Penulis: Dina Mariyana

  • “Sour Sally Sweet 17th: Rayakan Perjalanan 3 Zaman dalam Satu Scoop Spektakuler”

    “Sour Sally Sweet 17th: Rayakan Perjalanan 3 Zaman dalam Satu Scoop Spektakuler”

    Palapanews.Asia, Jakarta – Sour Sally menandai tonggak 17 tahun perjalanannya sebagai pelopor frozen yogurt tanah air dengan sebuah selebrasi penuh warna bertajuk “Sour Sally Sweet 17th: In One Scoop. Past, Present, Future” di Laguna Atrium, Mall Central Park, Jakarta, Jumat (1/8). Perayaan yang digelar selama tiga hari ini (1–3 Agustus) menjadi momentum penting yang menyatukan nostalgia masa lalu, pencapaian masa kini, dan visi besar masa depan dalam satu ruang interaktif.

    Acara dibuka secara resmi dengan kehadiran Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, Wamen Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono dan mantan Panglima TNI, Jendral Purn. Andika Perkasa.

    Sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap kiprah brand lokal yang berhasil menembus pasar internasional. Dalam mengapresiasi konsistensi Sour Sally dalam menjaga kualitas sekaligus terus berinovasi di tengah dinamika industri F&B.

    Acara ini menjadi momentum refleksi perjalanan Sour Sally dari awal berdiri hingga kini, sekaligus menegaskan komitmen brand dalam menyongsong masa depan yang lebih inovatif. Mengusung konsep tiga dimensi waktu masa lalu, masa kini, dan masa depan.Perayaan ini menghadirkan pengalaman imersif yang menggugah nostalgia sekaligus menawarkan visi progresif.

    CEO Sour Sally, Donny Pramono, mengungkapkan bahwa Sour Sally akan membuka cabang internasional di sejumlah negara. Uni Emirat Arab (UAE) dan Arab Saudi dijadwalkan hadir di kuartal empat tahun ini, sementara Filipina menyusul tahun depan.

    “17 tahun bukan sekadar angka, tapi bukti bahwa Sour Sally terus menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban Indonesia. Kami ingin mempersembahkan sesuatu yang tidak hanya merayakan sejarah kami, tapi juga menunjukkan arah ke depan: lebih sehat, lebih kreatif, dan lebih sustainable.” ujar Donny.

    “Dubai menjadi gerbang penting untuk pasar MENA (Middle East, North Africa). Sementara Filipina kami anggap strategis karena negara tetangga dengan populasi besar. Sebagai brand Indonesia, sudah waktunya kita go global,” ujar Donny.

    Saat ini, Sour Sally memiliki: 135 cabang di Indonesia, 15 cabang di UAE, 15 cabang di Saudi Arabia, 45 cabang yang direncanakan di Filipina.

    Acara yang dihadiri oleh jajaran mitra bisnis, media, foodies, influencer, serta para loyal customer ini juga menampilkan peluncuran logo terbaru Sour Sally, yang merepresentasikan semangat baru dengan desain yang lebih minimalis, dinamis, dan menyegarkan layaknya frozen yogurt itu sendiri.

    Selain itu, pengunjung disuguhkan berbagai instalasi menarik seperti “Sally’s Timeline Tunnel” yang menampilkan transformasi brand selama 17 tahun terakhir, booth interaktif rasa yogurt klasik hingga eksperimental, hingga area “Future Lab” tempat pengunjung bisa mencoba inovasi menu masa depan.

    Salah satu highlight acara adalah kolaborasi dengan desainer muda Indonesia yang menghadirkan merchandise edisi terbatas bertema “Sour Sally 17th”, serta pengumuman kampanye sustainability terbaru bertajuk #ScoopToSustain yang fokus pada pengurangan limbah plastik dan penggunaan bahan baku lokal ramah lingkungan.

    Sour Sally juga membagikan penghargaan khusus kepada franchisee dan karyawan yang telah setia tumbuh bersama brand ini, menegaskan nilai kekeluargaan dan kolaborasi yang selama ini menjadi fondasi kuat.

     

     

  • Tissa Biani Ceritakan Keterikatan Emosional dengan Karakter Intan di Film “Panggil Aku Ayah”

    Tissa Biani Ceritakan Keterikatan Emosional dengan Karakter Intan di Film “Panggil Aku Ayah”

    Palapanews.Asia, Jakarta – Aktris muda Tissa Biani mengungkapkan bahwa perannya sebagai Intan dalam film Panggil Aku Ayah bukan sekadar akting biasa. Lewat film yang sarat makna keluarga ini, Tissa merasa mengalami proses mendalam secara emosional karena kisah Intan menyentuh bagian personal dalam hidupnya.

    “Dari pertama baca naskah, bahkan dari judulnya saja, aku sudah merasa film ini dekat banget sama kehidupanku,” ujar Tissa dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta (30/7/2025).

    “Intan tumbuh tanpa orang tua kandung di sisinya, dan aku pun mengalami hal yang serupa.” ungkap Tissa.

    Dalam film tersebut, Intan adalah seorang gadis kecil yang dititipkan oleh ibunya kepada dua penagih utang. Awalnya penuh rasa canggung, hubungan yang terjalin justru tumbuh menjadi kasih sayang layaknya keluarga. Perjalanan Intan bersama dua sosok yang tak pernah ia duga akan menjadi figur ayah membuat film ini menyimpan pesan kuat tentang keluarga yang hadir dari kepedulian, bukan sekadar ikatan darah.

    Tissa mengaku ada beberapa adegan yang begitu menyentuh baginya secara pribadi. Salah satunya saat Intan menangis karena merindukan kedua orang tuanya.

    “Adegan itu berat banget buat aku. Rasanya kayak nyatu sama Intan. Aku tahu rasanya kangen sosok ayah,” ungkap Tissa.

    Film garapan sutradara Benni Setiawan ini diproduksi oleh Visinema Studios dan CJ ENM, dan dijadwalkan tayang pada 7 Agustus 2025. Melalui kisah hangat dan penuh sentuhan komedi, Panggil Aku Ayah membawa pesan penting tentang bagaimana keluarga bisa hadir dari tempat yang tak disangka, melalui perhatian dan kehadiran, bukan hanya karena hubungan darah.

  • Garin Nugroho Persembahkan Film Musikal Epik “Siapa Dia” sebagai Kado HUT RI ke-80

    Garin Nugroho Persembahkan Film Musikal Epik “Siapa Dia” sebagai Kado HUT RI ke-80

    Palapanews.Asia, Jakarta – Dunia film Indonesia kembali diramaikan dengan kehadiran karya terbaru maestro sinema Garin Nugroho yang bertajuk Siapa Dia, sebuah film musikal ambisius yang menggabungkan sejarah, cinta, dan budaya pop tanah air dalam satu panggung megah. Film ini resmi merilis trailer dan poster perdananya pada Selasa, 29 Juli 2025, di CGV Grand Indonesia, dan dijadwalkan tayang eksklusif di sejumlah kota mulai 28 Agustus 2025 bertepatan dengan perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia.

    Dengan kalimat pembuka “Dunia penuh fantasi…” yang diucapkan oleh Nicholas Saputra, penonton langsung diajak memasuki semesta unik seorang sutradara muda bernama Layar, yang sedang dilanda kebuntuan ide. Namun pencariannya akan inspirasi justru membawanya dalam perjalanan lintas zaman yang emosional dan penuh kejutan.

    Disajikan dalam format musikal yang jarang dieksplorasi dalam perfilman Indonesia, Siapa Dia menghadirkan parade bintang papan atas seperti Amanda Rawles, Ariel Tatum, Widi Mulia, Morgan Oey, Happy Salma, Dira Sugandi dan Gisella Anastasia. Masing-masing tampil dalam karakter berbeda, membawa nuansa baru dalam setiap adegan, lengkap dengan koreografi yang digarap oleh maestro tari Eko Supriyanto.

    Menariknya, para aktor dan aktris tidak hanya berakting, tapi juga menyanyikan lagu-lagu legendaris yang menjadi bagian penting dari sejarah musik Indonesia. Lagu “Nuriela” yang dinyanyikan oleh Nicholas Saputra dan Monita Tahalea, serta tembang “Anak Jalanan” yang dibawakan oleh Dira Sugandi menjadi highlight dalam trailer yang sarat emosi dan nostalgia.

    Film ini tidak sekadar bercerita tentang cinta atau mimpi, melainkan juga menjadi refleksi panjang sejarah perfilman Indonesia. Garin Nugroho menyebut Siapa Dia sebagai “surat cinta untuk perjalanan sinema nasional,” sebuah bentuk apresiasi terhadap sejarah film dan budaya pop dari masa kolonial hingga era digital.

    “Film ini adalah bentuk penghormatan kepada peran film dalam perjuangan bangsa dulu dan sekarang. Melalui cerita, lagu, dan gerak, kami ingin menyuarakan semangat merdeka dalam bentuk yang paling personal,” ujar Garin.

    Dibalut visual artistik, alur naratif penuh kejutan, dan musik yang digarap serius hingga ke studio internasional di Praha, Siapa Dia menjanjikan pengalaman sinematik yang tidak biasa. Produser eksekutif Faizal Lubis mengatakan bahwa musikal ini bukan sekadar ikut tren, melainkan upaya untuk membawa cerita sejarah ke ruang yang lebih kontemporer dan emosional.

    “Vibes-nya bisa dibilang seperti La La Land, tapi yang ini tentang Indonesia. Musik, sinema, dan cinta berpadu dengan akar sejarah yang kuat,” ungkap Faizal.

    Nicholas Saputra pun menyebut perannya dalam film ini sebagai tantangan terbesar dalam kariernya.

    “Ini kali pertama saya bernyanyi dan menari di layar lebar. Prosesnya tidak mudah, tapi sangat menyenangkan dan membuka ruang baru dalam cara saya bercerita lewat film,” ujar Nicholas.

    Siapa Dia siap menjadi magnet baru perfilman nasional di tengah semarak perayaan kemerdekaan. Informasi seputar kota dan bioskop yang menayangkan film ini akan diumumkan melalui akun media sosial resmi @filmsiapadia di Instagram dan TikTok.

     

  • Joko Anwar Lewat Film Terbaru “Ghost in The Cell”, Bertabur Bintang dan Sarat Kolaborasi

    Joko Anwar Lewat Film Terbaru “Ghost in The Cell”, Bertabur Bintang dan Sarat Kolaborasi

    Palapanews.Asia, Jakarta – Setelah dua dekade tak menyentuh genre komedi sejak Janji Joni (2005), Joko Anwar akhirnya kembali ke akar kreatifnya lewat film horor-komedi terbarunya berjudul Ghost in The Cell (Hantu di Penjara). Film ini diproduksi oleh Come and See Pictures dan dijadwalkan tayang tahun depan.

    Mengusung konsep segar yang menggabungkan nuansa horor dengan sentuhan komedi, film ini menjadi proyek yang dinanti-nantikan oleh para penggemar setia Joko Anwar. Syuting telah rampung, dan film yang diproduseri oleh Tia Hasibuan ini menjanjikan pengalaman berbeda dibandingkan karya-karya Joko sebelumnya.

    Yang membuat film ini makin spesial adalah keterlibatan aktor Abimana Aryasatya sebagai pemeran utama, menandai kembalinya ke layar lebar setelah enam tahun vakum sejak Gundala (2019), yang juga disutradarai oleh Joko Anwar.

    “Saya merasa ini momen yang membahagiakan. Setelah cukup lama tidak tampil di layar lebar, saya kembali lewat film yang penuh energi, dengan para pemain dari berbagai generasi dan latar yang luar biasa,” ujar Abimana.

    Deretan pemeran Ghost in The Cell memang memukau. Nama-nama seperti Bront Palarae, Danang Suryonegoro, Endy Arfian, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey, Aming, Kiki Narendra, Rio Dewanto, hingga Tora Sudiro turut memperkuat jajaran pemain. Film ini juga memperkenalkan wajah baru Magistus Miftah, penari sekaligus pembaca tarot—yang berhasil lolos dari proses open casting via media sosial.

    Menariknya, film ini juga menjadi ajang reuni bagi beberapa aktor. Lukman Sardi, Aming Sugandhi, dan Tora Sudiro sebelumnya pernah tampil bersama dalam film komedi Quickie Express (2007), yang skenarionya juga ditulis Joko Anwar. Beberapa aktor lainnya seperti Morgan Oey, Endy Arfian, dan Dewa Dayana sebelumnya bermain di film Pengepungan di Bukit Duri, yang turut sukses di box office.

    Mengambil latar di sebuah penjara padat di Jakarta, Ghost in The Cell mengisahkan dua geng yang saling berseteru dan terpaksa bekerja sama saat satu per satu narapidana mulai tewas, bukan karena konflik antar geng, melainkan karena ulah sosok hantu yang mengintai.

    “Komedi adalah cinta pertama saya. Tapi saya juga tidak pernah lepas dari horor. Film ini adalah upaya menggabungkan dua dunia itu, sesuatu yang sangat saya nantikan sejak lama,” kata Joko Anwar.

    Bagi rumah produksi Come and See Pictures, film ini disebut sebagai pencapaian tertinggi mereka sejauh ini. “Menggabungkan horor dan komedi bukan perkara mudah. Keduanya butuh presisi dalam craftmanship dan timing. Tapi tim ini berhasil menghadirkan sesuatu yang istimewa,” tutur produser Tia Hasibuan.

    Tak hanya deretan aktor ternama, film ini juga menjadi momen spesial bagi Jaisal Tanjung, selama ini dikenal sebagai kolaborator visual Joko Anwar, yang untuk pertama kalinya tampil di depan kamera.

    Ghost in The Cell akan hadir di bioskop tahun depan. Untuk informasi terbaru dan perkembangan film, ikuti akun Instagram resmi @comeandseepictures.

  • PT Pembangunan Jaya Ancol, Tbk Rayakan Hari Anak Nasional 2025 dengan Lomba Mewarnai

    PT Pembangunan Jaya Ancol, Tbk Rayakan Hari Anak Nasional 2025 dengan Lomba Mewarnai

    Palapanews.Asia, Jakarta – Suasana ceria dan penuh warna memenuhi Ecovention Hall Ancol pagi ini saat ratusan anak dari berbagai daerah memadati area perayaan Hari Anak Nasional 2025. Dalam balutan tema Ruang Keajaiban, perayaan ini menjadi ruang bermain, belajar, dan berekspresi yang menyenangkan sekaligus mendidik.

    Mengusung semangat tumbuh bersama dalam kebaikan, acara ini menghadirkan berbagai kegiatan interaktif, mulai dari lomba mewarnai, edukasi satwa, karaoke berhadiah, hingga pertunjukan karakter ikonik dari Dunia Fantasi dan Ruang Keajaiban seperti Sharky, Dolfi, Angkasa, Doki, dan tentu saja Dufan.

    Salah satu momen yang paling ditunggu adalah Lomba Mewarnai yang dibuka untuk anak usia 4–9 tahun. Lebih dari 350 anak mengikuti kegiatan ini dengan penuh antusias. Mereka dibagi dalam dua kategori usia, masing-masing berlomba selama satu jam untuk memperebutkan total hadiah senilai Rp18 juta, lengkap dengan trofi, tiket rekreasi Ancol, dan e-sertifikat bagi seluruh peserta.

    “Lomba mewarnai ini bukan sekadar ajang kreativitas, tapi menjadi jembatan antara dunia digital dan pengalaman nyata. Anak-anak bisa bertemu langsung dengan karakter yang biasanya mereka tonton di layar,” ujar Ticha Hestening, VP Research and Data Analytics Ancol saat wawancara di Ecovention Ancol , Jakarta (26/7/2025).

    Tidak hanya berfokus pada hiburan, Ancol juga memperkenalkan konten edukatif terbaru mereka. Bertepatan dengan Hari Anak Nasional, lagu “Tolong Menolong” secara resmi diluncurkan sebagai bagian dari serial edukatif Ruang Keajaiban. Lagu ini menyampaikan pesan penting tentang adab dan kepedulian sosial dengan cara yang mudah dipahami anak-anak. Konten ini telah hadir dalam dua musim dan bisa disaksikan melalui kanal YouTube resmi Ruang Keajaiban.

    “Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan pengalaman yang tidak hanya menyenangkan, tapi juga bermakna. Ini adalah bagian dari komitmen kami dalam mendukung tumbuh kembang anak secara emosional, sosial, dan intelektual,” ujar Ticha.

    Ticha menambahkan bahwa Ancol akan terus menghadirkan konten edukatif di berbagai unit rekreasinya seperti Dufan, SeaWorld, Samudra, hingga kawasan pantai. “Tahun ini adalah langkah awal. Ke depan, acara seperti ini akan menjadi agenda rutin tahunan. Kami ingin Hari Anak menjadi momen yang ditunggu-tunggu setiap tahun,” ungkapnya.

    Meski Lomba Mewarnai hanya berlangsung hari ini, sejumlah aktivitas lainnya masih akan berlanjut sebagai bagian dari program Ruang Keajaiban. Menyambut perayaan HUT RI di bulan Agustus, Ancol juga tengah menyiapkan serangkaian lomba tematik lain yang tak kalah seru dan edukatif.

    Perayaan Hari Anak Nasional 2025 di Ancol menjadi bukti nyata bahwa pembelajaran nilai-nilai kebaikan bisa dikemas secara menyenangkan. Dengan dukungan banyak pihak, Ancol berharap kegiatan ini dapat terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi komunitas lain dalam menciptakan ruang aman dan penuh warna bagi anak-anak Indonesia.

     

     

  • “Sihir Pelakor”, Film Horor Emosional yang Angkat Luka Keluarga Akibat Perselingkuhan

    “Sihir Pelakor”, Film Horor Emosional yang Angkat Luka Keluarga Akibat Perselingkuhan

    Palapanews.Asia, Jakarta – Industri film horor Tanah Air kembali menghadirkan tontonan yang berbeda. Kali ini, Starvision mempersembahkan “Sihir Pelakor”, sebuah film horor yang tidak hanya memacu adrenalin, tapi juga menyentuh sisi emosional penonton. Film ini tayang perdana pada 31 Juli 2025 dan digarap oleh sutradara Bobby Prasetyo dengan produser Chand Parwez Servia.

    Diangkat dari kisah nyata yang sempat viral lewat podcast RJL 5, Sihir Pelakor mengisahkan pengalaman memilukan seorang anak perempuan yang terjebak dalam konflik perselingkuhan orang tuanya. Film ini memadukan teror gaib dengan drama keluarga yang sarat pesan moral, menjadikannya lebih dari sekadar film horor biasa.

    “Ini bukan sekadar hiburan seram. Kami ingin penonton mendapatkan pelajaran hidup, terutama tentang pengorbanan seorang ibu dan anak dalam mempertahankan keluarga mereka,” ujar Chand Parwez dalam konferensi pers peluncuran film pada 24 Juli 2024.

    Aktris Marcella Zalianty, yang turut membintangi film ini, menyebut bahwa horor dalam Sihir Pelakor lebih dekat dengan kenyataan.

    “Horornya bukan cuma soal setan atau makhluk halus, tapi tentang luka emosional dalam rumah tangga. Ini kisah yang sangat penting,” katanya.

    Sementara itu, sutradara Bobby Prasetyo menekankan fokus utama film ini adalah pada kekuatan anak dalam menghadapi badai keluarga.

    “Kami ingin menunjukkan bagaimana seorang anak perempuan berjuang mempertahankan haknya atas keluarga, sekaligus belajar memaafkan,” ungkap Bobby.

    Nama Asmara Abigail menjadi sorotan utama lewat perannya sebagai Rini, karakter antagonis yang menjadi ‘pelakor’ alias perebut laki orang dalam film. Ini adalah kali pertama Asmara memerankan sosok sekompleks Rini, dan ia mengaku awalnya sempat ragu.

    “Deg-degan banget waktu pertama kali baca naskah. Tapi aku penasaran, ingin tahu kenapa seseorang bisa sampai jadi pelakor,” tutur Asmara.

    Untuk mendalami perannya, Asmara melakukan riset emosional dengan menggali pengalaman teman-teman dekatnya yang pernah menjadi korban perselingkuhan.

    “Aku dengar langsung cerita-cerita mereka. Sakitnya nyata banget, dan itu yang aku bawa ke karakter Rini,” katanya.

    Di balik peran berat yang dimainkan, Asmara tetap menyisipkan pesan ringan kepada para penonton.

    “Tapi ingat ya, ini cuma akting. Jangan baper” ujarnya sambil tertawa.

    Film ini turut dibintangi oleh Neona Ayu, Fathir Muchtar, dan aktor lainnya, memperkaya dinamika cerita dengan sentuhan realitas yang menyayat hati. Dengan memadukan unsur mistis dan drama keluarga, Sihir Pelakor hadir sebagai film horor yang tidak hanya membuat merinding, tetapi juga mengajak penonton merenungi arti cinta, luka, dan pengampunan dalam keluarga.

     

     

  • Bertaut Rindu Gaungkan Pesan Keluarga, “Setiap Anak Punya Hak Atas Mimpinya Sendiri”

    Bertaut Rindu Gaungkan Pesan Keluarga, “Setiap Anak Punya Hak Atas Mimpinya Sendiri”

    Palapanews.Asia, Jakarta – Film drama remaja terbaru bertajuk Bertaut Rindu: Semua Impian Berhak Dirayakan siap tayang di bioskop mulai 31 Juli 2025. Dibintangi oleh Ari Irham dan Adhisty Zara, film ini menyuguhkan lebih dari sekadar kisah cinta SMA, ia adalah jendela reflektif tentang hubungan orang tua dan anak di era yang terus berubah.

    Disutradarai oleh Rako Prijanto, diproduseri oleh MGS Fahry, dan diadaptasi dari novel karya Tian Topandi, film ini mengangkat tema yang jarang dibahas secara jujur dalam sinema Indonesia: komunikasi yang tersendat dalam keluarga, harapan orang tua, dan keberanian remaja untuk memilih jalannya sendiri.

    Rako Prijanto, sang sutradara, menyebut film ini sebagai karya yang sangat dekat dengan realitas remaja Indonesia.

    “Ini slice-of-life yang sangat related dengan apa yang remaja rasakan hari ini. Sederhana tapi dalam.” ujarnya.

    MGS Fahry, selaku produser, menambahkan bahwa film ini adalah ajakan untuk mendengar lebih dalam.

    “Kami ingin Bertaut Rindu menjadi jendela buat para orang tua untuk lebih mendengar, dan buat para remaja agar tidak merasa sendirian.” ujar Fahry.

    Tian Topandi, penulis novel yang menjadi sumber cerita film ini, berbagi bahwa kisah ini berasal dari pengalaman pribadinya sebagai anak yang tumbuh dengan tekanan harapan.

    “Saya sempat memaksakan mimpi orang tua saya, sampai akhirnya lelah dan ingin menjadi diri sendiri. Dan ternyata, ketika saya menulis dari hati, cerita ini bisa menyentuh hati banyak orang.”

    Adhisty Zara sebagai pemeran Jovanka, mengungkapkan keterhubungannya dengan peran yang ia mainkan.

    “Karakter Jovanka punya masalah dengan orang tuanya. Kita punya problem dengan orangtuanya terkait mimpinya. Kadang-kadang kebawa… banyak adegan yang tidak ada dialognya, cuma rasa.” ujar Zara.

    Zara berharap film ini bisa membuka ruang obrolan yang lebih jujur di dalam keluarga.

    “Lewat film ini, aku berharap orangtua dan anak bisa lebih terbuka, saling dengar, dan saling paham.” ujarnya.

    Sementara itu, Ari Irham, yang memerankan Magnus, menyebut film ini sebagai cerminan personal masa remajanya.

    “Magnus adalah remaja yang lahir dengan privilege, tapi satu hal yang dia tidak miliki: pilihan. Itu membuat dia merasa seperti remaja yang tersesat,” ungkap Ari.

    Setelah film ini, saya jadi lebih bisa komunikasi sama orang tua. Sekarang, saya bisa ngobrol kayak sahabat. Ia menegaskan pesan moral utama film ini:

    “Jangan menaruh impian tertunda kepada anakmu sendiri. Biarkanlah anakmu memilih impiannya sendiri.” ujar Ari.

  • Lyora: Ketika Penantian Buah Hati Menyuarakan Harapan dan Empati

    Lyora: Ketika Penantian Buah Hati Menyuarakan Harapan dan Empati

    Palapanews.Asia, Jakarta – Marsha Timothy kembali menunjukkan kelas aktingnya dalam film terbarunya Lyora. Dalam film ini, Marsha memerankan sosok perempuan tangguh bernama Mutia, karakter yang menurutnya jauh dari kehidupan pribadinya, namun justru memberinya pengalaman emosional yang mendalam.

    Saat ditawari peran tersebut, naskah bahkan belum tersedia. Namun, cerita awal yang disampaikan sudah cukup membuat Marsha jatuh hati.

    “Saya belum pernah dapat cerita dan karakter seperti ini,” ujar Marsya dalam konferensi pers di kawasan Senayan, Jumat (11/7/2025).

    Yang membuatnya benar-benar terpikat adalah pesan kuat yang ingin disampaikan film ini. Bukan hanya untuk para pejuang garis dua, sebutan bagi perempuan yang berjuang untuk hamil, tetapi juga untuk semua orang: laki-laki, pasangan, keluarga, hingga sahabat.

    “Film ini bukan hanya tontonan, tapi juga teman,” kata Marsha. Ia mengaku bahwa memainkan karakter Mutia bukanlah beban, melainkan sebuah kesempatan yang sangat ia syukuri.

    “Saya merasa beruntung bisa mendalami perasaan perempuan ini, perjalanan yang belum pernah saya alami dalam hidup saya sendiri.” ujar Marsya.

    Bagi Marsha, setiap karakter yang ia mainkan membawa semacam siraman rohani, memperkaya empatinya terhadap sesama manusia. Karakter Mutia, yang digambarkan sebagai sosok kuat dan tak mudah menyerah, benar-benar menyentuhnya.

    “Yang paling saya pelajari adalah keberanian. Ada titik di mana Mutia sangat down, tapi dia kembali bangkit karena merasa perjuangannya belum selesai,” ujarnya.

    Tak lupa, Marsha juga mengapresiasi dukungan dari sang suami, Vino G. Bastian, yang selalu mendampinginya dalam proses mendalami karakter.

    “Alhamdulillah pasangan saya memang sudah care dari awal. Dia sangat support, supaya saya bisa memberikan yang terbaik.” tutup Marsya.

    Film Lyora sendiri tak hanya mengangkat perjuangan perempuan, tetapi juga menggambarkan pentingnya dukungan dari orang-orang terdekat. Mutia beruntung dikelilingi suami, keluarga, dan sahabat yang menjadi sistem pendukung terkuatnya, hal yang juga Marsha rasakan dalam kehidupan nyata.

     

     

  • Michelle Ziudith Akui Peran di Assalamualaikum Baitullah, “Aku Nggak Baik-Baik Aja”

    Michelle Ziudith Akui Peran di Assalamualaikum Baitullah, “Aku Nggak Baik-Baik Aja”

    Palapanews.Asia, Jakarta – Michelle Ziudith tak menyangka perannya sebagai Amira dalam film Assalamualaikum Baitullah justru membawanya ke perjalanan emosional yang sangat dalam. Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, Kamis (10/7), aktris kelahiran 1995 itu mengaku sempat ragu menerima tawaran peran ini karena begitu beratnya beban cerita yang harus ia bawakan.

    “Aku takut ngejalaninnya. Aku takut pernah merasakan keadaan yang Amira jalanin, karena sangat berat dan menakutkan sekali buat semua perempuan,” ujar Michelle jujur.

    Film ini, yang diangkat dari kisah nyata, menceritakan perjalanan seorang perempuan bernama Amira yang harus menghadapi rangkaian kehilangan: dikhianati suami, kehilangan anak yang belum sempat lahir, dan hidup yang terasa begitu hampa. Dari luar, Amira tampak tegar. Tapi di balik itu, ia sebenarnya rapuh dan nyaris menyerah.

    “Karakter ini tuh… bukan cuma tentang kehilangan. Tapi tentang kepasrahan. Tentang perempuan yang kelihatannya kuat, tapi sebenarnya sedang hancur banget. Aku harus menyatu dengan semua rasa itu. Dan jujur, aku nggak baik-baik aja selama proses syuting,” kata Michelle.

    Untuk mendalami karakter Amira, Michelle mengaku harus membuka ruang-ruang luka dalam dirinya sendiri. Ia berusaha menyelami rasa kehilangan dan keputusasaan Amira, yang tak hanya butuh akting, tapi juga ketulusan hati.

    “Aku juga harus pasrah dalam momentum ini. Prosesnya menguras energi banget. Mental aku sempat lelah karena ini bukan karakter biasa. Amira ini… kayak perpanjangan tangan dari banyak perempuan di luar sana yang sebenarnya sedang berjuang sendiri, dalam diam,” katanya.

    Film Assalamualaikum Baitullah sendiri disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu dan diproduseri Tony Ramesh. Film ini bukan sekadar drama religi biasa. Ia mengetuk sisi terdalam setiap orang tentang makna ikhlas, pasrah, dan keyakinan pada skenario Tuhan.

    “Film ini ngajarin aku untuk lebih percaya sama rencana Tuhan. Amira kehilangan banyak hal, tapi dia juga menemukan sesuatu yang jauh lebih besar: dirinya sendiri dan kekuatan doanya,” ucap Michelle.

    Selain Michelle, film ini juga dibintangi oleh Arbani Yasiz, Tissa Biani, Miqdad Addausy, serta aktor-aktor senior seperti Ummi Quary, Maudy Koesnaedi, dan Sadana Agung. Assalamualaikum Baitullah akan tayang di bioskop mulai 17 Juli 2025.

     

  • Film Horor “Kitab Sijjin & Illiyyin”, Sajikan Kisah Balas Dendam dan Ritual Mengerikan

    Film Horor “Kitab Sijjin & Illiyyin”, Sajikan Kisah Balas Dendam dan Ritual Mengerikan

    Palapanews.Asia, Jakarta – Film horor terbaru Kitab Sijjin & Illiyyin siap menghantui layar lebar mulai 17 Juli 2025. Diproduksi oleh Rapi Films bersama Sky Media, Rhaya Flicks, Legacy Pictures, dan Narasi Semesta, film ini mengangkat cerita tentang dua kitab gaib yang mencatat perbuatan manusia, baik yang jahat maupun yang saleh.

    Disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu, dan diproduseri oleh Gope T. Samtani, film ini menampilkan nama-nama seperti Yunita Siregar, Dinda Kanyadewi, Tarra Budiman, Kawai Labiba, Sulthan Hamonangan, Djenar Maesa Ayu, hingga David Chalik.

    Cerita berpusat pada tokoh Yuli (diperankan Yunita Siregar), gadis baik yang hidupnya berubah drastis setelah kehilangan orang tua, dicap sebagai anak selingkuhan, dan diperlakukan seperti pembantu oleh keluarga Ambar. Dipenuhi dendam, Yuli nekat mencari bantuan dukun dan mulai melakukan santet kepada keluarga yang menyakitinya. Tapi ritual yang dijalani tidak semudah yang dibayangkan, ia harus memasukkan nama target ke dalam mayat yang baru meninggal. Waktunya hanya seminggu.

    “Aku senang banget bisa main di film ini. Karakter Yuli itu dalam banget, emosinya naik turun, dan aku belum pernah dapat peran seperti ini sebelumnya,” kata Yunita Siregar saat konferensi pers di kawasan Kuningan, Rabu (9/7/2025).

    “Semoga film ini bisa jadi pengingat bahwa setiap perbuatan pasti ada balasannya.” ujar Yunita.

    Sutradara Hadrah Daeng Ratu mengaku senang bisa kembali bekerja sama dengan Rapi Films.

    “Film ini tantangannya cukup besar. Banyak adegan berdarah, intens, tapi kami ingin tetap membumi dan tidak berlebihan. Justru kengerian itu muncul dari suasana dan tekanan batinnya,” ucapnya.

    Sementara itu, Sunil G. Samtani dari Rapi Films mengatakan, “Ini IP horor baru dari kami. Ceritanya kuat, khas Indonesia, dan kami berharap bisa menarik kembali penonton pencinta film horor lokal.”

    Film Kitab Sijjin & Illiyyin akan mulai tayang serentak di bioskop pada 17 Juli 2025. Ikuti terus update-nya di media sosial Rapi Films dan jangan lewatkan keseruannya di layar lebar.