sama, Alfiansyah Komeng, Anggota DPD RI asal Jawa Barat, yang juga masih bersuku Betawi, dengan ciri khasnya banyolnya, mengungkapkan harapannya.

    “Saya berharap, Bang Ketua, Habibie dapat mempersatukan Pemuda Betawi di manapun berada, Pemuda Betawi tidak hanya ada di jakarta, namun telah tersebar di berbagai Wilayah di Nusantara ini, terutama Banten dan Jawa Barat.” Ungkapnya.

    Ditemui pasca Pelantikan, Ketua Umum Pemuda Betawi 2000, kembali mengungkapkan harapannya agar Pemuda Betawi dapat menjadi contoh bagi para pemuda lainnya, di belahan Nusantara, terutama di DKI Jakarta.

    “Saya berharap, Pemuda Betawi dapat menciptakan Jakarta yang nyaman, ramah dan bersahabat bagi semuanya.” tutupnya.

  • Mendengar jeritan Hati seniman Betawi, Sebuah Diskusi Dari YASBI

    Mendengar jeritan Hati seniman Betawi, Sebuah Diskusi Dari YASBI

    PALAPANEWS.ASIA, JAKARTA –

    Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Budaya Betawi (YASBI) selenggarakan diskusi publik bertajuk “Mendengar Jeritan Hati Seniman Betawi” yang digelar di Cagar Budaya Betawi Setu Babakan, Jakarta Selatan, Senin (30/06/2025).

    Dalam sambutannya, ketua penyelenggara Jalih Pitoeng mengungkapkan bahwa acara tersebut sebagai bentuk keprihatinan terhadap nasib para pelaku seni dan budaya Betawi yang terzolimi karena uangnya di korupsi.

    Dibuka dengan semarak penampilan Tari Burung Raja Udang, Palang Pintu, Gambang Kromong, Silat Betawi, hingga Band Betawi, acara tersebut menjadi ajang refleksi sekaligus seruan untuk memperkuat komitmen pelestarian budaya lokal di tengah arus modernisasi.

    Diskusi publik ini juga menghadirkan beragam tokoh dari berbagai latar belakang, mulai dari para pegiat seni budaya, tokoh masyarakat dan jawara, budayawan, akademisi, legislator, hingga perwakilan ormas keagamaan.

    Jalih Pitoeng, Ketua Umum YASBI sekaligus aktivis pegiat anti-korupsi, memandu diskusi sebagai moderator.

    “Kami ingin suara seniman Betawi benar-benar didengar oleh bapaknya, dalam hal ini dinas kebudayaan. Jadi mereka bukan hanya sekedar seremonial belaka,” ungkap Jalih Pitoeng dalam pembukaannya, Senin (30/06/2025).

    “Saya hanya membuka gerbang perjuangan bagi para pegiat seni budaya Betawi agar mereka sadar bahwa uang mereka telah dikorupsi,’ lanjutnya menjelaskan.

    “Oleh karena itu, saya ingin akan lahir Pitoeng-Pitoeng muda untuk melanjutkan perjuangan ini,” katanya menandaskan.

    Sebelumnya, Aktivis Betawi yang dikenal lantang dan kritis ini juga mengajak para generasi muda untuk mempertahankan, mengembangkan sekaligus mempromosikan seni budaya Betawi ke kancah internasional.

    “Dalam rangka memperingati 498 kota Jakarta yang akan menjadi kota dunia dan berbudaya, maka harapan kita adalah agar para generasi muda mampu mempertahankan, mengembangkan serta mempromosikan seni budaya Betawi ke kancah internasional,” pinta Jalih Pitoeng melanjutkan.

    “Apalagi saat ini, diera digitalisasi dan globalisasi dimana batas dunia hanya berada diujung jari,” imbuhnya mengingatkan.

    “Apa yang kita lakukan disini saat ini bisa disaksikan dibelahan dunia lainnya. Begitu juga sebaliknya. Anak-anak kita lebih mencintai K-Pop ketimbang Gambang Kromong. Mereka lebih menyukai salad ketimbang gado-gado misalnya misalnya,” Jalih Pitoeng mengingatkan.

    Dalam pidatonya yang penuh semangat, ketua umum YASBI sekaligus ketua umum FORMASI (Forum Aliansi Masyarakat Anti Korupsi) ini juga menyinggung tentang pentingnya kerjasama dalam memelihara dan membangun budaya.

    “Kita tidak bisa bekerja sendirian,” imbuh Jalih Pitoeng.

    “Oleh karena itu kita butuh kerjasama dan sama-sama kerja,” tegasnya.

    “Oleh karena itu, dalam kesempatan yang singkat ini, saya ingin mengkonfirmasi tentang adanya isyu-isyu miring dan spekulasi negatif tentang adanya pendapat, anggapan dan tuduhan bahwa kehadiran YASBI bukan sebagai kompetitor atau pesaing bagi lembaga yang telah ada, tapi menjadi mitra,” Jalih Pitoeng menjelaskan.

    “Baik kepada para pegiat seni budaya, kepada pemerintah dalam hal ini dinas kebudayaan maupun terhadap lembaga yang telah ada seperti LKB misalnya,” lanjut Jalih Pitoeng menegaskan.

    “Bahkan saya sudah sering berkoordinasi dengan bang Haji Becky Mardani tentang kerjasama dan berbagi peran dalam memajukan budaya Betawi,” lanjutnya.

    “Hari inipun beliau sangat ingin hadir kesini. Namun karena ada acara yang bersamaan di Cibubur yang telah lama teragendakan, maka beliau hanya menitip salam buat kita semua,” kata Jalih Pitoeng.

    Menurut Jalih Pitoeng, YASBI yang dilahirkan dari rahim FORMASI yang berdarah-darah bahkan Caesar, bahwa YASBI memiliki tanggung jawab yang besar terhadap pelestarian dan pengembangan seni budaya Betawi.

    “YASBI ini terlahir dari rahim ibu kandungnya yaitu FORMASI,” kata Jalih Pitoeng.

    “Kami FORMASI bersama pak Fuji Surono yang juga dibantu oleh bang Ubay dan kawan-kawan, bukanlah hal yang mudah untuk mengungkap dugaan korupsi ratusan miliar di dinas kebudayaan DKI Jakarta,” kata Jalih Pitoeng.

    “Karena belasan tahun pristiwa ini belum pernah terjadi,” ungkapnya.

    “Jadi terungkapnya kasus dugaan korupsi ratusan miliar dinas kebudayaan ini bukan karena saya bang Jalih Pitoeng hebat. Bukan pula bang Ubay hebat,” sambungnya menjelaskan.

    “Tapi ini merupakan hasil dari kerjasama secara kolektif kolegial,” imbuhnya.

    “Terutama pak Fuji. Seorang ASN yang memiliki kepedulian tinggi terhadap seni budaya Betawi,” kata Jalih Pitoeng menandaskan.

    “Beliaulah yang mensuplai data dan dokumen yang sangat dibutuhkan dalam rangkap pengungkapan adanya korupsi dan manipulasi yang terstruktur di dinas kebudayaan DKI Jakarta,” Jalih Pitoeng menandaskan.

    “Jadi semua ini semata hanya karena Allah SWT,” tegasnya seraya mengutip salah satu ayat Al-Qur’an surat Muhammad.

    “Sehingga, jika ada pendapat dan tuduhan bahwa saya mencari panggung, mencari keuntungan recehan, itu adalah asumsi yang sangat keliru,” tegasnya.

    “Panggung saya sudah selesai. Tahun 2019 dimana saya dituduh sebagai otak perencana penggagalan pelantikan presiden dan saya dipenjara,” kenang Jalih Pitoeng.

    “Saya hanya ingin mengabdikan diri kepada bangsa ini yaitu bangsa Betawi,” ungkapnya.

    “Tak lupa dalam kesempatan yang berbahagia ini kita juga mengucapkan terimakasih kepada pihak Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta yang telah mendukung pengungkapan korupsi di dinas kebudayaan ini,” ungkap Jalih Pitoeng.

    “Kemudian, kami juga mengucapkan terimakasih kepada Dinas kebudayaan DKI Jakarta, baik bidang pembinaan maupun bidang pemanfaatan serta kami ucapkan terimakasih pula kepada pihak UPK Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan yang telah memberikan apresiasi kepada kita sekaligus mendukung acara ini,” kata Jalih Pitoeng memaparkan.

    “Semua ini atas bantuan dinas kebudayaan. Jika tidak, kita tidak akan berkumpul disini,” sambungnya menegaskan.

    “Oleh karena itu, perlu saya tegaskan bahwa acara ini adalah dari kita, oleh kita, untuk kita dan bukan dari atau untuk yang lain,” tegasnya.

    Sebagai salah satu penggagas, Jalih Pitoeng juga menegaskan bahwa YASBI bukan organisasi pengemis, pemeras apalagi penjilat.

    “YASBI dibangun tidak dalam orientasi mengemis atau memeras,” ungkapnya tegas dan lantang.

    “Perlu saya tegaskan, bahwa saya Jalih Pitoeng bukan tipikal orang yang gebrak meja pejabat lalu pulang bawa berkat,” Jalih Pitoeng menegaskan dengan suara menggema.

    “YASBI dibangun untuk melakukan upaya dan tindakan-tindakan korektif terhadap pristiwa koruptif dan manipulatif,” sambungnya.

    “Tapi YASBI dibangun dengan tujuan yang luhur dan mulia dalam menjaga, memelihara dan melestarikan budaya Betawi secara kooperatif dan konstruktif,” tegasnya melanjutkan.

    “YASBI juga dibangun bukan dengan orientasi mengemis atau mendapatkan dana hibah. Tapi YASBI dibangun untuk berperan aktif memberikan ide dan gagasan serta merumuskan formulasi tentang peta jalan dinas kebudayaan termasuk mengusulkan anggaran pelatihan dan pemberian penghargaan terhadap para guru-guru silat dan para pelatih kesenian tradisi Betawi,” lanjutnya menegaskan.

    Jalih Pitoeng yang merupakan kerabat dari sang maestro silat tradisi Beksi kong haji Hasbullah inipun menegaskan bahwa dirinya sangat mencintai silat tradisi Beksi.

    “Karena saya sangat mencintai budaya Betawi terutama silat tradisi Beksi,” Jalih Pitoeng menegaskan.

    Sedangkan salah satu anggota DPRD DKI Jakarta dari Partai Kebangkitan Bangsa yang merupakan salah satu Nara sumber dalam diskusi tersebut, Yusuf Sahid, mengangkat satu isu utama yang mengemuka tentang persoalan anggaran kebudayaan.

    Anggota DPRD DKI Jakarta kelahiran tanah Betawi ini menyoroti lemahnya pengawasan terhadap penyusunan anggaran kebudayaan.

    “Selama ini program pelestarian budaya Betawi lebih banyak bersifat simbolis. Kami mendorong transparansi dan peningkatan alokasi yang benar-benar menyentuh kebutuhan komunitas seni,” ungkap Yusuf.

    Kritik ini diamini para pelaku budaya yang hadir, termasuk sutradara teater dari Sanggar Betawi, Anto Ristargie, yang mengaku sering mengalami kesulitan dalam memproduksi karya lantaran terbatasnya dukungan logistik.

    Penampilan teatrikal yang diberi judul “Garong” merupakan ekspresi dari kekecewaan dari para pegiat seni budaya di Jakarta.

    Penampilan teater Cermin yang sangat ekspresif dalam mengemas ketikan dalam konsep seni teater inipun disambut meriah oleh semua yang hadir. Terutama bagi para pegiat seni budaya yang terzolimi akibat anggarannya dikorupsi.

    KH. Luthfi Hakim, MA, yang hadir sebagai narasumber dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua PWNU DKI Jakarta, menyampaikan bahwa pentingnya peran lembaga adat dan ulama dalam merawat identitas kebudayaan Betawi yang lekat dengan nilai-nilai keislaman.

    “Budaya Betawi lahir dari rahim keagamaan yang kuat. Pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan penguatan karakter spiritual dan moral masyarakat,” ungkapnya.

    “Maka didalam mengimplementasikan undang-undang DKJ No. 2 tahun 2024 kita membutuhkan Lembaga Adat,” kata Kiayi yang juga merupakan ketua umum organisasi terbesar di Betawi FBR.

    Menurutnya, sudah banyak upaya-upaya yang telah dilakukan sebagai percepatan lahirnya Perda atau Pergub tentang Lembaga Adat Betawi.

    “Kita saat ini, sudah banyak dukungan dari beberapa daerah dari para pemangku adat,” ungkap kiayi yang dikenal sangat merakyat ini.

    “Kita sudah mendapat dukungan yang terus mengalir. Mulai dari Batam, Riau, Aceh bahkan dari Yogyakarta,” kata Kiayi Lutfi dengan penuh semangat.

    “Artinya, bahwa kehadiran Lembaga adat Betawi ini adalah sebuah keniscayaan,” imbuhnya.

    “Cuman kan yang banyak yang pada kagak ngarti. Jadi pada ngeributin soal ini,” celetuk nya.

    “Apa yang mau diributin. Orang lembaga adatnya aja belon dibentuk. Jadi kita ngeributin pepesan kosong,” sindirnya.

    Salah satu Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra, yang juga merupakan salah satu narasumber dalam diskusi publik tersebut mendorong agar para pegiat seni budaya Betawi dilibatkan aktif dalam perumusan kebijakan publik, tidak hanya sebagai pelaksana hiburan semata.

    “Sudah saatnya seniman menjadi subjek, bukan objek. Mereka harus menjadi bagian dari keputusan, bukan hanya pelengkap seremoni,” kata Yahya menegaskan.

    Sementara tokoh jawara Betawi HK. Damin Sada yang hadir sejak pagi dalam diskusi tersebut sangat menyesalkan telah terjadinya korupsi di dinas kebudayaan tersebut.

    “Saya sudah bilang dari lima tahun lalu soal kekacauan dan korupsi ini,” ungkap ketua umum JAJAKA.

    “Makanya, Kadis itu stampelnya cukup satu,” sindirnya.

    “Ini kan udah jadi kadis juga, tapi jadi EO juga,” sindirnya tegas.

    “Makanya kedepan nanti, para sanggar atau pegiat seni budaya harus menyelenggarakan acara sendiri,” pinta Damin Sada.

    “Supaya dapat bayarannya langsung dari dinas. Kagak dipotong-potong kayak yang udah-udah,” Damin Sada mengingatkan.

    Jawara Betawi sekaligus pendiri dan ketua umum JAJAKA (Jawara Jaga Kampung) ini juga menyesalkan banyaknyanya pejabat Betawi yang lupa diri.

    “Terus juga orang Betawi kalo udah diatas lupa,” sambungnya mengingatkan.

    “Kalo belon jadi pejabat ngomongnya gua orang Betawi. Saya orang Betawi nih. Itu kalo mau jadi pejabat,” kata Damin kesal.

    “Tapi pas udah diatas lupa daratan. Kagak ingat sama saudaranya,” sindir Damin Sada.

    “Makanya, nih ada bang Yahya nih budayawan Betawi. Saya mau tanya itu budaya apa kebiasaan?,” Damin Sada melempar tanya.

    “Itu bukan kebudayaan. Tapi kebiasaan jelek buang itu,” pungkasnya.

    Diskusi yang dihadiri oleh tokoh-tokoh Betawi dan para guru silat tradisi seperti HK. Damin Sada (Ketua umum JAJAKA), Beim Benyamin (ketua umum MANTAB, pelukis Betawi ternama Iwan Noeswan, Babe Sholeh (anak sekaligus pewaris silat tradisi Beksi Haji Hasbullah), Al Ghozali dan para pengurus YASBI serta Masdjo Arifin dari Lesbumi NU Jakarta ini juga memperkuat legitimasi aspirasi yang disampaikan para seniman Betawi.

    Sebagai perwakilan dari Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Puspla menyampaikan komitmen untuk menindaklanjuti aspirasi yang disampaikan dalam forum tersebut.

    “Sebelumnya kami mohon maaf karena pak Kadis tidak bisa hadir kesini. Karena beliau harus mendampingi pak gubernur dalam waktu yang sama,” ungkap Puspla.

    “Kami mendengar dan mencatat. Ini bukan sekadar diskusi, tapi landasan untuk tindakan nyata ke depan,” katanya melanjutkan.

    “Apa yang tadi disampaikan oleh bang Jalih Pitoeng sudah sangat lengkap,” sambungnya.

    “Kami dari dinas kebudayaan khususnya saya sebagai kepala bidang pembinaan, akan mencatat ini semua sebagai output dari diskusi yang sangat bagus ini,” katanya lagi.

    Sebagai salah satu penggagas, pendiri sekaligus ketua umum YASBI, Jalih Pitoeng juga berulang-ulang mengatakan bahwa dirinya tidak ingin YASBI terjebak dalam kepentingan politik praktis apalagi terintervensi.

    “YASBI ini mutlak sebagai organisasi para pegiat seni budaya Betawi. Oleh karena itu YASBI ini harus menjunjung tinggi independensi dan mandiri,” pinta Jalih Pitoeng.

    “Perlu saya tegaskan juga bahwa YASBI tidak berafiliasi kepada ormas atau partai apapun,” pungkasnya menegaskan.

  • Sukses Gelar JFS, Ini Tanggapan H. Alung, Ketua LMK Sukapura

    Sukses Gelar JFS, Ini Tanggapan H. Alung, Ketua LMK Sukapura

    PALAPANEWS.ASIA, JAKARTA –

    Memasuki usia ke-498 tahun, berbagai agenda di laksanakan di berbagai penjuru kota Jakarta, mulai dari lenong, pencak silat dan lainnya, yang mengetengahkan budaya Betawi di tengah pergumulan eksistensi Betawi yang semakin tergusur.

    Minggu, 29 Juni 2025, giliran Kelurahan Sukapura, Kecamatan, Cilincing, Jakarta Utara menggelar pesta Hari Jadi Jakarta ke-498, yang dihadiri oleh Ahmad Rosiwan, Lurah Sukapura, Depika Romadi, Camat Cilincing serta undangan lainnya.

    Di tengah gerimis kecil, ratusan warga Sukapura dan sekitarnya memenuhi halaman parkir Pertokoan New Orchard, samping gedung Kelurahan Sukapura, yang berdiri tinggi dan kokoh.

    Ditemui oleh awak media, Fakhrul Rozy, atau biasa akrab disebut dengan panggilannya H. Alung, yang merupakan ketua LMK Sukapura mengungkapkan harapannya agar kedepan kegiatan semacam ini, Festival Jakarta, terus dilakukan untuk memperkuat kota Jakarta di era globalisasi yang semakin menguat.

    “Dari Sukapura, kami akan selalu mendukung segala kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Jakarta, ditengah gempuran peradaban dunia yang semakin menguat di Ibukota tercinta ini,” ungkap H. Alung.

    Gerimis yang melanda lokasi acara tidak mengurangi antusias warga Sukapura dan sekitarnya dalam menikmati berbagai acara yang dikemas apik oleh Pelaksana Kegiatan, yang dalam hal ini dikendalikan penuh oleh H. Alung.

  • Ultah Ke-498, Petukangan Utara Gelar Festival Budaya Betawi

    Ultah Ke-498, Petukangan Utara Gelar Festival Budaya Betawi

    PALAPANEWS.ASIA, JAKARTA –

    Memasuki usia ke-498 tahun, Jakarta bukan hanya menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia saat ini, namun juga menjadi kota dengan multi keberagaman yang menjadi sorotan dengan berbagai perkembangannya.

    Pertanyaan klasik yang selalu dimunculkan adalah Bagaimana dengan Budaya Betawi yang semakin tergerus oleh waktu dan peradaban zaman serta kemajuan tekhnologi.

    Hari Sabtu, 28 Juni 2025, bertempat di Lapangan Sepak Bola Kostrad, Petukangan Utara, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, digelar Festival Budaya Kampung Petukangan. Festival ini dihadiri oleh Walikota Jakarta Selatan, M. Anwar, S.Si, M.A.P, Camat Petukangan Utara, Agus Ramdani, Lurah Petukangan Utara, Safri Djani, beserta Kapolsek, Danramil dan pejabat lainnya.

    Bertemakan “Menjaga Tradisi, mengarungi Era Globalisasi”, Kegiatan ini menghadirkan berbagai seni dan budaya Masyarakat Betawi yang saat ini masih aktif dan eksis, salah satunya adalah Seni Beladiri Betawi BEKSI.

    Saat memberikan keterangan pers kepada awak media, Walikota Jakarta Selatan, M. Anwar, S.Si, M.A.P, mengungkapkan keprihatinannya akan tergerusnya Budaya Betawi saat ini, dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat Budaya Betawi untuk kelangsungannya.

    Sementara itu Jalih Pitoeng, Salah satu penerus Budaya Silat Betawi BEKSI yang juga merupakan ketua umum FORMASI (Forum Aliansi Masyarakat Anti Korupsi) ini mengungkapkan dalam sambutanya bahwa keberadaan Budaya Betawi yang semakin tergerus arus globaliasi perlu mendapatkan perhatian khusus oleh Pemerintah Jakarta saat ini.

    “Kita sering menjual budayanya,” ungkap Jalih Pitoeng, Sabtu (28/06/2025).

    “Kita mengeksploitasi kebudayaan, tapi hingga hari ini kita belum pernah memperhatikan bagaimana itu nasib para guru-guru kita,” lanjutnya.

    “Oleh karena itu, dalam kesempatan ini kami dari YASBI (Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Budaya Betawi) mengundang seluruh para Jawara SE Jabotabek untuk hadir dalam silaturahmi Akbar dan diskusi publik di Setu Babakan,” jelasnya.

    “Bagaimana kita merumuskan tentang Road Map tentang kebudayaan guna menjaga eksistensi budaya Betawi,” Jalih Pitoeng menegaskan.

    “Kepada Pemerintah DKI Jakarta Pram-Doel, kita minta agar lebih memperhatikan budaya Betawi,” pinta Jalih Pitoeng.

    “Bukan hanya itu, Dinas Kebudayaan DK Jakarta saat ini, sedang menghadapi persidangan di PN Jakarta Pusat karena terindikasi telah melakukan Korupsi Dana Kebudayaan, Dana yang seharusnya dipakai untuk mempertahankan Budaya Betawi di tengah arus globalisasi,” ungkapnya kepada awak media di tempat yang berbeda.

    “Saya sebagai salah satu warga Betawi Asli, akan tetap mengawal persoalan ini, apa dan bagaimana, serta kemana anggaran Budaya yang dikorupsi oleh Dinas Kebudayaan DKI,” tutup Jalih Pitoeng.

  • AMPUH Indonesia dan Suku Dayak Borneo Sarang Paruya Sepakat Bentuk Gugus TPPO

    AMPUH Indonesia dan Suku Dayak Borneo Sarang Paruya Sepakat Bentuk Gugus TPPO

    PALAPANEWS.MY.ID, JAKARTA –

    Direktur AMPUH INDONESIA, Joni Sudarso S.H., M.H., dan Kepala Suku Dayak Borneo Sarang Paruya bersinergi membentuk Gugus Tugas Anti Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Sekitar perbatasan Kalimantan, dengan menggelar Seminar Nasional Human Trafficking dengan tema “Pencegahan, Penanganan dan Penanggulangan Tindak Pidana Perdagangan Orang TPPO”, maka Tugas Rekan-rekan Borneo Sarang Paruya akan lebih intens lagi di perbatasan Indonesia Malaysia dan Brunei Darussalam.

    Disela-sela pertemuan dengan Dewan Pembina AMPUH INDONESIA Dan Kepala Suku Dayak Borneo Sarang Paruya Wili Tawang Uju bertempat di Direktorat C TPTLN (Tindak Pidana Terorisme dan Lintas Negara Jampidum Kejaksaan Agung RI) untuk memberikan kepedulian kepada korban-korban TPPO dan bentuk pengabdian kepada Negara Kepala Suku Dayak Borneo Sarang Paruya didaulat menjadi Duta Anti TPPO di Seluruh perbatasan Kalimantan yang terhubung dengan kedua negara, Semoga BSP bisa terus menerus menjadi Mentor dalam Pelaksanaan Anti TPPO.

    Di akhir Diskusi bersama Dr. Fri Hartono,S.H.,M.H. (Jaksa Ahli Madya) Tindak Pidana Terorisme dan Lintas Negara di Jampidum Kejaksaan Agung RI, Direktur AMPUH INDONESIA Joni Sudarso,S.H.,M.H dan Kepala Suku Dayak Borneo Sarang Paruya Wili Tawang Uju akan melakukan dan melaksanakan tugas dan pengabdian ini sebagai bentuk dari apresiasi Presiden Terpilih Republik Indonesia Bapak Jenderal TNI (Purn) H. Prabowo Subianto yang mempunyai bukti sejarah dalam kejadian TKI Wilfrida Soik yang akan di hukum mati di negeri Jiran berkat Diplomasi beliau maka satu Nyawa Rakyat Indonesia terselamatkan.

    Seminar Nasional Human Traficking akan melahirkan petisi yang akan di sampaikan kepada Presiden dan Satgas TPPO.

  • Alumni SMPN 129 Adakan Halalbihalal  1445 H Sekaligus Reunian

    Alumni SMPN 129 Adakan Halalbihalal 1445 H Sekaligus Reunian

    Jakarta Utara, -Palapanews.my.id

    Sekolah Menengah Tingkat Pertama Negeri (SMPN) 129 adakan Halal Bihalal sekaligus Reuni. Acara dilaksanakan di Beach Food Ancol, Sabtu 4 Mei 2024.

    Turut hadir dalam acara tersebut diantaranya:

    Letkol Kav Tofan Tri Anggoro Dandim 05/02 JU dan juga selaku ILUNI SMPN 129 Jakarta Utara.

    Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) JU atau yang mewakili.

    Dalam wawancaranya di depan awak media, Dandim 05/02 JU menjelaskan, Alhamdulillah pelaksanaan kegiatan hari ini berupa halalbihalal animonya cukup banyak, akan tetapi dengan adanya keterbatasan kapasitas tempat sehingga kita tidak bisa mewadahi semuanya. Sekitar 200 lebih, mulai dari alumni angkatan tahun 1979-2023 mereke pada hadir,”jelas Tofan Tri Anggoro.

    “Harapan saya kedepannya semoga dengan adanya Halalbihalal ini kedepannya bisa lebih erat lagi silaturahmi sesama alumni 129 dari tingkat SMP dan disini juga kami bukan hanya sekedar halalbihalal atau reunian, akan tetapi kami juga adakan santunan anak yatim dan pemberian sembako kepada kaum dhuafa, sebanyak 54 paket sembako yang kami serahkan walaupun tadi penyerahannya hanya berupa simbolis.”tutur Tofan Tri Anggoro.

    “Semoga dengan adanya Halalbihalal ini menjadi motivasi kami sesama Alumni SMPN 129 untuk mengadakan reuni akbar di tempat indor.”harap Tofan Tri Anggoro.

    Ditempat terpisah, Nasrul Qadar Taslim M.Pd selaku ketua Panitia pelaksana mengatakan, saya terpilih selaku ketua panitia pelaksana beberapa bulan yang lalu dipilih oleh para pengurus Ikatan Alumni SMPN 129. Dengan adanya Halalbihalal dan juga santunan anak yatim dan pemberian paket sembako kepada kaum dhuafa adalah semua hasil donasi dari temen-temen alumni, disini kami tidak ada bantuan donasi dari manapun, terkecuali dari Bapak Dandim 05/02 JU, Beliaulah yang paling banyak peran untuk bisa terlaksananya acara Halalbihalal ini dan juga santunan anak yatim serta pemberian paket sembako kepada para kaum dhuafa.”kata Nasrul Qadar Taslim.

    “Harapan saya semoga kedepannya dengan adanya acara Halbi ini, jalinan silaturahmi kami sesama alumni SMPN maupun SMAN 129 lebih erat lagi.” harap Nasrul.

    Kenapa acara Halalbihalal ini kami adakan di ABC Beach Ancol, menurut saya, ketika acara Halalbihalal sudah selesai, temen-temen yang hadir juga bisa sambil berekreasi bersama keluarga di kawasan pantai Ancol yang indah ini, walaupun kita warga Jakarta Utara, kan Jarang-jarang kita datang kesini untuk berekreasi bersama keluarga.”tutup Nasrul Qadar Taslim.

    (Maya)