Penulis: Dina Mariyana

  • Film Perdana GJLS: Dari Canda Jadi Cerita

    Film Perdana GJLS: Dari Canda Jadi Cerita

    Palapanews.Asia, Jakarta – Trio komedian GJLS – Rigen Rakelna, Hifdzi Khoir, dan Ananta Rispo akhirnya menapaki babak baru dalam perjalanan karier mereka. Setelah sukses besar di dunia podcast dan panggung komedi, ketiganya akan merilis film perdana mereka yang berjudul GJLS: Ibuku Ibu-Ibu pada 12 Juni 2025 di seluruh bioskop Tanah Air.

    Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, Selasa (3/6), Rigen mengungkapkan rasa bahagia sekaligus bangga mewakili ketiganya.

    “Akhirnya mimpi ini jadi nyata. Ini bukan Cuma film, tapi hasil dari proses panjang dan kekompakan kami bertiga,” ujar Rigen.

    Film ini digarap bukan semata mengejar tren, melainkan sebagai bentuk ekspresi mereka dalam menyebarkan energi positif ke penonton. Menurut GJLS, proyek ini lahir dari semangat ‘iseng yang serius’, berangkat dari kesenangan, namun dijalani dengan sungguh-sungguh.

    Menariknya, meskipun diwarnai dengan humor khas GJLS, film ini juga menuntut kedalaman emosi dalam beberapa adegan dramatis. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi mereka.

    “Pas adegan sedih tuh malah pengen ketawa. Soalnya kita udah terlalu terbiasa ngelucu bareng,” kata Rispo.

    Kendati begitu, mereka memastikan bahwa setiap adegan tetap disampaikan dengan hati. Penonton akan melihat sisi lain dari GJLS, sisi yang lebih manusiawi dan emosional, tanpa kehilangan ciri khas jenaka mereka.

    Melalui Ibuku Ibu-Ibu, GJLS berharap bisa memperluas jangkauan penontonnya. Bukan hanya para penggemar podcast atau stand up comedy, tetapi juga publik yang ingin merasakan hiburan ringan namun mengena.

    Film ini menjadi tonggak baru bagi trio GJLS dalam menjajaki industri film, dan mereka yakin pengalaman menonton ini akan terasa berbeda dari komedi-komedi biasa di bioskop.

    “Kalau biasanya kita cuma muncul di layar kecil atau di panggung, kali ini kita hadir dengan cerita utuh di layar lebar. Semoga bisa bikin orang ketawa sekaligus merasa dekat sama kita,” tutup mereka.

     

  • “Debut Produksi Marcel Chandrawinata: The Dark House Sajikan Horor Psikologis di Baturaden”

    “Debut Produksi Marcel Chandrawinata: The Dark House Sajikan Horor Psikologis di Baturaden”

    Palapanews.Asia, Jakarta – Film horor terbaru berjudul The Dark House siap menyapa penonton di bioskop mulai 12 Juni 2025. Film ini disutradarai oleh Hans Wanaghi dan diproduksi oleh Infinix One Pictures, dengan aktor Marcel Chandrawinata turut terlibat sebagai salah satu produser.

    The Dark House mengisahkan pasangan suami istri, Dewi (Karina Ranau) dan Arya (Ade Bilal Perdana), yang memutuskan untuk berlibur ke sebuah penginapan di kawasan Baturaden. Namun, liburan yang awalnya tampak menyenangkan itu berubah menjadi pengalaman menyeramkan ketika mereka mulai mengalami kejadian-kejadian horor yang perlahan mengganggu kondisi mental mereka.

    Selain Karina dan Ade, film ini juga dibintangi oleh Delia Alena, Theo Culver, dan Roy Turaekha.

    Dalam konferensi pers yang digelar Senin (2/6) di Jakarta Selatan, Marcel Chandrawinata membagikan pengalamannya terjun ke dunia produksi film.

    “Akhirnya ingin mencoba sesuatu di belakang layar, ternyata cukup sulit,” ujar Marcel.

    Ia juga mengaku banyak belajar selama proses pembuatan film ini.

    “Biasanya sebagai aktor kita hanya fokus pada peran masing-masing, tapi sebagai produser, kita harus terlibat dalam semua aspek produksi,” tutur Marcel.

    Menariknya, keterlibatan Marcel dalam proyek ini juga membangkitkan minatnya terhadap genre horor.

    “Dulu aku nggak terlalu suka main film horor, tapi setelah terlibat dalam pembuatan The Dark House, aku malah jadi tertarik buat coba berakting di genre ini,” katanya.

    Dengan nuansa mencekam dan atmosfer khas pegunungan Baturaden, The Dark Horse diharapkan mampu memberikan pengalaman berbeda bagi para pecinta film horor di Tanah Air.

     

  • Sore: Istri dari Masa Depan, Sheila Dara & Dion Wiyoko Reuni dalam Kisah Cinta Lintas Waktu

    Sore: Istri dari Masa Depan, Sheila Dara & Dion Wiyoko Reuni dalam Kisah Cinta Lintas Waktu

    Palapanews.Asia, Jakarta – Masih ingat dengan mini series, Sore: Istri dari Masa Depan yang sempat viral di tahun 2017. Kabar gembira buat para penggemarnya. Kisah cinta unik yang penuh haru ini bakal kembali hadir, tapi kali ini dalam versi layar lebar yang lebih dalam dan emosional. Film Sore: Istri dari Masa Depan dijadwalkan tayang serentak di bioskop mulai 10 Juli 2025.

    Yang menarik, film ini kembali digarap oleh Yandy Laurens, sosok kreatif di balik versi mininya. Konon, proyek ini sangat personal bagi Yandy karena cerita diangkat langsung dari pengalaman emosionalnya. Diproduksi oleh Cerita Films, film ini siap memberikan sentuhan sinematik yang jauh lebih menyayat hati.

    Film ini kembali memasangkan Dion Wiyoko sebagai Jonathan dan Sheila Dara Aisha sebagai Sore. Chemistry keduanya yang pernah mencuri perhatian publik akan dihidupkan lagi dalam kisah cinta yang tak biasa.

    Jonathan digambarkan sebagai fotografer yang cuek terhadap kesehatannya. Tapi hidupnya berubah ketika ia bertemu dengan Sore, sosok istri yang misterius, penyayang, dan ternyata berasal dari masa depan.

    Sore datang bukan sekadar untuk mencintai, tapi untuk menyelamatkan hidup Jonathan. Misi penuh cinta dan pengorbanan ini dijamin bikin penonton tersentuh dan berpikir ulang soal arti cinta sejati.

    Dari web series ke layar lebar bukan sekadar memanfaatkan nostalgia. Yandy Laurens menjanjikan sesuatu yang lebih “menghantam hati”. Visual yang memukau, alur cerita yang lebih matang, dan sentuhan emosional yang mendalam siap membuat film ini jadi salah satu tontonan paling ditunggu tahun ini.

     

  • GJLS Rilis Poster Absurd dan Trailer Kocak “Ibuku Ibu-Ibu”

    GJLS Rilis Poster Absurd dan Trailer Kocak “Ibuku Ibu-Ibu”

    Palapanews.Asia, Jakarta – Trio komedian GJLS, Rigen Rakelna, Ananta Rispo, dan Hifdzi Khoir siap kembali mengocok perut lewat film terbaru mereka GJLS: Ibuku Ibu-Ibu. Film bergenre komedi ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 12 Juni 2025 mendatang, dan baru saja merilis poster serta trailer resminya yang langsung jadi bahan perbincangan netizen.

    Film GJLS: Ibuku Ibu-Ibu merupakan kolaborasi produksi antara Amadeus Sinemagna dan Legacy Pictures. Tak hanya menjadi debut layar lebar GJLS, film ini juga menjadi representasi suara generasi muda yang ingin tertawa di tengah tekanan hidup sehari-hari.

    Bukan GJLS namanya kalau tak menghadirkan kejutan. Poster resmi film ini tampil nyeleneh dan absurd sesuai DNA GJLS. Bagaimana tidak, seluruh wajah karakter dalam posternya sengaja dibikin blur. Bahkan ada satu sosok perempuan misterius yang wajahnya disamarkan total, bikin warganet makin kepo.

    Sutradara Monty Tiwa mengungkapkan bahwa proses syuting bersama trio GJLS adalah pengalaman syuting paling “goblok” yang pernah ia alami.

    “GJLS itu kayak syuting sambil nongkrong di warung kopi, script bisa berubah tiap 5 menit, bloopers lebih banyak dari take yang benar. Tapi justru di situ letak keajaibannya. Mereka absurd, tapi jujur dan penuh semangat. Saya dan kru ketawa setiap hari selama syuting.” ujar Monty dalam konfrensi pers yang digelar di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (23/5/2025).

    Indra Yudhistira, selaku Produser Eksekutif dari Amadeus, mengungkap bahwa proses kreatif di balik poster tersebut cukup penuh drama.

    “Banyak banget versi posternya, dari yang lucu sampai yang aneh-aneh. Kita debat panjang, saling lempar ide, sampai akhirnya sepakat dengan konsep blur ini,” ujar Indra.

    Indra menjelaskan bahwa poster blur ini bukan tanpa makna.

    “Blur di poster itu simbol dari kekacauan absurd yang jadi ciri khas GJLS. Film ini memang nggak menawarkan karakter yang sempurna, tapi lebih ke kekacauan yang tulus dan menghibur,” katanya.

    Sementara itu, trailer resmi yang sudah tayang di akun Instagram @gjls.ibuku.ibuibu dan @gjlsentertainment langsung banjir komentar lucu dari netizen. Beberapa adegan gokil di trailer membuat banyak yang mengaku tak sabar menontonnya di bioskop.

    Film Ibuku Ibu-Ibu sendiri berkisah tentang tiga bersaudara yang berusaha menggagalkan rencana ayah mereka untuk menikah lagi setelah sang ibu meninggal dunia. Dengan gaya khas GJLS, cerita ini dijamin bukan hanya penuh kekonyolan, tapi juga menyentuh.

    Siap-siap ketawa ngakak sekaligus tersentuh karena GJLS: Ibuku Ibu-Ibu bukan sekadar film komedi, tapi juga tentang keluarga, kehilangan, dan kasih sayang dalam balutan humor absurd.

     

  • Penyelewengan Gas Terungkap, Polisi Sita Ribuan Tabung dan Tangkap 10 Tersangka

    Penyelewengan Gas Terungkap, Polisi Sita Ribuan Tabung dan Tangkap 10 Tersangka

    Palapanews.Asia, Jakarta – Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri, mengungkap dua sindikat besar penyalahgunaan gas bersubsidi di wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Timur. Adapun total kerugian negara dari dua kasus penyelewengan gas itu mencapai Rp16,8 miliar.

    Adapun pengungkapan sindikat penyelewengan ini dibongkar polisi di daerah Jakarta Utara dan Jakarta Timur. Dari dua kasus tersebut, polisi menetapkan total 10 tersangka dan menyita lebih dari 1.100 tabung gas elpiji.

    “Dari pemeriksaan-pemeriksaan tadi, 10 orang dari dua TKP kita naikkan statusnya menjadi tersangka,” kata Direktur Tindak Pidana Tertentu (Dirtipidter) Bareskrim Polri, Brigjen Nunung Syaifuddin di Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis (22/5/2025).

    Nunung menjelaskan, bahwa kasus pertama teregister dengan laporan polisi nomor LP 52 tanggal 17 Mei 2025 dengan lokasi di Jalan Gang 21, Kelurahan Papanggo, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Dari perkara ini, kata Nunung, pihaknya menetapkan lima tersangka, yaitu KF, MR, W, P, dan AR.

    Dari lokasi ini, penyidik menyita 699 tabung gas subsidi 3 kilogram yang dipindahkan isinya ke tabung non-subsidi 12 kilogram. Selain itu, turut diamankan dua mobil pickup, peralatan penyuntikan gas, timbangan, alat komunikasi, hingga buku pembukuan.

     

     

     

     

     

     

  • “Waktu Maghrib 2”: Teror Jin dan Kesurupan di Lokasi Syuting

    “Waktu Maghrib 2”: Teror Jin dan Kesurupan di Lokasi Syuting

    Palapanews.Asia, Jakarta – Film Waktu Maghrib 2 bukan hanya menyuguhkan teror supranatural di layar, tapi juga menghadirkan pengalaman ekstrem. Disutradarai oleh Sidharta Tata dan diproduseri oleh Sunil Samtani, sekuel ini membawa kisah baru yang lebih mencekam dari film pertamanya.

    Para aktor muda seperti Muzakki Ramdhan, Sulthan Hamonangan, dan Ghazi Alhabsyi mengaku menghadapi tantangan tak biasa saat syuting film horor ini, saat wawancara konferensi pers di Epicentrum XXI, Jakarta, Rabu (21/5/2025).

    Jin Ummu Sibyan kembali hadir untuk meneror, kali ini di desa Giritirto, dan teror itu benar-benar terasa bahkan saat syuting berlangsung.

    Muzakki yang memerankan Endro mengungkapkan betapa intensnya peran yang ia mainkan.

    “Sebagai Endro, yang bisa dibilang 80 persen adegannya kesurupan, jadi lumayan mencekam. Tapi aku sangat menikmatinya karena ini pertama kali aku berperan segila ini,” ujar Muzakki.

    Ia juga menjalani transformasi dengan prostetik makeup, sesuatu yang baru baginya.

    “Pertama kali pakai prostetik untuk wajah kesurupan. Rasanya ngeri pas ngaca, tapi seru banget karena ini langkah besar di karierku,” tambahnya.

    Berbeda dengan Muzakki, Sulthan Hamonangan justru dibuat kewalahan oleh alat teknis yang digunakan saat syuting. Ia dan Muzakki harus menggunakan camera rig, kamera yang dipasang langsung di tubuh mereka untuk menangkap ekspresi saat adegan berlari.

    “Camera rig itu berat banget. Kita harus lari sambil bawa beban kamera di dada. Nggak ada kru yang pegangin, kita beneran lari sendiri,” jelas Sulthan.

    “Tapi seseru itu. Lari-lari dikejar tapi kamera terus ngerekam muka kita, kayak masuk langsung ke dalam rasa takutnya karakter,” timpal Muzakki.

    Ghazi Alhabsyi, yang baru pertama kali main film horor, tidak menyangka adegan bisa semencekam itu, bahkan membuatnya benar-benar takut.

    “Pas adegan dikejar Endro (Muzakki), dia berdarah-darah, bawa celurit, teriak-teriak… itu ngeri banget. Kita takut beneran!” ujar Ghazi.

    Sidharta Tata, sang sutradara, merasa puas karena para aktor mampu memberikan totalitas meski syuting berlangsung intens.

    “Saya bangga banget lihat mereka bisa masuk ke karakter dengan penuh. Horornya kerasa, tapi emosinya juga dapet. Mereka kerja luar biasa,” ujar Tata.

    Sementara itu, produser Sunil Samtani menyebut Waktu Maghrib 2 sebagai proyek horor yang lebih matang secara teknis dan emosional.

    “Kita ingin penonton tidak hanya ketakutan, tapi juga merasa terhubung. Ini bukan Cuma horor visual, tapi juga horor psikologis,” kata Sunil.

    Waktu Maghrib 2” tayang mulai 28 Mei 2025 di seluruh bioskop Indonesia. Siap-siap menjerit saat azan maghrib berkumandang.

     

  • Mimbar Bebas Salemba Bergerak: Seruan Penyelamatan Sistem Kesehatan Nasional

    Mimbar Bebas Salemba Bergerak: Seruan Penyelamatan Sistem Kesehatan Nasional

    Palapanews.Asia, Jakarta – Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-117, Ikatan Alumni FKUI (ILUNI FKUI) bersama Badan Eksekutif Mahasiswa Senat Mahasiswa FKUI (BEM SM FKUI) menyelenggarakan acara Mimbar Bebas Salemba Bergerak di Aula IMERI FKUI, Salemba. Acara ini berlangsung dari pukul 13.00 hingga 15.30 WIB dan dihadiri oleh mahasiswa, dosen, alumni, serta tokoh-tokoh penting di bidang pendidikan kedokteran dan kesehatan Indonesia.

    Acara ini merupakan respons atas berbagai kebijakan Kementerian Kesehatan yang belakangan mendapat kritik keras dari 158 Guru Besar FKUI, yang telah menyampaikan pernyataan sikap bertajuk Salemba Berseru pada 16 Mei 2025. Kebijakan-kebijakan tersebut dinilai berpotensi menurunkan mutu pendidikan kedokteran, termasuk pendidikan dokter spesialis, serta mengancam kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia.

    Dalam orasinya Mayjen TNI (PURN) dr. Budiman, SpBP-RE Mantan Kapuskes TNI Mantan Koordinator RS Darurat Covid-19, Wisma Atlit Kemayoran mengatakan bahwa tansformasi kesehatan Indonesia saat ini berpotensi menciptakan kerentanan dalam sistem ketahanan nasional apabila tidak dikoreksi secara strategis.

    Ketegangan antara Kementerian Kesehatan dan stakeholders profesional mengancam stabilitas dan efektivitas sistem layanan kesehatan kita. Sebagai mantan perwira tinggi TNI, saya tahu betul apa yang terjadi ketika seorang panglima kehilangan kepercayaan pasukannya. Menkes saat ini telah menjadi superbody yang otoriter.

    Sehubungan dengan hal tersebut, lemahnya strategi pembangunan kapasitas kesehatan di daerah 3T juga layak untuk menjadi sorotan. Program pengadaan teknologi kesehatan tertentu tanpa disertai kesiapan SDM dan sarana prasarana yang memadai dikhawatirkan akan menurunkan kualitas pelayanan. Minimnya partisipasi stakeholder dalam perumusan kebijakan menjadi akar dari berbagai masalah yang muncul.

    Untuk mengatasi permasalahan ini, beberapa rekomendasi diajukan, antara lain:

    1. Membangun kembali dialog strategis dengan stakeholder,

    2. Penguatan sistem keamanan dan kedaulatan data kesehatan,

    3. Moratorium liberalisasi pendidikan kedokteran,

    4. Penguatan layanan primer,

    5. Regulasi penempatan dokter yang adil,

    6. Evaluasi independen program-program transformasi bidang kesehatan,

    7. Evaluasi program-program intervensif yang keluar batas dalam pendidikan kedokteran spesialis, dan

    8. Memindahtugaskan Menkes ke ruang jabatan yang sesuai dengan keilmuannya.

    Sebagai penutup, dr. Budiman mengajukan lima seruan penting untuk menyelamatkan ketahanan kesehatan nasional. Mulai dari membangun kembali dialog strategis antar pemangku kepentingan, menghentikan liberalisasi pendidikan kedokteran, memperkuat layanan primer dan spesialis berbasis kebutuhan daerah, evaluasi independen transformasi kesehatan, hingga meninjau ulang sistem pendidikan spesialis.

     

     

  • “Legenda Kelam Malin Kundang: Ketika Luka Lama Kembali Menghantui”

    “Legenda Kelam Malin Kundang: Ketika Luka Lama Kembali Menghantui”

    Palapanews.Asia, Jakarta – Rumah produksi Come and See Pictures kembali hadir dengan proyek film terbarunya yang berjudul Legenda Kelam Malin Kundang. Meski masih mengusung genre misteri-thriller, kali ini Joko Anwar yang dikenal lewat karya-karyanya, memilih untuk berada di balik layar sebagai produser. Posisi sutradara dipercayakan kepada Kevin Rahardjo dan Rafki Hidayat.

    Film yang rencananya tayang akhir 2025 ini dibintangi oleh sejumlah nama besar seperti Rio Dewanto, Faradina Mufti, Vonny Anggraini, dan Nova Eliza.

    Mengangkat sisi gelap dari legenda Malin Kundang, film ini mengusung nuansa misteri yang kuat dan emosi yang berlapis. Rio Dewanto dipercaya memerankan Alif, seorang pelukis yang dihantui trauma masa kecil dan pergolakan batin.

    “Yang paling menantang adalah bagaimana membuat penonton benar-benar merasakan apa yang dirasakan Alif, tanpa harus selalu lewat dialog. Tatapan, gesture kecil, napas… semua itu harus bicara,” ungkap Rio saat jumpa pers di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Senin (19/5/2025).

    Berperan sebagai Nadine, istri dari Alif, Faradina Mufti menghadirkan karakter yang lembut namun penuh keteguhan.

    “Dia istri yang sangat mengayomi, menjaga perasaan suami dan anaknya dalam kondisi apa pun,” tutur Faradina.

    Aktris Vonny Anggraini juga ambil bagian dalam film ini dan mengaku peran yang ia mainkan adalah salah satu yang paling kompleks selama kariernya.

    “Di karakter ini, ada semua rasa: bahagia, marah, kecewa, luka, lalu bahagia lagi. Ini benar-benar seperti roller coaster emosi,” kata Vonny.

    Untuk menghidupkan perannya, Vonny mendalami micro-gesture dan micro-expression, serta berdiskusi intens dengan sutradara dan para lawan main, termasuk Rio Dewanto.

    “Kami juga bangun chemistry sebagai keluarga. Sama Rio, juga sama Jordan dan Emir yang jadi anak kami di film.” ujar Vonny.

    Sementara itu, Nova Eliza menyebut perannya dalam Legenda Kelam Malin Kundang sebagai salah satu yang paling menantang secara emosional sepanjang kariernya.

    “Kesedihan yang harus saya tampilkan itu tidak boleh meledak-ledak, tapi tetap terasa dalam. Menunjukkan luka, tapi tidak bisa ditunjukkan secara langsung,” ujar Nova.

    Film ini bukan sekadar reinterpretasi legenda, tapi juga eksplorasi psikologis dari luka dan konflik dalam keluarga.

     

  • Warung Mak Igun Resmi Dibuka: Makan Enak, Peluang Kerja

    Warung Mak Igun Resmi Dibuka: Makan Enak, Peluang Kerja

    Palapanews.Asia, Jakarta – Desainer dan selebritas kondang Ivan Gunawan kembali mencuri perhatian publik, bukan lewat karya busananya, melainkan lewat bisnis kulinernya. Ivan resmi membuka cabang keempat dari bisnis kuliner miliknya yang diberi nama Warung Nasi Kulit Mak Igun di kawasan Sunter, Jakarta (13/5).

    Dalam momen grand opening yang berlangsung meriah, Ivan mengungkap bahwa pembukaan warung ini sempat tertunda. “Opening-nya mundur-mundur terus karena kami mau pastikan semuanya siap. Pegawai sudah training, dapur sudah running. Jadi begitu buka, tinggal jalan,” ujar Igun.

    Tak tanggung-tanggung, setiap pembukaan cabang baru warung ini mampu menyerap hingga 50 tenaga kerja baru. Ivan menekankan bahwa ia tidak sekadar menganggap followers-nya sebagai fans, tapi juga potensi kolaborator.

    “Aku punya followers bukan cuma penggemar, tapi insya Allah bisa kerja bareng juga.” kata Igun.

    Meski namanya tercantum sebagai pemilik, Ivan mengaku dirinya tidak ikut turun langsung di dapur. “Wilayah dapur itu tugasnya King Abdi. Aku fokus ke branding dan sosial media. Kadang-kadang aja aku turun kalau pengin melayani langsung atau goreng kulit,” kata Igun.

    Tak hanya bicara soal bisnis, Ivan juga sempat disinggung mengenai kehidupan pribadinya, terutama soal pasangan. Saat ditanya apakah ia pernah merasa tertekan karena teman-temannya sudah menikah, pria yang akrab disapa Igun ini menjawab dengan tenang,

    “Teman-teman banyak yang nikah, tapi belum tentu bahagia. Aku akan nikah kalau ketemu yang benar-benar cocok. Bukan karena tuntutan.” ujarnya.

    Igun juga mengungkap rencananya untuk berangkat haji dalam waktu dekat. Menariknya, ia menjelaskan bahwa semua nama brand yang ia buat, termasuk “Mak Igun” sudah dipatenkan.

    “Aku enggak pernah bikin usaha yang enggak ada izinnya. Semua sudah aku haki-in. Termasuk nama aku sendiri.” ujar Igun.

    Ketika ditanya soal impiannya di masa tua, Ivan menyebut ingin menikmati hasil jerih payahnya. “Aku pengin hidup santai, enggak dikejar-kejar media. Bisa tinggal di pulau atau mungkin pindah ke Dubai. Uang masuk terus, tapi aku tinggal menikmati.” tuturnya.

    Ivan mengatakan bahwa membuka usaha bukan cuma soal cuan, tapi juga ladang pahala.

    “Warung ini bisa jadi tempat ibadah juga, karena bisa berbagi dan membuka lapangan pekerjaan.” tutupnya.

     

  • Kapolsek Bekasi Barat Pimpin Apel Gabungan Penertiban Atribut Ormas dan LSM

    Kapolsek Bekasi Barat Pimpin Apel Gabungan Penertiban Atribut Ormas dan LSM

    Palapanews.Asia, Bekasi Barat – Dalam upaya menciptakan lingkungan yang tertib dan nyaman bagi masyarakat, Kapolsek Bekasi Barat, AKP Wahyudi, SH., MH., memimpin langsung apel gabungan untuk penertiban atribut Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), pada Senin (12/5/2025). Apel dilaksanakan di halaman Kantor Kelurahan Jakasampurna, Jl. KH. Noer Ali Kalimalang, dan diikuti oleh sekitar 160 personel dari berbagai instansi.

    Kegiatan ini merupakan bentuk nyata kolaborasi Tiga Pilar terdiri dari Polri, TNI, dan Pemerintah Daerah dalam menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah Bekasi Barat. Unsur yang terlibat dalam kegiatan tersebut meliputi jajaran Polsek Bekasi Barat, Koramil 01/Kranji, ASN Kecamatan Bekasi Barat, Satpol PP, Dinas Perhubungan, Linmas, serta Pokdar Kamtibmas Bhayangkara.

    Dalam arahannya, AKP Wahyudi mengatakan bahwa keberadaan atribut Ormas dan LSM harus sejalan dengan peraturan daerah. Ia mengingatkan bahwa simbol atau spanduk yang mengandung unsur provokatif atau berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat tidak boleh dibiarkan terpasang di ruang publik.

    Pasca apel, kegiatan dilanjutkan dengan operasi penertiban terbagi dalam dua tim. Tim pertama dipimpin langsung oleh Kapolsek dan menyisir wilayah Kelurahan Jakasampurna dan Bintara. Sedangkan tim kedua, yang dipimpin oleh Wakapolsek, menyasar Kelurahan Kranji dan Bintara Jaya.

    Selama proses penertiban berlangsung, situasi tetap kondusif. Aparat gabungan berhasil menertibkan sejumlah atribut yang dipasang secara tidak sah atau melanggar aturan lokasi pemasangan.

    Penertiban ini merupakan langkah antisipatif dalam menjaga netralitas ruang publik dan meredam potensi konflik horizontal di tengah masyarakat, terutama menjelang dinamika sosial-politik yang mungkin berkembang.