Penulis: Dina Mariyana

  • Tantangan Menghidupkan Film Sejarah di Tengah Dominasi Genre Populer

    Tantangan Menghidupkan Film Sejarah di Tengah Dominasi Genre Populer

    Palapanews.Asia, Jakarta – Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) menggelar diskusi bertajuk “Tantangan dan Peluang Film Narasi Kepahlawanan” di Gedung Kemendikdasmen, Jakarta, Senin (18/9). Acara ini dihadiri para sineas, asosiasi perfilman, serta perwakilan industri animasi dan musik film.

    Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, mengatakan pentingnya memperkuat ekosistem perfilman nasional, khususnya untuk karya bertema sejarah dan kepahlawanan. Ia menyebut, hingga September 2025 produksi film Indonesia sudah menembus lebih dari 150 judul dan diproyeksikan bisa mencapai 200 judul hingga akhir tahun. Jumlah penonton juga mencatat angka impresif, sekitar 59 juta orang hingga Agustus lalu.

    “Film Indonesia saat ini tumbuh cukup kondusif dan terus berkembang. Selain menjadi bagian dari ekspresi budaya, film juga bisa menjadi soft power diplomasi Indonesia di mata dunia,” ujar Fadli.

    Tahun ini, bertepatan dengan peringatan 80 tahun Indonesia merdeka dan Hari Pahlawan, Kemenbud meluncurkan lomba penulisan skenario film bertema , nasionalisme, dan peristiwa sejarah. Program ini diharapkan dapat mendorong lahirnya karya-karya baru yang mampu mengangkat tokoh maupun peristiwa bersejarah ke layar lebar.

    Fadli menilai, tantangan utama perfilman bertema kepahlawanan adalah bagaimana menghadirkan skenario yang menarik sehingga mampu menjangkau penonton luas. Ia mencontohkan kesuksesan film-film biopik dunia seperti Gandhi atau The Message yang tidak hanya meraih penghargaan, tetapi juga sukses secara komersial.

    “Film sejarah dan kepahlawanan punya potensi besar. Namun yang paling penting adalah bagaimana cerita itu disampaikan dengan kuat, relevan, dan mampu memikat penonton,” ujanya.

    Sejumlah tokoh perfilman yang hadir juga menekankan perlunya dukungan pada genre anak-anak dan animasi yang masih jarang diproduksi. Menurut mereka, keragaman tema akan memperkaya ekosistem film nasional sekaligus memperluas pasar di dalam dan luar negeri.

    Dengan adanya lomba skenario ini, pemerintah berharap semakin banyak penulis, wartawan, maupun profesional film yang terdorong untuk menggarap tema kepahlawanan. Program ini juga akan dilengkapi dengan workshop sebagai wadah berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam menulis skenario yang kuat.

    Acara ditutup dengan pesan agar momentum 80 tahun Indonesia merdeka dapat menjadi titik tolak lahirnya lebih banyak karya film inspiratif yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengingatkan generasi muda pada nilai perjuangan para pahlawan bangsa.

     

     

  • Trailer Air Mata di Ujung Sajadah 2 Angkat Pesan Kasih Ibu Sepanjang Masa

    Trailer Air Mata di Ujung Sajadah 2 Angkat Pesan Kasih Ibu Sepanjang Masa

    Palapanews.Asia, Jakarta – Antusiasme publik kembali diarahkan pada sekuel film religi keluarga yang sempat mencatat lebih dari 3,1 juta penonton di tahun 2023. Pada Jumat (12/9), bertempat di XXI Senayan Plaza, Jakarta, rumah produksi bersama jajaran cast dan kru resmi meluncurkan official poster, trailer, sekaligus menampilkan sejumlah penampilan spesial dari penyanyi pengisi original soundtrack (OST) film Air Mata di Ujung Sajadah 2.

    Acara peluncuran berlangsung hangat dan penuh keharuan. Sutradara Key Mangunsong dan produser Ronny Irawan hadir langsung bersama para pemain utama, di antaranya Titi Kamal, Citra Kirana, serta Muhammad Faqih Alaydrus. Dalam kesempatan ini, mereka berbagi cerita tentang tantangan menggarap sekuel yang diharapkan mampu melampaui kesuksesan film pertamanya, yang bahkan sempat menjadi film Indonesia terlaris di Malaysia.

    Pesan Kasih Sayang dan Spiritualitas

    Sutradara Key Mangunsong menegaskan bahwa sekuel kali ini mengangkat konflik keluarga yang lebih kompleks, namun tetap menekankan nilai universal: cinta, pengorbanan, dan kasih sayang seorang ibu.

    “Film ini ingin menegaskan bahwa kasih seorang ibu tidak terbatas pada ikatan darah semata, melainkan pada ketulusan merawat dan membesarkan,” ujar Key Mangunsong.

    Hal senada disampaikan produser Ronny Irawan. Ia berharap Air Mata di Ujung Sajadah 2 dapat kembali menyentuh hati penonton.

    “Kerinduan publik pada kisah pertama jadi alasan kami melanjutkan. Semoga film kedua ini bisa memuaskan penonton dan menghadirkan cerita yang lebih dewasa,” ungkapnya.

    Penampilan OST yang Menyentuh

    Acara Konperensi Pers makin semarak dengan perilisan resmi MV official soundtrack terbaru dengan deretan penyanyi yang mengisi soundtrack film. Andmesh membawakan lagu “Bukan Lagi Rumahmu”, Yogie Nandes dan Keke Adiba menghadirkan lagu “Bintang-Bintang”, Fadhilah Intan memperkenalkan single “Pura-Pura Bahagia”, Farel Prayoga membawakan lagu “Cinta Untuk Mama” yang telah lebih dulu dirilis secara digital. Kehadiran mereka membuat suasana auditorium berubah emosional, banyak tamu undangan yang ikut larut dan menitikkan air mata.

    Dukungan Para Pemain

    Pemeran utama, Titi Kamal, yang kembali sebagai Aqila, mengaku tantangan kali ini lebih berat.

    “Aqila harus menghadapi konflik batin yang lebih dalam, dari kehilangan orang-orang tercinta hingga harus berjuang sebagai ibu. Saya pribadi merasa relate sebagai seorang ibu, jadi emosinya sangat terbawa,” ucap Titi.

    Citra Kirana yang memerankan Yumna menambahkan, karakter yang ia jalani memberi pesan kuat tentang kasih sayang tanpa batas.

    “Kasih seorang ibu tidak lahir hanya dari rahim, tapi dari keikhlasan merawat dengan sepenuh hati,” ujarnya.

    Acara yang dipandu penuh semangat ini ditutup dengan doa bersama agar Air Mata di Ujung Sajadah 2 dapat melanjutkan kesuksesan film pertama. Para pemain, kru, hingga musisi OST berharap film ini dapat menguatkan ikatan keluarga penonton dan memberikan inspirasi lewat pesan spiritualitas yang sederhana namun mendalam.

     

  • Film “Perempuan Pembawa Sial” Angkat Mitos Nusantara

    Film “Perempuan Pembawa Sial” Angkat Mitos Nusantara

    Palapanews.Asia, Jakarta – Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta, Rabu (10/9), menjadi saksi meriahnya konferensi pers sekaligus pemutaran film Perempuan Pembawa Sial. Film horor terbaru garapan sutradara Fajar Nugros ini diproduksi oleh IDN Pictures dan siap tayang di bioskop mulai 18 September 2025.

    Produser IdN Pictures Winston Utomo mengungkapkan film ini dibangun dengan tiga fokus utama.

    “Pertama adalah watching experience, bagaimana pengalaman menonton. Kedua, alur cerita yang membuat mereka terikat dari awal sampai akhir. Dan ketiga, selalu ada unsur budaya Indonesia. Dalam film ini salah satunya mitos Bahu Laweyan,” jelasnya.

    Sutradara Fajar Nugros menuturkan, kisah dalam Perempuan Pembawa Sial lahir dari ketakutannya di masa kecil.

    “Ketika kecil, sering ada momen sendirian di rumah, tiba-tiba pagar terbuka atau ada langkah kaki. Rasa takut seperti itu yang saya rangkai kembali dalam film ini. Harapannya bisa jadi penyegaran bagi penonton horor yang sudah disuguhi banyak film sejenis,” ujarnya.

    Penulis cerita Husein Atmojo menambahkan, naskah film ini berangkat dari pertanyaan sederhana: bagaimana kesialan itu tercipta.

    “Banyak orang sudah merasa sial sejak lahir, dari keluarga mana ia berasal. Dari titik itulah karakter-karakter berjuang melawan kutukan. Pada dasarnya, kesialan di sini kami anggap sebagai kutukan,” tuturnya.

    Para pemain pun berbagi pengalaman mendalami peran

    Ben Bening yang memerankan Aryo mengaku ditantang memerankan dua sisi berbeda.

    “Aryo hidup bisa saya ciptakan dengan tiga dimensi karakter. Tapi Aryo mati adalah representasi pikiran bawah sadar Mira. Pesan pentingnya: cintailah seseorang dengan sungguh-sungguh, tapi jangan orang yang salah,” katanya.

    Rukman Rosadi, pemeran Suyoto, menyebut karakternya mewakili banyak orang di sekitar kita.

    “Suyoto membawa penumpang gelap. Saya benci sekali dengan orang seperti dia, tapi justru kebencian itu membuat saya bisa detail mendalami peran,” ujarnya.

    Aurra Kharisma yang tampil sebagai sosok Lasmi menyebut pentingnya koreografi dalam membangun teror.

    “Lasmi membunuh bukan karena dendam, tapi bersenang-senang. Gerakannya harus tetap cantik namun creepy. Workshop sekitar dua minggu saya jalani lebih natural,” ujar Aurra.

    Clara Bernadeth memerankan Puti, karakter dengan masa lalu kelam yang menjadi awal tragedi.

    “Puti sebenarnya baik, tapi justru ditimpa keburukan. Menurut saya, keburukan bisa menimpa siapa saja, bahkan orang yang baik sekalipun,” kata Clara.

    Morgan Oey yang dipercaya memerankan Bana turut melakukan riset unik.

    “Karena Bana punya rumah makan, saya sampai ikut workshop masak rendang dari awal supaya lebih natural,” ujar Morgan.

    Raihaanun, pemeran Mira, menilai karakternya seperti bawang yang dikupas lapis demi lapis.

    “Mira selalu merasa sial dan mencari tahu penyebabnya, sampai akhirnya menjadi detektif bagi dirinya sendiri,” ujarnya.

    Tak ketinggalan Didik Nini Thowok memerankan Warso sebagai dukun pengantin, melakukan riset mendalam pada tradisi Jawa. Ia bahkan mempelajari lontar berbahasa Sansekerta agar perannya lebih otentik.

    “Saya ingin menjaga tradisi, bukan sekadar merias pengantin,” ujarnya.

    Perempuan Pembawa Sial dijadwalkan tayang di bioskop mulai 18 September 2025. Dengan nuansa horor, mitos Nusantara, dan konflik perempuan yang sarat makna, film ini diharapkan menjadi suguhan segar bagi penikmat film horor tanah air.

     

     

  • Film “Yakin Nikah”: Cinta, Tekanan Sosial, dan Dilema Hidup di Balik Janji Pernikahan

    Film “Yakin Nikah”: Cinta, Tekanan Sosial, dan Dilema Hidup di Balik Janji Pernikahan

    Palapanews.Asia, Jakarta – Adhya Pictures resmi memperkenalkan film terbarunya bertajuk Yakin Nikah melalui peluncuran trailer dan poster perdana di XXI Plaza Senayan, Jakarta, Selasa (9/9).

    Acara ini turut dihadiri produser Shierly Kosasih, sutradara Pritagita Arianegara, serta jajaran pemain utama: Enzy Storia, Maxime Bouttier, Jourdy Pranata, Tora Sudiro, Amanda Rigby, dan Agnes Naomi Shivapriya.

    Film ini tidak hanya menyajikan kisah cinta yang ringan, tetapi juga menyinggung isu-isu sosial yang akrab dialami generasi muda. Dari tekanan keluarga untuk segera menikah, anggapan “adik tak boleh mendahului kakak” di pelaminan, hingga stigma masyarakat yang kerap membayangi anak muda usia 20-an, semuanya menjadi warna tersendiri dalam jalan cerita.

    Kisahnya berfokus pada Niken (Enzy Storia), perempuan yang berada di persimpangan hidup antara menikah dengan kekasihnya Arya (Maxime Bouttier) atau menuruti suara hati yang kembali bergejolak setelah hadirnya Gerry (Jourdy Pranata), cinta lama yang belum benar-benar hilang.

    Cuplikan trailer memperlihatkan keseharian Niken yang penuh dinamika mulai dari pertanyaan “Kapan nikah?” dari tetangga, obrolan hangat bersama sahabat, hingga perdebatan prinsip dengan pasangan. Kehadiran Gerry membuat Niken semakin ragu dan dihadapkan pada pilihan besar yang akan menentukan masa depannya.

    Poster resmi yang dirilis pun mempertegas dilema itu. Niken digambarkan berdiri di antara dua pria, sebuah visual sederhana namun penuh makna tentang cinta, ekspektasi, dan keputusan besar dalam kehidupan.

    Menariknya, Yakin Nikah merupakan adaptasi dari web series populer di YouTube yang sudah mengumpulkan lebih dari 14,9 juta penonton. Versi layar lebarnya menjanjikan cerita lebih mendalam, sinematografi yang memikat, serta pengembangan karakter yang lebih kompleks.

    Ditulis oleh Bene Dion Rajagukguk, Sigit Sulistyo, dan Erwin Wu dengan pengembangan naskah dari IMAJINARI, film ini diarahkan Pritagita Arianegara dan dipastikan hadir sebagai tontonan yang menghibur sekaligus mengajak penonton merenungkan arti pernikahan yang sesungguhnya.

     

     

  • Baim Wong Hadirkan Film Horor Sukma, Bertabur Bintang dengan Cerita Filosofis

    Baim Wong Hadirkan Film Horor Sukma, Bertabur Bintang dengan Cerita Filosofis

    Palapanews.Asia, Jakarta – Setelah sukses debut sebagai sutradara lewat Lembayung (2024), aktor sekaligus produser Baim Wong kembali menghadirkan karya terbarunya berjudul Sukma. Film horor ini akan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 11 September 2025, dengan deretan bintang papan atas yang memperkuat jajaran pemeran.

    Sukma dibintangi oleh Luna Maya, Christine Hakim, Fedi Nuril, Oka Antara, hingga deretan aktor pendukung seperti Krishna Keitaro, Kimberly Ryder, Anna Jobling, Asri Welas, Amanda Soekasah, Giovani Tobing, Dazeline Reynand, serta dua putra Baim Wong, Kiano Tiger Wong dan Kenzo Eldrago Wong

    Tantangan Tanpa Makeup untuk Luna Maya
    Luna Maya mengaku film ini memberikan pengalaman berbeda, terutama ketika ia harus berperan tanpa riasan sama sekali.

    “Sebagai yang bekerja di industri showbiz, pressure untuk perempuan tentang awet muda itu ada. Selalu saja ada komentar tentang fisik dan segala macam dari warganet,” ungkap Luna saat konferensi pers di kawasan Gandaria, Senin (8/9/2025).

    Menurut Luna, tantangan itu justru selaras dengan karakter yang ia mainkan. “Di film Sukma, ada alasan di balik kenapa karakter Ibu Sri memiliki obsesi untuk menjadi muda, dan menginginkan Arini yang lebih muda darinya. Itu yang akan menjadi misteri,” ujarnya.

    Christine Hakim Keluar dari Zona Nyaman
    Aktris senior Christine Hakim, yang memerankan karakter Ibu Sri, menyebut Sukma sebagai salah satu proyek terberat sepanjang kariernya.

    “Syuting film Sukma adalah salah satu yang paling berat bagi saya. Ada battle scene sampai di gua juga, dan ada adegan yang menurut saya akan sangat mengejutkan untuk penonton saat menyaksikannya,” ujarnya.

    Ia menekankan bahwa proyek ini menuntut keberanian untuk mengambil risiko. “Harus berani keluar dari zona nyaman dengan risiko yang berat,” tutur Christine.

    Oka Antara: Filosofi dalam Horor
    Oka Antara, yang sebelumnya terlibat dalam Lembayung, menyebut Baim Wong semakin matang sebagai sutradara.

    “Ini adalah film Baim yang paling filosofis. Bagaimana dia menggunakan cermin sebagai simbol teror, dan setiap kali becermin ada tampilan yang berbeda. Dia naik kelas,” kata Oka.
    Tak hanya itu, ia juga menyoroti adegan aksi dalam film ini. “Dan ada adegan berantemnya, saya suka,” ujarnya.

    Debut Horor Fedi Nuril
    Bagi Fedi Nuril, Sukma menjadi pengalaman pertama terlibat dalam film horor. Ia mengaku langsung menerima tawaran Baim tanpa berpikir panjang.

    “Ketika membaca naskah Sukma, saya suka dan tertarik. Baim tidak perlu merayu dengan keras ke saya untuk bergabung di film ini,” ujar Fedi.
    Dalam film ini, ia memerankan karakter dengan gangguan mental skizofrenia, sebuah tantangan yang ia tekuni dengan riset serius.

    “Saya harus riset dengan psikiater untuk mengetahui apa saja yang terjadi dengan orang yang mengalami skizofrenia, serta gejala-gejalanya, dan cara mereka hidup,” katanya.

    Baim Wong Jaga Keseimbangan Idealisme dan Komersial
    Sebagai sutradara sekaligus produser bersama David Wong, Baim juga menulis naskah Sukma bersama penulis Ratih Kumala. Menurutnya, film ini bukan sekadar horor dengan jumpscare, melainkan juga memiliki makna lebih dalam.

    “Menyeimbangkan antara sisi komersial dan idealisme karya di film ini benar-benar saya jaga. Sebagai horor, tentu tetap akan ada jumpscare, namun, Sukma lebih dari itu,” tutup Baim.

     

     

  • Farel Prayoga Persembahkan Lagu “Cinta Untuk Mama” untuk OST Air Mata di Ujung Sajadah 2

    Farel Prayoga Persembahkan Lagu “Cinta Untuk Mama” untuk OST Air Mata di Ujung Sajadah 2

    Palapanews.Asia, Jakarta (8/9/2025) – Menjelang rilis film drama keluarga terbaru garapan Beehave Pictures, Air Mata di Ujung Sajadah 2, sebuah persembahan istimewa hadir melalui lagu berjudul “Cinta Untuk Mama” yang dinyanyikan oleh penyanyi remaja berbakat, Farel Prayoga. Video musik lagu ini resmi dirilis pada 5 September 2025 dan langsung menyedot perhatian publik.

    Lagu tersebut bukan hanya sekadar soundtrack, melainkan refleksi personal bagi Farel. Di usianya yang baru menginjak 15 tahun, ia untuk pertama kalinya bertemu dengan ibu kandungnya. Momen haru itu diabadikan dalam video musik dan selaras dengan tema besar film: kehilangan, pencarian arti keluarga, serta cinta yang tak pernah pudar. Lirik dan melodi yang menyentuh membuat “Cinta Untuk Mama” terasa sebagai ungkapan cinta yang universal.

    Film Air Mata di Ujung Sajadah 2, akan tayang perdana pada 23 Oktober 2025, menghadirkan kembali bintang-bintang papan atas Indonesia.      Titi Kamal kembali memerankan Aqilla, sosok ibu penuh cinta dan pengorbanan.                                  Citra Kirana hadir sebagai Yumna, karakter yang sarat kasih sayang dan kehangatan.            Muhammad Faqih Alaydrus melanjutkan perannya sebagai Baskara, anak yang menjadi pusat dilema keluarga.

    Tak hanya itu, sederet nama lain seperti Daffa Wardhana, Jenny Rachman, dan Mbok Tun juga memperkuat jalan cerita, menghadirkan dinamika yang kaya antara konflik batin, kehangatan keluarga, hingga perjuangan mempertahankan cinta.

    Film ini digarap oleh sutradara Key Mangunsong, dengan naskah yang ditulis oleh penulis skenario berpengalaman Titien Wattimena. Produksi dilakukan oleh sejumlah rumah produksi besar, di antaranya Beehave Entertainment, A&Z Films, KAI Pictures, Legacy Pictures, serta Sigxa Pictures. Kolaborasi ini diyakini mampu menghadirkan drama keluarga dengan kualitas sinematik yang memikat.

    Kehadiran lagu “Cinta Untuk Mama” memperkuat emosi yang dibangun dalam film. Perpaduan kisah pribadi Farel dengan narasi sinematik yang digarap membuat soundtrack ini bukan hanya pelengkap, tetapi juga jembatan emosi antara penonton cerita di layar lebar.

     

     

  • Ancol Taman Impian Rayakan Hari Pelanggan Nasional 2025 dengan Promo Hemat dan Kontes Foto Warga Se-RT

    Ancol Taman Impian Rayakan Hari Pelanggan Nasional 2025 dengan Promo Hemat dan Kontes Foto Warga Se-RT

    Palapanews.Asia, Jakarta (4/9/2025) – Menyambut Hari Pelanggan Nasional yang diperingati setiap 4 September, Ancol Taman Impian menghadirkan program istimewa sebagai bentuk apresiasi bagi pengunjung setia. Tahun ini, Ancol meluncurkan Promo Rekreasi Hemat (Flash Sale) serta Kontes Foto Se-RT “Senyum Dulu ke Ancol Kemudian” yang dapat diikuti masyarakat Jakarta.

    Dalam promo flash sale tersebut, setiap pembelian satu tiket melalui laman resmi www.ancol.com pada 4 September 2025 akan langsung mendapatkan satu tiket gratis. Tiket promo ini berlaku untuk kunjungan mulai 5 hingga 30 September 2025. Program ini bisa digunakan di lima destinasi populer Ancol, yakni Dunia Fantasi (Dufan), Sea World Ancol, Samudra, Atlantis, dan Jakarta Bird Land.

    Selain promo hemat, Ancol juga mengajak warga Jakarta merayakan kebersamaan melalui Kontes Foto Se-RT. Dengan tema “Senyum Dulu ke Ancol Kemudian”, kontes ini mengundang partisipasi warga dari berbagai RT di Jakarta. Foto terbaik berkesempatan memenangkan tiket rekreasi gratis ke berbagai wahana unggulan Ancol. Informasi lengkap syarat dan ketentuan dapat diakses melalui akun Instagram resmi @ancoltamanimpian.

    Direktur Operasional PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, Eddy Prastiyo, menyatakan bahwa program ini dirancang khusus untuk memberikan pengalaman lebih bagi para pengunjung.

    “Program spesial ini hadir untuk pelanggan setia dengan menawarkan nilai tambah sekaligus kualitas layanan terbaik. Kami ingin semakin banyak masyarakat yang dapat berwisata ke Ancol dengan mudah, sehingga ke depan loyalitas pelanggan terhadap Ancol semakin meningkat,” ujar Eddy.

    Hari Pelanggan Nasional 2025 bukan hanya menjadi momentum penghargaan bagi pengunjung, tetapi juga pengingat bagi Ancol Taman Impian untuk terus berinovasi, memperkuat pelayanan, serta menghadirkan pengalaman rekreasi yang berkesan bagi seluruh lapisan masyarakat.

     

     

  • Ketika Cinta dan Tradisi Beradu Teaser Yakin Nikah Hangat dan Relatable

    Ketika Cinta dan Tradisi Beradu Teaser Yakin Nikah Hangat dan Relatable

    Palapanews.Asia, Jakarta – Setelah merilis first look dan teaser poster yang sempat mencuri perhatian publik, Adhya Pictures kini resmi memperkenalkan teaser trailer film terbarunya, Yakin Nikah. Film yang dibintangi Enzy Storia ini semakin menunjukkan konflik hangat namun penuh dilema yang kerap dialami banyak orang: tekanan menikah karena desakan keluarga dan ekspektasi sosial.

    Disutradarai oleh Pritagita Arianegara dengan naskah garapan Bene Dion Rajagukguk, Sigit Sulistyo, dan Erwin Wu, serta pengembangan cerita oleh tim kreatif IMAJINARI, Yakin Nikah hadir sebagai drama romantis bernuansa ringan, manis, namun tetap sarat makna tentang keberanian memilih jalan hidup sendiri.

    Dalam teaser, penonton diperlihatkan sosok Niken (Enzy Storia) yang tiba-tiba didesak keluarganya untuk segera menikah setelah adiknya, Anggi (Amanda Rigby), dilamar kekasihnya, Danny (Arya Vasco). Situasi ini membuat Niken harus menghadapi tekanan untuk segera melangkah ke pelaminan bersama sang pacar, Arya (Maxime Bouttier). Namun, kesibukan Arya yang membuatnya kerap abai justru menimbulkan kebimbangan: apakah Arya benar-benar pasangan yang tepat.

    Ketegangan makin bertambah saat teaser menutup dengan kejutan: kemunculan Gerry (Jourdy Pranata) yang menatap Niken penuh tanda tanya. Kehadiran tokoh baru ini seakan membuka pintu dinamika lain dalam kehidupan Niken, sekaligus membuat penonton penasaran arah cerita selanjutnya.

    Teaser Yakin Nikah memperlihatkan nuansa film yang penuh humor segar, chemistry natural para pemain, serta konflik keluarga yang dekat dengan realitas sehari-hari. Film ini bukan hanya menawarkan kisah cinta manis, tetapi juga refleksi tentang pilihan: menikah demi tuntutan tradisi, atau karena keyakinan hati sendiri.

    “Yakin Nikah adalah film tentang keberanian-keberanian untuk jujur pada diri sendiri, dan keberanian untuk memilih di antara desakan waktu dan tekanan keluarga,” ujar sutradara Pritagita Arianegara.

    Selain menjadi debut Enzy Storia sebagai pemeran utama di layar lebar, film ini juga diperkuat jajaran aktor dan aktris ternama seperti Maxime Bouttier, Jourdy Pranata, Amanda Rigby, Ersa Mayori, Tora Sudiro, Agnes Naomi, Arya Vasco, Lukman Sardi, Izabel Jahja, Tissa Biani, Dul Jaelani, Agung Karmalogy, hingga Indian Akbar.

     

     

  • Seribu Tukik Penyu Sisik, Sejuta Harapan untuk Laut yang Lestari

    Seribu Tukik Penyu Sisik, Sejuta Harapan untuk Laut yang Lestari

    Palapanews.Asia, Jakarta – Upaya menjaga kelestarian satwa laut terus dilakukan. PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta, Kementerian Kehutanan RI, dan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu menggelar kegiatan pelepasliaran tukik penyu sisik (Eretmochelys imbricata) di Pulau Bidadari, Kepulauan Seribu.

    Acara yang berlangsung pada Kamis, 21 Agustus 2025 ini melibatkan banyak pihak, mulai dari instansi pemerintah, akademisi, komunitas pecinta lingkungan, hingga media. Turut hadir pula kelompok Teens Go Green, Jakarta Birdwatching Society, serta berbagai konten kreator yang ikut menyuarakan pesan konservasi.

    Mengusung tema “Seribu Tukik Sejuta Harapan”, kegiatan ini menjadi simbol komitmen menjaga keberlangsungan populasi penyu sisik yang kini berstatus kritis menurut IUCN. Spesies ini dikenal memiliki perilaku unik yang disebut natal homing—kembali ke pantai tempat menetas untuk bertelur. Oleh karena itu, keberadaan pantai yang sesuai sangat menentukan siklus hidupnya.

    Pulau Bidadari dinilai sebagai salah satu habitat potensial untuk penyu sisik. Hasil kajian BKSDA menunjukkan, pulau ini memiliki garis pantai rata-rata 18,46 meter dengan kemiringan 5,8°, kondisi yang ideal untuk proses peneluran. Tekstur pasir, kelembaban, serta tingkat ancaman predator di pulau ini juga masih mendukung kelangsungan hidup penyu.

    Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, Winarto, menyampaikan rasa bangganya dapat terlibat langsung dalam kegiatan konservasi ini.

    “Melalui pelepasliaran tukik penyu sisik, kami tidak hanya berupaya menjaga keanekaragaman hayati laut, tetapi juga mengajak masyarakat untuk memahami pentingnya peran ekosistem pesisir dan laut. Harapannya, langkah kecil ini bisa menjadi inspirasi agar lebih banyak pihak bergerak bersama melestarikan alam Indonesia,” ujarnya.

    Sebelum pelepasliaran, para peserta mendapatkan arahan mengenai prosedur yang tepat agar tukik dapat dilepas dengan aman. Kegiatan ini juga dilengkapi dengan sesi edukasi tentang konservasi penyu serta pengamatan burung (bird watching), memperkenalkan kekayaan ekosistem Pulau Bidadari kepada masyarakat luas.

    Penyu sisik bukan hanya bagian penting dari rantai ekosistem laut, tetapi juga indikator kesehatan lingkungan pesisir. Dengan melepasliarkan tukik, diharapkan populasi penyu sisik dapat terus bertambah, sekaligus memperkuat kesadaran publik tentang pentingnya menjaga alam.

    Melalui kegiatan ini, pesan utama yang ingin disampaikan adalah sederhana: menjaga penyu berarti menjaga laut, dan menjaga laut berarti menjaga masa depan generasi mendatang.

     

     

  • Rilis Poster dan Trailer Perempuan Pembawa Sial, Mitos Bahu Laweyan Jadi Sorotan

    Rilis Poster dan Trailer Perempuan Pembawa Sial, Mitos Bahu Laweyan Jadi Sorotan

    Palapanews.Asia, Jakarta – Film horor terbaru garapan Fajar Nugros, Perempuan Pembawa Sial, akhirnya merilis trailer dan poster resminya. Mengangkat mitos kuno Bahu Laweyan, sebuah kutukan yang menimpa perempuan setelah menikah. Film ini dikemas dalam balutan horor penuh ketegangan sekaligus membawa pesan budaya.

    Dalam cuplikan trailer, penonton diajak menyelami kisah Mirah (diperankan Raihaanun) yang hidupnya berubah drastis setelah terkena kutukan tersebut. Ia mulai dianggap pembawa sial oleh masyarakat hingga tragedi menimpa keluarganya. Sang suami meninggal usai menyaksikan penampakan menyeramkan berupa delman dengan kusir tanpa kepala dan kain laweyan yang menari di tengah malam.

    Sutradara Fajar Nugros menyebut, film ini bukan sekadar menawarkan ketakutan.

    “Bagi saya, horor selalu menjadi medium untuk bercerita tentang sesuatu yang lebih dalam. Bahu Laweyan ini bukan sekadar mitos, tapi juga refleksi tentang bagaimana masyarakat memperlakukan perempuan. Saya ingin penonton merasakan ngeri sekaligus merenung,” ungkap Fajar.

    Aktris Raihaanun yang memerankan tokoh utama mengaku peran Mirah sangat menantang secara emosional.

    “Mirah itu sosok perempuan yang harus menanggung stigma dan tuduhan tanpa bisa melawan. Membawakan karakternya membuat saya lebih dekat dengan realitas banyak perempuan yang kerap disalahkan dalam situasi sulit,” ujar Raihaanun.

    Sementara itu, eksekutif produser Winston Utomo menuturkan bahwa pilihan mitos Bahu Laweyan bukan tanpa alasan.

    “Cerita ini unik, jarang sekali disentuh di layar lebar, padahal menyimpan filosofi mendalam. Kami ingin menghadirkan horor yang otentik, rooted pada kearifan lokal, tapi tetap relevan dengan penonton modern,” kata Winston..

    Pemain lain, Arswendy Bening Swara, yang turut mendukung film ini, juga menilai bahwa Perempuan Pembawa Sial menghadirkan sesuatu yang berbeda.

    “Kekuatan film ini ada pada atmosfernya yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, jadi horornya terasa lebih nyata. Penonton akan merasa tidak hanya menonton, tapi seolah ikut berada di dalam kisah Mirah,” ujar Arswendy.

    Dengan sentuhan mitos, horor, sekaligus refleksi sosial, Perempuan Pembawa Sial diharapkan menjadi tontonan yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga membuka ruang diskusi tentang prasangka dan stigma yang masih hidup di tengah masyarakat.

    Film ini akan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada 18 September 2025.