Penulis: AdminPALAPA

  • Mendengar jeritan Hati seniman Betawi, Sebuah Diskusi Dari YASBI

    Mendengar jeritan Hati seniman Betawi, Sebuah Diskusi Dari YASBI

    PALAPANEWS.ASIA, JAKARTA –

    Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Budaya Betawi (YASBI) selenggarakan diskusi publik bertajuk “Mendengar Jeritan Hati Seniman Betawi” yang digelar di Cagar Budaya Betawi Setu Babakan, Jakarta Selatan, Senin (30/06/2025).

    Dalam sambutannya, ketua penyelenggara Jalih Pitoeng mengungkapkan bahwa acara tersebut sebagai bentuk keprihatinan terhadap nasib para pelaku seni dan budaya Betawi yang terzolimi karena uangnya di korupsi.

    Dibuka dengan semarak penampilan Tari Burung Raja Udang, Palang Pintu, Gambang Kromong, Silat Betawi, hingga Band Betawi, acara tersebut menjadi ajang refleksi sekaligus seruan untuk memperkuat komitmen pelestarian budaya lokal di tengah arus modernisasi.

    Diskusi publik ini juga menghadirkan beragam tokoh dari berbagai latar belakang, mulai dari para pegiat seni budaya, tokoh masyarakat dan jawara, budayawan, akademisi, legislator, hingga perwakilan ormas keagamaan.

    Jalih Pitoeng, Ketua Umum YASBI sekaligus aktivis pegiat anti-korupsi, memandu diskusi sebagai moderator.

    “Kami ingin suara seniman Betawi benar-benar didengar oleh bapaknya, dalam hal ini dinas kebudayaan. Jadi mereka bukan hanya sekedar seremonial belaka,” ungkap Jalih Pitoeng dalam pembukaannya, Senin (30/06/2025).

    “Saya hanya membuka gerbang perjuangan bagi para pegiat seni budaya Betawi agar mereka sadar bahwa uang mereka telah dikorupsi,’ lanjutnya menjelaskan.

    “Oleh karena itu, saya ingin akan lahir Pitoeng-Pitoeng muda untuk melanjutkan perjuangan ini,” katanya menandaskan.

    Sebelumnya, Aktivis Betawi yang dikenal lantang dan kritis ini juga mengajak para generasi muda untuk mempertahankan, mengembangkan sekaligus mempromosikan seni budaya Betawi ke kancah internasional.

    “Dalam rangka memperingati 498 kota Jakarta yang akan menjadi kota dunia dan berbudaya, maka harapan kita adalah agar para generasi muda mampu mempertahankan, mengembangkan serta mempromosikan seni budaya Betawi ke kancah internasional,” pinta Jalih Pitoeng melanjutkan.

    “Apalagi saat ini, diera digitalisasi dan globalisasi dimana batas dunia hanya berada diujung jari,” imbuhnya mengingatkan.

    “Apa yang kita lakukan disini saat ini bisa disaksikan dibelahan dunia lainnya. Begitu juga sebaliknya. Anak-anak kita lebih mencintai K-Pop ketimbang Gambang Kromong. Mereka lebih menyukai salad ketimbang gado-gado misalnya misalnya,” Jalih Pitoeng mengingatkan.

    Dalam pidatonya yang penuh semangat, ketua umum YASBI sekaligus ketua umum FORMASI (Forum Aliansi Masyarakat Anti Korupsi) ini juga menyinggung tentang pentingnya kerjasama dalam memelihara dan membangun budaya.

    “Kita tidak bisa bekerja sendirian,” imbuh Jalih Pitoeng.

    “Oleh karena itu kita butuh kerjasama dan sama-sama kerja,” tegasnya.

    “Oleh karena itu, dalam kesempatan yang singkat ini, saya ingin mengkonfirmasi tentang adanya isyu-isyu miring dan spekulasi negatif tentang adanya pendapat, anggapan dan tuduhan bahwa kehadiran YASBI bukan sebagai kompetitor atau pesaing bagi lembaga yang telah ada, tapi menjadi mitra,” Jalih Pitoeng menjelaskan.

    “Baik kepada para pegiat seni budaya, kepada pemerintah dalam hal ini dinas kebudayaan maupun terhadap lembaga yang telah ada seperti LKB misalnya,” lanjut Jalih Pitoeng menegaskan.

    “Bahkan saya sudah sering berkoordinasi dengan bang Haji Becky Mardani tentang kerjasama dan berbagi peran dalam memajukan budaya Betawi,” lanjutnya.

    “Hari inipun beliau sangat ingin hadir kesini. Namun karena ada acara yang bersamaan di Cibubur yang telah lama teragendakan, maka beliau hanya menitip salam buat kita semua,” kata Jalih Pitoeng.

    Menurut Jalih Pitoeng, YASBI yang dilahirkan dari rahim FORMASI yang berdarah-darah bahkan Caesar, bahwa YASBI memiliki tanggung jawab yang besar terhadap pelestarian dan pengembangan seni budaya Betawi.

    “YASBI ini terlahir dari rahim ibu kandungnya yaitu FORMASI,” kata Jalih Pitoeng.

    “Kami FORMASI bersama pak Fuji Surono yang juga dibantu oleh bang Ubay dan kawan-kawan, bukanlah hal yang mudah untuk mengungkap dugaan korupsi ratusan miliar di dinas kebudayaan DKI Jakarta,” kata Jalih Pitoeng.

    “Karena belasan tahun pristiwa ini belum pernah terjadi,” ungkapnya.

    “Jadi terungkapnya kasus dugaan korupsi ratusan miliar dinas kebudayaan ini bukan karena saya bang Jalih Pitoeng hebat. Bukan pula bang Ubay hebat,” sambungnya menjelaskan.

    “Tapi ini merupakan hasil dari kerjasama secara kolektif kolegial,” imbuhnya.

    “Terutama pak Fuji. Seorang ASN yang memiliki kepedulian tinggi terhadap seni budaya Betawi,” kata Jalih Pitoeng menandaskan.

    “Beliaulah yang mensuplai data dan dokumen yang sangat dibutuhkan dalam rangkap pengungkapan adanya korupsi dan manipulasi yang terstruktur di dinas kebudayaan DKI Jakarta,” Jalih Pitoeng menandaskan.

    “Jadi semua ini semata hanya karena Allah SWT,” tegasnya seraya mengutip salah satu ayat Al-Qur’an surat Muhammad.

    “Sehingga, jika ada pendapat dan tuduhan bahwa saya mencari panggung, mencari keuntungan recehan, itu adalah asumsi yang sangat keliru,” tegasnya.

    “Panggung saya sudah selesai. Tahun 2019 dimana saya dituduh sebagai otak perencana penggagalan pelantikan presiden dan saya dipenjara,” kenang Jalih Pitoeng.

    “Saya hanya ingin mengabdikan diri kepada bangsa ini yaitu bangsa Betawi,” ungkapnya.

    “Tak lupa dalam kesempatan yang berbahagia ini kita juga mengucapkan terimakasih kepada pihak Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta yang telah mendukung pengungkapan korupsi di dinas kebudayaan ini,” ungkap Jalih Pitoeng.

    “Kemudian, kami juga mengucapkan terimakasih kepada Dinas kebudayaan DKI Jakarta, baik bidang pembinaan maupun bidang pemanfaatan serta kami ucapkan terimakasih pula kepada pihak UPK Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan yang telah memberikan apresiasi kepada kita sekaligus mendukung acara ini,” kata Jalih Pitoeng memaparkan.

    “Semua ini atas bantuan dinas kebudayaan. Jika tidak, kita tidak akan berkumpul disini,” sambungnya menegaskan.

    “Oleh karena itu, perlu saya tegaskan bahwa acara ini adalah dari kita, oleh kita, untuk kita dan bukan dari atau untuk yang lain,” tegasnya.

    Sebagai salah satu penggagas, Jalih Pitoeng juga menegaskan bahwa YASBI bukan organisasi pengemis, pemeras apalagi penjilat.

    “YASBI dibangun tidak dalam orientasi mengemis atau memeras,” ungkapnya tegas dan lantang.

    “Perlu saya tegaskan, bahwa saya Jalih Pitoeng bukan tipikal orang yang gebrak meja pejabat lalu pulang bawa berkat,” Jalih Pitoeng menegaskan dengan suara menggema.

    “YASBI dibangun untuk melakukan upaya dan tindakan-tindakan korektif terhadap pristiwa koruptif dan manipulatif,” sambungnya.

    “Tapi YASBI dibangun dengan tujuan yang luhur dan mulia dalam menjaga, memelihara dan melestarikan budaya Betawi secara kooperatif dan konstruktif,” tegasnya melanjutkan.

    “YASBI juga dibangun bukan dengan orientasi mengemis atau mendapatkan dana hibah. Tapi YASBI dibangun untuk berperan aktif memberikan ide dan gagasan serta merumuskan formulasi tentang peta jalan dinas kebudayaan termasuk mengusulkan anggaran pelatihan dan pemberian penghargaan terhadap para guru-guru silat dan para pelatih kesenian tradisi Betawi,” lanjutnya menegaskan.

    Jalih Pitoeng yang merupakan kerabat dari sang maestro silat tradisi Beksi kong haji Hasbullah inipun menegaskan bahwa dirinya sangat mencintai silat tradisi Beksi.

    “Karena saya sangat mencintai budaya Betawi terutama silat tradisi Beksi,” Jalih Pitoeng menegaskan.

    Sedangkan salah satu anggota DPRD DKI Jakarta dari Partai Kebangkitan Bangsa yang merupakan salah satu Nara sumber dalam diskusi tersebut, Yusuf Sahid, mengangkat satu isu utama yang mengemuka tentang persoalan anggaran kebudayaan.

    Anggota DPRD DKI Jakarta kelahiran tanah Betawi ini menyoroti lemahnya pengawasan terhadap penyusunan anggaran kebudayaan.

    “Selama ini program pelestarian budaya Betawi lebih banyak bersifat simbolis. Kami mendorong transparansi dan peningkatan alokasi yang benar-benar menyentuh kebutuhan komunitas seni,” ungkap Yusuf.

    Kritik ini diamini para pelaku budaya yang hadir, termasuk sutradara teater dari Sanggar Betawi, Anto Ristargie, yang mengaku sering mengalami kesulitan dalam memproduksi karya lantaran terbatasnya dukungan logistik.

    Penampilan teatrikal yang diberi judul “Garong” merupakan ekspresi dari kekecewaan dari para pegiat seni budaya di Jakarta.

    Penampilan teater Cermin yang sangat ekspresif dalam mengemas ketikan dalam konsep seni teater inipun disambut meriah oleh semua yang hadir. Terutama bagi para pegiat seni budaya yang terzolimi akibat anggarannya dikorupsi.

    KH. Luthfi Hakim, MA, yang hadir sebagai narasumber dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua PWNU DKI Jakarta, menyampaikan bahwa pentingnya peran lembaga adat dan ulama dalam merawat identitas kebudayaan Betawi yang lekat dengan nilai-nilai keislaman.

    “Budaya Betawi lahir dari rahim keagamaan yang kuat. Pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan penguatan karakter spiritual dan moral masyarakat,” ungkapnya.

    “Maka didalam mengimplementasikan undang-undang DKJ No. 2 tahun 2024 kita membutuhkan Lembaga Adat,” kata Kiayi yang juga merupakan ketua umum organisasi terbesar di Betawi FBR.

    Menurutnya, sudah banyak upaya-upaya yang telah dilakukan sebagai percepatan lahirnya Perda atau Pergub tentang Lembaga Adat Betawi.

    “Kita saat ini, sudah banyak dukungan dari beberapa daerah dari para pemangku adat,” ungkap kiayi yang dikenal sangat merakyat ini.

    “Kita sudah mendapat dukungan yang terus mengalir. Mulai dari Batam, Riau, Aceh bahkan dari Yogyakarta,” kata Kiayi Lutfi dengan penuh semangat.

    “Artinya, bahwa kehadiran Lembaga adat Betawi ini adalah sebuah keniscayaan,” imbuhnya.

    “Cuman kan yang banyak yang pada kagak ngarti. Jadi pada ngeributin soal ini,” celetuk nya.

    “Apa yang mau diributin. Orang lembaga adatnya aja belon dibentuk. Jadi kita ngeributin pepesan kosong,” sindirnya.

    Salah satu Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra, yang juga merupakan salah satu narasumber dalam diskusi publik tersebut mendorong agar para pegiat seni budaya Betawi dilibatkan aktif dalam perumusan kebijakan publik, tidak hanya sebagai pelaksana hiburan semata.

    “Sudah saatnya seniman menjadi subjek, bukan objek. Mereka harus menjadi bagian dari keputusan, bukan hanya pelengkap seremoni,” kata Yahya menegaskan.

    Sementara tokoh jawara Betawi HK. Damin Sada yang hadir sejak pagi dalam diskusi tersebut sangat menyesalkan telah terjadinya korupsi di dinas kebudayaan tersebut.

    “Saya sudah bilang dari lima tahun lalu soal kekacauan dan korupsi ini,” ungkap ketua umum JAJAKA.

    “Makanya, Kadis itu stampelnya cukup satu,” sindirnya.

    “Ini kan udah jadi kadis juga, tapi jadi EO juga,” sindirnya tegas.

    “Makanya kedepan nanti, para sanggar atau pegiat seni budaya harus menyelenggarakan acara sendiri,” pinta Damin Sada.

    “Supaya dapat bayarannya langsung dari dinas. Kagak dipotong-potong kayak yang udah-udah,” Damin Sada mengingatkan.

    Jawara Betawi sekaligus pendiri dan ketua umum JAJAKA (Jawara Jaga Kampung) ini juga menyesalkan banyaknyanya pejabat Betawi yang lupa diri.

    “Terus juga orang Betawi kalo udah diatas lupa,” sambungnya mengingatkan.

    “Kalo belon jadi pejabat ngomongnya gua orang Betawi. Saya orang Betawi nih. Itu kalo mau jadi pejabat,” kata Damin kesal.

    “Tapi pas udah diatas lupa daratan. Kagak ingat sama saudaranya,” sindir Damin Sada.

    “Makanya, nih ada bang Yahya nih budayawan Betawi. Saya mau tanya itu budaya apa kebiasaan?,” Damin Sada melempar tanya.

    “Itu bukan kebudayaan. Tapi kebiasaan jelek buang itu,” pungkasnya.

    Diskusi yang dihadiri oleh tokoh-tokoh Betawi dan para guru silat tradisi seperti HK. Damin Sada (Ketua umum JAJAKA), Beim Benyamin (ketua umum MANTAB, pelukis Betawi ternama Iwan Noeswan, Babe Sholeh (anak sekaligus pewaris silat tradisi Beksi Haji Hasbullah), Al Ghozali dan para pengurus YASBI serta Masdjo Arifin dari Lesbumi NU Jakarta ini juga memperkuat legitimasi aspirasi yang disampaikan para seniman Betawi.

    Sebagai perwakilan dari Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Puspla menyampaikan komitmen untuk menindaklanjuti aspirasi yang disampaikan dalam forum tersebut.

    “Sebelumnya kami mohon maaf karena pak Kadis tidak bisa hadir kesini. Karena beliau harus mendampingi pak gubernur dalam waktu yang sama,” ungkap Puspla.

    “Kami mendengar dan mencatat. Ini bukan sekadar diskusi, tapi landasan untuk tindakan nyata ke depan,” katanya melanjutkan.

    “Apa yang tadi disampaikan oleh bang Jalih Pitoeng sudah sangat lengkap,” sambungnya.

    “Kami dari dinas kebudayaan khususnya saya sebagai kepala bidang pembinaan, akan mencatat ini semua sebagai output dari diskusi yang sangat bagus ini,” katanya lagi.

    Sebagai salah satu penggagas, pendiri sekaligus ketua umum YASBI, Jalih Pitoeng juga berulang-ulang mengatakan bahwa dirinya tidak ingin YASBI terjebak dalam kepentingan politik praktis apalagi terintervensi.

    “YASBI ini mutlak sebagai organisasi para pegiat seni budaya Betawi. Oleh karena itu YASBI ini harus menjunjung tinggi independensi dan mandiri,” pinta Jalih Pitoeng.

    “Perlu saya tegaskan juga bahwa YASBI tidak berafiliasi kepada ormas atau partai apapun,” pungkasnya menegaskan.

  • Sukses Gelar JFS, Ini Tanggapan H. Alung, Ketua LMK Sukapura

    Sukses Gelar JFS, Ini Tanggapan H. Alung, Ketua LMK Sukapura

    PALAPANEWS.ASIA, JAKARTA –

    Memasuki usia ke-498 tahun, berbagai agenda di laksanakan di berbagai penjuru kota Jakarta, mulai dari lenong, pencak silat dan lainnya, yang mengetengahkan budaya Betawi di tengah pergumulan eksistensi Betawi yang semakin tergusur.

    Minggu, 29 Juni 2025, giliran Kelurahan Sukapura, Kecamatan, Cilincing, Jakarta Utara menggelar pesta Hari Jadi Jakarta ke-498, yang dihadiri oleh Ahmad Rosiwan, Lurah Sukapura, Depika Romadi, Camat Cilincing serta undangan lainnya.

    Di tengah gerimis kecil, ratusan warga Sukapura dan sekitarnya memenuhi halaman parkir Pertokoan New Orchard, samping gedung Kelurahan Sukapura, yang berdiri tinggi dan kokoh.

    Ditemui oleh awak media, Fakhrul Rozy, atau biasa akrab disebut dengan panggilannya H. Alung, yang merupakan ketua LMK Sukapura mengungkapkan harapannya agar kedepan kegiatan semacam ini, Festival Jakarta, terus dilakukan untuk memperkuat kota Jakarta di era globalisasi yang semakin menguat.

    “Dari Sukapura, kami akan selalu mendukung segala kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Jakarta, ditengah gempuran peradaban dunia yang semakin menguat di Ibukota tercinta ini,” ungkap H. Alung.

    Gerimis yang melanda lokasi acara tidak mengurangi antusias warga Sukapura dan sekitarnya dalam menikmati berbagai acara yang dikemas apik oleh Pelaksana Kegiatan, yang dalam hal ini dikendalikan penuh oleh H. Alung.

  • Ultah Ke-498, Petukangan Utara Gelar Festival Budaya Betawi

    Ultah Ke-498, Petukangan Utara Gelar Festival Budaya Betawi

    PALAPANEWS.ASIA, JAKARTA –

    Memasuki usia ke-498 tahun, Jakarta bukan hanya menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia saat ini, namun juga menjadi kota dengan multi keberagaman yang menjadi sorotan dengan berbagai perkembangannya.

    Pertanyaan klasik yang selalu dimunculkan adalah Bagaimana dengan Budaya Betawi yang semakin tergerus oleh waktu dan peradaban zaman serta kemajuan tekhnologi.

    Hari Sabtu, 28 Juni 2025, bertempat di Lapangan Sepak Bola Kostrad, Petukangan Utara, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, digelar Festival Budaya Kampung Petukangan. Festival ini dihadiri oleh Walikota Jakarta Selatan, M. Anwar, S.Si, M.A.P, Camat Petukangan Utara, Agus Ramdani, Lurah Petukangan Utara, Safri Djani, beserta Kapolsek, Danramil dan pejabat lainnya.

    Bertemakan “Menjaga Tradisi, mengarungi Era Globalisasi”, Kegiatan ini menghadirkan berbagai seni dan budaya Masyarakat Betawi yang saat ini masih aktif dan eksis, salah satunya adalah Seni Beladiri Betawi BEKSI.

    Saat memberikan keterangan pers kepada awak media, Walikota Jakarta Selatan, M. Anwar, S.Si, M.A.P, mengungkapkan keprihatinannya akan tergerusnya Budaya Betawi saat ini, dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat Budaya Betawi untuk kelangsungannya.

    Sementara itu Jalih Pitoeng, Salah satu penerus Budaya Silat Betawi BEKSI yang juga merupakan ketua umum FORMASI (Forum Aliansi Masyarakat Anti Korupsi) ini mengungkapkan dalam sambutanya bahwa keberadaan Budaya Betawi yang semakin tergerus arus globaliasi perlu mendapatkan perhatian khusus oleh Pemerintah Jakarta saat ini.

    “Kita sering menjual budayanya,” ungkap Jalih Pitoeng, Sabtu (28/06/2025).

    “Kita mengeksploitasi kebudayaan, tapi hingga hari ini kita belum pernah memperhatikan bagaimana itu nasib para guru-guru kita,” lanjutnya.

    “Oleh karena itu, dalam kesempatan ini kami dari YASBI (Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Budaya Betawi) mengundang seluruh para Jawara SE Jabotabek untuk hadir dalam silaturahmi Akbar dan diskusi publik di Setu Babakan,” jelasnya.

    “Bagaimana kita merumuskan tentang Road Map tentang kebudayaan guna menjaga eksistensi budaya Betawi,” Jalih Pitoeng menegaskan.

    “Kepada Pemerintah DKI Jakarta Pram-Doel, kita minta agar lebih memperhatikan budaya Betawi,” pinta Jalih Pitoeng.

    “Bukan hanya itu, Dinas Kebudayaan DK Jakarta saat ini, sedang menghadapi persidangan di PN Jakarta Pusat karena terindikasi telah melakukan Korupsi Dana Kebudayaan, Dana yang seharusnya dipakai untuk mempertahankan Budaya Betawi di tengah arus globalisasi,” ungkapnya kepada awak media di tempat yang berbeda.

    “Saya sebagai salah satu warga Betawi Asli, akan tetap mengawal persoalan ini, apa dan bagaimana, serta kemana anggaran Budaya yang dikorupsi oleh Dinas Kebudayaan DKI,” tutup Jalih Pitoeng.

  • Mafia Tanah VS Masyarakat Desa Pelang Ketapang Kalimantan Barat

    Mafia Tanah VS Masyarakat Desa Pelang Ketapang Kalimantan Barat

    JAKARTA (PALAPANEWS.ASIA) –

    Aktivis Gerakan Rakyat Peduli Bangsa Indonesia bersama Mahasiswa dan Beberapa Element Masyarakat turun ke Jalan membantu dan Membela Hak Kepemilikan Tanah Masyarakat Kalimantan Barat yang dirampas oleh PT ARTU ENERGIE RESOURCES (AER ) yang saat ini dikelola oleh PT NOVA ANUGERAH ABADI yang Bekerjasama dengan Para Mafia Tanah di Indonesia yang tidak bis disentuh oleh Hukum dan Tidak bisa dilawan oleh Negara.

    Di Indonesia banyak sekali Permasalahan Tanah yang Merugikan Rakyat Kecil / Masyarakat Pemilik Tanah hingga banyaknya jatuh korban orang orang kecil yang awam dan dibodoh bodohi oleh Mafia Tanah, seperti kasus Rempang, PIK 2, Kota Medan Kecamatan Damai, Hambalang Sentul Bogor, Raja Ampat Papua, Desa Pelang Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat dan Masih banyak lagi kasus kasus Tanah Se Indonesia yang hingga saat ini Penyelesaiannya seakan akan hilang ditelan Bumi.

    “Sampai kapan Negara Abai dan Tidak mau hadir Melawan Mafia Tanah yang didukung oleh Kapitalis, Tidak sedikit Pelanggaran HAM yang terjadi saat Penyerobotan hingga Pembebasan Lahan. Dimana Sila Ke 2 Pancasila : Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab dan Sila ke 4 dalam Menyelesaikan setiap Sengketa, Konflik maupun Penyelesaian Permasalahan Tanah dimana Bunyi Pasal ke 4 adalah : Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Apakah Negara Kesatuan Republik Indonesia ini tidak bisa juga menjalankan Sila ke 5 Pancasila : Keadilan Sosial Bagi seluruh Rakyat Indonesia. Sementara masih banyak Rakyat kecil Tanahnya direbut Paksa Meskipun memiliki Surat Hak Milik ( SHM ), Surat Keterangan Terdaftar ( SKT) serta Dokumen dokumen Legal lainnya,” ungkap Oscar Pendong, Ketua GRPB (Gerakan Rakyat Peduli Bangsa) yang mendampingi Zon Hendri (Perwakilan Masyarakat Desa Ketapang, Kalimantan Barat), Selasa, 24 Juni 2025, di Halaman Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).

    “Permasalahan saat ini di Desa Pelang Kecamatan Matan Hilir Selatan ( MHS ) Kelurahan Kauman Provinsi Kalimantan Barat adalah Contoh kecil dari Permasalahan Pengerusakan Lahan hingga Perampasan Tanah tanpa ijin dan secara terang-terangan dihadapan Masyarakat Desa Pelang dan disaksikan langsung oleh Kepala Desa dan Kepala Bupati Ketapang. Mau sampai kapan Pemerintah berdiam diri dan tidak mau membantu Rakyatnya,” lanjutnya lagi.

    “Kami meminta Direktorat Jendral Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan beserta Satgas Anti Mafia Tanah turun langsung ke tempat kejadian perkara ( TKP ) Agar Penyelesaian semua Permasalahan Tanah dapat segera terselesaikan sekaligus Menangkap dan Mengadili para Oknum oknum Mafia Tanah yang terlibat dan memberikan sanksi kepada perusahaan perusahaan yang merampas Tanah Milik Masyarakat baik di Desa Pelang Ketapang maupun di seluruh Indonesia yang terjadi Permasalahan Tanah,”

    “Banyak Masyarakat yang jatuh miskin karena satu satunya Harapan untuk Hidup baik untuk bercocok tanam maupun untuk masa depan anak cucu mereka. Dimana belas kasihan Pemerintah / Negara terhadap Rakyatnya sendiri. Apakah Generasi Muda harus Mewarisi Kemiskinan dan Kebodohan Karena Tanah tempat mataPencahariannya sudah direnggut dan diambil paksa oleh Para Mafia Tanah di seluruh Indonesia terlebih khusus saat ini di Desa Pelang,”

    “Untuk itu kami mewakili Masyarakat Kalimantan Barat terlebih khusus Masyarakat Pemilik
    Tanah Desa Pelang Kabupaten Ketapang Menyampaikan 5 Point Tuntutan kami :
    1. Ganti Rugi Pengerusakan dan Penyerobotan Tanah Masyarakat Desa Pelang Ketapang
    Kalimantan Barat +_ 97 Ha sebesar 200 milyar
    2. Panen Kelaoa Sawit PT AER dan PT NOVA ANUGERAH ABADI dari Tahun 2016
    sampai dengan 2025 Ganti Rugi sebesar Rp 251.470.000.000,00
    3. Tangkap dan Adili Mafia Tanah yang bermain di Desa Pelang Ketapang
    4. Cabut Ijin Usaha PT ARTU ENERGI RESOURCES & PT NOVA ANUGERAH ABADI
    5. Kembalikan Tanah Milik Masyarakat Desa Pelang Ketapang.”

    “Demikian Isi tuntutan kami Para Aktivis Pejuang Rakyat yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Peduli Bangsa Indonesia ( GRPB INDONESIA ) agar Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementrian ATR/BPN yang dipimpin Bapak Nusron Wahid mau Mendengarkan Aspirasi dan Menjalankan Keinginan serta menindaklanjuti Tuntutan Kami segera dan secepatnya,” tutup Oscar Pendong Kepada Awak Media.

  • Diduga Terkena Pasal 263 dan 266, Budi Priyono dan Alimin Laporkan MH Ke POLDA SUMUT

    Diduga Terkena Pasal 263 dan 266, Budi Priyono dan Alimin Laporkan MH Ke POLDA SUMUT

    PALAPANEWS.ASIA, MEDAN –

    Korban penyerobotan lahan, Budi Priyanto, dan Alimin warga Medan, melaporkan terduga pembuat keterangan palsu, surat dan akta palsu berinisial MH ke Polda Sumut, Rabu (14/5).

    Laporan itu tertuang dalam Nomor: LP/B/724/V/2025/SPKT/Polda Sumut tanggal 14 Mei 2025.

    “Kami datang ke Mapolda Sumut melaporkan MH atas dugaan keterangan palsu, membuat surat autentik palsu, akta palsu sesuai dengan KUHP pasal 263 dan 266,” ujar Budi Priyanto disampingi Alimin usai membuat Laporan Polisi

    Keduanya didampingi kuasa hukum Alfin F. Karim, SH, Ketua Marga Napitulu Medan, Kornel Napitupulu dan Ketua Solidaritas Merah Putih Medan, Dedy Maurits Simanjuntak.

    Mereka berharap pihak kepolisian cepat dan tegas dalam memberantas praktik-praktik pemalsuan dokumen dan keterangan palsu.

    Disebutkan oleh Budi Priyanto, asal usul/warkah tanah MH, pada 1953 berada di sebelah barat sungai. Namun pada 1991 dengan memberikan keterangan palsu, merubah letak bidang tanah menjadi sebelah timur sungai Selayang.

    “Surat keterangan tanah (SKT) MH sudah dicabut, dibatalkan dan SKT yang sudah dinyatakan tidak dapat dijadikan bukti alas hak tanah,” sejak tahun 1993 sebut Budi Priyanto

    Namun menurut dia, MH dengan SKT dan akta cacat hukum masih menggunakannya untuk mempermainkan hukum dengan berbagai cara.

    Alimin menceritakan, pada 2013 bersama Budi Priyanto (saksi) membeli sebidang tanah dengan luas 4,865 M2 di Jl. Sei Belutu, Kel. Tanjung Rejo, Kec. Medan Sunggal sesuai dengan Surat Sertifikat Hak Milk (SHM) No. 509, 871 dan 510.

    Sedangkan asal mula objek tanah milik MH berada di Jl. Sei Sikambing A Pasar IX (tahun 1953), sesuai surat pemberian hak antara Sofjan bin Sahmo Pawiro kepada Soeratman Bin Sahmo Pawiro pada 14 Maret 1953. Baru pada 1991, objek tanah diubah dan/atau disebutkan berbatasan dengan Sei Belutu, sesuai SKT No. 591.1/9 tanggal 6 September 1991, atas nama Nurdin Sarifuddin.

    “Pada 23 Mei 1993 Nurdin Sarifuddin meninggal dunia, lalu pada 1 Maret 1994 Lurah Tanjung Rejo membuat Surat Keterangan No. 593/37/1994 atas nama Nurdin Sarifuddin (Padahal Nurdin Sarifuddin sudah meninggal di tahun 1993) Nurdin Sarifuddin dianggap masih hidup menyatakan menguasai tanah tersebut dan tidak dalam masa silang sengketa kepada pihak manapun,” katanya.

    Pada 26 Maret 1994, ahli waris Nurdin Sarifuddin membuat Akta Pengoperan dan pelepasan Hak No. 30 di hadapan notaris, kepada Ferry Satmoko.

    “Lalu, 14 Mei 1995 alm. Ferry Satmoko dan MH (terlapor) menjaminkan tanah di Sei Belutu, Kel. Tanjung Rejo, Kec. Medan Sunggal dengan menggunakan SKT No. 591.1/5KT/9/1991 seluas 4.380 M2 atas nama Nurdin Sarifuddin, Padahal surat tersebut sudah dibatalkan,” tuturnya.

    Ketua Marga Napitupulu Medan, Kornel Napitupulu dan Ketua Solidaritas Merah Putih Medan, Dedy Maurits Simanjuntak mengatakan pihaknya akan mengawal kasus tersebut. “Kami konsern dengan kasus-kasus berkaitan dengan perampasan tanah dan lahan, kami akan kawal kasus ini hingga selesai,” sebut keduanya.

  • Majelis GAZA Hadirkan Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj, M.A. dalam Seminar Internasional GAZA, Bahas Mubasyirat

    Majelis GAZA Hadirkan Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj, M.A. dalam Seminar Internasional GAZA, Bahas Mubasyirat

    PALAPANEWS.ASIA, JAKARTA –

    Kamis, 01 Mei 2025, Majelis Gerakan Akhir Zaman (GAZA) menggelar Dialog Internasional yang mngusung tema Bedah Mimpi (Mubasyirat) Umat di Akhir Zaman, yang belangsung di Auditorium Pondok Pesantren Luhur Al-Tsagafah, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

    Tokoh utama tampil sebagai pembicara dalam Dialog ini adalah Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj, M.A., pakar sejarah Islam dan mantan Ketua Umum PBNU (2010–2021), dan KH. Wahfiudin Sakam, S.E., M.B.A., ekonom dan praktisi spiritual Islam.

    Gelaran acara ini dihadiri oleh ratusan peserta yang terdiri dari tokoh agama, akademisi, diplomat negara sahabat, aktivis masyarakat sipil, hingga perwakilan lembaga internasional dari negara-negara Islam. Forum ini mengangkat kembali warisan nubuwah dalam bentuk mubasyirat—mimpi-mimpi benar yang sahih—sebagai petunjuk strategis di tengah krisis multidimensi dunia saat ini: krisis moral, sosial, politik, lingkungan, hingga spiritual.
    Narasumber Nasional dan Tokoh Strategis

    Dalam pemaparannya, Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj mengingatkan pentingnya membangun koneksi ruhani yang mendalam dengan Allah di tengah dunia yang semakin tersekularisasi.
    “Tradisi mubasyirat bukan hal baru dalam Islam. Justru sejak zaman Nabi, mimpi benar menjadi salah satu sarana komunikasi ilahiyah. Dalam konteks hari ini, ketika suara langit nyaris tak terdengar di ruang publik, forum seperti ini menjadi sangat penting untuk menghidupkan kembali dimensi spiritual dalam pengambilan keputusan umat dan bangsa,” tegas beliau.
    Lebih lanjut, beliau mengajak umat Islam untuk tidak memisahkan antara spiritualitas dan intelektualitas dalam membangun masa depan.
    “Kita tidak bisa hanya mengandalkan rasio dan data teknokratik. Islam mengajarkan kita untuk juga mendengarkan suara batin, ilham, dan petunjuk Allah. Kombinasi antara akal, wahyu, dan ruhani adalah kunci kejayaan peradaban Islam sepanjang sejarah,” imbuhnya.

    Ketua Majelis GAZA, Drs. R. Diki Candra Purnama, M.M., memaparkan hasil kompilasi lebih dari 1.700 mimpi benar dari berbagai penjuru dunia, yang telah dianalisis dan ditakwil berdasarkan Al-Qur’an, hadits, dan kaidah tafsir mimpi oleh para ulama. Mimpi-mimpi ini menunjukkan pola spiritual yang konsisten tentang dinamika akhir zaman.
    Lima fase utama akhir zaman yang teridentifikasi dalam forum ini adalah:
    1. Fase Peringatan Global (2001–2010) – bencana alam dan peristiwa besar dunia;
    2. Fase Fitnah dan Kegelapan (2011–2020) – maraknya konflik, disinformasi, dan kekacauan spiritual;
    3. Fase Cahaya Timur (2021–2025) – munculnya harapan spiritual dari wilayah Timur, khususnya Indonesia;
    4. Fase Krisis Terbuka dan Pertarungan Akhir (2025–2028) – masa ujian puncak umat manusia;
    5. Fase Kemenangan Ruhani (2029–2033) – era keemasan Islam berdasarkan cahaya dan petunjuk langit.

    Salah satu kesimpulan penting forum ini adalah peran sentral Indonesia dalam peta akhir zaman. Berdasarkan mimpi-mimpi yang terkumpul, Indonesia digambarkan sebagai “Cahaya dari Timur” yang akan menjadi pusat kebangkitan ruhani global.
    “Banyak mimpi menunjukkan bahwa Indonesia adalah benteng terakhir Islam, pusat hijrah ruhani, dan poros penyelamat peradaban akhir zaman,” terang Ketua Panitia, Ahmad Abdul Qohar.

    Dialog ini bertujuan untuk Mengungkap Master Plan Ilahiyah berdasarkan kumpulan mimpi umat, Mengklarifikasi dan memperkaya penafsiran takwil mimpi secara terbuka dan ilmiah, Menyatukan visi lintas golongan dalam membangun masa depan berdasarkan petunjuk Allah.

    “Forum ini bukan sekadar dialog akademik, tetapi juga sebuah gerakan ruhani kolektif untuk menyambut intervensi Allah dalam sejarah. Sebuah titik awal dari kesadaran baru umat manusia bahwa langit masih bicara, dan bahwa petunjuk itu nyata,” Ungkap Drs. R. Diki Candra Purnama, Pimpinan Majelis GAZA.

    “Mimpi-mimpi itu bukan ilusi. Takwil-takwil itu bukan khayalan. Semua adalah pertanda bahwa Allah masih membimbing mereka yang mau mendengarkan,” ungkap Kang Dicky lagi.

  • Ketua FORMASI Jalih Pitoeng Datangi Kejagung Minta Pengawasan Atas Kasus Dugaan Korupsi Dinas Kebudayaan DKI Jakarta

    Ketua FORMASI Jalih Pitoeng Datangi Kejagung Minta Pengawasan Atas Kasus Dugaan Korupsi Dinas Kebudayaan DKI Jakarta

    PALAPANEWS.ASIA, JAKARTA –

    Ketua FORMASI Jalih Pitoeng datangi Gedung Bundar Kejaksaan Agung guna pengawalan dan pengawasan terhadap jalannya proses penyidikan kasus dugaan korupsi ratusan miliar di Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.

    Selain meminta pengawalan dan pengawasan, ketua Forum Aliansi Masyarakat Anti Korupsi ini juga menyampaikan dukungannya terhadap kinerja Kejaksaan Agung yang saat ini sedang menangani beberapa kasus besar seperti kasus Timah, Kasus Pertamina dan kasus dugaan suap terhadap beberapa hakim dan pengacara.

    “Kami hadir kesini dalam rangka mendukung program pemerintah dalam upaya pemberantasan dan pencegahan korupsi” ungkap Jalih Pitoeng, Senin (21/04/2025).

    “Oleh karena itu kami sangat mengapresiasi kinerja Kejagung yang saat ini sedang berjuang melakukan pemberantasan korupsi ratusan bahkan ribuan triliun yang sangat fenomenal saat ini” lanjut Jalih Pitoeng.

    “Selain memberi dukungan, kami juga menyampaikan surat permohonan pengawalan dan pengawasan terhadap jalannya sebuah proses penyidikan atas kasus dugaan korupsi dan manipulasi secara terstruktur, sistematis dan masif bernilai ratusan miliar rupiah di Dinas Kebudayaan DKI Jakarta” sambungnya menegaskan.

    Sebagai institusi yang membawahi seluruh Kejaksaan Tinggi di seluruh tanah air, Jalih Pitoeng juga meminta agar Kejagung melakukan intervensi terhadap proses penegakan hukum demi terciptanya rasa keadilan dimasyarakat.

    “Demi terciptanya rasa keadilan di negeri ini, bukan hanya pengawasan, tapi jika dipandang perlu kami minta agar Kejagung melakukan intervensi terhadap pengungkapan kasus tersebut secara totalitas mulai dari penyidikan hingga penuntutan dalam proses peradilannya” pinta Jalih Pitoeng.

  • Menjelang Hari raya Idul Fitri 1446 H, PEWARIS Bagikan Santunan Kepada Anak Yatim dan Dhuafa

    Menjelang Hari raya Idul Fitri 1446 H, PEWARIS Bagikan Santunan Kepada Anak Yatim dan Dhuafa

    PALAPANEWS.ASIA, JAKARTA –

    Bulan Ramadhan adalah bulan di mana keberkahan pahala berlipat ganda bagi umat Islam, sehingga momen ini menjadi bulan dimana semua berbagi keberkahan, tak terkecuali oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Wartawan Islam (PEWARIS).

    DPP PEWARIS menyusuri gang untuk membagikan keberkahan kepada yang membutuhkan, baik Anak Yatim Piatu, maupun kaum Dhuafa.

    Sabtu, 22 Maret 2025 yang bertepatan dengan tanggal 22 Ramadhan 1466 Hijriyah, Pengurus Pusat DPP PEWARIS membagikan santunan di Gang Haji Saidi, RT. 010/RW. 001, Jl. Cipinang Indah 1, Kelurahan Cipinang Muara, Kec. Jatinegara, Jakarta Timur.

    Ketua Umum DPP PEWARIS, Lucky Indrawan, yang didampingi oleh Alam Massiri (Sekjend) dan Maemunah (Anggota) secara simbolis memberikan paket bantuan kepada sejumlah Anak Yatim dan Dhuafa, berupa Uang Tunai dan Paket.

    “Hari ini, Sabtu, 22 Maret 2025, kami dari wartawan, memberikan sedikit bantuan untuk Anak Yatim dan Dhuafa, semoga di kesempatan berikutnya, DPP PEWARIS dapat memberikan bantuan lebih banyak lagi, dan pada kesempatan ini juga, kami, DPP PEWARIS meminta doanya agar segala hal yang dilakukan oleh DPP PEWARIS senantiasa mendapat berkah dan rahmat dari Allah SWT., ujar Lucky Indrawan, Ketua Umum DPP PEWARIS.

    “Sekedar menambahkan, PEWARIS sendiri, masih sangat muda, belum cukup setahun, sehingga dengan usia semuda ini, kami belum dapat berbuat banyak. Dan kembali mohon doanya untuk perkembangan DPP PEWARIS,” timpal Alam Massiri.

  • Harry Amiruddin Gelar Buka Puasa dan Santunan di Milad FORKAM Ke-16

    Harry Amiruddin Gelar Buka Puasa dan Santunan di Milad FORKAM Ke-16

    PALAPANEWS.ASIA, JAKARTA –

    Yayasan Forum Komunikasi Antar Media (FORKAM) adalah sebuah wadah para awak media yang bergerak pada bidang sosial kemanusiaan. Telah cukup banyak kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan FORKAM dari waktu ke waktu

    Memasuki usia ke-16 tahun, hari ini, Sabtu, 15 Maret 2025, Yayasan FORKAM melaksanakan buka Puasa bersama yang dilaksanakan di Masjid Gedung Joang 45, Jakarta Pusat, dan santunan kepada Anak Yatim, Lansia dan Disabilitas, yang dilakukan di daerah Johar, Paseban dan Menteng Jaya.

    “Ucapan terima kasih saya kepada seluruh fihak yang telah membantu kami untuk terselenggaranya acara buka puasa bersama, santunan dan Milad ke 16 Yayasan Forum Komunikasi Antar Media (FORKAM),” ungkap Harry Amiruddin, Ketua Yayasan FORKAM.

    “Kegiatan ini adalah kegiatan yang rutin Yayasan FORKAM lakukan setiap tahunnya, dan di tahun 2025 ini, kegiatan ini terlaksana atas bantuan dan kerjasama dari Walikota Jakarta Pusat, Walikota Jakarta Utara, Walikota Jakarta Barat, Walikota Jakarta Timur, BAZIS Provinsi DKI Jakarta, KH Junaedi Al Baghdadi, Once Mekel, Wa Ode Herlina, Budi Sahputra, Pandapotan Sinaga Bob Hasan, Paulus Johny Anak Tuhan, Ima Mahdiah, Hj. Kusyati, Angga, dan Rustam Effendi,” ungkapnya lagi.

    “Sebahagian bantuan untuk Anak yatim, Lansia, dan Disabilitas, telah kami bagikan pada hari Kamis, 13 Maret 2024 dan Jum’at, 14 Maret 2024, diberbagai tempat, mengingat keterbatasan tenaga dan waktu bagi beberapa penerima bantuan sosial ini,” jelas Harry lagi.

    “Dan hari ini, Sabtu, 15 Maret 2025, kegiatan dipusatkan di Masjid As-Saidah, Gedung Joeang 45, Menteng, Jakarta Pusat. Semoga acara dapat berjalan dengan baik, dan apabila ada salah dan kekurangan kami mohon maaf. Mudah-mudahan tahun depan bisa lebih baik, peserta bisa lebih banyak. Dan saya juga juga mengajak seluruh masyarakat Indonesia tetap kompak, menjadi mitra pemerintah yang baik. Kita jangan takut untuk menegakkan kebenaran dan keadilan,” Tutupnya.

  • Gema Qodrat2: Saat Poster dan Trailer Resmi Menggetarkan Penggemar

    Gema Qodrat2: Saat Poster dan Trailer Resmi Menggetarkan Penggemar

    PALAPANEWS.ASIA, JAKARTA –

    Antusiasme penggemar film horor Indonesia memuncak saat konferensi pers perilisan poster dan trailer resmi film Qodrat 2 yang digelar di Plaza Senayan XXI, Jakarta (27/2/2025).
    Acara yang berlangsung meriah itu dihadiri oleh sutradara, para pemain utama, serta para penggemar yang sudah tak sabar menyaksikan kelanjutan kisah Ustadz Qodrat.

    Momen yang Ditunggu-Tunggu
    Sejak kesuksesan Qodrat (2022) yang menuai pujian dari kritikus dan penonton, kabar tentang sekuelnya selalu dinanti. Para pemain utama seperti Vino G. Bastian, yang kembali memerankan Ustadz Qodrat, serta bintang-bintang baru yang masih dirahasiakan perannya, hadir di atas panggung untuk berbagi pengalaman mereka selama proses syuting.

    Dalam suasana penuh semangat, sutradara Charles Gozali menyatakan bahwa Qodrat 2 akan menghadirkan cerita yang lebih kelam, aksi lebih mendebarkan, serta elemen horor yang lebih mencekam.

    “Kami ingin membawa penonton ke level ketakutan yang lebih tinggi. Film ini tidak hanya tentang pertarungan Ustadz Qodrat melawan jin, tapi juga tentang perjuangan batin manusia melawan kegelapan dalam dirinya,” ujar Charles Gozali.

    Sementara itu, Vino G. Bastian menyampaikan harapannya, “Semoga film ini bisa memberi pengalaman horor yang lebih intens sekaligus memberikan pesan moral yang mendalam bagi penonton.” ujarnya.

    Qodrat 2 dijadwalkan tayang di bioskop Lebaran 2025. Dengan kisah yang lebih mencekam dan visual yang lebih kuat, film ini diprediksi akan menjadi salah satu horor terbaik Indonesia.