Bukan Sekadar Sate Kambing, Ini Cerita Tengkleng Kepala Kambing Jawa Tulen di Jantung Bambu Apus

oleh -225 Dilihat
banner 468x60

PALAPANEWS.ASIA, JAKARTA TIMUR –

Jika jalur kuliner Anda biasanya berhenti di pusat kota, ada alasan kuat untuk berbelok ke Bambu Apus, Cipayung. Di Jl. Bambu Apus Raya No. 36, sebuah warung dengan dapur yang bekerja pelan namun pasti terus memanggil para penikmat masakan tradisional: Rajanya Sate dan Tengkleng Kepala Kambing Jawa Tulen.

banner 336x280

Buka setiap hari pukul 10.00–22.00 WIB, tempat ini mengandalkan dua menu yang menuntut kesabaran sekaligus keahlian: sate kambing dan tengkleng kepala kambing. Keduanya dimasak dengan pendekatan klasik Jawa, tanpa jalan pintas, tanpa kompromi rasa. Hasilnya adalah sajian yang mengajak pengunjung duduk lebih lama—dan kembali lagi.

Pemilik usaha, Ferry Harto, menjelaskan bahwa dapurnya berdiri di atas prinsip sederhana namun jarang dipertahankan.

Sejalan dengan kiprahnya di dunia kuliner, Ferry Harto juga memiliki peran organisatoris di tingkat nasional. Ia tercatat sebagai Ketua Divisi UMKM Pengurus Pusat Media Independen Online (MIO) Indonesia, posisi yang memperlihatkan konsistensinya dalam mendorong penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah berbasis kearifan lokal. Peran tersebut tercermin langsung dalam pengelolaan Rajanya Sate dan Tengkleng Kepala Kambing Jawa Tulen, yang tidak hanya dijalankan sebagai usaha kuliner, tetapi juga sebagai contoh UMKM yang bertumpu pada kualitas, identitas rasa, dan keberlanjutan usaha di tengah dinamika ekonomi perkotaan.

“Masakan Jawa itu tidak bisa dipercepat. Tengkleng dan sate harus dimasak dengan sabar supaya karakter rempahnya keluar,” ujarnya. “Yang kami jaga adalah konsistensi rasa, supaya setiap orang yang datang tahu apa yang akan ia dapatkan.”

Sate kambing disajikan dengan potongan daging padat, dibakar matang tanpa mengorbankan kelembutan. Aroma arang berpadu dengan lemak yang meleleh pas. Tengkleng kepala kambing hadir dengan kuah rempah yang kuat dan hangat, dagingnya lunak, mudah dilepas dari tulang—sebuah sajian yang berbicara tentang tradisi, bukan tren sesaat.

Lebih dari sekadar tempat makan, warung ini juga menyediakan ruang meeting untuk pertemuan kecil dan diskusi. Perpaduan yang tidak lazim, namun justru menjadi daya tarik: makan serius, berbincang serius, dalam satu ruang yang sama.

Pengunjung bernama Bainanah menggambarkan pengalaman itu dengan singkat namun tepat.

“Tempatnya tenang, makanannya serius,” katanya. “Datang ke sini rasanya tidak perlu buru-buru.”

Di tengah ramainya peta kuliner Jakarta, Rajanya Sate dan Tengkleng Kepala Kambing Jawa Tulen menawarkan alasan untuk datang dan berhenti sejenak. Bagi siapa pun yang rindu pada rasa Jawa yang utuh—dan ingin mencicipinya langsung di meja—Bambu Apus layak masuk daftar tujuan berikutnya.

>>> CATATAN REDAKSI <<<

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.

Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: palapamediaonline@gmail.com.
Terima kasih.
____________________

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *