Palapanews.Asia, Jakarta – Alas Roban selama ini dikenal lebih dari sekadar jalur penghubung antarkota. Hutan lebat yang diselimuti kabut tiba-tiba dan perasaan ganjil yang kerap muncul tanpa sebab jelas menjadikannya bagian dari ingatan kolektif masyarakat, diwariskan sebagai cerita dari generasi ke generasi.
Nuansa itulah yang diangkat dalam film Alas Roban. Dalam acara press conference dan press screening di XXI Epicentrum, Rasuna Said, Senin (5/1/2026), sutradara Hadrah Daeng Ratu memaparkan pendekatan horor yang berbeda dari kebanyakan film sejenis. Ia menegaskan bahwa film ini tidak bertumpu pada jump scare atau adegan gore.
“Ini road movie horor yang mengandalkan emosi dan pesan moral. Ketakutan lahir dari perjalanan batin karakter, bukan dari kejutan visual semata,” kata Hadrah.
Cerita berfokus pada perjuangan seorang ibu demi anaknya. Trauma masa lalu, kondisi psikologis, serta pengalaman hidup para karakter menjadi sumber utama rasa takut yang perlahan dibangun. Horor dalam film ini hadir secara halus, merayap melalui emosi dan konflik internal.
Selain dari karakter, Alas Roban sendiri diposisikan sebagai ruang hidup yang sarat makna. Bagi Hadrah, hutan ini menyimpan cerita kolektif milik siapa pun yang pernah melintasinya. Setiap perjalanan seolah meninggalkan kisah—baik berupa pengalaman ganjil maupun cerita mistis yang terus hidup di tengah masyarakat.
Atmosfer mencekam terutama dihadirkan lewat jalur lama Alas Roban, tanpa memaksakan efek kejut berlebihan. Penonton diajak merasakan ketegangan yang tumbuh perlahan, seiring perjalanan para tokoh.
Di sisi lain, penulis skenario Evelyn Afnilia mengungkapkan proses penulisan film ini dilakukan dengan cara yang tak lazim. Ia terjun langsung ke Alas Roban, menyusuri hutan pada siang hingga malam hari.
“Risetnya tidak hanya lewat cerita. Kami berdialog dengan warga, tokoh adat, puncen, sampai dalang,” ujar Evelyn.
Baginya, Alas Roban merupakan pengalaman pertama mengembangkan cerita horor langsung di lokasi kejadian. Riset dilakukan tidak hanya secara naratif, tetapi juga spiritual. Ia menggali sejarah pembukaan hutan yang diyakini penuh ritual, sekaligus hubungan manusia dengan alam dan leluhur.
Dengan pendekatan yang tidak mengandalkan sosok hantu konvensional, film Alas Roban diharapkan mampu memberi pengalaman emosional yang mendalam. Kolaborasi sutradara dan penulis skenario ini ingin menghadirkan horor yang bukan sekadar menakutkan, tetapi juga mengajak penonton untuk berefleksi.













