Penulis: Dina Mariyana

  • Alas Roban di Layar Lebar: Horor Sunyi, Trauma Ibu, dan Jejak Spiritual di Jalur Legendaris

    Alas Roban di Layar Lebar: Horor Sunyi, Trauma Ibu, dan Jejak Spiritual di Jalur Legendaris

    Palapanews.Asia, Jakarta – Alas Roban selama ini dikenal lebih dari sekadar jalur penghubung antarkota. Hutan lebat yang diselimuti kabut tiba-tiba dan perasaan ganjil yang kerap muncul tanpa sebab jelas menjadikannya bagian dari ingatan kolektif masyarakat, diwariskan sebagai cerita dari generasi ke generasi.

    Nuansa itulah yang diangkat dalam film Alas Roban. Dalam acara press conference dan press screening di XXI Epicentrum, Rasuna Said, Senin (5/1/2026), sutradara Hadrah Daeng Ratu memaparkan pendekatan horor yang berbeda dari kebanyakan film sejenis. Ia menegaskan bahwa film ini tidak bertumpu pada jump scare atau adegan gore.

    “Ini road movie horor yang mengandalkan emosi dan pesan moral. Ketakutan lahir dari perjalanan batin karakter, bukan dari kejutan visual semata,” kata Hadrah.

    Cerita berfokus pada perjuangan seorang ibu demi anaknya. Trauma masa lalu, kondisi psikologis, serta pengalaman hidup para karakter menjadi sumber utama rasa takut yang perlahan dibangun. Horor dalam film ini hadir secara halus, merayap melalui emosi dan konflik internal.

    Selain dari karakter, Alas Roban sendiri diposisikan sebagai ruang hidup yang sarat makna. Bagi Hadrah, hutan ini menyimpan cerita kolektif milik siapa pun yang pernah melintasinya. Setiap perjalanan seolah meninggalkan kisah—baik berupa pengalaman ganjil maupun cerita mistis yang terus hidup di tengah masyarakat.

    Atmosfer mencekam terutama dihadirkan lewat jalur lama Alas Roban, tanpa memaksakan efek kejut berlebihan. Penonton diajak merasakan ketegangan yang tumbuh perlahan, seiring perjalanan para tokoh.

    Di sisi lain, penulis skenario Evelyn Afnilia mengungkapkan proses penulisan film ini dilakukan dengan cara yang tak lazim. Ia terjun langsung ke Alas Roban, menyusuri hutan pada siang hingga malam hari.

    “Risetnya tidak hanya lewat cerita. Kami berdialog dengan warga, tokoh adat, puncen, sampai dalang,” ujar Evelyn.

    Baginya, Alas Roban merupakan pengalaman pertama mengembangkan cerita horor langsung di lokasi kejadian. Riset dilakukan tidak hanya secara naratif, tetapi juga spiritual. Ia menggali sejarah pembukaan hutan yang diyakini penuh ritual, sekaligus hubungan manusia dengan alam dan leluhur.

    Dengan pendekatan yang tidak mengandalkan sosok hantu konvensional, film Alas Roban diharapkan mampu memberi pengalaman emosional yang mendalam. Kolaborasi sutradara dan penulis skenario ini ingin menghadirkan horor yang bukan sekadar menakutkan, tetapi juga mengajak penonton untuk berefleksi.

     

     

  • Ancol Salurkan Hasil Penjualan Tiket untuk Korban Bencana di Sumatra

    Ancol Salurkan Hasil Penjualan Tiket untuk Korban Bencana di Sumatra

    Palapanews.Asia, Jakarta – PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk menunjukkan komitmen sosialnya dengan menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak bencana di wilayah Sumatra. Bantuan tersebut berasal dari donasi sebesar 10 persen hasil penjualan tiket masuk Ancol pada 31 Desember 2025.

    Dari penjualan tiket kunjungan pada malam pergantian tahun tersebut, Ancol berhasil menghimpun dana sebesar Rp145.034.550. Jumlah itu kemudian dibulatkan menjadi Rp150 juta dan disalurkan sebagai bantuan pemulihan bagi warga yang terdampak bencana.

    Donasi tersebut berasal dari penjualan tiket baik secara daring melalui situs resmi Ancol maupun pembelian langsung di loket Pintu Gerbang Utama. Tercatat sebanyak 41.597 pengunjung memadati kawasan Ancol pada hari terakhir 2025, dengan total omzet penjualan tiket mencapai lebih dari Rp1,45 miliar.

    Dana bantuan telah disalurkan melalui Baznas Bazis DKI Jakarta dan akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar serta mendukung pemulihan masyarakat terdampak bencana di Sumatra. Langkah ini menjadi bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) yang secara konsisten dijalankan Ancol.

    Manajemen Ancol menyampaikan keyakinannya bahwa semangat kebersamaan dan kepedulian masyarakat dapat membantu para korban bangkit kembali. Perusahaan juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung upaya kemanusiaan dan meringankan beban masyarakat yang terdampak musibah.

     

     

  • Ancol Salurkan Sebagian Penjualan Tiket untuk Bantuan Bencana di Sumatra

    Ancol Salurkan Sebagian Penjualan Tiket untuk Bantuan Bencana di Sumatra

    Palapanews.Asia, Jakarta – PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk menyalurkan 10 persen dari hasil penjualan tiket masuk untuk membantu penanganan korban bencana di Sumatra. Kebijakan ini berlaku untuk pembelian tiket kunjungan pada 31 Desember 2025 melalui Pintu Gerbang Utama Ancol, baik pembelian langsung maupun daring.

    Program tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) Ancol sebagai badan usaha milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Melalui langkah ini, Ancol menyatakan komitmennya untuk berkontribusi dalam upaya kemanusiaan di tengah situasi bencana.

    Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, Winarto, menyampaikan bahwa aspek kepedulian sosial menjadi bagian dari kebijakan perusahaan dalam menjalankan kegiatan usaha.

    “Kami percaya bahwa kebahagiaan yang dihadirkan melalui Ancol dapat berjalan seiring dengan kepedulian terhadap sesama. Melalui program ini, kami ingin mengajak masyarakat untuk bersama-sama berbagi dan menghadirkan harapan bagi saudara-saudara kita yang terdampak bencana di Sumatra,” ujarnya.

    Menurutnya, partisipasi masyarakat melalui pembelian tiket diharapkan dapat memberikan dukungan bagi proses pemulihan masyarakat terdampak bencana di Sumatra.

    Dana yang dihimpun akan disalurkan melalui lembaga kemanusiaan yang memiliki rekam jejak dalam penanganan bencana, dengan fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar dan bantuan pemulihan. Ancol juga menyatakan akan menyampaikan informasi terkait penyaluran donasi secara terbuka kepada publik.

    Dengan adanya kebijakan ini, penjualan tiket pada akhir tahun tidak hanya berfungsi sebagai akses kunjungan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya penggalangan dana untuk bantuan kemanusiaan.

     

     

  • Serap Aspirasi Ojol hingga Jurnalis, Happy Djarot Tegaskan Empat Pilar Bukan Sekadar Slogan

    Serap Aspirasi Ojol hingga Jurnalis, Happy Djarot Tegaskan Empat Pilar Bukan Sekadar Slogan

    Palapanews.Asia, Jakarta – Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) daerah pemilihan DKI Jakarta, Hj. Happy Djarot, menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Jakarta Utara, Senin (29/12/2025). Kegiatan ini menjadi ruang dialog terbuka antara wakil rakyat dengan berbagai elemen masyarakat, mulai dari pengemudi ojek online (ojol), insan pers, hingga generasi muda.

    Dalam pemaparannya, Hj. Happy Djarot menegaskan bahwa Empat Pilar Kebangsaan Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan fondasi utama yang menjaga Indonesia tetap kokoh di tengah tantangan zaman.

    “Empat pilar ini bukan hanya hafalan atau slogan. Nilai-nilainya harus dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, apalagi di tengah dinamika sosial, ekonomi, dan teknologi yang terus berkembang,” ujarnya.

    Tak sekadar menyampaikan materi, kegiatan tersebut juga diwarnai dengan dialog interaktif. Hj. Happy membuka ruang seluas-luasnya bagi peserta untuk menyampaikan aspirasi dan persoalan yang mereka hadapi.

    “Saya ingin mendengar langsung apa yang dirasakan masyarakat. Aspirasi itu tugas saya untuk menjembatani dan memperjuangkannya sesuai kewenangan,” tegasnya.

    Salah satu aspirasi datang dari komunitas ojek online Pademangan. Perwakilannya, Supri, mengeluhkan belum adanya perlindungan hukum yang jelas bagi pengemudi ojol. Ia menyoroti praktik suspend hingga pemutusan kemitraan sepihak oleh aplikator tanpa penjelasan yang transparan.

    “Kami bekerja di jalan dengan segala risiko. Tapi ketika di-suspend atau diputus mitra, sering kali tanpa kejelasan. Kami berharap keadilan sosial benar-benar hadir, seperti sila kelima Pancasila,” ungkap Supri.

    Menanggapi hal tersebut, Hj. Happy mengaku prihatin dan menilai pekerja berbasis aplikasi memang membutuhkan payung hukum yang lebih kuat. Namun, ia menekankan pentingnya data dan kajian yang komprehensif agar perjuangan tersebut memiliki dasar yang kuat.

    “Saya juga terkejut mendengar pemutusan mitra tanpa kesalahan yang jelas. Ini persoalan serius, tapi harus kita dorong dengan data agar kebijakan yang lahir benar-benar adil,” katanya.

    Aspirasi juga disampaikan dari kalangan pers. Jerry Patty, perwakilan jurnalis, menyoroti masih adanya kriminalisasi terhadap wartawan, terutama dalam kerja jurnalistik investigatif, meski Undang-Undang Pers telah mengatur kebebasan pers.

    Menanggapi hal itu, Hj. Happy menegaskan bahwa pejabat publik yang bekerja dengan benar tidak perlu takut terhadap pemberitaan.

    “Wartawan punya kode etik. Kalau ada yang keliru, luruskan secara terbuka, bukan dengan intimidasi atau kriminalisasi,” tegasnya.

    Sementara itu, perwakilan media sosial publik, Martin, mempertanyakan peran DPD RI dalam penanganan bencana nasional serta fenomena pesimisme generasi muda yang ramai diperbincangkan melalui narasi “Indonesia Cemas” atau “Indonesia Gelap”.

    Hj. Happy pun menjelaskan perbedaan fungsi DPD RI dan DPR RI. Menurutnya, DPD RI tidak memiliki kewenangan anggaran dan bersifat independen.

    “Kami hanya empat orang di setiap provinsi dan tidak mewakili partai. Tugas kami menyerap aspirasi dan menjembatani persoalan daerah ke pemerintah pusat maupun daerah,” jelasnya.

    Dalam kesempatan itu, Hj. Happy juga menyoroti menurunnya pemahaman nilai-nilai Pancasila di kalangan generasi muda, yang salah satunya dipengaruhi oleh derasnya arus informasi di media sosial. Ia menekankan pentingnya peran keluarga dalam membentuk karakter dan optimisme anak-anak.

    “Sebagai orang tua, tugas kita bukan hanya melahirkan, tapi mendidik, mendampingi, memberi kasih sayang, dan memastikan gizi anak terpenuhi. Indonesia Emas dimulai dari keluarga,” ujarnya.

    Menutup kegiatan, Hj. Happy Djarot mengajak masyarakat untuk tetap optimistis, menjaga kesehatan, serta memperkuat nilai kebangsaan dari lingkungan terdekat.

    “Indonesia akan maju jika warganya sehat, optimis, dan berpegang teguh pada nilai Pancasila. Semua itu dimulai dari rumah dan komunitas kita masing-masing,” pungkasnya.

     

     

  • BAPINDRA Siapkan Pemandu Wisata Olahraga Profesional, Dorong Sport Tourism dan UMKM Nasional

    BAPINDRA Siapkan Pemandu Wisata Olahraga Profesional, Dorong Sport Tourism dan UMKM Nasional

    Palapanews.Asia, Jakarta – Barisan Penegak Indonesia Raya (BAPINDRA) kembali menegaskan komitmennya dalam pengembangan sport tourism nasional melalui Pelatihan Pemandu Wisata Olahraga yang digelar selama dua hari, 26–27 Desember 2025, di Hotel Shankee, Jakarta. Kegiatan ini menjadi upaya strategis BAPINDRA dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul sekaligus memperkuat peran UMKM dalam ekosistem wisata olahraga.

    Ketua Umum BAPINDRA, Erlan Suherlan, S.H., dalam sambutannya menyampaikan bahwa wisata olahraga memiliki potensi besar sebagai penggerak industri olahraga dan ekonomi kreatif. Namun, potensi tersebut hanya dapat dimaksimalkan jika didukung oleh pemandu wisata olahraga yang profesional, adaptif, dan memahami kebutuhan lapangan.

    “Pemandu wisata olahraga bukan sekadar pendamping kegiatan, tetapi bagian penting dari kualitas event dan destinasi. Mereka berperan langsung dalam membangun pengalaman peserta,” ujar Erlan.

    Pelatihan ini diikuti oleh peserta dari beragam latar belakang, mulai dari pelaku event organizer (EO), UMKM, jurnalis, hingga praktisi dan pemerhati olahraga. Selama dua hari, peserta dibekali materi komprehensif, mulai dari kebijakan nasional pengembangan wisata olahraga, standar kompetensi pemandu, manajemen risiko dan pertolongan pertama, hingga teknik pemanduan yang aplikatif.

    BAPINDRA juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI), khususnya Deputi Bidang Pengembangan Industri Olahraga, atas dukungan penuh terhadap terselenggaranya kegiatan ini. Kehadiran para narasumber dan partisipasi aktif peserta turut menjadi faktor keberhasilan pelatihan.

    Mewakili Kemenpora RI, Margono menegaskan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat dalam membangun sport tourism. Ia berharap pelatihan ini menjadi awal dari jejaring kerja yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial.

    “Pelatihan ini harus berlanjut dalam bentuk kolaborasi nyata di lapangan,” ujarnya sebelum secara resmi membuka kegiatan.

    Memasuki hari kedua, kegiatan dibuka oleh Usman, pembawa acara sekaligus panitia pelaksana dari BAPINDRA. Ia menekankan bahwa rangkaian materi hari terakhir merupakan rangkuman dari keseluruhan proses pelatihan yang akan menjadi bahan laporan kepada pemangku kepentingan, khususnya Kemenpora RI. Usman juga menegaskan kesiapan BAPINDRA dalam menyediakan SDM pemandu wisata olahraga apabila dibutuhkan oleh pemerintah maupun stakeholder lainnya.

    Materi hari terakhir diisi dengan pembahasan Strategi Pemasaran Paket Wisata Olahraga dan Event oleh Ricky Sucipto, S.H., dilanjutkan dengan penguatan peran UMKM, sesi studi kasus, panel diskusi kolaborasi strategis, serta penyusunan rencana tindak lanjut dan komitmen bersama.

    Dalam sesi UMKM, Irfan menyoroti bahwa peluang keterlibatan UMKM dalam event wisata olahraga sangat terbuka. Menurutnya, tantangan utama bukan pada modal, melainkan pada kematangan konsep dan pemahaman pasar.

    “UMKM harus mampu melihat event olahraga sebagai peluang bisnis, bukan sekadar keramaian sesaat,” ujarnya.

    Sementara itu, Tarsi Eka Putra dalam sesi studi kasus mengungkapkan bahwa pengembangan wisata olahraga di Indonesia masih menghadapi tantangan dalam pemerataan dampak ekonomi. Ia mencontohkan kawasan Mandalika yang meskipun telah menjadi tuan rumah MotoGP, dampak ekonominya masih belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat luas.

    Menurut Tarsi, pengembangan sport tourism perlu diawali dengan perubahan mindset dan integrasi berbagai elemen, mulai dari olahraga, budaya, UMKM, hingga media digital, agar manfaatnya berkelanjutan.

    Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa event wisata olahraga memberikan multiplier effect signifikan. Pada 2025, perputaran ekonomi dari sektor ini tercatat mencapai sekitar Rp170,8 miliar, berasal dari akomodasi, konsumsi, transportasi, dan aktivitas wisata lokal yang melibatkan UMKM.

    MotoGP Mandalika disebut sebagai salah satu contoh event unggulan yang mampu mendorong perputaran ekonomi hingga triliunan rupiah. Namun demikian, tantangan seperti tingginya harga akomodasi, tiket, serta tekanan terhadap fasilitas publik masih menjadi catatan penting untuk pengembangan ke depan.

    Pelatihan ini ditutup dengan penyusunan rencana tindak lanjut, penandatanganan komitmen bersama, serta penyerahan sertifikat kepada peserta. Melalui kegiatan ini, BAPINDRA berharap dapat melahirkan pemandu wisata olahraga yang siap berkontribusi dalam pengembangan sport tourism nasional, dengan UMKM sebagai bagian tak terpisahkan dari ekosistemnya.

     

     

  • Libur Natal 2025, Dufan Jadi Magnet Wisata Keluarga

    Libur Natal 2025, Dufan Jadi Magnet Wisata Keluarga

    Palapanews.Asia, Jakarta – Libur Natal 2025 kembali menjadi momentum favorit masyarakat untuk berwisata bersama keluarga. Dunia Fantasi (Dufan) Ancol tercatat sebagai salah satu destinasi yang paling ramai dikunjungi. Sejak pagi hari, antrean panjang sudah terlihat di pintu masuk kawasan, dengan mayoritas pengunjung datang bersama keluarga dari wilayah Jabodetabek hingga luar daerah.

    Nuansa Natal terasa kental di seluruh area taman hiburan. Berbagai dekorasi khas seperti ornamen merah dan hijau menghiasi sudut-sudut Dufan, dipadukan dengan lantunan musik Natal yang menambah semarak suasana. Tak sedikit pengunjung yang memanfaatkan momen tersebut untuk berfoto bersama, mengabadikan kebersamaan di hari libur spesial ini.

    Sebagian besar wahana favorit tetap beroperasi seperti biasa. Permainan pemacu adrenalin seperti Halilintar, Tornado, dan Hysteria masih menjadi incaran pengunjung, sementara wahana ramah anak seperti Istana Boneka dan Bianglala dipenuhi keluarga yang membawa anak-anak. Meski harus menunggu lebih lama, banyak pengunjung mengaku tidak keberatan karena suasana Natal di Dufan memberikan pengalaman yang berbeda.

    “Sengaja pilih datang pas Natal, suasananya lebih seru. Walaupun ramai, tetap menyenangkan,” ujar Andi, salah satu pengunjung yang datang bersama keluarganya.

    Untuk mengantisipasi lonjakan wisatawan, manajemen Dufan menambah jumlah petugas di berbagai titik, termasuk area wahana dan jalur antrean. Informasi melalui papan petunjuk serta pengumuman rutin juga disiagakan guna membantu pengunjung mengatur waktu bermain. Area kuliner dan tempat istirahat pun menjadi favorit, terutama saat jam makan siang.

    Keramaian semakin terasa menjelang sore hingga malam hari. Lampu-lampu dekoratif mulai dinyalakan, menciptakan suasana yang semakin meriah. Beberapa hiburan tambahan turut disuguhkan untuk melengkapi pengalaman liburan Natal para pengunjung.

    Hingga berakhirnya masa libur Natal, Dufan diperkirakan masih akan dipadati wisatawan. Bagi banyak keluarga, menghabiskan waktu di taman hiburan ini telah menjadi tradisi tahunan untuk merayakan Natal dengan penuh keceriaan dan kebersamaan.

     

     

  • Menyongsong 400 Tahun Syekh Yusuf Al Makassari, Indonesia Perkuat Diplomasi Budaya Global

    Menyongsong 400 Tahun Syekh Yusuf Al Makassari, Indonesia Perkuat Diplomasi Budaya Global

    Palapanews.Asia, Jakarta – Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia memulai langkah awal menuju peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf Al Makassari yang akan jatuh pada 2026. Melalui kegiatan maklumat media yang digelar di Jakarta, pemerintah menegaskan bahwa peringatan ini tidak semata menjadi agenda historis, tetapi juga strategi penting dalam memperkuat diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional.

    Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Endah Tjahjani Dwirini Retnoastuti, menyampaikan bahwa Syekh Yusuf merupakan figur dunia dengan pengaruh lintas wilayah. Jejak pemikiran dan perjuangannya hidup di berbagai tempat, mulai dari Nusantara, Sri Lanka, hingga Afrika Selatan.

    “Syekh Yusuf Al Makassari adalah tokoh global. Melalui peringatan 400 tahun ini, Indonesia ingin menghadirkan kembali narasi besar tentang nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan spiritualitas yang bersifat universal,” ujar Endah.

    Ia menekankan, maklumat media ini menjadi ruang strategis untuk membangun pemahaman publik sekaligus menyatukan visi antara pemerintah, akademisi, komunitas budaya, dan media. Menurutnya, diplomasi kebudayaan tidak hanya berjalan melalui forum resmi antarnegara, tetapi juga melalui penguatan narasi sejarah dan tokoh-tokoh yang memiliki relevansi global.

    “Kegiatan ini adalah titik awal. Ke depan akan ada rangkaian program riset, produksi pengetahuan, hingga kegiatan kebudayaan yang melibatkan berbagai negara. Kami berharap kolaborasi ini dapat berjalan secara berkelanjutan,” tambahnya.

    Acara tersebut turut dihadiri perwakilan kementerian dan lembaga, akademisi, filolog, komunitas kebudayaan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, serta sejumlah organisasi yang selama ini aktif mengkaji warisan Syekh Yusuf. Perwakilan dari program Memory of the World juga hadir bersama para narasumber yang akan terlibat dalam rangkaian peringatan.

    Dalam kesempatan itu, peserta juga menyaksikan penayangan film pendek yang menggambarkan perjalanan hidup Syekh Yusuf Al Makassari dari Nusantara hingga Afrika Selatan. Film tersebut menjadi pengantar visual untuk memahami besarnya pengaruh Syekh Yusuf sebagai ulama, intelektual, sekaligus pejuang kemanusiaan yang melampaui batas geografis dan zaman.

    Melalui rangkaian kegiatan ini, Kementerian Kebudayaan berharap peringatan 400 tahun Syekh Yusuf Al Makassari dapat menjadi agenda bersama yang tidak hanya memperkuat identitas budaya nasional, tetapi juga menegaskan posisi Indonesia dalam percakapan kebudayaan dunia.

     

     

  • Taklimat Media 400 Tahun Syekh Yusuf Al Makassari, Fadli Zon: Jejak Sejarah Lintas Benua

    Taklimat Media 400 Tahun Syekh Yusuf Al Makassari, Fadli Zon: Jejak Sejarah Lintas Benua

    Palapanews.Asia, Jakarta – Indonesia bersiap menyambut peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf Al Makassari pada 2026 dengan langkah bersejarah. Usulan pemerintah Indonesia agar peringatan empat abad ulama dan pejuang asal Sulawesi Selatan itu masuk dalam agenda UNESCO Anniversary resmi disahkan pada Sidang Umum UNESCO ke-43 tahun 2025. Pengakuan ini menempatkan Syekh Yusuf sebagai tokoh dunia yang warisan pemikiran dan perjuangannya melintasi benua.

    Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon menyebut pengesahan tersebut sebagai momentum penting untuk mengingat kembali peran besar Syekh Yusuf dalam sejarah global.

    “Penetapan oleh UNESCO ini bukan sekadar peringatan angka, tetapi pengakuan dunia terhadap kontribusi Syekh Yusuf Al Makassari sebagai ulama, pejuang, dan tokoh moral lintas bangsa,” ujar Fadli Zon.

    Syekh Yusuf lahir pada 1626. Empat abad kemudian, namanya tetap hidup kuat di Indonesia, Sri Lanka, hingga Afrika Selatan. Di Cape Town, Afrika Selatan, Syekh Yusuf telah lama diakui sebagai pahlawan nasional, sementara di Indonesia ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional sejak 1995. Hal ini menjadikannya sosok langka: tokoh Indonesia yang memperoleh penghargaan pahlawan nasional dari dua negara.

    Menurut Fadli Zon, pengaruh Syekh Yusuf di Afrika Selatan sangat besar, terutama dalam membentuk kesadaran moral dan spiritual masyarakat yang tertindas kolonialisme.

    “Syekh Yusuf menjadi sumber inspirasi perjuangan melawan apartheid. Nelson Mandela berkali-kali mengutip pemikirannya dan menjadikannya teladan keteguhan dalam menghadapi penindasan,” kata Fadli.

    Sejarah mencatat, pada masa kolonial VOC Belanda, banyak ulama dan tokoh perlawanan dari Nusantara dibuang ke Tanjung Harapan. Dari pengasingan inilah lahir komunitas yang kini dikenal sebagai Cape Malay. Syekh Yusuf termasuk gelombang awal ulama Nusantara yang dibuang, disusul tokoh-tokoh lain seperti Tuan Guru Tidore, yang pada awal 1700-an mendirikan Masjid Al-Awwal di kawasan Bo-Kaap, Cape Town masjid pertama di Afrika Selatan.

    “Banyak situs keramat di Cape Town yang berasal dari tokoh-tokoh Nusantara. Ini bukti bahwa diaspora Indonesia memiliki peran besar dalam sejarah Afrika Selatan,” ujar Fadli Zon.

    Saat ini, diaspora Cape Malay di Afrika Selatan diperkirakan mencapai 2,7 juta jiwa. Meski sebagian besar telah terpisah dari bahasa dan budaya Indonesia akibat panjangnya sejarah penindasan dan keterputusan diplomatik, ikatan spiritual dan historis dengan Nusantara tetap terjaga.

    Menjelang peringatan 400 tahun Syekh Yusuf, pemerintah Indonesia merencanakan berbagai kegiatan internasional, mulai dari seminar, diskusi akademik, penerbitan buku, hingga pengusulan karya-karya Syekh Yusuf ke dalam program Memory of the World UNESCO. Pemerintah juga tengah mengupayakan pendirian Museum Syekh Yusuf di Cape Town, tepat di seberang makam beliau.

    “Kami ingin warisan Syekh Yusuf tidak hanya dikenang, tetapi juga dipelajari dan dihidupkan kembali. Pemikiran tasawuf, nilai kemanusiaan, dan semangat perlawanan terhadap ketidakadilan adalah warisan peradaban yang relevan hingga hari ini,” tutur Fadli Zon.

    Peringatan 400 tahun Syekh Yusuf Al Makassari diharapkan menjadi pengingat bahwa sejarah Indonesia tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung erat dengan sejarah dunia. Dari Gowa hingga Cape Town, dari pengasingan hingga pengakuan internasional, jejak Syekh Yusuf terus menjadi cahaya yang menembus batas zaman dan benua.

     

     

  • Ahmad Iskandar Tanjung Adukan Dugaan Pencemaran Nama Baik dan Provokasi ke Bareskrim Polri

    Ahmad Iskandar Tanjung Adukan Dugaan Pencemaran Nama Baik dan Provokasi ke Bareskrim Polri

    Palapanews.Asia, Jakarta – Ahmad Iskandar Tanjung mendatangi Bareskrim Polri, Jakarta, Senin (22/12/2025). Ia melaporkan dugaan tindak pidana yang dinilai merugikan dirinya dan keluarganya.

    Laporan itu disampaikan langsung ke Mabes Polri pada siang hari. Ahmad menilai ada dugaan pelanggaran hukum yang dilakukan sekelompok orang. Kasus tersebut diduga terjadi di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau. Dugaan pelanggaran meliputi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.

    Selain itu, Ahmad melaporkan dugaan pencemaran nama baik. Ia juga menyoroti dugaan tindakan provokasi terhadap masyarakat setempat. Ahmad mengaku dituding melakukan penipuan sebagaimana Pasal 378 KUHP. Namun, ia menyebut belum pernah dipanggil aparat penegak hukum.

    “Saya tidak pernah menerima panggilan pemeriksaan terkait tuduhan penipuan,” ujar Ahmad. Ia menyampaikan pernyataan itu di Mabes Polri.

    Ahmad menilai tuduhan tersebut tidak berdasar dan mencemarkan reputasinya. Ia menyebut dampaknya dirasakan langsung oleh keluarga.

    “Saya melaporkan dugaan pelanggaran UU ITE dan pencemaran nama baik,” katanya. Menurutnya, tuduhan tersebut melanggar Pasal 27 dan Pasal 28 UU ITE.

    Ia juga melaporkan dugaan pelanggaran Pasal 310 dan Pasal 311 KUHP. Pasal tersebut mengatur tindak pidana pencemaran nama baik. Ahmad menjelaskan tudingan itu disebarkan melalui media sosial. Konten tersebut berbentuk video dan pesan berantai.

    Ia menyebut konten itu menggunakan inisial yang merujuk kepadanya. Menurut Ahmad, publik dengan mudah mengaitkan inisial tersebut.  Akibat penyebaran konten itu, muncul tekanan dari sejumlah orang. Tekanan tersebut berupa tuntutan agar Ahmad diusir dari Karimun.

    “Tekanan itu sangat nyata dan membuat keluarga kami tertekan,” kata Ahmad. Ia menilai situasi tersebut berbahaya dan meresahkan.

    Ahmad juga mengungkap dugaan praktik provokasi massa. Ia menyebut adanya dugaan pemberian uang kepada sejumlah orang. Jumlah uang tersebut disebut sebesar Rp150.000 per orang. Uang itu diduga diberikan untuk menghasut masyarakat.

    “Ada video yang menyebut penerimaan uang Rp150 ribu,” ujarnya. Video tersebut, kata Ahmad, menjadi salah satu barang bukti.

    Ia mengaku membawa salinan video itu ke Bareskrim Polri. Ahmad berharap penyidik menelusuri kebenaran informasi tersebut. Menurut Ahmad, tudingan penipuan berkaitan dengan pekerjaannya. Ia diketahui mendampingi klien dalam perkara dugaan korupsi.

    Pendampingan hukum itu dilakukan di wilayah Kepulauan Riau. Ia menegaskan pendampingan dilakukan sesuai aturan hukum.

    “Saya bekerja sebagai pendamping hukum secara sah,” kata Ahmad. Ia menegaskan memiliki dasar hukum yang jelas.

    Ahmad membantah tudingan penipuan yang diarahkan kepadanya. Ia menilai tuduhan tersebut sebagai bentuk pembungkaman. Menurutnya, tudingan itu bertujuan melemahkan posisi kliennya. Kasus kliennya berkaitan dengan dugaan tindak pidana korupsi.

    Ahmad berharap laporan tersebut diproses secara profesional. Ia meminta aparat bertindak objektif dan transparan.

    “Saya percaya Polri akan bekerja secara adil,” ujar Ahmad. Ia berharap proses hukum berjalan tanpa tekanan pihak mana pun.

    Ahmad juga meminta perlindungan hukum bagi keluarganya. Ia menilai situasi yang berkembang cukup mengkhawatirkan. Hingga berita ini diturunkan, laporan tersebut masih dipelajari penyidik. Belum ada keterangan resmi dari pihak terlapor.

    Pihak kepolisian juga belum memberikan pernyataan resmi. Kompas masih berupaya menghubungi pihak terkait. Kasus ini menambah daftar laporan dugaan pencemaran nama baik. Perkara serupa kerap melibatkan penggunaan media sosial.

    Ahmad berharap kasus ini menjadi pembelajaran bersama. Ia menekankan pentingnya etika dalam menggunakan media digital.

     

     

  • Santri Tampil sebagai Kekuatan Baru Perfilman Nasional di Malam Anugerah SANFFEST 2025

    Santri Tampil sebagai Kekuatan Baru Perfilman Nasional di Malam Anugerah SANFFEST 2025

    Palapanews.Asia, Jakarta – Malam Anugerah Santri National Film Festival (SANFFEST) 2025 berlangsung semarak di Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Minggu malam (21/12). Lebih dari sekadar seremoni penghargaan, ajang ini menegaskan posisi santri sebagai bagian penting dalam arah masa depan budaya dan industri film Indonesia.

    Sejumlah tokoh hadir dalam malam puncak tersebut, di antaranya Neno Warisman ( Ketua Komite Santri Festival 2025), Dr. Fadli Zon, MSc. ( Menteri Kebudayaan Republik Indonesia), Fahri Hamzah (Wamen Perumahan dan Kawasan Permukiman), Ahmad Mahendra (Dirjen Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembaharuan Kebudayaan), Dr. Syaifullah Agam ), Naswardi, MM ( Ketua Lembaga Sensor ), Dr. Habiburrahman El Shirazy, Lc. MA ( Wakil Ketua Bidang Seni, Budaya, dan Peradaban Islam, Majelis Ulama Indonesia), Perwakilan dari Bank Syariah Indonesia, Dr. Erick Yusuf. Ninik L. Karim, Basrizal Koto., Dude Herlino.

    Dalam sambutannya, Fadli Zon menekankan bahwa film merupakan instrumen soft power yang sangat krusial bagi sebuah bangs. Indonesia, menurutnya, memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, bahkan ia menyebutnya sebagai “mega diversity”, yang perlu terus diolah dan disuarakan melalui karya-karya sinema.

    “Santri memiliki perspektif khas yang berakar pada nilai, etika, dan tradisi. Ketika perspektif itu diterjemahkan ke dalam film, ia dapat menjadi kekuatan budaya Indonesia, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujar Fadli Zon.

    SANFFEST 2025 mengangkat tema “Dari Jendela Santri Memandang Dunia”, sebuah refleksi semangat santri untuk berdialog dengan realitas global tanpa meninggalkan identitasnya. Tahun ini, festival tersebut mencatat partisipasi 125 film karya santri dari 115 pesantren yang tersebar di 20 provinsi. Capaian ini dipandang sebagai sinyal positif lahirnya generasi baru sineas pesantren di Indonesia.

    Pada kesempatan yang sama, Neno Warisman menyoroti pentingnya pendidikan film yang inklusif dan berkelanjutan bagi santri. Ia mengapresiasi komitmen SANFFEST yang tidak berhenti pada kompetisi, tetapi juga berfokus pada penguatan kapasitas melalui literasi film, pengembangan skenario, hingga dukungan distribusi karya.

    “SANFFEST adalah ikhtiar kebaikan. Ketika santri diberi ilmu dan ruang untuk berkarya, mereka tidak hanya menciptakan film, tetapi juga ikut membangun peradaban,” kata Neno.

    Malam Anugerah SANFFEST 2025 ditutup dengan pengumuman berbagai kategori penghargaan, termasuk Skenario Terbaik, yang menegaskan bahwa kekuatan utama sebuah film tetap bertumpu pada cerita dan gagasan.

    Dengan dukungan Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Agama Republik Indonesia serta rencana penguatan distribusi melalui platform digital dan kanal khusus SANFFEST, festival ini diharapkan terus berlanjut dan berkembang. SANFFEST bukan sekadar festival film, melainkan gerakan budaya yang menempatkan santri sebagai salah satu pilar penting masa depan perfilman Indonesia.